Kamis, 21 Maret 2013

BEAUTIFUL DISASTER - BAB 1

Peringatan (Red Flag)

Semua yang ada di ruangan ini seolah-olah berteriak kalau aku tidak pantas untuk berada di sini. Tangga mulai bergetar, orang-orang gaduh berdesakan, udara bercampur dengan bau keringat, darah, dan jamur. Suara-suara menjadi tidak jelas terdengar ketika mereka meneriakkan satu angka dan nama berulang-ulang, tangan bergerak-gerak di udara, saling bertukar uang dan berkomunikasi dengan gerakan tubuh di tengah kebisingan. Aku menerobos masuk ke dalam kerumunan, dan sahabatku mengikuti di belakang.

“Simpan uangmu, Abby!” kata America padaku. Senyumnya yang lebar bersinar meskipun di tempat yang redup.

“Tetap berdekatan! Semua akan lebih buruk ketika acara di mulai!” Shepley berteriak di tengah kebisingan. America memegang tangannya dan tanganku ketika Shepley menuntun kita melewati kerumunan orang.

Suara keras dari pengeras suara membelah udara yang penuh dengan asap. Suaranya mengejutkanku, dan aku melompat kaget, sambil melihat ke arah asal suara. Seorang pria berdiri di atas kursi kayu, sambil memegang segepok uang di satu tangan dan memegang pengeras suara di tangan yang satunya. Dia memegang pengeras suara itu di depan mulutnya.

“Selamat datang di acara ‘pertumpahan darah’! Kalau kalian mencari Economic one-oh-one, kalian berada di tempat yang salah, teman! Jika kalian mencari The Circle, ini adalah Mekkah-nya! Namaku Adam, aku yang membuat peraturan-peraturannya dan yang mengadakan acara ini. Pertaruhan berakhir ketika penantang memasuki arena, dilarang memegang dan membantu para petarung, tidak boleh mengganti taruhan, dan tidak boleh melewati batas arena. Jika kalian melanggar peraturan ini, kalian akan dipukuli dan dilempar keluar tanpa uang kalian! Ini juga berlaku untuk kalian, Ladies! Jadi jangan coba-coba melanggar sistem, boys!

Shepley menggelengkan kepalanya. “Astaga, Adam!” dia berteriak kepada MC, sangat jelas dia idak setuju dengan kata-kata yang dipilih temannya.

Jantungku berdebar kencang. Dengan memakai cardigan wol pink dan anting mutiara, aku merasa seperti guru sekolah di pantai Normandia. Aku berjanji pada America bahwa aku akan menerima apapun yang terjadi nanti, tapi ketika tiba di sini aku merasakan dorongan kuat untuk memegang tangannya erat-erat. Dia tidak akan membiarkan aku dalam bahaya, tapi dengan berada di basement bersama 50 atau lebih mahasiswa yang mabuk, kecenderungan besar mungkin terjadi perkelahian, aku sedikit tidak percaya kalau kita akan keluar tanpa terluka.

Setelah America bertemu Shepley di orientasi mahasiswa/i baru, dia sering menemani Shepley ke acara ini yang diadakan di basement yang berbeda di daerah sekitar Universitas Eastern. Setiap acara diadakan di tempat yang berbeda dan dirahasiakan hingga sejam sebelum pertarungan mulai.

Karena aku selalu berada di lingkungan yang lebih ‘jinak’, aku tercengang mengetahui tentang dunia bawah tanah Eastern; tapi Shepley mengetahui itu sebelum masuk ke Universitas Eastern.

Travis, teman sekamar dan sepupu Shepley, mengikuti pertarungan pertamanya tujuh bulan
sebelumnya. Sebagai mahasiswa baru, Travis digosipkan sebagai lawan paling mematikan yang pernah Adam lihat selama 3 tahun dia mengadakan The Circle. Memulai tingkat keduanya, Travis jadi tak terkalahkan. Travis dan Shepley dengan mudah membayar sewa dan tagihan-tagihan mereka karena selalu menang taruhan.

Adam memegang pengeras suaranya lagi, teriakan dan gerakan meningkat menjadi kegelisahan.

“Malam ini kita punya penantang baru! Bintang gulat di Eastern, Marek Young!”

Sorak sorai bergema, dan orang-orang terbagi menjadi dua seperti Laut Merah ketika Marek
memasuki arena. Lingkaran arena kosong, dan semua orang bersiul, mencemooh, dan mengejek si penantang. Dia melompat ke atas ke bawah, dan menggoyangkan lehernya ke belakang dan ke depan; wajahnya tampak keras dan focus. Orang-orang terdiam karena suara raungan, lalu tanganku menutupi telingaku ketika musik berbunyi dari speaker besar di seberang ruangan.

“Petarung kita selanjutnya tidak perlu diperkenalkan, tapi karena dia membuat aku takut, jadi aku tetap akan memperkenalkan dia! Takutilah, boys, dan buka dalaman kalian, ladies! Ini dia, Travis ‘Mad Dog’ Maddox!”

Suara bergemuruh ketika Travis muncul di pintu. Dia masuk, telanjang dada, santai dan tak
terpengaruh oleh keributan yang ada. Dia berjalan memasuki arena seperti orang yang sedang menuju kantornya. Ototnya yang tak berlemak meregang di bawah kulitnya yang bertato saat dia beradu tinju dengan Marek. Travis sedikit membungkuk dan membisikkan sesuatu ke telinga Marek, dan si pegulat itu berusaha keras untuk tetap mempertahankan ekspresi tegasnya. Marek berdiri berhadapan dengan Travis dan mereka saling menatap langsung pada mata masing-masing.

Ekspresi Marek sangat mematikan, Travis terlihat agak geli melihatnya.

Mereka mundur beberapa langkah, dan Adam membunyikan terompet. Marek mengambil posisi bertahan dan Travis menyerang. Aku berjinjit karena tidak bisa melihat, bergerak ke kanan kiri agar dapat melihat pertarungan dengan lebih baik. Aku terus naik, bergeser melewati orang-orang yang berteriak-teriak. Aku tersikut dan ditabrak, terpental ke depan dan ke belakang seperti pin bola.

Kepala Marek dan Travis mulai terlihat, jadi aku terus menerobos ke depan.

Ketika aku tepat di depan arena, Marek memegang Travis dan bermaksud untuk melemparnya ke bawah. Waktu Marek membungkuk, Travis menendangkan lututnya ke wajah Marek. Sebelum Marek bisa berdiri tegak, Travis menonjok wajah Marek yang sudah berdarah berulang kali.

Ada tangan yang menarikku hingga aku tersentak ke belakang.

“Apa yang kau lakukan Abby?” tanya Shepley,

“Aku tidak bisa melihat dari belakang sana!” sahutku.

Aku berbalik tepat ketika Marek terkena pukulan keras. Travis berbalik, dan untuk sesaat aku pikir dia telah menghindari beberapa pukulan, tapi dia berhasil memutar dan memukulkan sikunya tepat ke hidung Marek. Darah menyiprat mengenai wajahku, dan berceceran di bagian depan cardiganku.

Marek jatuh ke lantai beton dengan suara gedebuk yang keras. Untuk sesaat ruangan sunyi senyap. Adam melemparkan kain merah ke arah tubuh Marek yang lemah, dan orang-orang mukai bersorak. Uang berpindah tangan sekali lagi, dan ekspresi orang-orang terbagi dua, ada yang bangga dan ada yang frustrasi.

Aku terdorong kesana kemari oleh orang-orang yang baru masuk dan yang akan keluar. America memanggil namaku dari suatu tempat di belakang, tapi aku lebih terpesona pada noda merah yang membekas di dadaku hingga pinggang.

