Minggu, 22 November 2015

IF I STAY - BAB 5

12.19

BANYAK yang salah pada diriku.

Rupanya paru-paruku bocor. Limpaku robek. Ada pendarahan dalam yang asalnya tidak diketahui. Dan yang paling serius, memar-memar pada otakku. Tulang rusukku juga patah. Lecet-lecet pada kakiku, yang akan membutuhkan transplantasi kulit; dan pada wajahku, yang akan butuh operasi plastik—tapi, seperti kata dokter, itu jika aku beruntung.

Sekarang, di ruang bedah, para dokter harus mengeluarkan limpaku, memasukkan tube baru untuk mengeringkan paru-paruku yang bocor, dan menyumbat apa pun yang menyebabkan pendarahan. 

Tidak banyak yang bisa mereka lakukan terhadap otakku.
“Kita hanya bisa menunggu,” salah satu dokter bedah berkata, menatap CAT scan kepalaku. 

“Sementara itu, coba hubungi bank darah. Aku perlu dua unit darah O negatif dan dua unit cadangan.”
O negatif. Golongan darahku. Aku sama sekali tidak tahu. Bukan sesuatu yang sebelum ini perlu kupikirkan. Aku belum pernah dirawat di rumah sakit, hanya kunjungan ke unit gawat darurat karena pergelangan kakiku luka terkena pecahan kaca. Aku bahkan tidak perlu jahitan, hanya suntikan tetanus.
Di ruang bedah, para dokter berdebat musik apa yang ingin mereka setel, persis seperti kami di mobil tadi pagi. Ada yang ingin jazz. Yang lain minta rock. Sang ahli anastesi, yang berdiri dekat kepalaku, meminta klasik. Aku mendukungnya, dan rupanya itu membantu karena ada yang memasang CD Wagner, meski aku tidak yakin menginginkan Ride of the Valkyries. Aku mengharapkan sesuatu yang lebih lembut. Four Seasons, mungkin.
Ruang bedah itu kecil dan padat, penuh cahaya terang menyilaukan, yang memperjelas betapa kumuhnya tempat ini. Sama sekali tidak seperti di TV, tempat ruang-ruang bedah tampak seperti teater steril yang bisa mengakomodasi penyanyi opera, dan penontonnya. Lantainya, meski disikat sampai mengilap, penuh goresan dan noda seperti karat, yang kuduga adalah noda darah lama.
Darah. Ada di mana-mana. Sama sekali tidak menggetarkan para dokter. Mereka mengiris, menjahit, dan menyedot di tengah banyak darah, seperti mencuci piring menggunakan air sabun. Sementara itu, mereka terus-menerus memompakan darah ke tubuhku.
Ahli bedah yang ingin mendengarkan musik rock tadi banyak berkeringat. Salah satu perawat harus mengelap dahinya secara berkala menggunakan kapas pada penjepit. Suatu saat, dia berkeringat sampai ke masker sehingga harus menggantinya.
Ahli anastesi memiliki jemari yang lembut. Dia duduk dekat kepalaku, mengamati status semua organ vitalku, menyesuaikan jumlah cairan dan gas serta obat-obatan yang mereka berikan kepadaku. Dia pasti melakukan pekerjaannya dengan baik karena aku tampaknya tidak merasakan apa-apa, meski mereka menarik-narik tubuhku. Pekerjaan yang berat dan kotor, sama
sekali tidak seperti permainan Operation yang biasa kami lakukan selagi kecil. Kami harus berhati-hati agar tidak menyentuh sisi-sisi tubuh ketika mengeluarkan tulang, kalau tidak alarmnya akan menyala.
Si ahli anastesi tanpa sadar mengusap-usap pelipisku dengan tangan bersarung karet. Inilah yang biasa dilakukan Mom jika aku sedang flu atau sakit kepala hebat sehingga aku membayangkan memotong nadi di pelipisku hanya agar tekanan rasa sakit di sana mereda.
CD Wagner telah berputar dua kali. Para dokter memutuskan sudah waktunya mengganti jenis musik. Jazz menang. Orang-orang selalu berasumsi karena aku suka musik klasik, aku suka jazz juga. Tapi tidak. Dad yang suka. Dia mencintai jazz, terutama karya-karya terakhir Coltrane yang liar. Dad berkata jazz adalah punk bagi orang tua. Kurasa itu menjelaskan segalanya, karena aku juga tidak suka punk.
Operasi berlangsung lama sekali. Aku capek menunggu. Aku tidak tahu dari mana para dokter mendapatkan stamina untuk melakukannya. Jika aku tidak mati—dan monitor jantung masih berbunyi, jadi kuduga aku belum mati—tapi aku juga tak berada dalam tubuhku, bisakah aku pergi ke tempat lain? Apakah aku hantu? Bisakah aku membawa diriku ke pantai Hawaii? Bisakah aku muncul di Carnegie Hall, New York? Bisakah aku mendatangi Teddy?
Hanya untuk percobaan, aku menggoyangkan hidung seperti Samantha di film seri Bewitched. Tidak ada yang terjadi. Aku menjentikkan jemari. Mengetukkan tumit. Aku masih di sini.
Aku memutuskan mencoba manuver yang lebih sederhana. Aku melangkah ke dinding, membayangkan akan menembusnya dan keluar di sisi lain. Tapi ternyata begitu melangkah ke dinding, aku menabrak dinding.
Perawat bergegas masuk membawa sekantong darah, dan sebelum pintu menutup di belakangnya, aku menyelinap keluar. Sekarang aku berada di koridor rumah sakit. Banyak sekali dokter dan perawat dalam balutan seragam operasi warna biru dan hijau berkeliaran di sana. Wanita di tempat tidur dorong, kepalanya dibalut penutup rambut plastik biru, jarum infus di lengannya, berseru, “William, William!” Aku melangkah lebih jauh. Ada barisan ruang bedah, semua penuh orang tidur. 

Jika pasien di ruangan-ruangan ini seperti diriku, mengapa aku tidak bisa melihat orang di luar tubuh mereka? Apakah semua orang itu berkeliaran di luar tubuh seperti diriku? Aku sungguh ingin bertemu seseorang yang kondisinya sama sepertiku. Aku punya beberapa pertanyaan, misalnya kondisi apa yang kualami sekarang ini dan bagaimana keluar dari kondisi ini? Bagaimana aku kembali ke tubuhku? Apakah aku harus menunggu dokter-dokter membangunkanku? Tapi tidak ada orang lain seperti aku di sini. Mungkin mereka berhasil mengetahui cara pergi ke Hawaii.
Aku mengikuti perawat melalui sepasang pintu otomatis. Aku berada di ruang tunggu kecil sekarang. Kakek-nenekku ada di sini.
Gran mengoceh pada Gramps, atau mungkin tidak pada siapa-siapa. Itulah caranya agar tidak terhanyut emosi. Aku pernah melihatnya melakukan itu, ketika Gramps kena serangan jantung. Gran mengenakan sepatu bot karet dan celemek berkebun, yang bernoda tanah. Pastilah dia sedang bekerja di taman ketika mendengar tentang kami. Rambut Gran pendek, keriting, dan beruban; dia mengeritingnya, kata Dad, sejak tahun 1970-an. “Ini praktis,” kata Gran. “Tidak repot mengurusnya.” Sangat khas dirinya. Tidak pakai basa-basi. Gran sangat praktis sehingga orang tidak bakal menyangka dia penggemar malaikat. Gran mengoleksi malaikat keramik, boneka kain malaikat, apa pun yang berbentuk malaikat, di lemari pajangan khusus di ruang menjahit. Dan dia tidak hanya mengoleksi malaikat; dia percaya malaikat ada. Dia berpendapat mereka ada di mana-mana. Suatu kali, sepasang burung bersarang di kolam hutan kecil di belakang rumah mereka. Gran yakin kedua burung itu orangtuanya yang sudah lama meninggal, datang untuk menjaganya.
Kali lain, kami sedang duduk di berandanya ketika aku melihat seekor burung merah. “Apakah itu crossbill merah?” aku bertanya pada Gran.
Gran menggeleng. “Saudariku Gloria itu crossbill,” kata Gran, maksudnya nenek-bibiku Glo yang baru meninggal, yang tidak pernah akur dengan Gran. “Dia tidak mungkin datang kemari.”
Gramps menatap ampas di gelas styrofoam-nya, mengupas bagian atasnya sehingga bola-bola kecil putih berkumpul di pangkuannya. Aku bisa melihat cairan itu jenis yang paling jelek, seperti disuling pada tahun 1997 dan didiamkan di tungku sejak saat itu. Meski demikian, aku tidak keberatan diberi segelas.
Kau bisa menarik garis lurus dari Gramps ke Dad ke Teddy, meski rambut Gramps yang bergelombang sudah berubah dari pirang ke putih, dan dia lebih berisi daripada Teddy, yang kurus kering, dan Dad, yang langsing dan berotot berkat latihan angkat berat di pusat kebugaran. Tapi mereka bertiga sama-sama memiliki mata biru-kelabu berair, warna laut pada hari berawan.
Mungkin inilah sebabnya aku merasa tidak mampu menatap Gramps.
---oOo---
Juilliard merupakan ide Gran. Dia berasal dari Massachusetts, tapi pindah ke Oregon tahun 1955, sendirian. Zaman sekarang mungkin tindakan itu biasa saja, tapi kurasa 52 tahun yang lalu, tindakan itu merupakan skandal bagi gadis 22 tahun yang belum menikah. Gran mengaku tertarik pada alam liar terbuka, dan alam tidak bisa lebih liar lagi daripada hutan tak berujung dan pantai-pantai berbatu Oregon. Dia mendapatkan pekerjaan sebagai sekretaris di Forest Service. Gramps bekerja di sana sebagai ahli biologi.
Kadang-kadang kami kembali ke Massachusetts pada musim panas, tinggal di penginapan di bagian barat negara bagian itu selama seminggu, yang dipenuhi keluarga besar Gran. Itulah saat-saat aku berjumpa sepupu dari sepupu, nenek-bibi dan kakek-paman yang nama-namanya hampir tidak bisa kuingat. Aku punya banyak keluarga di Oregon, tapi mereka semua berasal dari sisi Gramps.
Musim panas yang lalu ketika berlibur ke Massachusetts, aku membawa cello agar bisa terus berlatih untuk konser musik kamarku yang akan datang. Penerbangan tidak penuh, maka pramugari membiarkan cello-ku duduk bersamaku di kabin, persis seperti pemain musik profesional. Teddy menganggap ini lucu sekali dan terus-menerus mencoba menyuapkan pretzel pada cello-ku.
Pada suatu malam di pondok penginapan aku mengadakan konser kecil, di ruang utama, dengan penonton para kerabat serta hewan-hewan mati di dinding. Setelah itulah seseorang menyebut tentang Juilliard, dan Gran sangat terobsesi dengan ide tersebut.
Mula-mula, itu rasanya tidak mungkin. Ada program musik yang bagus di universitas dekat tempat tinggal kami. Dan, jika aku ingin melebarkan sayap, ada konservatorium di Seattle, yang hanya berjarak beberapa jam mengemudi. Juilliard ada di seberang negeri. Dan mahal. Mom dan Dad tertarik pada ide itu, tapi aku tahu sebenarnya mereka berdua sama-sama tidak ingin melepaskanku ke New York atau terlibat utang sehingga aku mungkin bisa menjadi pemain cello di orkestra kelas dua kota kecil. Mereka tidak tahu apakah permainanku cukup bagus. Bahkan, aku pun tidak yakin. Profesor Christie berkata aku salah satu murid paling menjanjikan yang pernah dilatihnya, tapi dia tidak pernah menyebut-nyebut Juilliard padaku. Juilliard sekolah untuk musisi yang luar biasa berbakat, dan rasanya arogan sekali menganggap mereka bakal melirikku.
Tapi setelah liburan itu, ketika orang lain, seseorang yang objektif dan berasal dari Pantai Timur, menganggapku layak masuk Juilliard, ide itu mengakar dalam benak Gran. Dia menemui sendiri Profesor Christie untuk membicarakannya, dan guruku mencengkeram ide itu seperti anjing terrier menggigit tulang.
Maka, aku mengisi formulir pendaftaran, mengumpulkan surat-surat rekomendasi, dan mengirimkan rekaman permainan cello-ku. Aku tidak memberitahu Adam tentang semua ini. Aku berkata pada diri sendiri bahwa tidak ada gunanya menyebarkan berita ini jika bahkan untuk mendapatkan kesempatan audisi saja hampir tidak mungkin. Tapi bahkan saat itu aku tahu aku berbohong. Bagian kecil diriku merasa mendaftar ke Juilliard akan menjadi semacam pengkhianatan. Juilliard ada di New York. Adam ada di sini.
Tapi Adam sudah tidak di SMA. Dia setahun lebih tua dariku, dan tahun terakhir ini, tahun seniorku, dia mulai belajar di universitas di kota. Dia hanya bersekolah paruh waktu karena Shooting Star mulai populer. Ada kontrak rekaman dengan label di Seattle, dan banyak tur. Maka setelah aku mendapatkan amplop krem berembos The Juilliard School dan surat yang mengundangku untuk audisi, barulah aku memberitahu Adam. Aku menjelaskan bahwa tidak banyak orang yang mendapatkan kesempatan sejauh itu. Mulanya dia tampak terperangah, seakan tidak percaya. 