Sepasang sepatu boot berat berjalan ke arahku, mengalihkan perhatianku ke lantai. Mataku bergerak ke atas; melihat celana jeans yang ada noda darahnya, otot perut yang terpahat dengan indah, telanjang dada, dadanya bertato dan basah oleh keringat, dan akhirnya sepasang mata coklat yang hangat. Aku terdorong dari belakang, dan Travis menangkapku sebelum aku terjatuh ke depan.

“Hey, mundur!” Travis mengernyit, mendorong semua orang yang ada di sekitarku. 

Ekspresi wajahnya yang keras mencair menjadi senyuman ketika dia melihat bajuku kemudian mengelap wajahku dengan handuk “Maafkan soal ini, Peogen!”

Adam menepuk belakang kepala Travis. “Ayo, Mad Dog! Ada sejumlah uang yang harus diambil!”

Matanya terus memandangku. “Sayang sweaternya, padahal itu terlihat bagus dipakai olehmu.”

Detik berikutnya dia ditelan kerumunan fansnya, menghilang secepat dia datang.

“Apa yang kau pikirkan, bodoh?” America berteriak padaku sambil menarik tanganku.

“Aku datang kesini untung melihat pertarungan kan?” aku tersenyum.

“Kau seharusnya tidak boleh berada di sini, Abby,” Shepley mengomel.

“Begitu juga America.” kataku.

“Dia tidak mencoba loncat ke dalam arena!” dia mengernyit. “Ayo kita pergi.”

America tersenyum padaku dan mengelap wajahku. “Kau sangat menyusahkan, Abby. Ya Tuhan, Aku sangat sayang padamu!” Dia memeluk leherku,kemudian kami berjalan menuju tangga dan keluar di udara malam.

America mengikuti ke kamar asramaku, dan menyeringai ke arah teman sekamarku, Kara. Aku langsung membuka Cardiganku yang penuh noda darah, dan melemparkannya ke dalam keranjang.

“Ih menjijikkan. Kalian memang dari mana?” Kara bertanya dari atas tempat tidurnya.

Aku memandang America yang mengangkat bahunya, “Mimisan. Kau belum pernah melihat
hidung mimisan Abby yang terkenal?”

Kara membetulkan posisi kacamatanya sambil menggelengkan kepalanya.

“Oh, kau akan melihatnya. America mengedipkan sebelah matanya padaku, kemudian menutup pintu di belakangnya. Kurang dari semenit kemudian, HPku berbunyi. Seperti biasa, Amaerika selalu mengirim SMS setelah kita mengucapkan selamat tinggal.

“Menginap di tempat Shepley. Sampai bertemu besok, Ring Queen.”

Aku melirik Kara yang sedang memperhatikanku seakan-akan hidungku akan menyemburkan darah setiap saat.

“America hanya bercanda.” kataku.

Kara mengangguk acuh tak acuh, kemudian memandangi buku yang berantakan di atas tempat tidurnya.

“Aku akan mandi dulu.” kataku sambil mengambil handuk dan peralatan mandiku.

“Aku akan memberitahu media.” kata Kara tanpa ekspresi, sambil menunduk.

Keesokan harinya, Shepley dan America bergabung denganku saat makan siang. Aku bermaksud untuk duduk sendirian, tapi ketika para mahasiswa menuju cafeteria, semua kursi di sekitarku terisi, baik oleh teman perkumpulannya Shepley atau anak tim football. Beberapa dari mereka ada di tempat pertarungan kemarin, tapi tidak ada yang membahas pengalamanku di dekat arena.

“Shep,” panggil seseorang.

Shepley mengangguk, America dan aku berpaling untuk melihat Travis yang duduk di kursi di ujung meja. Dia diikuti oleh dua wanita pirang seksi yang memakai kaos seragam Sigma Kappa.

Salah seorangnya duduk di pangkuan Travis dan yang satu lagi duduk di sebelahnya, sambil
memainkan kaos Travis dengan jarinya.

“Aku rasa aku muntah sedikit di dalam mulutku.” America bergumam.

Si pirang yang di pangkuan Travis melirik ke arah America, “Aku mendengar itu, dasar pelacur!”

America mengambil rotinya dan melemparkannya ke atas meja sehingga hampir mengenai wajahperempuan pirang itu.

Sebelum perempuan itu sempat mengatakan sesuatu, Travis menarik lututnya sehingga perempuanitu jatuh ke bawah.

“Aduh!” dia menjerit, sambil memandang Travis.

“America adalah temanku. Silahkan mencari pangkuan lain, Lex.”

“Travis!” dia merengek, berusaha berdiri.

Travis mengalihkan perhatian pada piringnya, mengacuhkan dia. Perempuan itu melihat pada temannya dan mendengus, kemudian mereka pergi sambil berpegangan tangan.

Travis mengedipkan sebelah matanya ke arah America, seakan-akan tidak terjadi apa-apa,
kemudian melahap makanannya lagi. Saat itulah aku melihat luka kecil di pelipisnya. Travis dan Shepley saling memandang, kemudian dia mulai mengobrol dengan salah seorang dari tim football yang ada dihadapannya.

Meskipun meja makan mulai sepi, aku, America, dan Shepley terus membicarakan rencana kami untuk akhir minggu ini. Travis berdiri dan pergi, tapi kemudian berhenti di dekat meja tempat kami berada.

“Apa?” Shepley bertanya dengan sedikit berteriak, mengangkat tangannya ke telinga.

Aku mencoba untuk mengacuhkan Travis selama mungkin tapi ketika aku melihat ke atas, dia sedang memandangku.

“Kau tahu dia kan, sahabatnya America? Dia bersama kami kemarin,” Shepley menjelaskan.

Travis tersenyum padaku yang menurutku itu adalah salah satu ekspresinya yang sangat
mempesona. Dia mengalirkan seks dan sikap memberontaknya melalui suara, rambut coklat, dan tangannya yang bertato, dan aku mendelik padanya saat dia berusaha menggodaku.

“Sejak kapan kalian bersahabat, Mare?” Travis bertanya.

“Sejak SMP.” jawabnya, sambil tersenyum ke arahku. “Apakah kau lupa, Travis? Kau telah
merusak sweaternya.”

“Aku sudah merusak banyak sweater.”

“Iiiiihh,” aku bergumam.

Travis memutar kursi kosong dan kemudian duduk di sebelahku, meletakkan tangannya di
depannya. “Jadi kau adalah si Pigeon ya?”

“Bukan” aku membentak, “Aku punya nama.”

Dia tampak kagum dengan cara aku memperlakukannya, yang malah membuat aku semakin kesal.

“Jadi? Siapa namamu?” tanyanya.

Aku memakan potongan apel terakhirku, mengacuhkannya.

“Kalau begitu, Pigeon saja ya,” dia mengangkat bahunya.

Aku melirik America, lalu melihat ke arah Travis “Aku sedang makan nih.”

Travis tetap santai menanggapi perlakuanku, “Namaku Travis, Travis Maddox.”

Aku mendelik lagi, “Aku tahu kau siapa.”

“Tahu ya?” Travis berkata sambil mengangkat alisnya yang terluka.

“Jangan senang dulu. Sulit untuk tidak mengetahui siapa dirimu saat 50 orang mabuk meneriakkan namamu.”

Travis duduk lebih tegak, “Aku sering mengalami hal itu.” Aku mendelik lagi, dan Travis cekikikan. “Apakah kau punya penyakit kedut?”

“Apa?”

“Penyakit kedut, matamu selalu bergerak memutar,” dia tertawa lagi ketika aku membelalak.

“Tapi itu sepasang mata yang indah kok,” dia berkata sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“Apa warnanya? Abu-abu?”

Aku memandangi piringku, membiarkan rambut panjang warna caramelku menjadi seperti tirai yang membatasi kita. Aku tidak menyukai apa yang aku rasakan saat dia sangat dekat. Aku tidak mau menjadi seperti mereka, sejumlah wanita yang akan tersipu ketika dia datang. Aku tidak mau dia memberikan efek seperti itu padaku sama sekali.

“Jangan coba-coba, Travis. Dia sudah seperti saudara perempuanku,” America memperingatkan.

“Sayang,” Shepley berkata, “Kau baru saja melarang Travis, sekarang dia tidak akan berhenti.”

“Kau bukan tipenya,” dia melindungi.

Travis pura-pura tersinggung “Aku tipe semua orang!”

Aku melirik Travis dan tersenyum.

“Ah, akhirnya tersenyum, aku bukan seorang bajingan busuk ternyata”. Dia mengedipkan satu matanya. “Senang bertemu denganmu, Pidge.” Dia berjalan mengitari meja dan membungkuk ke telinga America.

Shepley melemparkan kentang goreng ke arah sepupunya. “Jauhkan bibirmu dari telinga pacarku, Trav!”

“Memperluas jaringan! Aku sedang memperluas jaringan!” Travis melangkah keluar dengan tangan di atas dengan wajah polosnya.

Beberapa perempuan lain lagi mengikuti di belakangnya, cekikikan dan menggerak-gerakkan jari di rambut mereka untuk menarik perhatiannya. Dia membukakan pintu untuk mereka, dan mereka hampir menjerit kegirangan.

America tertawa. “Oh, tidak. Kau dalam bahaya, Abby.”

“Apa yang dia bisikkan?” Aku bertanya dengan hati-hati.

“Dia ingin kau agar mengajak Abby ke apartement, ya kan?” Shepley berkata. America
mengangguk dan Shepley menggelengkan kepalanya. “Kau adalah wanita yang cerdas, Abby. Aku beritahu dari sekarang, jika nanti kau mulai percaya omong kosongnya dan ternyata dia membuatmu marah, kau jangan melampiaskannya padaku atau America, mengerti?”

Aku tersenyum. “Aku tidak mungkin menyukainya, Shep. Apa aku kelihatan seperti Barbie kembar tadi?”

“Dia tidak akan menyukainya,” America meyakinkan Shepley sambil menyentuh tangannya.

“Ini bukan masalah pertamaku, Mare. Apakah kau tahu berapa kali dia mengacaukan hubunganku karena dia meniduri sahabatnya? Karena tiba-tiba berkencan denganku menjadi seperti lebih memilih musuh daripada teman! Ingat ya, Abby,” dia menatapku, “Jangan melarang Mare untuk datang ke apartemen atau berkencan denganku hanya karena kau percaya semua omong kosongnya Travis. Anggap kau sudah diperingati ya.”

“Tidak perlu tapi aku menghargai pemberitahuannya,” kataku. Aku mencoba meyakinkan Shepley dengan senyuman, tapi dia merasa tidak yakin karena sudah bertahun-tahun mengalami hal yang sama, terluka karena kelakuan Travis.

America melambaikan tangannya, kemudian melangkah pergi bersama Shepley, sedangkan aku memasuki kelas soreku. Aku memicingkan sebelah mataku karena silau oleh sinar matahari, sambil memegang tali ranselku. Eastern sangat sesuai dengan yang apa aku harapkan; dari ruang kelasnya yang lebih kecil, hingga tidak adanya satu orang pun yang kenal siapa dia. Ini adalah awal yang baru bagiku; akhirnya aku bisa berjalan kemanapun tanpa ada orang yang berbisik-bisik karena mengetahui siapa aku—atau mereka pikir mereka tahu—semua tentang masa laluku. Aku tidak berbeda dengan semua yang bermata lebar, bekerja keras untuk masuk kelas; tidak ada yang menatap, tidak ada gosip, tidak ada rasa kasihan atau penilaian. Hanya ilusi yang aku ingin mereka lihat; memakai Kasmir, tidak ada omong kosong tentang Abby Abertany.

Aku menaruh tas ranselku di lantai, dan duduk di kursi, membungkuk untuk mengambil laptopku dari dalam tas. Ketika aku duduk lagi untuk menaruhnya di atas meja, Travis baru duduk di kursi sebelahku.

“Bagus. Kau bisa membuatkan catatan untukku,” dia berkata padaku. Dia menggigit pulpennya dan tersenyum, tidak diragukan lagi sangat mempesona.

Aku memandang dengan rasa jijik padanya. “Bahkan kau tidak mengambil mata kuliah ini.”

“Aku mengambil mata kuliah ini kok. Biasanya aku duduk di atas sana.” dia berkata sambil
mengangguk ke arah tempat duduk paling atas. Sekelompok kecil perempuan memandangiku, dan aku melihat kursi yang kosong di tengah-tengah mereka.

“Aku tidak akan membuat catatan untukmu”, aku berkata sambil menyalakan laptop.

Travis membungkuk sangat dekat padaku hingga aku bisa merasakan nafasnya di pipiku. 

“Maaf, apakah aku pernah menyinggungmu?”

Aku menghela nafas kemudian menggelengkan kepalaku.

“Lalu apa masalahmu?”

Aku menahan suaraku agar tetap pelan. “Aku tidak akan tidur denganmu. Kau harus menyerah sekarang.”

Senyuman kecil muncul di wajahnya sebelum dia berkata “Aku belum mengajakmu untuk tidur denganku,” matanya melayang ke atas memandangi atap kelas seperti sedang berfikir, “Iya kan?”

“Aku tidak seperti Barbie kembar tadi atau kelompok kecilmu di atas sana,” aku berkata sambil melihat sekilas ke arah mereka yang di belakangku. “Aku tidak tertarik dengan tatomu, ataupun kelakuanmu yang seperti anak kecil, atau ketidakacuhanmu yang dipaksakan. Jadi kau bisa menghentikan semua usahamu, oke?”

“Ok, Pigeon.” Dia tampak tidak kesal sedikitpun atas perlakuan kasarku. “Kenapa kau tidak ikut America malam ini?” Aku menyeringai atas ajakannya, tapi dia malah semakin mendekat. “Aku tidak berusaha untuk ‘menangkapmu’. Aku cuma ingin hang out.”

“’Menangkapku’? Bagaimana kau bisa menarik wanita untuk tidur denganmu kalau caramu
berbicara seperti ini?”

Tawa Travis meledak, sambil menggelengkan kepalanya. “Mampir saja ya nanti. Aku bahkan tidak akan menggodamu, aku janji.”

“Akan aku pertimbangkan.”

Prof. Chaney masuk, dan Travis mengalihkan perhatiannya ke depan. Masih terlihat senyuman diwajahnya, membuat lesung pipinya semakin jelas. Semakin dia tersenyum, semakin ingin aku membencinya, padahal itu yang membuat membencinya menjadi tidak mungkin.

“Siapa yang bisa menjawab Presiden mana yang istrinya juling dan bermuka jelek?” Chaney
bertanya.

“Kau harus mencatat itu,” Travis berbisik. “Aku membutuhkannya untuk menjawab pertanyaan di job interviews.

“Sssshh,” kataku sambil tetap mengetik.

Travis menyeringai dan santai di kursinya. Setelah sejam berlalu, dia bolak-balik mendekat dan menatap monitorku sambil sekali-kali menguap. Aku berusaha keras untuk berkonsentrasi dan mengacuhkannya, tapi kedekatan dan otot kekarnya membuat semua itu menjadi sulit. Dia memainankan gelang kulit di pergelangan tangannya hingga saatnya Chaney membubarkan kelas.

Aku bergegas keluar kelas menuju lorong. Ketika aku merasa sudah aman, tiba-tiba Travis Maddox muncul di sebelahku.