Kemudian dia tersenyum sedih. “Yo Mama sebaiknya berjaga-jaga,” katanya.
Audisi diadakan di San Francisco. Dad harus menghadiri konferensi besar di sekolah minggu itu jadi tidak bisa mengantarku, dan Mom baru saja memulai pekerjaan baru di agen perjalanan, maka Gran menawarkan diri untuk menemaniku. “Kita akan berakhir pekan khusus cewek. Minum teh berkelas di Fairmont. Window shopping di Union Square. Naik feri ke Alcatraz. Kita akan menjadi turis.”
Tapi seminggu sebelum keberangkatan kami, Gran tersandung akar pohon dan pergelangan kakinya terkilir. Dia harus mengenakan sepatu bot tebal dan tidak boleh berjalan. Kepanikan kecil terjadi. Aku berkata bisa berangkat sendiri—mengemudi, atau naik kereta, dan langsung pulang lagi.
Gramps-lah yang berkeras mengantarku. Kami berkendara bersama-sama menggunakan truk pikapnya. Kami tidak banyak mengobrol, yang bukan masalah bagiku karena aku begitu gugup. Aku terus-menerus meraba jimat keberuntungan berupa gagang es lilin yang dihadiahkan Teddy untukku sebelum kami berangkat. “Semoga berhasil,” katanya.
Gramps dan aku mendengarkan musik klasik dan siaran pedesaan di radio selama kami bisa mendapatkan gelombangnya. Selain itu, kami duduk dalam keheningan. Tapi keheningan yang sangat menenangkan; membuatku rileks serta merasa lebih dekat pada Gramps daripada jika kami bicara dari hati ke hati.
Gran sudah memesan wisma yang bertema sangat feminin, dan lucu sekali melihat Gramps yang memakai sepatu bot kerja dan kemeja flanel sederhana di antara taplak-taplak berenda dan pengharum potpourri. Tapi Gramps menyikapinya seperti lelaki sejati.
Audisinya mengerikan. Aku harus memainkan lima nomor: concerto Shostakovich, dua suite Bach, seluruh Pezzo capriccioso karya Tchaikovsky, yang nyaris mustahil dimainkan, dan bagian dari The Mission karya Ennio Morricone, pilihan menyenangkan tapi berisiko karena Yo-Yo Ma pernah memainkan ini dan semua orang bakal membandingkan. Aku melangkah keluar dengan kaki lemas dan ketiak berkeringat. Tapi endorfinku mengalir deras dan itu, dicampur dengan perasaan lega luar biasa, membuatku kegirangan.
“Bagaimana kalau kita melihat-lihat kota?” tanya Gramps, bibirnya berkedut membentuk senyum.
“Tentu saja!”
Kami melakukan semua hal yang dijanjikan Gran. Gramps membawaku minum teh berkelas dan belanja, meski untuk makan malam kami membatalkan reservasi yang dibuat Gran di tempat mewah Fisherman's Wharf dan malah berkeliaran ke Chinatown, mencari restoran yang antrean di luarnya paling panjang, lalu makan di sana.

Ketika kembali ke rumah, Gramps mengantarku dan mendekapku. Biasanya dia lebih memilih berjabat tangan, atau menepuk punggung jika ada kejadian spesial. Pelukannya kuat dan erat, dan aku tahu itulah caranya berkata dia mengalami waktu yang menyenangkan.

“Aku juga, Gramps,” bisikku.

 
http://ayobacanovel.blogspot.co.id/2015/11/if-i-stay-bab-3.html

Jumat, 20 November 2015

IF I STAY - BAB 4

10.12

KETIKA ambulans tiba di rumah sakit terdekat—bukan di kotaku tapi rumah sakit lokal kecil yang tampak lebih mirip panti wreda daripada rumah sakit—paramedis bergegas mendorongku ke dalam.

“Kurasa paru-parunya bocor. Masukkan tube ke dadanya dan bawa dia sekarang!” paramedis ramah berambut merah menjerit ketika menyerahkanku kepada sekelompok perawat dan dokter.

“Di mana yang lain?” tanya lelaki berjanggut yang mengenakan pakaian bedah.

“Pengemudi lain mengalami gegar otak ringan, ditangani di lokasi. Orangtua meninggal seketika. Anak laki-laki, tujuh tahun, persis di belakang kami.”

Aku mengembuskan napas kuat-kuat, seolah sudah menahannya selama dua puluh menit terakhir. Setelah melihat diriku sendiri di parit tadi, aku tidak mampu mencari Teddy. Jika dia dalam kondisi seperti Mom dan Dad, atau seperti aku, aku tidak… aku bahkan tidak ingin membayangkannya. Tapi Teddy tidak seperti kami. Dia masih hidup.

Mereka membawaku ke ruangan kecil yang terang. Dokter mengoleskan cairan jingga ke sisi dadaku kemudian menusukkan tube plastik. Dokter lain menyorotkan senter ke mataku. “Tidak ada respons,” dia memberitahu perawat. “Helikopter sudah datang. Bawa dia ke Ruang Trauma. Sekarang!”

Mereka bergegas mengeluarkanku dari UGD dan masuk elevator. Aku harus berlari untuk mengikuti mereka. Persis sebelum pintu tertutup, aku baru sadar Willow ada di sini. Aneh. Kami bermaksud mengunjunginya dan Henry serta anak mereka di rumah. Apakah dia dipanggil karena hari ini bersalju? Apakah karena kami? Dia melangkah cepat-cepat di lorong rumah sakit, wajahnya penuh konsentrasi. Kurasa dia bahkan belum tahu kamilah yang mengalami kecelakaan. Mungkin dia bahkan berusaha menelepon, meninggalkan pesan di ponsel Mom, meminta maaf karena ada kejadian darurat dan dia takkan ada di rumah ketika kami berkunjung.

Elevator membuka ke atap rumah sakit. Helikopter, baling-balingnya menebas udara, berdiri di tengah lingkaran merah besar.

Aku belum pernah naik helikopter. Sahabat karibku, Kim, pernah. Dia pernah terbang di atas Gunung St. Helens bersama pamannya, juru foto terkenal yang bekerja untuk majalah National Geographic.

“Dia mengoceh tentang bunga-bunga yang tumbuh setelah letusan gunung, dan aku muntah ke pangkuannya,” Kim bercerita padaku di kelas sehari sesudahnya. Dia masih tampak agak pucat setelah pengalaman itu.

Kim senang mengerjakan buku tahunan dan berharap suatu hari nanti bisa menjadi fotografer. Pamannya mengajaknya dalam perjalanan itu sebagai hadiah, untuk memupuk bakatnya.

“Muntahanku bahkan mengenai beberapa kameranya,” Kim meratap. “Aku takkan pernah menjadi fotografer sekarang.”

“Ada banyak jenis fotografer,” aku memberitahunya. “Kau tidak harus terbang ke mana-mana dengan helikopter.”

Kim tertawa. “Baguslah. Karena aku tidak mau naik helikopter lagi—dan kau juga jangan!”

Aku ingin berkata pada Kim bahwa kadang-kadang kau tidak punya pilihan.

Pintu helikopter dibuka dan brankarku beserta semua tube dan slang dimasukkan ke sana. Paramedis melompat masuk di sebelahku, masih memompa tube plastik kecil yang rupanya bernapas untukku. Begitu kami mengudara, aku mengerti mengapa Kim mual. Helikopter tidak seperti pesawat, peluru kencang yang terbang mulus. Helikopter lebih mirip bola hoki yang dilontarkan ke udara. Naik-turun, goyang ke kiri dan kanan. Aku heran sekali orang-orang ini masih bisa menanganiku, mampu membaca printout komputer kecil, bisa mengemudikan benda ini sambil berkomunikasi di sekitarku melalui headset, bagaimana mereka bisa melakukan semua itu sementara helikopter melonjak-lonjak.

Helikopter menembus kantong udara dan seharusnya aku merasa mual. Tapi aku tidak merasakan apa-apa, setidaknya aku yang sebagai penonton. Dan aku yang berada di brankar rupanya juga tidak merasakan apa-apa. Sekali lagi aku harus bertanya-tanya apakah aku sudah mati, tapi kemudian berkata pada diri sendiri, belum. Mereka tidak akan mengangkutku menggunakan helikopter ini, tidak akan terbang ngebut di atas hamparan hutan jika aku sudah mati.

Juga, jika aku sudah mati, kurasa Mom dan Dad telah menjemputku sekarang.

Aku bisa melihat jam di panel kontrol. Pukul 10.37. Aku ingin tahu apa yang terjadi di daratan sekarang. Apakah Willow sudah tahu siapa pasien daruratnya? Apakah sudah ada yang menghubungi kakek-nenekku? Mereka tinggal dua kota jauhnya dari kami, dan aku senang makan malam bersama mereka. Gramps gemar memancing dan dia mengasapi sendiri salmon serta tiram, dan kami mungkin akan menyantapnya beserta roti bir cokelat tebal buatan Gran. Kemudian Gran membawa Teddy ke tempat pembuangan sampah daur ulang yang besar di kota dan membiarkan anak itu mengarungi barang bekas untuk mencari majalah. Akhir-akhir ini Teddy menggemari Reader's Digest. Dia suka menggunting kartunnya dan membuat kolase.

Aku bertanya-tanya tentang Kim. Hari ini sekolah libur. Aku mungkin tidak bersekolah besok. Dia mungkin menyangka aku membolos karena tidur larut malam setelah menonton Adam dan Shooting Star di Portland.

Portland. Aku cukup yakin dibawa ke sana sekarang. Pilot helikopter terus membicarakan Trauma Satu. Di luar jendela, aku bisa melihat puncak Mount Hood menjulang. Itu artinya Portland telah dekat.

Apakah Adam sudah ada di sana? Dia bermain di Seattle tadi malam tapi selalu merasa penuh adrenalin setelah pertunjukan, dan mengemudi membantunya menenangkan diri. Anggota band yang lain dengan senang hati membiarkannya menyopir sementara mereka beristirahat. Jika sudah ada di Portland, dia mungkin masih tidur. Ketika bangun, apakah dia akan minum kopi di Hawthorne? Mungkin membawa buku ke Japanese Garden? Itulah yang dilakukannya terakhir kali aku pergi ke Portland bersamanya, hanya saja saat itu udara jauh lebih hangat. Nantinya, siang ini, aku tahu band mereka akan cek suara. Kemudian Adam akan keluar untuk menunggu kedatanganku. Mulanya, dia akan berpikir aku terlambat. Bagaimana mungkin dia menduga aku sebenarnya datang lebih awal? Bahwa aku tiba di Portland pagi ini sementara salju masih mencair?

---oOo---

“Kau pernah dengar tentang si Yo-Yo Ma ini?” Adam bertanya. Ketika itu musim semi tahun keduaku di SMA, artinya Adam kelas tiga. Saat itu, Adam sudah menontonku berlatih di ruang musik selama beberapa bulan. Kami belajar di sekolah negeri, tapi salah satu sekolah yang bagus dan selalu diulas di majalah nasional karena menekankan pelajaran seni. Kami memang mendapatkan banyak waktu bebas untuk melukis di studio atau berlatih musik. Aku menghabiskan waktu di ruangan-ruangan kedap suara bagian musik. Adam juga sering ada di sana, main gitar. Bukan gitar listrik yang dimainkannya di band. Hanya gitar akustik.

Aku memutar bola mata. “Semua orang pernah mendengar tentang Yo-Yo Ma.”

Adam nyengir. Aku menyadari untuk pertama kalinya bahwa senyumnya miring, mulutnya mencuat ke atas di satu sisi. Dengan ibu jari yang bercincin dia menunjuk ke luar kubikel. “Kurasa kau takkan menemukan lima orang di luar sana yang pernah dengar tentang Yo-Yo Ma. Dan omong-omong, nama apa sih itu? Bahasa gaul? Yo Mama?”

“Itu nama Cina.”

Adam menggeleng-geleng sambil tertawa. “Aku kenal banyak orang Cina. Mereka punya nama seperti Wei Chin. Atau Lee apalah. Bukan Yo-Yo Ma.”

“Kau tidak boleh menghujat sang master,” kataku. Tapi kemudian aku pun terbahak. Aku butuh beberapa bulan untuk meyakinkan diri bahwa Adam bukan hanya mengisengiku, dan setelah itu kami mulai sering mengobrol di koridor.

Tapi tetap saja, perhatiannya padaku membuatku bingung. Adam bukan cowok populer. Dia bukan olahragawan atau jenis yang kelihatan bakal sukses. Tapi dia keren. Keren karena bermain band dengan anak-anak kuliahan di kota kami. Keren karena dia punya gaya rock sendiri, diperolehnya dari toko murah dan obralan, bukan barang-barang tiruan bermerek Urban Outfitters. Keren karena dia tampak senang duduk di kantin sambil sibuk membaca buku, bukan hanya pura-pura membaca karena tak ada tempat duduk baginya atau teman untuk duduk bersama. Bukan itu alasannya. Dia memiliki sekelompok teman dan banyak pengagum.

Dan aku juga bukan anak culun. Aku punya banyak teman dan seorang sahabat karib yang duduk bersamaku saat makan siang. Aku punya teman-teman lain di konservatorium musik yang biasa kuikuti pada musim panas. Orang-orang lumayan menyukaiku, tapi mereka juga tidak terlalu mengenalku. Aku pendiam di kelas. Aku tidak sering mengangkat tangan atau membuat guru-guru jengkel. Dan aku sibuk, sebagian besar waktuku kugunakan untuk berlatih atau bermain dalam kuartet alat gesek atau ikut kelas teori di perguruan tinggi lokal. Anak-anak ramah padaku, tapi mereka memperlakukanku seolah aku orang dewasa. Seperti guru. Dan kau tidak main mata dengan gurumu.

“Kira-kira kau bakal bilang apa kalau kukatakan aku punya tiket untuk menonton sang master?” tanya Adam, matanya berkilat jenaka.

“Yang benar? Bohong,” balasku, mendorongnya lebih keras daripada yang kumaksud.

Adam pura-pura terjengkang menabrak dinding kaca. Kemudian ia menepuk-nepuk dirinya. “Aku punya kok. Di tempat Schnitzle di Portland itu.”

“Namanya Arlene Schnitzer Hall. Itu bagian Simfoni.”

“Ya, itu tempatnya. Aku punya tiket. Dua lembar. Kau mau?”

“Kau bercanda? Tentu saja! Aku ingin sekali menonton tapi tiketnya delapan puluh dolar selembar. Tunggu, bagaimana kau sampai punya tiket?”

“Teman keluarga memberikannya kepada orangtuaku, tapi mereka tidak bisa pergi. Biasa saja kok,” Adam berkata cepat-cepat. “Lagi pula, pertunjukannya malam Sabtu. Kalau kau mau, aku akan menjemputmu pukul setengah enam dan kita akan berkendara ke Portland bersama-sama.”

“Oke,” jawabku, seakan itu hal paling alamiah di dunia.

Tapi Jumat petang aku lebih berdebar-debar daripada ketika dengan gegabah meminum sepoci penuh kopi kental Dad saat belajar untuk ujian akhir musim dingin yang lalu.

Bukan Adam yang membuatku gugup. Aku sudah merasa nyaman berada di dekatnya sekarang. Aku gugup karena ketidakpastian. Apa ini sebenarnya? Kencan? Teman yang berbaik hati? Perbuatan amal? Aku tidak suka berada dalam situasi yang tidak pasti, sama seperti tidak suka tertatih-tatih memainkan musik baru. Itulah sebabnya aku sering berlatih, demi mempercepat diriku mengendalikan situasi kemudian mulai menguasai detailnya.

Aku berganti pakaian sekitar enam kali. Teddy, waktu itu sudah TK, duduk di kamarku, menurunkan buku-buku Calvin and Hobbes dari rak dan pura-pura membaca. Ia tertawa terbahak-bahak, meski aku tidak tahu apakah itu karena kelakuan Calvin atau karena sikapku.

Mom melongokkan kepala untuk memeriksa keadaanku. “Dia cuma cowok biasa, Mia,” katanya ketika melihatku gelisah.

“Yeah, tapi dia cowok pertama yang mengajakku pergi dalam situasi mungkin-kencan ini,” sahutku.
“Jadi aku tidak tahu apakah harus mengenakan pakaian untuk kencan atau untuk simfoni—apakah orang-orang di sini berdandan untuk acara seperti itu? Atau aku harus pakai sesuatu yang santai saja, kalau-kalau ini bukan kencan?”

“Kenakan saja pakaian yang membuatmu nyaman,” usul Mom. “Dengan begitu, kau aman.” Aku yakin Mom akan berdandan habis-habisan jika menjadi aku. Dalam foto-fotonya bersama Dad ketika mereka baru pacaran, Mom tampak seperti campuran cewek penakluk tahun 1930-an dan cewek biker, dengan rambut pendek mencuat, matanya yang biru dan besar dipoles eyeliner hitam, dan tubuhnya yang kurus selalu dibalut sesuatu yang seksi, seperti kamisol renda model kuno yang dipasangkan dengan celana kulit ketat.

Aku mendesah. Aku berharap bisa seberani itu. Akhirnya aku memilih rok hitam panjang dan sweter lengan pendek warna marun. Polos dan sederhana. Ciri khasku, kurasa.

Ketika Adam muncul mengenakan setelan jas sharkskin dan sepatu Creepers (paduan yang membuat Dad terkesan), aku sadar ini memang kencan. Tentu saja, Adam akan berdandan rapi untuk menonton simfoni dan mungkin saja menurutnya penampilan formal adalah setelan jas sharkskin tahun 1960-an, tapi aku tahu ada sesuatu yang lebih daripada itu. Dia kelihatan gugup ketika menjabat tangan Dad dan berkata bahwa dia menyimpan CD lama grup musik Dad. “Untuk digunakan sebagai tatakan gelas, pastinya,” komentar Dad. Adam tampak terkejut, tidak terbiasa mendengar orangtua lebih sarkastis daripada anak, rupanya.

“Jangan terlalu gila-gilaan ya. Ada yang luka parah di mosh pit konser Yo-Yo Ma terakhir!” Mom berseru ketika kami melintasi pekarangan.

“Orangtuamu keren,” komentar Adam, membukakan pintu mobil untukku.

“Aku tahu,” sahutku.

Kami berkendara ke Portland, sambil mengobrol ringan. Adam menyetel berbagai cuplikan lagu grup-grup musik yang disukainya, trio pop dari Swedia yang kedengaran monoton, tapi kemudian band artistik dari Islandia yang kedengaran indah sekali. Kami agak tersesat di tengah kota dan tiba di gedung konser hanya beberapa menit sebelum pertunjukan dimulai.

Tempat duduk kami ada di balkon. Jauh dari panggung. Tapi kau pergi ke konser Yo-Yo Ma bukan karena pemandangannya, dan musiknya luar biasa. Lelaki itu punya cara untuk membuat cello bersuara seperti wanita menangis pada satu saat, dan pada saat berikutnya menjadi seperti anak tertawa. Saat mendengarkannya, aku selalu diingatkan mengapa aku memutuskan bermain cello—ada sesuatu yang begitu manusiawi dan ekspresif tentang cello.

Ketika konser dimulai, aku mencuri-curi pandang ke arah Adam melalui sudut mata. Dia tampak cukup sabar menghadapi semua ini, tapi terus-menerus melihat program acara, mungkin menghitung waktu sampai saat jeda tiba. Aku khawatir dia bosan, tapi setelah beberapa saat aku terlalu terhanyut dalam musik sehingga tidak peduli padanya lagi.

Kemudian, waktu Yo-Yo Ma memainkan Le Grand Tango, Adam meraih dan menggenggam tanganku. Dalam situasi lain, ini akan menjadi tindakan norak yang kampungan. Tapi Adam tidak memandangku. Matanya terpejam dan tubuhnya bergoyang-goyang sedikit di kursi. Dia pun terhanyut dalam musik. Aku meremas tangannya dan kami duduk seperti itu selama sisa konser.
Setelahnya, kami membeli kopi dan donat lalu berjalan-jalan di sepanjang sungai. Udara berkabut dan dia membuka jaket untuk disampirkan ke bahuku.

“Kau tidak benar-benar mendapatkan tiket itu dari teman keluarga, kan?” aku bertanya.

Aku menduga dia bakal tertawa atau mengangkat tangan dengan gerakan menyerah seperti ketika aku mengalahkannya saat berargumen. Tapi dia menatapku lekat-lekat, sehingga aku bisa melihat warna hijau dan cokelat serta kelabu bermain-main pada selaput iris matanya. Dia menggeleng. “Itu tip setelah dua minggu mengantar piza,” dia mengakui.

Aku berhenti melangkah. Bisa kudengar suara air di bawahku. “Kenapa?” tanyaku. “Kenapa aku?”

“Aku belum pernah melihat orang yang bisa begitu terhanyut oleh musik seperti kau. Itulah sebabnya aku suka sekali menyaksikanmu berlatih. Ada kerutan lucu di dahimu, di sini,” kata Adam, menyentuh bagian atas tulang hidungku. “Aku terobsesi pada musik dan aku sekalipun tidak terhanyut seperti kau.”