“Apa kau sudah memikirkannya?” dia bertanya sambil mengenakan kacamata hitamnya.

Perempuan bertubuh kecil berambut coklat melangkah ke arahku dan Travis. Matanya lebar dan berharap. 

“Hai,Travis,” dia menyapa dengan riang, sambil memainkan rambutnya.

Aku berhenti berjalan, menghindar dari suaranya yang dibuat-buat seperti anak kecil kemudian berjalan memutar ke belakangnya. Aku sudah pernah melihatnya sebelumnya di asrama di Gedung Morgan, sedang mengobrol dengan temannya tapi tidak dengan suara yang di buat-buat seperti ini.

Suaranya waktu itu terdengar lebih dewasa, dan aku penasaran apa yang membuat dia berfikir kalau Travis akan menyukai suara anak kecilnya itu. Dia terus mengoceh dengan suara yang lebih tinggi hingga Travis berada di sampingku lagi.
 
Dia mengeluarkan pematik api dari sakunya, kemudian menyalakan rokok dan menghembuskan asap tebal.

“Tadi sampai mana ya?” Oh ya, kau sedang berfikir.”

Aku menyeringai, “Apa yang kau bicarakan?”.

“Apa kau sudah memutuskan untuk datang?”

“Jika aku mengatakan ya, akankah kau berhenti mengikutiku?”

Dia berfikir sejenak kemudian mengangguk.”Ya.”

“Kalau begitu aku akan datang.”

“Kapan?”

Aku menarik nafas. “Malam ini. Aku akan datang malam ini.”

Travis tersenyum dan berhenti berjalan. “Bagus. Sampai bertemu nanti kalau begitu, Pidge.” dia memanggilku.

Aku berbelok ke pojok dan melihat America bersama dengan Finch di luar asrama. Aku dan
America bertemu dengan Finch di acara orientasi mahasiswa baru, dan aku langsung tahu dia bisa menjadi orang ketiga yang ditunggu-tunggu di dalam hubungan pertemananku dengan America. Diatidak terlalu tinggi, tapi tetap kelihatan seperti menara dibandingkan dengan tinggiku yang  hanya 5 kaki 4 Inci (163 cm). Matanya yang bulat mengimbangi penampilannya yang ramping dan rambutnya yang di bleaching biasanya dibentuk seperti paku.

“Travis Maddox? Ya Tuhan, Abby, sejak kapan kau mulai memancing di laut dalam?” Finch
bertanya dengan mata yang memancarkan ketidaksetujuannya.

America menarik permen karet dari mulutnya menjadi tali yang panjang. “Kau hanya membuatnya semakin parah dengan menyuruhnya pergi. Dia tidak terbiasa dengan itu.”

“Jadi aku harus bagaimana? Tidur dengannya?”

America menarik nafas. “Itu akan menghemat waktu.”

“Aku memberitahunya kalau aku akan mampir malam ini.”

Finch dan America saling pandang.

“Apa? Dia berjanji tidak akan menggangguku lagi kalau aku bilang ya. Kau akan pergi kesana kan malam ini?” 

“Hhhmm, ya,” jawab America. “Kau benar-benar akan datang?”

Aku tersenyum dan berjalan menuju aula melewati mereka, penasaran apakah Travis akan menepati janjinya untuk tidak merayuku. Dia bukan orang yang sulit untuk ditebak; dia hanya melihatku sebagai tantangan, atau hanya tidak tertarik untuk hanya menjadi sekedar teman. Aku tidak yakin mana yang paling menggangguku.

Empat jam kemudian, America mengetuk pintu kamarku dan mengantarku ke tempat Shepley dan Travis. Dia tidak dapat menahan diri ketika aku keluar kamar.

“Iiiih, Abby! Kau seperti gelandangan!”

“Bagus,” kataku sambil tersenyum melihat baju yang aku pakai. Rambutku diikat dengan asal ke atas, tidak memakai make up dan mengganti lensa kontakku dengan kacamata yang bingkainya berwarna hitam. Memakai kaos dan celana usang, aku mengenakan sandal jepit. Ide itu datang sejam sebelumnya, berpenampilan tidak menarik adalah ide yang sangat bagus. Idealnya, Travis menjadi tidak tertarik dan akan menghentikan kelakuan bodohnya. Jika dia mencari teman untuk pergi hang out, aku akan memberikan alasan kalau bajuku tidak pantas untuk terlihat berjalan bersamanya.

America menurunkan jendela mobilnya dan memuntahkan permen karetnya. “Kau sangat jelas. Kenapa kau tidak berguling-guling di atas kotoran anjing untuk membuat penampilanmu lengkap?”

“Aku tidak bertujuan untuk menarik perhatian seseorang,” kataku.

“Sangat jelas.”

Kami berhenti di tempat parkir komplek apartemen Shepley, dan aku mengikuti America munuju tangga. Shepley membuka pintu, dan tertawa ketika aku melangkah masuk. “Apa yang terjadi padamu?”

“Dia mencoba untuk tidak menarik,” America menjawab.

America mengikuti Shepley ke kamarnya. Pintunya ditutup dan aku berdiri sendirian, merasa canggung. Aku duduk di kursi malas yang dekat dengan pintu, dan menendang lepas sandal jepitku.

Apartement mereka tampak lebih, secara estetika menyenangkan dibandingkan dengan kamar bujangan pada umumnya. Poster wanita setengah telanjang dan rambu-rambu jalan yang mereka curi terpasang di tembok, tapi semua bersih. Kursi tampak masih baru, dan bau bir basi atau pakaian kotor sama sekali tidak ada.

“Sudah waktunya kau datang,” Travis berkata sambil menjatuhkan diri ke kursi.

Aku tersenyum dan membetulkan posisi kacamataku, menunggu dia mundur karena melihat penampilanku. “America menyelesaikan dulu makalahnya.”

“Bicara tentang makalah, apa kau sudah menyelesaikan makalah untuk mata kuliah Sejarah?”

Dia sama sekali tidak peduli dengan rambutku yang berantakan, dan aku tidak menyukai reaksinya.

“Apa kau sudah menyelesaikannya?”

“Aku sudah menyelesaikannya tadi sore.”

“Batas waktunya kan Rabu,” kataku heran.

“Aku baru saja menyelesaikannya, lagian akan sesulit apa sih 2 lembar makalah tentang Grant, ya kan?”

“Well, aku pikir aku hanya orang yang suka menunda pekerjaan,” aku menarik nafas. “Aku
mungkin baru akan mulai mengerjakannya akhir minggu ini."

“Well, kalo kau butuh bantuan, beritahu aku.”

Aku menunggu dia tertawa, atau menunjukkan tanda kalau dia hanya bercanda, tapi ekspresinya sangat tulus. Aku mengangkat salah satu alisku. “Kau akan membantuku membuat makalah.”

“Aku mendapat nilai A di kelas sejarah,” dia berkata, merasa sedikit kesal karena aku tidak percaya.

“Dia mendapat nilai A dalam semua mata pelajaran. Dia sangat jenius. Aku sangat membencinya,” Shepley berkata sambil menuntun America ke ruang tamu.

Aku menatap Travis dengan tatapan tidak percaya dan alisnya naik. “Apa? Kau pikir pria dengan tato dan bertarung untuk mata pencahariannya tidak akan mendapat nilai bagus di kelasnya? Aku tidak menyukai sekolah karena aku tidak punya kegiatan yang lebih baik untuk aku kerjakan.”

“Lalu kenapa kau harus bertarung? Kenapa tidak mencoba beasiswa?” tanyaku.

“Sudah. Aku di beri beasiswa setengah dari jumlah biaya kuliahku. Tapi ada sejumlah buku, biaya hidup dan aku harus mendapatkan uang untuk menutupi biaya kuliahku yang setengahnya lagi. Aku serius, Pidge. Kalau kau membutuhkan bantuanku, tinggal beritahu aku.”

“Aku tidak membutuhkan bantuanmu, aku bisa menulis sendiri makalahku.” Aku ingin berhenti.

Aku seharusnya berhenti, tapi sisi barunya menumbuhkan rasa penasaranku. “Apa kau tidak bisa mencari pekerjaan lain yang tidak terlalu – sadis?”

Travis menghela nafas. “Itu pekerjaan yang paling mudah untuk mendapatkan uang. Aku tidak bisa mendapatkan uang sebanyak itu kalau aku bekerja di mall.”

“Aku tidak akan bilang itu pekerjaan yang mudah kalau wajahmu bisa terluka karena pukulan.”

“Apa? Kau mengkhawatirkan aku?” dia mengedipkan matanya. Aku terdiam dan dia tertawa
cekikikan. “Aku tidak sesering itu kena pukulan. Kalau mereka mengayunkan pukulannya, aku bergerak. Itu tidak sulit.”

Aku tertawa. “Kau melakukan itu seperti tidak akan ada orang yang akan mengantisipasi
gerakanmu.”

“Ketika aku mengayunkan pukulanku, mereka menerimanya dan mencoba untuk membalas. Mereka tidak akan menang kalau begitu.”

Aku memutar mataku. “Makhluk apa kau ini…The Karate Kid? Dimana kau belajar bertarung?”

Shepley dan America saling pandang, dan kemudian mereka berdua menatap lantai.

Tidak lama bagiku untuk mengetahui kalau aku telah mengatakan sesuatu yang salah.

Travis tampak tidak terganggu. “Aku mempunyai seorang ayah yang suka mabuk dan sangat
temperamen dan empat kakak lelaki yang mempunyai gen seorang bajingan.”

“Oh.” Telingaku memerah.

“Tidak perlu malu, Pidge. Ayah sudah berhenti minum. Dan kakak-kakakku semakin dewasa.”

“Aku tidak merasa malu.” Aku merasa gelisah karena ikatan rambutku lepas dan memutuskan untuk menggulungnya menjadi sanggul, mencoba untuk menghindari situasi yang hening dan canggung.

“Aku suka penampilanmu yang natural. Biasanya tidak ada perempuan yang datang kemari
berdandan seperti itu.”

“Aku dipaksa datang kemari. Tidak terpikir olehku untuk membuatmu kagum”, kataku, jengkel karena ternyata rencanaku telah gagal.

Dia tersenyum seperti anak kecil, tersenyum geli, dan aku memunculkan rasa marahku, berharap rasa gelisahku tidak terlihat. Aku tidak tahu bagaimana perasaan para wanita itu saat bersama dia, tapi aku sudah pernah melihat bagaimana kelakuan mereka di dekatnya. Aku lebih merasa pusing dan mual daripada cekikikan tergila-gila. Semakin dia berusaha membuat aku tersenyum, aku semakin merasa tidak menentu.

“Aku sudah merasa kagum. Biasanya aku tidak harus memohon pada wanita agar mereka datang ke apartemenku.”

“Aku yakin begitu.” kataku dengan sebal.

Dia adalah orang yang rasa percaya dirinya sangat parah. Tidak saja dia tidak tahu malu menyadari penampilannya, dia sudah terbiasa dengan wanita yang menawarkan dirinya sehingga dia menganggap sikap dinginku menjadi angin segar daripada menganggapnya menyinggung. Aku harus merubah strategiku.

America mengarahkan remote ke arah TV dan menyalakannya. “Ada film bagus malam ini. Ada yang ingin mengetahui di mana Baby Jane berada?”

Travis berdiri. “Aku baru mau pergi makan malam. Apa kau lapar, Pidge?”

“Aku sudah makan” aku menghela nafas.

“Belum, kau belum makan”, kata America sebelum menyadari kesalahannya. “Oh..eh..ya benar, aku lupa tadi kau makan eehhmmm…pizza? Sebelum kita pergi tadi.”

Aku menyeringai padanya yang bermaksud memperbaiki kesalahan besarnya, dan kemudian menunggu reaksi Travis.

Dia berjalan ke seberang ruangan menuju pintu depan. “Ayo. Kau pasti lapar.”

“Kita mau kemana?”

“Kemanapun yang kau mau. Kita bisa beli pizza.”

Aku melihat pakaianku. “Aku tidak memakai pakaian yang pantas untuk pergi.”

Dia menilai penampilanku sebentar lalu menyeringai. “Kau terlihat sangat baik. Mari kita pergi, aku sudah kelaparan.”

Aku berdiri dan melambai ke arah America, melewati Travis lalu turun tangga. Aku berhenti di tempat parkir, dan memandang ketakutan ketika dia menaiki motor hitam.

“Eeehh…” aku terdiam, meremas jari kakiku yang terbuka.

Dia memandangku dengan tidak sabar. “Ayo, naik. Aku akan hati-hati.”

“Apa itu?” tanyaku, terlambat membaca tulisan yang tertulis di atas tanki bensin. “Ini adalah Harley Night Rod. Dia cinta dalam hidupku, jadi jangan menggores catnya ketika kau naik.”

“Aku memakai sandal jepit!”

Travis memandangku seakan aku berbicara menggunakan bahasa asing. “Aku memakai sepatu boot. Ayo naik.”

Dia memakai kacamatanya, dan suara mesin menggeram saat dia menyalakannya. Aku naik dan meraih sesuatu untuk berpegangan, tapi tanganku tergelincir dari kulit ke cover plastik diatas lampu belakang.

Travis memegang dan memelukkan tanganku di pinggangnya. “Tidak ada tempat untuk
berpegangan kecuali aku, Pidge. Jangan lepas”, katanya sambil mendorong motor ke belakang dengan kakinya. Dengan sekali hentakan tangannya, dia mengarah ke jalan, dan melaju seperti roket. Seuntai rambut yang lepas dari ikatannya menggantung dan memukul-mukul wajahku, aku menunduk di belakang Travis, mengetahui aku akan berakhir dengan kotoran serangga di kacamataku apabila aku melihat ke depan dari atas bahunya.

Dia memacu klep penutup saat kita berhenti di tempat parkir sebuah restoran, dan ketika dia melambat untuk berhenti, aku tidak membuang waktu untuk berjalan menuju lantai beton yang aman.

“Kau sinting!”

Travis tertawa kecil, memiringkan motornya diatas standarnya sebelum turun. “Aku hanya
mengikuti aturan batas kecepatan.”

“Ya, kalau kita di Autobahn!” (Jalan Raya dalam bahasa Jerman) kataku sambil menyisir rambutku dengan jari.

Travis memperhatikanku dan menarik rambut dari wajahku lalu melangkah menuju pintu kemudian membuka dan menahannya. “Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada dirimu, Pigeon.”

Aku menerobos masuk melewati dirinya ke dalam restoran, kepalaku tidak sejalan dengan kakiku.

Wangi lemak dan bumbu memenuhi udara saat aku mengikutinya melewati karpet yang penuh dengan remah roti. Dia memilih tempat duduk di pojok, jauh dari gerombolan pelajar dan beberapa keluarga, lalu memesan dua bir. Aku mengamati ruangan, memperhatikan para orangtua yang membujuk anak yang ribut untuk makan. Aku mengalihkan pandanganku dari pandangan ingin tahu beberapa murid Eastern.

“Tentu, Travis.” kata pelayan, menuliskan pesanan minum kami. Pelayan itu tampak sedikit lebih tinggi dari Travis saat dia kembali ke dapur.