“Jadi, apa? Aku eksperimen sosial untukmu?” Aku bermaksud bercanda, tapi kedengarannya pahit.
“Tidak, kau bukan eksperimen,” kata Adam. Suaranya parau dan tersekat.

Leherku memanas dan aku bisa merasakan wajahku memerah. Aku memandang sepatuku. Aku tahu pasti Adam sekarang menatapku, seperti aku tahu pasti bahwa jika aku menengadah, dia akan menciumku. Dan aku terkejut mengetahui betapa aku ingin dicium olehnya, menyadari bahwa aku sering memikirkannya sehingga aku hafal betul bentuk bibirnya, bahwa aku membayangkan jemariku mengelus belahan dagunya.

Mataku mengarah ke atas. Adam menungguku. Begitulah awal mulanya.



CRAZY !!! - BAB 9

'Berhasil merebut milikku' ??? Apa maksud Kazuma mengatakan itu kepada Han Bum? Apa yang sebenarnya Han Bum rebut dari Kazuma? Kenapa Kazuma dan Taiki amat membenci Han Bum?

"ugh...." Han Bum mengerang.

Akhirnya aku kembali sadar dan beralih kepada Han Bum, "kamu tak apa2?" tanyaku kepada Han Bum sambil membantunya berdiri.

"ak- aku tidak apa2.."
Aku mengalungkan tangan kanan Han Bum di leherku agar dia bisa berdiri lalu aku membantunya berjalan.

"kau mau kuantar ke rumah sakit?" tanyaku kepada Han Bum.

"ah, tidak perlu.. luka seperti ini dibawa tidur juga sembuh..", sepertinya Han Bum sudah biasa dengan luka seperti ini.. -_- yah, tidak heran sih....

"terserah apa katamu, tapi yang pasti biarkan aku mengobati wajahmu dulu." kataku.

"baiklah, tapi obatnya...?"

"obat? oh, aku selalu membawa obat." aku mengorek tasku dan kukeluarkan kotak P3K ukuran mini milikku, lalu kupamerkan di depan wajah Han Bum.

"kau selalu membawa barang begituan? kau pasti sering terluka ya?" aku tak menjawab, aku hanya tersenyum saja. tentu saja aku harus membawa kotak seperti ini, semenjak mengenal Kazuma sepertinya benda seperti ini amat dibutuhkan dalam keadaan yang tak terduga. Lalu aku duduk dengan Han Bum di taman dekat Rumah Sakit dan aku mengobati luka2 di wajahnya.

"kenapa kau baik sekali kepadaku?" tanya Han Bum.

"mana mungkin aku meninggalkan orang yang terluka, dasar bodoh."

"lalu, kenapa kau tak pergi kepada Kazuma tadi?"

"itu.. itu karena...."

"apapun itu.. terimakasih karena kau tak meninggalkanku." katanya sambil tersenyum kepadaku.

Senyum Han Bum benar2 manis dan tulus.. benar2 menyilaukan maksudku. Jantungku sempat derdegup cepat dibuatnya, bagaimana caranya dia melakukan itu?

aku akan mencoba tersenyum seperti itu kapan2, siapa tahu orang akan terbuai seperti aku terbuai oleh Han Bum.. kekeke

Aku mengobati muka Han Bum dengan kapas yang berakohol,dia hanya diam saja dan sesekali memberikan ekspresi kesakitan.

Tidak seperti Kazuma.. Kazuma pasti akan meneriakiku.. dia pasti akan mengoceh selama aku mengobati lukanya sambil beberapa kali melirik ke arahku.. wangi colognenya pasti akan menggelitik hidungku dan membuatku memimpikannya sepanjang tidurku.. berhenti Asuka! jangan mengingat Kazuma lagi!

"he- hei! kamu kenapa?" tanya Han Bum kepadaku.

"uh? huh? a- apa maksudmu?" tanyaku bingung kepadanya.

"kamu menangis..."

"apa? ah, hahaha.. aku tidak menangis kok.. heuk heuk hiks...."

Aku sangat merindukan Kazuma. Aku sangat merindukan Kazuma sampai di titik dimana aku sulit bernafas. Tak kuduga aku bisa begitu merindukannya, Aku sangat ingin melihat wajahnya, mendengar suaranya, mencium aroma cologne nya...

Tiba-tiba Han Bum memelukku dan berkata, "tak apa... menangislah saja sekarang. dengan kau menangis sekarang, kau dapat tersenyum untuk besok.. lepaskan saja semuanya."

Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan Han Bum entah sampai berapa lama. Kazuma... aku merindukanmu....

***

"Apa2an kau?! bagaimana bisa kamu begitu jorok! bajuku penuh dengar ingusmu!", protes Han Bum kepadaku. kami sedang dalam perjalanan pulang ke rumahku (Han Bum mengantarku).

"kan kamu sendiri yang bilang untuk melepaskan semuanya! ya sudah aku lepaskan semuanya! jadi kamu jangan protes." jawabku.

Bajunya disaat aku menangis tadi. hahaha, habis hidungku sudah mampet banget, jadi sekalian saja. hahaha XDD.

"aku takkan meminjamkan badanku lagi kepadamu.."sesalnya.

"aku sih tidak apa2, masih banyak cowok yang mau meminjamkan badannya
padaku."

"cewek macam apa kamu.... -_-"

"jangan kurang ajar! aku masih lebih tua daripada kamu!" kataku sambil menjambak rambut Han Bum sampai kebawah.

+kraaak!+ O_O!

Leher Han Bum berbunyi karena saking kencang aku menarik rambutnya.

"ADUH!" teriaknya.

"oh ya ampun! Han Bum! maafkan aku! hei kamu gak kenapa2?!"

"leherku! leherku patah! aouw! sini kamu! akan kubalas!" katanya kepadaku sambil tangan yang satunya memegang lehernya dan yang satunya lagi berusaha menangkapku. Kulihat dari sudut mataku ternyata rumahku sudah kelihatan.

Jadi sebelum Han Bum dapat membalasku, aku lari sekencang2nya dan berteriak.

"HAHAAHA! SAMPAI KETEMU LAGI! HAHAHA! RASAKAN!" lalu aku masuk kerumah dan meninggalkan Han Bum.

Begitu masuk ke dalam rumah, ternyata orang tuaku sudah menungguku. Aku dimarahi habis-habisaan karena pulang malam tanpa pulang terlebih dahulu sehabis dari sekolah. dan ibuku menghukumku untuk membersihkan toilet saat itu juga.

ibuu! ini kan sudah malaammm! sudah pagi malah!

Akhirnya aku selesai membersihkan toilet pukul 1.30 pagi dan aku langsung tidur tanpa mandi ataupun mengganti baju seragam dan jaket Han Bum yang masih kupakai ini..

***

Tidurku semalam cukup nyenyak, mungkin karena aku benar2 kecapekan semalam. Tapi tetap saja waktu aku bangun aku ngantuk sekali. Tidurku tak pernah cukup beberapa hari ini..-_-

Oh ya ampun, semalam aku lupa mengembalikan jaket Han Bum. Akan kukembalikan begitu bertemu dengannya lagi. tapi kalau tak bertemu lagi, akan kusimpan jaket ini sebagai souvenir.. kekeke, jaketnya bagus soalnyaa.. kekeke

Aku berangkat ke sekolah, dan sesampainya di sekolah Emi langsung menerorku dengan banyak pertanyaan.

"kamu sudah gila?! kemana kau kemarin?! jantungku hampir berhenti melihat Kazuma yang tiba2 mengamuk ingin keluar dari Rumah Sakit. ada 4 orang lebih yang menahannya, tapi dia kuat sekali dan dia berhasil kabur! dia bilang dia mau mencarimu dan membunuh orang yang bersamamu!
jantungku berhenti saking kagetnya! ya ampun.."bisik Emi kepadaku.sepertinya Emi lupa kita sedang dalam jam pelajaran -_- lalu aku menceritakan semuanya kepada Emi tentang kejadian kemarin.
wajah Emi menyimak ceritaku amat serius dan sesekali mulutnya terbuka saking kagetnya.

"jadi kau bertemu dengan saudara tiri Kazuma? dia ganteng tidak?" bisiknya semangat.

"tentu saja dia ganteng. tapi aku lebih suka wajah Kazuma. hahaha"

"oh ya ampun, kenapa sih kau bisa ketemu yang ganteng2 semua? lalu kenapa Taiki dan Kazuma amat membenci Han Bum?"

"kalau itu.. aku sendiri juga tidak tahu kenapa.."

+TING~TONG~TING TONG~ TING TONG TING TONG~+

Bel istirahat berbunyi. sungguh tak terasa ternyata sudah istirahat saja mungkin karena jam pelajaran ini kupakai untuk mengobrol kali ya? jadinya tidak berasa.. kekeke

Seperti biasa, aku dan Emi langsung menyerbu ke kantin untuk membeli makanan sebelum kami kehabisan. saat kami berlari menuju ke kantin, aku menabrak seseorang ternyata orang yang kutabrak itu Taiki.

"eh maaf maafkan aku."kataku sambil menunduk-nundukkan kepalaku.

Taiki hanya memandangku dengan dingin lalu pergi melewatiku.

"kenapa dia?" tanya Emi kepadaku.

"aku tidak tahu. mungkin dia masih marah kepadaku karena kejadian kemarin..."

Kenapa Taiki bersikap begitu padaku..? Sebenarnya apa sih yang membuat Taiki maupun Kazuma begitu membenci Han Bum? semua ini benar2 membingungkan! membuatku hampir gila!

Sisa istirahat dan pelajaran kupakai menerka2 apa yang sebenarnya terjadi diantara Kazuma dan Han Bum.pikiranku berputar2 sampai tak ada satupun dari pelajaran yang dijelaskan masuk ke dalam kepalaku.

"hei Asuka! lihat! ada cowok ganteng banget disitu! tapi kenapa mukanya banyak plester begitu ya?" bisik Emi memecah pikiranku.

"dimana?" tanyaku.


"itu disitu, yang bersandar di gerbang belakang itu." kata Emi sambil menunjuk2 keluar jendela.

"Ha- Han Bum...? apa yang dilakukannya disini...?"

"itu Han Bum? yang benar saja! dia cakep sekali! tapi masih cakepan Yusuke sih.. tapi dia cakep sekali!"

Sepertinya Han Bum melihat ke arah jendela kelasku, lalu dia melambaikan tangannya sambil tersenyum. aku balas melambai.

"ya ampun! cowok itu melambai kepadaku!" bisik cewek yang duduk di depan mejaku.

"tidak! dia melambai kepadaku!" kata yang satunya lagi mereka saling berebut tentang siapa yang dilambaikan oleh Han Bum.. dasar anak jaman sekarang... -_-

"hei Asuka! lihat! itu Taiki dan Yusuke! mereka mendatangi Han Bum dengan membawa anak2 yang lain!" bisik Emi kepadaku. aku langsung melihat keluar begitu Emi berkata begitu. dan benar saja, itu
Taiki dan Yusuke. membawa beberapa pengikutnya menghampiri Han Bum. aku merasakan bahwa suasananya mulai tak enak, aku harus cepat2 keluar untuk menolong Han Bum.

Aku mengangkat tanganku dan berteriak, "mohon izin pak guru! aku ingin berak! sudah tidak tahan lagi!" kataku kepada pak guru. setelah berkata begitu aku langsung berlari keluar. aku berlari seperti
wanita sinting, setiap orang yang melihatku berlari memandangku keheranan. dan aku beberapa kali hampir terjatuh saat menuruni tangga.

Akhirnya aku sudah dapat melihat Han Bum dan anak2 lain. disitu Han Bum sedang digiring oleh 4 orang lebih untuk dibawa ke tempat lain. aku langsung berlari ke arah Han Bum dan menarik tangannya.

"Ja-jangan apa-apakan dia! hosh hosh hosh" kataku kepada mereka sambil mencoba mengatur nafasku kembali.

Aku berdiri di antara Han Bum dan yang lainnya dengan posisi melindungi Han Bum.

"Sebaiknya kau pergi dari sini Fujimoto.. ini bukan urusanmu." kata Taiki kepadaku

"betul Asuka-chan.. lebih baik kamu pergi saja.." kata Yusuke kepadakujuga.

"ti-tidak! hosh hosh hosh... kau tak boleh membawanya! kalau kau mau membawanya, habisi aku dulu!" teriakku kepada Taiki dan Yusuke.

"hei Taiki, bagaimana ini..? dia ceweknya Kazuma.. masa kita harus menyingkirkannya?" tanya salah satu dari pengikut Taiki.

Taiki mengacuhkannya dan berkata," hei bocah.. tidakkah kau malu harus dilindungi wanita..?"

"tentu saja aku malu, tapi aku lebih malu lagi membawa banyak orang untuk menghabisi satu anak yang lebih muda dariku." sindir Han Bum kepada Taiki.

"sebaiknya jaga mulutmu. dan hari ini kau kubiarkan lolos hanya karena aku masih menghormati Fujimoto yang melindungi anak bayi sepertimu. sebaiknya kau ingat itu."

setelah berkata begitu, Taiki dan Yusuke pergi lalu pengikut2nya juga mengikutinya.

"apa yang kau lakukan disini?" tanyaku kepada Han Bum.

"tentu saja untuk bertemu denganmu. aku tak punya teman main selain kamu disini." jawab Han Bum.

"tapi aku belum pulang sekolah. dan lagi aku harus membersihkan toilet guru sepulang sekolah."

"ya sudah, akan kutunggu sampai kau pulang."

"memangnya kenapa kau mau menemuiku?"

"untuk mengambil jaketku tentu saja."

"cuma karena itu? "

"tentu saja! kau tak tahu berapa harga jaket itu?"

"yayaya, terserah apa katamu. aku akan menemuimu disini pukul 5 sore. dan sebaiknya kau jangan menungguku di sini, bisa2 Taiki datang lagi."

"aku tak takut kepada Taiki."

"terserah... pokoknya kau jangan tunggu disini atau aku takkan menemuimu."

"yaya baiklahh...." kata Han Bum. lalu dia pergi dan aku kembali ke kelas.


+sepulang sekolah+


"WC ini benar2 terkutuk! bagaimana bisa WC kembali kotor dalam waktu hanya satu hari?! menyebalkaaaaannn!!!!!" jeritku.

"sudah. tutup mulutmu dan kerjakan sajalah..." kata Emi. sekarang sudah pukul 4.30 sore. berarti 30menit lagi Han Bum akan datang untuk menemuiku.

"aku harus cepat2 menyelesaikan ini. anak sinting itu akan datang sebentar lagi." gumamku.

"apa?! nanti kau mau bertemu dengan Han Bum??" tanya Emi.

"iya, aku harus mengembalikan jaketnya. sepertinya jaketnya mahal sekali..-_-''

"hei.. kau suka kepadanya?"

"kau gila? tentu saja tidak. dia sudah kuanggap adikku sendiri. yah, kalau aku menikah dengan Kazuma dia otomatis akan jadi adikku juga sih.. kekeke"

"bukannya kamu lagi berantem sama Kazuma?"

"ukh... untuk sesaat aku lupa.. aku sendiri juga tak tahu sebenarnya kami masih pacaran atau tidak semenjak kejadian kemarin.."

"itu salahmu bodoh! kenapa kau tak meninggalkan Han Bum saja kemarin dan beralih ke Kazuma!"

"bisa2nya kau bilang begitu! mana mungkin aku pergi ke Kazuma setelah aku melihat dia mencium rubah betina itu?!"

"tapi sepertinya Kazuma bukan orang yang seperti itu.. pasti dia ada alasan tersendiri mengapa dia mencium Hyori.. yah, walaupun Hyori mantan pacar Kazuma sih- uph"

Emi membungkam mulutnya sendiri, sepertinya dia kelepasan ngomong.

"ap.. apa katamu? Hyori mantan pacar Kazuma?! tapi bagaimana bisa dan kau tahu dari mana??"

"..........." Emi diam saja dan mengalihkan pandangannya dariku, dia berpura2 seakan tak mendengarku.

"kalau kau tidak menjawab, akan kukirim fotomu yang sedang mengupil ke Yusuke sekarang juga."

"........'' Emi tetap diam saja. tapi bisa kulihat dia mulai berkeringat.

"oh? kau memutuskan untuk diam? baiklah, akan kukirim" aku mengambil Hpku dari kantong rok-ku dan mulai bersiap untuk mengirim gambar, tapi Emi mencegahku.

"ah! bagaimana bisa kau mengancam temanmu seperti itu?!" teriaknya.

"bagaimana bisa kau menyembunyikan sesuatu dari temanmu?!" teriakku balik.

"baiklah! baiklah! akan kuceritakan! tapi hapus fotoku itu dari Hpmu!"

"iya2..." kataku sambil berpura2 menghapus gambar, padahal aku tak menghapus gambarnya. aku tahu gambar ini akan bergun lagi suatu saat nanti. kekekeke..

"iya.. jadi si Kazuma itu pernah pacaran sama Hyori selama 2 tahunan. tapi dia putus dengannya karena Hyori menyukai lakii2 lain dan memutuskan Kazuma. hanya itu yang kutahu."

"kini masuk akal mengapa Kazuma mencium Hyori kemarin.." gumamku.

"apa maksudmu?" tanya Emi.

"ya, jelas kan? Kazuma pasti masih menyukai Hyori selama ini."

"tidak mungkin ah! dia kelihatan amat menyukaimu!"

"......." aku diam saja. aku tak tahu harus menjawab apa. aku harap itu benar bahwa Kazuma benar2 menyukaiku. tapi bila kupikir, sepertinya mustahil orang sekeren Kazuma bisa menyukaiku. dan bila dipikir dengan logika, pasti Kazuma akan memilih Hyori. secara Hyori lebih cantik dan sangat populer dibandingkan aku... -_- ukh.. kenapa aku jadi merendahkan diri sendiri begini sih?!
akhirnya kami selesai membersihkan toilet, dan itu sudah pukul 05.30 sore..

aku langsung keluar dan meninggalkan Emi, karena Han Bum pasti sudah menungguku sejak tadi.

"Han Bum!" teriakku.

Han Bum sedang bersandar di pagar menungguku. sepertinya sudah sejak tadi dia disitu.

"lama sekali..." kata Han Bum

"maafkan aku.. WC itu lebih parah daripada peternakan sapi. kau harus melihat betapa kotornya WC itu.. -_-"

"oh ya sudah, ayo kita cari makan. aku lapar sekali."

"hah? makan? kukira kamu mau mengambil jaketmu, jaketmu ada di rumahku."

"kau harus bertanggung jawab dulu karena sudah membuatku kelaparan setengah mati. jadi sebelum mengambil jaketku di rumahmu, kau harus menemaniku dulu hari ini."

"apa-apaan ka-" sebelum aku bisa protes, Han Bum menarikku pergi.

"ayo cepat! hari ini aku yang traktir" kata Han Bum.

kekeke, okelah aku ikut. mumpung di traktir... kekeke

kami pergi ke MCD dekat sekolahku. disana ramai sekali dengan anak2 dari berbagai SMA. aku mencari tempat duduk di pojok (aku tidak suka tempat yang terlalu ramai, jadi tolong jangan pikir aku mau ngapa-ngapain Han Bum di pojokkan) sedangkan Han Bum memesan makanan.

"ini dia makanannya." kata Han Bum sambil meletakkan nampan berisi 2 Hamburger, 2 kentang goreng, 4 ayam goreng, dan 3 soda.

"banyak sekali.. kau mau menghabiskan ini semua?" tanyaku.

"tentu saja tidak. tapi aku tahu kau yang akan menghabiskan semuanya."

Sial.. bagaimana dia tahu kalau aku berencana menghabiskan makanan ini?? benar saja, 2/3 dari makanan yang ada akulah yang memakannya.

"ah~ kenyangnya! terimakasih makanannya Han Bum!" kataku.

"sudah kuduga kau yang akan menghabiskannya...-_-" gumamnya.

"tutup mulutmu! akh, aku mau ke toilet."

"sehabis makan kau mau buang kotoran?? kini kutahu kenapa badanmu kurus sekali walaupun makanmu seperti kuli. pencernaanmu lancar sekali!"

kutarik rambutnya Han Bum dan aku berkata," jangan berkata begitu. aku masih lebih tua daripadamu tahu!"

sebelum Han Bum bisa protes lagi, aku cepat2 meninggalkannya ke toilet. ukh, aku tak tahan lagi. perutku sakit sekali. kata2 Han Bum ada benarnya juga sih...-_- dan aku benci mengakuinya...-__-
aku langsung cepat-cepat masuk ke toilet dan menyelesaikan urusanku karena sudah tak tahan lagi.

"ah~ lega~" gumamku.

ada suara segerombolan gadis memasuki toilet, mereka cekikikan seperti cewek2 menyebalkan. bagaimana bisa mereka begitu ribut di toilet? aduh aduh.. anak jaman sekarang..

aku keluar dari toilet karena sudah menyelesaikan urusanku dan berjalan ke arah wastafel untuk cuci tangan.

"akh!" teriak salah satu gadis sambil menunjukku, yang akhirnya aku sadar itu adalah Hyori.

"ghee?? rubah betina?" kagetku juga.

"siapa yang kausebut rubah betina?" tanya Hyori

"haha, yang merasa saja." candaku

"oh begitu ya? hahaha! lucu sekali! oh iya, kau pacarnya Kazuma kan? siapa namamu? hm.. ah! Fujikawa! aku ingat!" kata Hyori, dan teman-temannya cekikikan mendengar kata2 Hyori. apa deh yang lucu...? = ='

"namaku Fujimoto" kataku sambil mencuci tangan. aku malas melihat wajah cewek yang satu ini. walaupun kuakui dia cantik sekali...-_-

"yayaya, terserah saja. oh ya FUJIMOTO, kulihat kau sedang bersama adik Kazuma.. sudah mendapat kakaknya, kamu mau embat adiknya juga? cewek macam apa kamu?"

"lebih baik tutup mulutmu kalau tak mau mati." jawabku tetap sambil mencuci tangan berusaha mengabaikan wanita ini.

"sok sekali ucapanmu itu... kau sudah merasa hebat berpacaran dengan Kazuma? kau takkan bisa pacaran dengannya kalau aku tidak memutuskan dia, seharusnya kau tahu itu. dan sekarang, aku berniat mengambil kembali milikku yang sudah jatuh ke tangan wanita kampung sepertimu."

Asuka... santai.. santai... jangan sampai kau lepas emosi disini.. rubah betina ini hanya berusaha membuatmu marah saja Asuka.. tahan dirimu!