Aku menyelipkan rambutku yang terkena tiupan angin ke belakang telingaku, tiba-tiba merasa malu akan penampilanku. “Sering datang kesini?” tanyaku.

Travis bersandar diatas meja, sikunya menahannya di atas meja, mata coklatnya terpaku menatap mataku. “So, ceritakan tentang dirimu, Pidge? Apakah kau selalu membenci pria secara umum, atau hanya membenci diriku?”

“Aku pikir aku hanya membenci dirimu.” aku menggerutu.

Dia tertawa, geli melihat suasana hatiku. “Aku tidak dapat menebak dirimu. Kau wanita pertama yang muak padaku sebelum tidur denganku. Kau tidak gugup kalau sedang bicara denganku, dan kau tidak mencoba untuk menarik perhatianku.”

“Itu bukan taktik. Aku hanya tidak menyukaimu.”

“Kau tidak akan berada disini kalau tidak menyukaiku.”

Rasa tidak sukaku harus diperhalus dan akupun menghela nafas. “Aku tidak pernah bilang kau orang yang jahat. Aku hanya tidak suka menjadi satu akhir yang tidak terelakkan untuk satu alasan karena memiliki vagina”. Aku fokus pada butiran garam yang ada di atas meja hingga mendengar suara tersedak dari arah Travis.

Matanya melebar dan dia bergetar saat tertawa seperti melolong. “Ya Tuhan! Kau membunuhku! Sudah pasti. Kita harus berteman. Aku tidak akan menerima jawabanmu jika kau menolak.”

“Aku tidak keberatan kita berteman, tapi itu bukan berarti kau akan berusaha memasuki celana dalamku setiap lima detik."

“Karena kau tidak akan tidur denganku, aku mengerti.”

Aku mencoba untuk tidak tersenyum, tapi gagal.

Matanya lebih bersinar. “Aku berjanji. Aku tidak akan memikirkan celana dalammu..kecuali kau menginginkannya.”

Aku meletakkan sikuku di atas meja dan bersandar ke depan. “Dan itu tidak akan terjadi, so kita bisa menjadi teman.”

Seringai nakal tampak jelas di wajahnya saat dia mendekatiku. “Jangan pernah bilang tidak akan.”

“So, ceritakan tentang dirimu,” tanyaku. “Apakah kau selalu menjadi Travis ‘Mad Dog’ Maddox atau julukan itu ada saat kau kuliah di sini?” Aku mengangkat kedua tanganku untuk membuat tanda ‘kutip’ ketika aku menyebutkan nama julukannya, dan untuk pertama kalinya rasa percaya dirinya kelihatan berkurang. Dia tampak sedikit malu. “Tidak, Adam yang memulainya setelah pertarungan pertamaku.”

Jawaban-jawaban singkatnya mulai menggangguku. “Hanya itu? Kau tidak akan menceritakan apapun tentang dirimu?”

“Apa yang ingin kau ketahui?"

“Hal yang biasa. Kau berasal dari mana, apa cita-citamu saat dewasa nanti..hal-hal seperti itu.”

“Aku orang sini, lahir dan dibesarkan di sini, dan aku mengambil jurusan Hukum Pidana.”
Dengan tarikan nafas panjang, dia membuka bungkusan alat makannya dan menaruhnya di samping piringnya. Dia melirik ke belakangnya, dan aku menyadari rahangnya sedikit menegang ke arah mereka yang ada di sekitar kami. Tim sepak bola Eastern duduk di dua meja dan tawa mereka meledak, Travis tampak terganggu dengan apa yang mereka tertawakan.

“Kau bercanda,” kataku tak percaya.

“Tidak, aku orang sini,” katanya, teralihkan.

“Maksudku tentang jurusan yang kau ambil. Kau tidak seperti tipe Hukum Pidana.”

Alisnya mengkerut, tiba-tiba fokus pada obrolan kami. “Kenapa?”

Aku mengamati tato di tangannya. “Aku hanya bilang kalau kau lebih mirip kriminal daripada hukum.”

“Aku tidak pernah terlibat masalah..hampir sepanjang waktu. Ayahku sangat keras.”

“Dimana Ibumu?”

“Dia meninggal waktu aku masih kecil,” dia menjawab.

“Maafkan aku” kataku, sambil menggelengkan kepalaku. Jawabannya membuatku tidak siap. Dia menolak rasa simpatiku. “Aku tidak mengingatnya. Tapi kakak-kakakku mengingatnya, aku baru berumur tiga tahun waktu dia meninggal.”

“Empat kakak laki-laki ya? Bagaimana caramu membuat mereka lurus?” aku menggodanya.

“Aku membuat mereka lurus dengan siapa yang bisa memukul paling keras, itu juga menimpa dari yang tertua hingga yang termuda. Thomas, si kembar.. Taylor dan Tyler, lalu Trenton. Kau tidak boleh berada di ruangan sendirian dengan Taylor dan Ty. Aku mempelajari setengah dari yang aku tahu di The Circle dari mereka. Trenton adalah yang tubuhnya paling kecil, tapi dia sangat cepat.

Dia satu-satunya orang yang bisa mendaratkan pukulan padaku sekarang.”

Aku mengelengkan kepalaku, ternganga membayangkan lima Travis bersaudara berkeliaran di satu rumah. “Apa mereka semua punya tato?”

“Hampir semua, kecuali Thomas. Dia eksekutif periklanan di California.”

“Dan ayahmu? Di mana sekarang dia?”

“Ada” dia menjawab. Rahangnya tegang lagi, semakin terganggu oleh tim sepak bola.

“Apa yang mereka tertawakan?” tanyaku, menunjuk ke arah meja yang gaduh. Dia menggelengkan kepalanya, sangat jelas tidak ingin memberitahu. Aku melipat tanganku dan menggeliat di tempat dudukku, cemas dengan apa yang mereka katakan yang membuat dia merasa terganggu. “Beritahu aku.”

“Mereka menertawakan aku membawamu makan malam terlebih dahulu. Itu tidak biasa..bukan kebiasaanku.”

“Terlebih dahulu?” ketika kenyataan terlihat di wajahku, Travis memperhatikan ekspresiku. Aku bicara tanpa berpikir. “Justru aku takut mereka menertawakanmu karena mengajakku makan malam dengan pakaian seperti ini, dan mereka pikir aku akan tidur denganmu” aku bergumam.

“Kenapa aku tidak akan pernah terlihat jalan bersamamu?”

“Apa yang kita bicarakan?” tanyaku, mengusir rasa panas yang meningkat di bawah pipiku.

“Kau. Apa jurusan yang kau ambil?” dia bertanya.

“Oh, ehm…umum, sekarang. Aku masih belum memutuskan, tapi aku cenderung memilih jurusan Akuntansi.”

“Kau bukan berasal dari sini kan. Sangat jelas terlihat.”

“Wichita. Sama dengan America.”

“Kenapa bisa berada di sini dari Kansas?”

Aku mengambil label botol birku. “Kami hanya harus pergi dari sana.”

“Menghindar dari apa?”

“Orangtuaku.”

“Oh. Bagaimana dengan America? Dia punya masalah dengan orangtua juga?”

“Tidak, Mark dan Pam sangat baik. Mereka hampir bisa dibilang yang merawatku. Dia cuma ingin ikut; dia tidak mau aku pergi sendirian.

Travis mengangguk. “Jadi kenapa memilih Eastern?”

“Ada apa dengan tingkat tiga?” tanyaku. Pertanyaannya mulai menyimpang dari pertanyaan biasa ke pertanyaan yang lebih pribadi, dan aku mulai merasa tidak nyaman.
Beberapa kursi saling membentur ketika tim sepak bola meninggalkan tempat duduk mereka.

Mereka saling melempar lelucon untuk terakhir kalinya sebelum mereka berjalan ke arah pintu keluar. Mereka berjalan lebih cepat saat Travis berdiri. Mereka yang di belakang mendorong yang di depan agar bisa kabur sebelum Travis berjalan ke seberang ruangan. Dia duduk, memaksa rasa marah dan frustrasinya pergi.

Aku mengangkat salah satu alisku.

“Kau tadi baru akan menjelaskan kenapa kau memilih Eastern,” dia memaksa.

“Sangat sulit untuk dijelaskan,” jawabku sambil mengangkat bahu. “Aku hanya merasa ini pilihan yang tepat.”

Dia tersenyum saat dia membuka menu. “Aku tahu maksudmu.”

***

>>> NEXT
<<< PREVIOUS

Beautiful Disaster

http://ecx.images-amazon.com/images/I/51PAb4-RicL._AC_UL320_SR210,320_.jpg

Judul : Beautiful Disaster
Penulis : Jamie McGuire

Sinopsis:


"Abby Abernathy yang sekarang adalah seorang gadis yang baik, Dia tidak minum atau menyumpah. Abby percaya bahwa dia sudah punya cukup jarak dari kegelapan masa lalunya, tapi... ketika ia tiba di kampus dengan sahabatnya, jalan yang akan menjadi awal yang baru untuknya dengan cepat dihadang oleh seseorang.

Travis Maddox, ramping, berotot, penuh tato, adalah seseorang yang dibutuhkan dan diperlukan Abby untuk... dijauhi. Dia menghabiskan malam dengan memperoleh uang dengan bertarung di dalam ring, dan siangnya sebagai pemikat terhebat di kampus.


Penasaran dengan penolakan Abby, Travis membujuknya untuk menerima taruhan sederhana dengannya. Jika dia kalah, dia harus 'puasa' berhubungan seks selama satu bulan. Jika Abby kalah, ia harus tinggal di apartemen Travis dalam waktu yang sama. Travis tak tahu bahwa ia telah menemukan lawan yang seimbang."


http://adf.ly/1S91oT

Crazy !!! - Bab 2

Hari ini aku terbangun dan berharap semua hanya mimpi... kejadian kemarin terus berputar-putar di kepalaku sampai aku hampir gila..

Tadi malam handphone ku berdering terus. Begitu kuangkat orang disebrang berkata,"hei cewek mesum! Benar ini nomor telepon genggammu?!" suaranya asing, jadi kututup saja.

Setelah itu Hp-ku berdering lagi," MAU MATI?! KAU PIKIR KAU SIAPA BERANI MEMUTUS TELPON DARIKU?!"

dan akhirnya aku tahu, dia itu "K.A.Z.U.M.A". Reflek, kututup telponnya. Dan setelah itu dia meneleponku berkali-kali. ah bukan, maksudku BERPULUH-PULUH kali! tetapi tak satupun yang kuangkat lantaran takut.

TT.TT

Telepon darinya baru berakhir setelah jam 3 subuh. Sudah kuduga, dia itu psikopat sinting tak ada kerjaan. Dan akhirnya aku bisa tertidur setelah itu, Dengan mimpi buruk tentunya....

Kembali ke realita. Aku sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah tetapi kupikir aku akan cabut saja ke game center terdekat. Habis, bisa mati aku bila ketemu Kazuma hari ini! Memikirkannya saja aku sudah merinding... hiiii~

Yah baiklah! Bolos adalah pilihanku hari ini! Hahahaha (dan tolong jangan anggap aku penakut, kalian semua pasti akan mengambil keputusan yang sama bila menjadi aku kan?)

"aku pergii!" teriakku.

Aku berjalan menuju game center dekat rumahku. Sialnya, game center yang biasanya buka 24jam itu tutup hari ini. AAARRGGH! Apa tak bisa aku lebih sial dari ini?!

Mau tak mau, aku menuju sekolah. Sesampainya di sekolah, semua anak berbisik-bisik sambil melihat ke arahku.

Mereka pikir aku penyakitan atau apa? Ingin rasanya mencungkil mata mereka dan kubuat jadi pin bowling.


~TING TONG TING TONG~ TONG TING TENG TONG~~


bel tanda pelajaran dimulai berbunyi. dan begitu aku duduk, Emi bertanya ,"kemarin teman Kazuma meminta nomor teleponmu, Apa yang dilakukannya?"

"jadi kau yang beri dia nomor telepon ku?! Di menelponku dari malam sampai subuh sepert orang sinting!" bisikku kepada Emi.

"habis... Yusuke imut sekali...."

"yusuke? Yang seperti monyet itu?"

"terserah apa katamu, yang penting dia imut menurutku."

***

Pelajaran saat itu berjalan saaaaangaaaattt lama dan membosankan. ditambah lagi perutku lapar dan aku mengantuk karena si sinting itu membuatku tidur hanya 3 jam semalam...

TING TONG TING TONG~~

bel istirahat berbunyi...

'akhirnya...!' pikirku lega, akhirnya aku bisa makan juga... kekeke aku akan cepat2 ke kantin agar kebagian roti mi goreng...

+BRAKKKK!!!+

Pintu kelasku terbuka dengan sangat kencang. Siapapun itu orangnya, dia pasti kelainan jiwa dan tak punya pintu di rumah. Sehingga dia tak bisa membuka pintu dengan baik dan benar.

Betul saja perkiraanku, itu Kazuma... dia masuk dengan Taiki dan Yusuke, beserta segerombolan anak laki2 dari berbagai kelas. Kenapa sih, kemana dia pergi pasti ada pengikutnya? Yang lain sih aku bodo amat, tapi kenapa Taiki ikut2an dia juga??!! Oh tidak..

Dia masuk ke kelasku, menarik lengan gadis malang di urutan meja paling depan(kelihatannya gadis itu sih senang saja dipegang Kazuma = =') dan berteriak,

"hei mesum! Kenapa kau tak mengangkat teleponku semalam?!" teriaknya baru kemarin dia bilang akan tanggung jawab kepadaku, sekarang saja dia bahkan keliru mengenaliku dengan orang lain. Entah dimana ingatannya itu berada... = ='

"hei Kazu.. hei.." kata Yusuke

"apa?! Jangan ganggu aku!"

"kamu salah orang! Yang kamu cari bukan dia. Tapi yang itu tuh" kata Yusuke sambil menunjuk ke arahku. Saat dia menunjuk ke arahku, ingin sekali kujambak rambutnya sampai copot ke akar-akarnya.

"oh..?" akhirnya dia melepaskan lengan gadis itu dan menuju ke arahku.

"hei cewek mesum! Kenapa kau tak angkat teleponku semalam?!" teriaknya kepadaku.

"kenapa sih harus teriak2?! Dan namaku bukan 'cewek mesum'! namaku Asuka! Fujimoto Asuka!"

"jangan menjawabku begitu! Mau mati?!"

"kenapa sih bilang mati-mati terus?!"

"kalau tak mau mati lebih baik kau jangan menjawabku!! Hei, nanti pulang sekolah ikut aku pergi"

"kemana?"

"terserah aku. Kalau tak mau mati jangan berani2 kau pulang" setelah itu kazuma beserta pengikutnya pergi. Meninggalkanku yang hampir sinting ini tanpa keterangan mau kemana, dengan siapa, untuk apa, AARGGGHHH!!! BISA GILA!

Jangan bilang dia serius ingin bertanggung jawab atau apalah itu namanya
dan membuatku jadi pacarnya?! Oh tuhaaann~~~~

*sepulang sekolah*

Disini aku berdiri, tak berani bergerak, tak berani melangkah sedikitpun untuk pulang...