"kok bisa ya? Kazuma mau dengan wanita jelek seperti dia? hahaha" katanya kepada teman2nya, teman2nya ikut2an tertawa.

aku tahu dalam waktu 3 detik aku akan meledak. jadi aku harus cepat-cepat meninggalkan rubah betina ini sebelum aku lepas kendali. (kau tahu kan apa yang kuperbuat kalau aku lepas kendali? aku sudah pernah lepas kendali di hadapan Kazuma dan di hadapan cowok SMA Higashi, dan akibatnya cukup fatal)

"dan kau tahu...?" kata Hyori

3 detik sebelum aku meledak..........

"saat Kazuma menciumku rasanya seperti strawberry..."

2 detik sebelum aku meledak..........

"dia benar-benar pintar mencium...."

1 detik sebelum aku meledak...........

"sayang sekali Kazuma memilih untuk menciumku daripada mencium pacarnya sendiri.. maklumlah, KAMU.JELEK.SIH."

0 detik!............................

+BUAKH!!!!!!!!+

Tak kusangka kepalan tanganku terbang mendarat di wajah cantik nan mulus Hyori. tepatnya di hidung kecilnya itu!! aku kaget sekali aku benar2 lepas kendali!

"KYAAAAA! HYORI-CHAN!!!!!"

"APA-APAAN KAMU?!"

"HYORI-CHAN! HIDUNGMU BERDARAH!"

Teman2 Hyori benar2 panik akan apa yang kuperbuat dan aku tahu, INI ADALAH SAATNYA UNTUK KABUR!

Ini adalah saatnya aku kabur sebelum teman-teman Hyori mengalihkan perhatiannya kepadaku dan mengeroyokku. sekuat-kuatnya aku, aku juga tak mungkin menang menghadapi 5 orang
sekaligus -_- jadi aku lari untuk menyelamatkan hidupku.

"PEREMPUAN BUSUK ITU KABUR! KITA HARUS MENGEJARNYA!"

"TAPI BAGAIMANA DENGAN HYORI-CHAN? DIA TAK SADARKAN DIRI MELIHAT
DARAHNYA SENDIRI!"

sepertinya keributan yang kuhasilkan parah juga, jadi aku harus mengajak Han Bum pergi dari sini sebelum aku tertangkap.

"kenapa kau lama sekali? dan kenapa kau lari2 seperti itu?" tanya Han Bum kepadaku.

aku mengambil tas sekolah yang kuletakkan di bangku sebelah Han Bum dan menarik tangan Han Bum,"tak ada waktu menjelaskan! ayo pergi!" teriakku. sepertinya Han Bum menyadari adanya sesuatu yang tidak beres, jadinya dia mengikutiku berlari sambil aku tetap memegang tangannya.
"APA?! KAU MENONJOK HYORI?! HYORI DARI SMA SAKURA ITU??" tanya Han Bum kepadaku sambil kami terus berlari.

aku tak tahu bagaimana Han Bum bisa mengenal Hyori, dia bahkan tahu sekolahnya di mana. padahal aku saja yang tinggal disini tidak tahu dia sekolah dimana.

"Kamu tak tahu? dia itu punya banyak peggemar karena wajah cantiknya itu! tak lama lagi Hyori pasti akan menyuruh para pengikutnya itu untuk menghabisimu!" kata Han Bum lagi.

aku tak tahu Hyori separah itu. asik sekali ya punya wajah cantik? hanya dengan wajah cantik dia bisa mendapatkan pengikut seperti itu.

aku ngeri dengan apa yang harus kuhadapi kedepannya, jadi aku diam saja dan tidak menjawab Han Bum dan terus berlari.

"hosh..hosh.. hosh,... sepertinya kita sudah cukup jauh berlari... hosh hosh..." kataku sambil mencoba mengatur nafasku kembali.

"kau benar2 sudah gila."kata Han Bum. aku tak tahu bagaimana caranya nafasnya tidak tersengal2 seperti aku padahal kita sudah berlari cukup jauh.

"tu... tutup mul.. mulutmuh! hosh, hosh..."

"kenapa sih kamu bisa begitu marah kepadanya..? yah, dengan pribadi busuknya itu aku bisa mengerti sih kenapa kamu marah..."

aku tidak menjawab pertanyaan Han Bum karena aku terlalu capek untuk bicara dan juga aku tak mau mengakui kalau...

yah jujur saja.... aku cemburu mendengar pernyataan si rubah betina itu tadi...-_- (tolong jangan tertawa, kalian pasti pernah cemburu kan...? -__- ) setelah istirahat sebentar, aku dan Han Bum berjalan mengarah ke rumahku. setelah berjalan sebentar rumahku sudah mulai kelihatan.

"sebenarnya, tentang aku menemuimu untuk mengambil jaket hanya alibi saja.."
gumam Han Bum.

"hah? apa?" tanyaku, aku tak mendengar jelas karena dia bicara dengan volume kecil.

"sebenarnya.." baru saja Han Bum ingin melanjutkan kata2nya, tapi aku memotongnya.

"Ta... Taiki...?" itu Taiki. Taiki sedang berjongkok sambil merokok di depan rumahku.
aku cepat2 berjalan menuju ke arahnya.

"Taiki? apa yang kau lakukan disini?" tanyaku.

"bisa kita bicara berdua?"

"baiklah, tapi tunggu aku masuk ke dalam sebentar untuk mengambil jaket Han Bum."

Mendengar nama Han Bum keluar dari mulutku, ekspresi Taiki sedikit berubah.

"ah, tidak usah! aku akan mengambilnya kapan2! sebaiknya aku pulang dulu,selamat malam Asuka, selamat malam kak Taiki."

Taiki langsung memasang ekspresi jijik begitu namanya keluar dari mulut Han Bum. Dan aku tidak mengerti, kenapa Han Bum memanggil Taiki dengan embel-embel 'kak' dan tidak denganku? -_- bocah tak sopan...

"kenapa kau bisa bersamanya?" tanya Taiki jijik.

"aku meminjam jaketnya kemarin tapi aku lupa mengembalikannya. katanya kau mau bicara? bicara tentang apa?"

"aku ingin bicara tentang Kazuma. dan aku akan bercerita kenapa kami amat membenci Han Bum..."

"apa?! hei! siapa itu?! hei Asuka! jawab aku! dimana kau sekarang?! dan suara siapa itu?!" kata Kazuma, sepertinya Kazuma mendengar apa yang diucapkan Han Bum.

"tutup saja teleponnya." kata Han Bum lagi.

"ap- apa?! hei, aku tidak bercanda, dimana kau sekarang?! jawab ak-" sebelum Kazuma menyelesaikan kata2nya, aku mencabut baterai dari Hpku.

Aku hanya menatap mata Han Bum lekat-lekat. adegan Kazuma dan Hyori berciuman terus berputar-putar di kepalaku.

"tenanglah, kau akan baik2 saja." kata Han Bum sambil memegang wajahku.

***


SUNSHINE BECOME YOU - BAB 9

Walaupun sikap Alex Hirano pada Mia membaik, tidak berarti ia mendadak berubah menjadi pangeran berkuda putih. Ketika mereka mampir di toko swalayan untuk membeli persediaan makanan, laki-laki itu tetap bersikap seolah-olah Mia adalah pesuruhnya.

             “Clark, ambil trolinya.”

             “Clark, tidak bisa cepat sedikit?”

             “Ambil itu.”

             “Bukan yang itu. Tapi yang itu.

             “Apakah aku masih punya kopi di rumah?”

             Dan akhirnya, “Clark, bayar.”

             Bahkan Mia yang mengangkut semua barang belanjaan ke mobil. Alex Hirano tenang-tenang saja. Ia hanya beralasan, “Kau tentu tidak berharap aku bisa membantu dengan tangan seperti ini, bukan?”

             Mia memasukkan barang-barang ke dalam mobil sambil menggerutu dalam hati. Lihat saja nanti. Mia akan membalas. Untuk makan malam nanti Mia akan menambahkan lada banyak-banyak di dalam sup. Atau Mia akan membuat makanan yang tidak bisa dimakan dengan satu tangan. Misalnya steak. Biar laki-laki itu tahu rasa. Atau...

             Seolah-olah bisa membaca apa yang sedang dipikirkan Mia, Alex tiba-tiba berkata, “Aku ingin makan di luar malam ini.”

             Mia, yang sedang memasang sabuk pengamannya, menghentikan gerakan dan menatap Alex. “Apa?”

             “Aku ingin makan di luar. Ada restoran yang sudah lama tidak kukunjungi,” ulang Alex. “Di Upper West Side. Nanti kutunjukkan jalannya.”

             Jadi rencana sup lada itu pun batal. Mia mendesah pelan dan membelokkan mobilnya ke jalan raya.

             Mengikuti arah yang ditunjukkan Alex, mereka akhirnya tiba di depan sebuah restoran Italia yang ramai dan belum pernah Mia kunjungi. Mia mencondongkan tubuhnya ke depan dan membaca papan nama restoran itu. Moratti’s. “Di sini tempatnya?” tanyanya agak heran. Ia selalu menduga Alex Hirano bukan tipe orang yang suka makan di restoran yang penuh sesak.

             “Ya, di sini tempatnya,” sahut Alex sambil membuka pintu mobil dan turun.

             “Tapi coba lihat itu,” gumam Mia sambil menatap orang-orang yang berdiri di sekitar pintu depan restoran, menunggu meja kosong. “Restorannya sudah penuh.”

             “Aku selalu mendapatkan meja di sini.”

             “Tapi...”

             “Begini, kau boleh menunggu di sini kalau mau,” kata Alex tidak peduli. “Terserah kau saja.”

             Mia mengembuskan napas dengan kesal, lalu turun dari mobil dan bergegas menyusul Alex yang sudah berjalan dengan langkah lebar ke arah pintu restoran. Alex menyelinap melewati kerumunan orang yang sudah menunggu, mengabaikan tatapan heran dan kesal yang dilemparkan ke arahnya. Mia menundukkan kepala karena malu, berusaha mengabaikan orang-orang di sekitar mereka, dan melangkah cepat mengikuti Alex. Sebenarnya apa yang diharapkan laki-laki itu dengan memaksa masuk ke dalam restoran? Memangnya ia berharap bisa mendapatkan meja kosong kalau ia memaksa masuk? Memangnya ia mengenal pemiliknya? Apakah pemiliknya bisa menyediakan meja untuknya pada jam sibuk seperti ini? Memangnya...

             Tiba-tiba Alex berhenti melangkah dan kepala Mia—yang masih tertunduk—membentur punggungnya. “Aduh! Kenapa berhenti tiba-tiba?”

             “Alex!”

             Mendengar suara ramah itu, Mia mengangkat wajah dan mengintip dari balik punggung Alex. Seorang pria bertubuh tinggi dan besar berusia sekitar enam puluh tahun menatap Alex dengan wajah berseri-seri. Walaupun kumisnya yang lebat hampir menutupi bibirnya, Mia tahu pria itu sedang tersenyum lebar, karena mata hijaunya berkilat-kilat senang.

             “Paolo,” Alex balas menyapa sambil tersenyum.

             Pria yang dipanggil Paolo itu dengan segera menghampiri Alex dengan kedua tangan terentang lebar, seolah-olah ingin memeluk Alex. Namun tiba-tiba ia berhenti ketika matanya terpaku pada tangan kiri Alex yang dibebat. “Astaga, Nak, apa yang terjadi padamu?” tanyanya dengan logat Italia yang kental.

             “Hanya kecelakaan kecil,” sahut Alex ringan. “Nanti saja kuceritakan.”

             Mia melirik Alex sekilas. Entah kenapa Mia bisa merasakan bahwa Alex tidak ingin pria bernama Paolo itu khawatir. Gagasan bahwa Alex lebih mementingkan perasaan orang lain daripada perasaannya sendiri agak asing bagi Mia.

             Paolo mengangguk dan menepuk bahu Alex dengan sayang. “Baiklah, kita bicara nanti. Naiklah ke apartemen. Eleanor ada di sana. Aku akan menyusulmu setelah membereskan kekacauan di sini,” katanya. Lalu saat itu ia baru melihat Mia dan ia tersenyum ramah. “Oh, halo. Kau teman Alex? Silahkan naik saja. Silakan. Aku akan menyusul kalian nanti.”

             Masih agak bingung, Mia membalas senyum Paolo sebelum bergegas mengikuti Alex yang sudah berjalan ke belakang restoran.

             “Siapa pria tadi?” tanya Mia ketika Alex membuka pintu belakang yang mengarah ke tangga kayu kokoh yang menuju lantai atas. “Dan kita mau kemana?”

             “Paolo Moratti,” jawab Alex dan mulai menaiki tangga. “Dia dan istrinya, Eleanor, adalah pemiliki restoran terkenal ini.”

             Karena Alex tidak menjawab pertanyaan keduanya, Mia bertanya lagi, “Kita mau ke mana sekarang?”

             “Menemui Eleanor,” sahut Alex pendek.

             “Kukira kau mau makan malam,” gumam Mia, masi agak heran.

             “Memang.”

             Karena sepertinya Alex tidak ingin menjelaskan lebih jauh, Mia juga tidak bertanya lagi.

             Hanya ada sebuah pintu kayu di puncak tangga. Alex menekan bel dan menunggu sebentar. Beberapa detik kemudian terdengar langkah kaki seseorang mendekati pintu, lalu pintu dibuka oleh seorang wanita bertubuh langsing, berambut gelap keriting, berusia setengah baya. Mia mengamati senyum wanita itu mengembang, seperti Paolo tadi, ketika ia mengenali siapa yang berdiri di depan pintu.

             “Alex,” sapanya dengan suara jernih. “Alex!”

             “Halo, Eleanor,” balas Alex ramah dan merangkul wanita itu dengan tangannya yang tidak dibebat. “Apa kabar?”

             “Ada apa dengan tanganmu?” tanya Eleanor sambil menatap tangan kiri Alex. Kecemasan jelas-jelas terdengar dalam suaranya.

             “Tidak apa-apa,” kata Alex menenangkan. “Hanya cedera ringan.”

             “Tapi... oh, masuklah. Kenapa berdiri saja di sana? Masuklah,” kata Eleanor cepat sambil menyingkir memberi jalan, lalu matanya yang berwarna cokelat cerah beralih ke arah Mia.

             Merasa Alex tidak akan memperkenalkan dirinya kepada Eleanor, Mia pun mengambil inisiatif sendiri dan mengulurkan tangan kepada wanita yang lebih tua itu. “Halo, Ma’am. Namaku Mia Clark. Senang berkenalan dengan Anda.”

             “Eleanor Moratti,” kata Eleanir sambil menjabat tangan Mia. “Panggil saja aku Eleanor. Teman Alex adalah teman kami juga. Masuklah.”

             Mia memutuskan untuk tidak menjelaskan kepada wanita baik itu bahwa ia bukan teman Alex Hirano. Ia melangkah memasuko apartemen yang didominasi warna kayu dan pastel itu dan mencium aroma yang sangat enak.

             “Pollo all’arrabbiata?” tanya Mia.

             Alex menatapnya dengan alis terangkat heran, sementara Eleanor tersenyum lebar. “Benar sekali. Kau punya hidung  yang sangat tajam, young lady,” katanya dengan nada terkesan. “Ayo, kita ke dapur. Supaya kita bisa mengobrol sementara aku memasak. Kuharap kalian belum makan malam.”

             “Tentu saja belum,” sahut Alex riang. “Itulah sebabnya kami datang ke sini.”

             Alex boleh-boleh saja berbicara seperti itu karena sepertinya ia memang sudah dekat dengan pasangan Moratti, tetapi Mia merasa seperti tamu tak diundang yang mendadak muncul di depan pintu dan mengganggu acara keluarga. Karena itu ia cepat-cepat berkata, “Sebenarnya aku tidak tahu Alex berencana makan malam bersama Anda di sini. Maksudku, aku tidak ingin mengganggu...”

             “Kau sama sekali tidak mengganggu, Sayang,” sela Eleanor ramah. “Aku suka menerima tamu di rumahku. Dan aku suka memberi makan tamu-tamuku. Lagi pula, aku senang mendapat teman bicara sesama perempuan kalau Paolo dan Alex mulai membicarakan hal-hal yang menyenangkan bagi mereka namun membosankan bagiku.”

             Mia tersenyum ragu. “Tapi...”

             Eleanor berkacak pinggang. “Young lady, apakah kau tidak mau mencoba pollo all’arrabbiata-ku?” tanyanya. Lalu ia menoleh ke arah Alex. “Alex, jangan diam saja di situ. Ayo, ajak temanmu makan bersama kita.”

             Alex mengangkat bahu dan menoleh ke arah Mia. “Kau akan menyesal kalau tidak mencicipi masakan Eleanor,” katanya. Lalu ia tersenyum dan menambahkan, “Tapi tentu saja aku tidak akan memaksamu tinggal kalau kau memang tidak mau.”

             Mia menatap Alex dengan mata disipitkan, lalu ia menoleh kembali kepada Eleanor yang menatapnya dengan penuh harap. “Terima kasih atas undangannya,” kata Mia tulus. “Dan tentu saja aku sangat ingin mencoba pollo all’arrabbiata  Anda.”

***

             Dalam waktu singkat, gadis itu sudah akrab dengan pasangan Moratti.
             Mengherankan sekali, pikir Alex sambil mengamati Mia yang sedang menyusun meja makan. Sepertinya gadis itu bisa cepat akrab dengan siapa pun yang ditemuinya. Ia menawarkan diri membantu Eleanor di dapur, yang diterima Eleanor dengan senang hati, dan mereka berdua mengobrol dan tertawa seperti dua remaja yang sudah bersahabat sejak kecil.

             “Jadi, Mia, apakah kau juga pianis?” tanya Paolo ketika mereka berempat sudah duduk berkumpul di meja makan. Paolo naik ke apartemen setelah Eleanor meneleponnya untuk mengatakan bahwa makan malam sudah siap.

             “Bukan,” sahut Mia. “Aku tidak bisa bermain piano.”

             “Tapi dia penari,” sela Eleanor. “Di Juilliard juga.”

             “Oh, begitu,” gumam Paolo sambil mengangguk-angguk. “Ternyata kalian teman satu sekolah.”

             Alex melirik Mia yang duduk di sebelahnya. Ia ingin tahu bagaimana Mia mengomentari pertanyaan Paolo tadi. Tetapi Mia diam saja.

             Ketika Alex menduga Mia benar-benar tidak akan berkomentar, gadis itu berkata, “Sebenarnya kami bukan teman satu sekolah. Maksudku, kami tidak berkenalan di sekolah.”

             “Oh, ya?” tanya Eleanor dengan nada yang mengisyaratkan agar Mia meneruskan ceritanya.

             Mia melirik Alex sekilas, lalu kembali menatap Eleanor dan Paolo. “Sebenarnya, suatu hari Alex datang ke studio tari tempatku mengajar. Hari itu benar-benar...” Mia tertawa kecil. “Banyak sekali hal yang terjadi hari itu. Singkatnya, aku terjatuh dari tangga, menubruk Alex, dan membuat tangannya jadi seperti ini.”

             “Oh.” Paolo menoleh menatap Alex. “Jadi apa kata dokter tentang tanganmu?”
             Alex tersenyum. “Akan sembuk total dalam dua bulan. Tidak masalah,” katanya walaupun ia sebenarnya sama sekali tidak yakin pada ucapannya sendiri. Ia hanya tidak ingin Paolo dan Eleanor khawatir.

             “Tapi itu pertemuan yang luar biasa, bukan?” kata Eleanor menatap Mia dan Alex bergantian. “Itu yang dinamakan takdir.”

             Alex tidak mengerti apa maksud ucapan Eleanor. Dan sepertinya Eleanor tidak bermaksud menjelaskan lebih jauh karena pertanyaannya yang berikut sama sekali tidak berhubungan dengan ucapannya sebelumnya. “Berarti, Mia, kau tidak mengenal Valentino?”

             “Tidak,” sela Alex cepat. “Dia tidak mengenal Valentino.”

             Mia melirik Alex sekilas, lalu kembali menatap Eleanor. “Siapa Valentino?”

             “Valentino adalah putra bungsu kami,” jawab Eleanor sambil tersenyum. “Dia dan Alex sama-sama belajar piani di Juilliard dan mereka bersahabat baik.”

             “Oh, begitu. Lalu di mana Valentino sekarang?” tanya Mia. Dan Alex memejamkan mata.

             “Valentino sudah meninggal dunia tiga tahun yang lalu,” sahut Eleanor. Alex bisa mendengar nada sedih yang masih menghiasi suara wanita itu setiap kali ia membicarakan putranya yang sudah tiada.

             “Kecelakaan lalu lintas,” tambah Paolo pendek.

             “Aku turut prihatin,”kata Mia. Alex mendengar ketulusan dan sebekersan kekhawatiran dalam suaranya. “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat kalian sedih.”

             Eleanor menggeleng tegas dan tersenyum lebar. “Tidak apa-apa. Kami baik-baik saja.” Lalu ia menoleh ke arah suaminya. “Bukankah begitu, Sayang?”

             Paolo menatap istrinya dan tersenyum kecil. “Tentu saja,” katanya. Lalu ia menatap Mia. “Semuanya berkat Alex. Dia banyak membantu. Dia sering datang mengunjungi kami dan kami sudah menganggapnya seperti anak sendiri.”

             Alex memaksakan seulas senyum. “Justru kalian yang banyak membantuku.”

             “Baiklah,” kata Eleanor tiba-tiba. “Sebaiknya kita tidak membicarakan hal-hal sedih saat makan malam. Mari kita bicarakan hal lain.”

             Alex dengan senang hatu membicarakan hal lain. Dan ia yakin Mia juga merasa begitu.

             “Oh, ya, Mia,” kata Eleanor, “seorang keponakanku sangat suka menari dan dia sangat ingin masuk Juilliard. Tapi kurasa pasti sulit sekali diterima di sekolah itu kalau kau tidak punya latar belakang menari.”

             “Ya,” sahut Mia, merasa agak lega karena mereka mengubah topik pembicaraan. “Kau sudah harus punya pengalaman menari beberapa tahun dan sudah harus mengusai teknik-teknik dasarnya agar bisa ikut audisi.”

             “Kurada keponakanku itu akan kecewa sekali mendengarnya,” gumam Eleanor sambil menggeleng-geleng. Ia menoleh ke arah suaminya dan berkata, “Kau ingat Cecilia, Sayang? Anak itu sangat suka menari walaupun menurutku bentuk tubuhnya terlalu montok untuk menjadi penari.” Lalu ia kembali menatap Mia. “Kau pasti sudah sangat sering ikut dalam pertunjukkan tari.”

             “Hanya beberapa pertunjukkan,” kata Mia merendah.

             Alex teringat pada tarian Mia di Juilliard tadi. Penari seperti Mia tidak mungkin hanya ikut dalam satu atau dua pertunjukkan. Ia padti disertakan dalam semua pertunjukkan yang ada.

             “Kau tidak bergabung dengan kelompok tari tertentu?” tanya Eleanor lagi.

             Mia terdiam sejenak, lalu, “Tidak.”

             “Kenapa tidak?”

             Mia tidak langsung menjawab. Alex bisa merasakan ketegangan dan keengganan gadis yang duduk di sampingnya.

             Paolo menyentuh lengan istrinya. “Sayangku, kurasa kau terlalu menginterogasi tamu kita,” katanya ringan. “Ini kunjungan pertamanya ke rumah kita. Jangan membuatnya terkejut. Nanti dia tidak mau datang lagi.”

             “Oh, kau benar,” kata Eleanor. “Aku minta maaf aku terlalu banyak tanya dan terlihat ingin ikut campur.”

             “Tidak, tidak. Tidak apa-apa,” sela Mia sambil tertawa kecil. “Kenapa aku tidak bergabung dengan kelompok tari tertentu? Yah, sebenarnya sederhana saja. Karena aku lebih suka mengajar.”

             Alex menatap Mia yang sudah kembali menyantap ayamnya. Entah kenapa Alex merasa jawaban gadis itu tadi adalah jawaban standar yang selalu diberikannya kepada orang-orang yang bertanya kepadanya tentang ia lebih memilih menjadi guru daripada bergabung dengan kelompok tari terkenal tempat masa depannya akan terjamin.

             Entah kenapa Alex merasa jawaban Mia tadi bukan jawaban yang jujur.


***
             “Dia anak baik.”

             Mia menatap Eleanor tidak mengerti. “Siapa?”

             Saat itu mereka sudah selesai makan malam dan Mia membantu Eleanor membereskan meja sementara Alex dan Paolo pindah ke ruang duduk sambil membahas pertandingan olahraga.

             “Alex,” sahut Eleanor. “Dia anak baik. Kurasa selain aku dan Paolo, Alex adalah orang yang paling terpuku ketika Valentino meninggal.”

             “Kau bilang mereka bersahabat baik,” kata Mia.

             Eleanor tersenyum. “Benar. Walaupun aku dan Paolo tidak sempat tiba di rumah sakit sebelum Valentino mengembuskan napas terakhirnya, kami senang Alex di sana menemaninya.”

             “Alex ada di sana ketika Valentino...?”

             “Ya. Alex menyaksikan kecelakaan yang dialami Valentino,” kata Eleanor sambil menatap Mia. “Bisa kulihat kau terkejut mendengarnya. Tapi itu benar. Hari itu Alex, Valentino, dan beberapa orang teman mereka makan malam bersama. Ketika acara makan-makan itu selesai, Valentino menawarkan diri mengantar Alex pulang. Alex menolak. Katanya dia masih ingin mengobrol lebih lama dengan teman-teman yang lain dan menyuruh Valentino pulang duluan. Alex mengamati Valentino mengendarai mobilnya pergi. Tetapi saat itu tiba-tiba sebuah SUV melaju kencang dari arah berlawanan, oleng, dan langsung menabrak sedan yang dikemudikan Valentino. Semua terjadi begitu cepat dan di depan mata Alex.”

             “Ya Tuhan,” gumam Mia tanpa sadar.

             "Ya," kata Eleanor muram. "Alex-lah yang menghubungi 911. Valentino memang masih bernapas ketika tiba di rumah sakit, tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Ia sudah meninggal ketika aku dan Paolo tiba di sana."

Mia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggengam tangan Eleanor, berharap bisa memberikan sedikit hiburan, dukungan.

             Mata Eleanor berkaca-kaca ketika ia melanjutkan, "Kami bertiga menangis bersama hari itu. Alex menangis, Paolo juga menangis. Dan aku menangis meraung-raung." Ia terdiam sejenak, lalu meremas tangan Mia yang menggengam tangannya ddan tersenyum. "Tapi sekarang kami baik-baik saja. Hidup terus berlanjut dan Valentino tidak akan suka kalau kami berkabung selamanya."

            "Kau benar," kata Mia serak sambil tersenyum.

            "Dan kami senang Valentino pernah memiliki Alex sebagai sahabat." Eleanor menghapus sebutir air mata yang jatuh bergulir di pipinya yang berkeriput halus. "Dia anak baik. Juga pianis yang hebat. Kau sudah pernah mendengar permainannya?"

            "Belum," sahut Mia. "Tapi aku sudah membeli CD-nya."

            "Kau harus mendengar permainannya secara langsung," kata Eleanor. Lalu seakan teringat kondisi tangan Alex saat itu, ia menambahkan , "Suatu hari nanti."

            "Suatu hari nanti," kata Mia menegaskan.

           "Baiklah, sekarang kita membuatkan kopi untuk pria-pria itu sebelum mereka bertanya apa yangvkita gosipkan di dapur selama ini," kata Eleanor. Ia mengeluarkan cangkir-cangkir kopi dari dalam lemari dan meletakkannya di atas nampan. "Kau tahu, dia tidak pernah mengajak temannya ke sini sebelumnya," kata Eleanor dengan nada ringan. "Ini pertama kalinya."

            Mia tertawa. Ia bisa menebak bahwa Eleanor memiliki jiwa yang romantis dan ia tahu apa yang sebenarnya dipikirkan wanita itu. Tetapi Eleanor salah besar apabila mengira ada sesuatu di antara Mia dan Alex. "Percayalah padaku, Eleanor," kata Mia masih tertawa kecil. "Tidak ada yang terjadi antara aku dan Alex. Aku jamin. Tidak ada."

           Eleanor mengangkat bahu dan mengedipkan mata. "Kau tidak akan pernah tahu."

           Mia hanya bisa tersenyum dan menggeleng-geleng.


***
Alex dan Paolo masih sibuk membahas pertandingan olaraga kemarin ketika Mia masuk ke ruang duduk sambil membawa kopi untuk mereka.

         "Oh, kau memang malaikat," kata Paolo sambil menerima cangkirckopi yang disodorkan Mia.

         "Ya, aku tahu," balas Mia dan tertawa kecil.

         Kata terakhir Paolo mengingatkan Alex pada julukan yang diberikannya kepada Mia. Malaikat kegelapan. Dulu Mia Clark memang malaikat kegelapannya. Alex selalu takut gadis itu akan membuatnya lebih celaka. Tetapi sekarang...

         Alex mengamati Mia yang sedang menuangkan kopi ke cangkir Paolo. Sekarang gadis itu memang tidak terlihat seperti malaikat kegelapan. Yah, mungkin kalau kau sydah terlalu sering melihat malaikat kegelapan, kau pun akan terbiasa dengan kehadirannya.

         Alex masih mengamati Mia ketika gadis itu tiba-tiba menoleh dan menatap lurus ke arahnya. Alex tersentak dan cepat-cepat melihat ke arah lain.

         "Kopi?" Ia mendengar Mia bertanya.

         Alex berdeham pelan. "Terima kasih."

         Paoli baru saja membuka mulut untuk melanjutkan pembicaraannya dengan Alex ketika istrinya memanggilnya dari dapur.

         "Paolo, pintu lemari ini lagi-lagi tidak bisa dibuka. Aku ingin mengeluarkan stoples besarku.

         Paolo bangkit dari kursi dan tersrnyum kepada Mia dan Alex. "Aku akan segera kembali," katanya meninggalkan Mia dan Alex di ruang duduk.

         Alex menyesap kopinya dan tertegun. "Kopi ini," katanya sambil menatap Mia, "kau yang membuatnya?"

          Mia menempati sofa yang berhadapan dengan Alex. "Ya. Kenapa? Rasanya aneh?"
         Alex menggeleng. "Tidak," gumannya, lalu menyesap kopinya lagi. Alex tahu Mia yang membuat kopi ini karena rasanya sama seperti kopi yang dibuat gadis itu untuknya setiap pagi. Rasa kopi yang tidak asing itu membuatnya merasa nyaman. Bagaimanapun, sesuatu yang sudah tidak asing lagi pasti membuatnya merasa nyaman. Bukankah begitu?

         "Kau tahu?" kata Mia tiba-tiba.

         "Tahu apa?" balas Alex sambil menatap Mia.

         Mia memiringkan kepala sedikit. "Sebenarnya, awalnya aku tidak mengerti kenapa Eleanor menganggapmu anak baik."

        Alex mendengus dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. "Terima kasih banyak."

        Mia terkekeh. "Tapi kurasa itu karena aku tidak melihat apa yang sudah dilihatnya," katanya ringan.

        "Memangnya apa yang sudah dilihatnya?" tanya Alex.

        "Dirimu yang sebenarnya, kurasa," sahut Mia sambil mengangkat bahu. Lalu ia menatap Alex lurus-lurus dan melanjutkan, "Setelah melihat bagaimana sikapmu kepada Paolo dan Eleanor hari ini, setelah mendengar cerita Eleanor..."

        Alex mengangkat alis. "Apa yang dikatakan Eleanor padamu?"

        Mia mengabaikan pertanyaan Alex dan melanjutkan kata-katanya, "Kurasa di balik semua sikap kasar, dingin, suka memerintah..."

        Alex mengangkat tangan kanannya yang tidak dibebat. "Wow, wow, tunggu sebentar."

        "...yang kulihat selama ini, masih ada sesuatu yang baik dalam dirimu."

        Alis Alex terangkat.

        "Walaupun hanya sedikit, " kata Mia sambil mengancungkan tangan untuk menunjukkan seberapa sedikitnya dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. Lalu ia tersrnyum lebar.

        Siapa pun pasti akan terbiasa dengan keberadaan malaikat kegelapan kalau malaikat kegelapannya tersenyum seperti itu, pikir Alex tanda sadar.

        "Oh." Tiba-tiba Mia tersentak kaget, lalu cepat-cepat mengeluarkan ponsel yang bergetar tanpa suara dari saku celana jinsnya. Ia melirik layar ponsel sebelum Menempelkannya le telinga.

        "Hai, Ray," katanya.

         Alex menyipitkan mata.

         Mia melirik Alex sekilas, senyum lebar yang sama masih tersungging di bibirnya, lalu ia kembali berbicara di ponsel, "Ya, aku masih bersama kakakmu. Kami baru selesai makan malam... Ya, semuanya baik-baik saja di sini... Bagaimana festivalmu?"

         Sementara Mia terus berbicara dengan Ray sambil tersenyum dan kadang-kadang tersenyum kecil, Alex tiba-tiba teringat pada apa yang pernah dikatakan Ray kepadanya dulu, ketika Alex bertanya kepada Ray apakah Mia juga menyukainya. Nah, apa yang dikatakan Ray waktu itu?

         Kadang-kadang kupikir dia menyukaiku. Kau tahu, ada saatnya ketika dia menatapku, tersenyum kepadaku, atau ketika dia berbicara kepadaku, kupikir dia menyukaiku. Tapi kemudian aku sadar bahwa dia juga menatap, tersenyum, dan berbicara kepada orang lain seperti itu.

         Itulah yang dikatakan Ray. Dan Ray memang benar.

         Cara Mia menatap Alex tadi, caranya tersenyum dan berbicara kepada Alex tadi, sama seperti caranya menatap, tersenyum, dan berbicara kepada Ray. Juga sama seperti caranya menatap, tersenyum, dan berbicara kepada Karl, teman-teman yang sering menelponnya, teman-temannya di Juilliard tadi, dan bahkan kepada Dylan, si pegawai toko musik.

        Alex merasa agak aneh.

        Mungkin karena ia tidak ingin adiknya merasa kecewa karena hal itu sedikit-banyak membuktikan bahwa Mia Clark tidak memiliki perasaan khusus kepada Ray.

        Ya, pasti itu alasannya.


***