AAAAKHH!!! Kenapa aku jadi penakut begini sekarang?! Masa aku kalah sama si bule psikopat itu?! Aduh migrain! Makin memikirkannya makin sakit kepalaku!

Tapi aku tak mau sendiri menjalani siksaan ini...

Akhirnya aku menarik Emi (dengan paksa tentunya) untuk menemaniku pergi bersama Kazuma dan kawan2. kekeke, itulah gunanya teman....!!! yeaaahhh!!!

"please Asuka... biarkan aku pulang... aku takut.." kata Emi, dari suaranya aku tahu benar dia benar2 ketakutan. Tapi apapun yang terjadi dia tak boleh meninggalkan aku di sarang penyamun itu. Jadi, dia harus  menemaniku apapun keadaannya. MUAHAHAHAHAHA!

+BROOOM + BROOOM+ CIIITTTTTT+

Motor merah berhenti di depanku, diikuti beberapa motor lain di belakangnya. Tapi tak bisa kulihat siapa pengendaranya. Dia memakai helm yang ber-film gelap.

"cepat naik"

wuaaaahhhhh... itu Kazuma! Tak kuduga dia punya motor sekeren ini....!! oh tuhan.. bukan seperti motor biasa, tapi ini motor balap yang harganya puluhan juta yen.. dan dia menyuruhku untuk naik?! Memegang bodi motor ini saja aku gemetar..

"CEPAT.NAIK!" teriaknya

"tidak. Aku tidak mau naik" aku pasti sudah gila saat menjawab tak mau naik. Motor ini keren sekaliiii! Ingin sekali aku berteriak 'AKU AKAN NAIK! PASTI NAIK!' tapi kutahan dalam2 keinginanku itu.

"apa....? Mau mati?"

"mati -mati lagi.... aku tak akan naik sebelum temanku Emi juga ikut pergi dengan kita"

Bisa kulihat Emi gemetaran saat kusebut namanya.

"merepotkan... hhh.... hei Taiki! Bonceng cewek itu!"

Taiki?! Emi dibonceng Taiki?! Betapa beruntungnya dia!

"aku! Aku saja yang memboncengnya! Aku aku aku!" teriak seseorang yang kutahu itu pasti Yusuke. Huh... pasti Emi senang sekali... -_- yah tak apalah, yang penting dia tak dibonceng Taiki-ku... kekekeke...

"cepat naik! Sebelum kutarik kau!" teriak Kazuma kepadaku.

"iya! Iya sabar"

Cowok ini benar2 tak ada sopan santun, dan perkataannya kasar sekali... ckckckck

Akhirnya aku naik ke motor super 'wow'nya itu. Tapi ada satu hal yang membuatku bingung.
"eum.... aku harus pegangan dimana..?" motor bagus ini sama sekali tak punya pegangan di bagian belakangnya. Motor mahal macam apa yang membahayakan pengendaranya -_-

"dimana saja, asal jangan coba-coba kau peluk aku dari belakang" akhirnya kuputuskan untuk berpegangan dengan jaket yang digunakan Kazuma. Dan, tentu saja dia mengendarainya dengan kecepatan yang bisa membuat umurku berkurang 7 tahun.

Di perjalanan, aku hanya menutup mataku rapat2. Dan tak kusangka akhirnya kita sudah sampai di tujuan. Saat menginjak tanah, yang pertama kali kupikirkan adalah,'terima kasih Tuhan, Kau masih
membiarkanku hidup'

Nama tempatnya adalah "cafe X2X".. nama yang aneh, tapi design interiornya elegan dengan cat hitam-putih yang membuatku berpikir 'tempat ini pasti mahal'.

"ayo masuk" ajak Kazuma. Aku dan Emi, beserta pengikut2 Kazuma masuk kedalam.

Wuah, disini penuh dengan anak2 seumuranku dari berbagai sekolah. Tapi mereka semua rata2 merokok dan sedang minum minuman keras. Dan aku benci sekali dengan rokok dan minuman keras. Ingin rasanya pulang, hanya saja ketakutanku akan Kazuma mengalahkan keinginanku untuk pulang.

"duduk disini" kata Kazuma, menyuruhku duduk persis di sebelahnya. Semua gadis yang berada di sini melirik iri terhadapku. MUAHAHAHAHA, asik juga nih punya pacar yang bisa bikin iri seperti ini... kekekeke

Dan Emi kelihatannya sudah mulai menikmati keberadaannya disini karena Yusuke.

"Kazuma-senpaiiii (senpai: kakak kelas *red) apa kabar?? Hyori kangenn~~", kata seorang gadis yang akhirnya kutahu bernama "Hyori" kepada Kazuma.

Kazuma mengacuhkannya dan melirik jijik sesekali kepadanya. Entah kenapa Kazuma melakukan itu, padahal Hyori amat cantik seperti boneka. Kulitnya mulus, rambutnya hitam panjang terurai, dan bulu matanya terlihat amat lentik.

"jangan dekat2 aku. Kamu bau" kata Kazuma. Aku hanya tertawa dalam hati mendengarnya... kekekeke

"Hyori tidak bau senpaaaii~~ senpai, ini pacar barumu?"

"bukan urusanmu. Enyah."

"dia memang cukup cantik, tapi dadanya rata dan berjerawat... uhuk uhuk, hoek"

hei hei hei, aku tahu dadaku rata dan aku punya jerawat. Lalu kenapa?

Jerawatku tak sebanyak itu sampai dia bilang aku BERJERAWAT..!

"senpai pasti malu ya saat bersama dia?"

Ingin sekali kusobek mulut anak ini dan kujahit mulutnya rapat-rapat dengan cinta disetiap jahitannya. Sekali lagi dia bicara seperti itu akan benar-benar kusobek mulutnya!

"malu? Tentu saja" jawab Kazuma.

Aku masih bisa tahan bila diledek oleh Hyori. Tapi Kazuma? Dia yang mengajakku kemari dengan paksa dan dia malu terhadapku?!

+BRAK!+

Aku berdiri sambil memukul meja sekencang-kencangnya. Semua yang berada di kafe ini berhenti dari kegiatannya dan melihat kearahku.

Aku sudah tak peduli orang mau berpikir aku seperti apa. Yang pasti aku benar-benar marah pada Kazuma saat itu yang tak melindungiku (bukan berarti aku berharap dia melindungiku) malah malu terhadapku!

"apa-apaan kau?! Tak bisa kau jaga mulutmu hah gadis binal?!" teriakku sambil menunjuk ke arah Hyori.

Aku beralih pada Kazuma ," dan kamu bule sialan! Berani-beraninya kamu mengajakku kemari hanya untuk dipermalukan! Apa sih maumu?! Belum puas menyiksaku?! Aku benci kau! Lebih benci dari aku membenci kecoa! Lebih benci dari aku membenci nyamuk! Lebih benci dari aku membenci apapun! Benci benci benci!!!!!"

Setelah berkata begitu,aku berlari keluar dari kafe. Bisa kudengar teriakan Emi memanggil namaku. Tapi tak kuhiraukan dan aku terus berlari. Aku tak tahu aku berlari kemana, yang kutahu aku marah sekali sampai-sampai aku menangis dibuatnya.

+BRUK!+

Aku terjatuh. Bisa kulihat lututku berdarah parah juga. Disitu aku menangis dan akhirnya kusadari aku tak tahu dimana aku berada, dan ini sudah malam.

Ada 4 anak berseragam SMA yang berjalan ke arahku dan berkata,"kenapa menangis ...? sini main saja sama kami biar kamu senang.."

GHEEEE???!!! APA LAGI INI?! TAK BISA AKU LEBIH SIAL DARI INI?!

"ayooo... main sama kitaaa..."

di otakku terbayang sampul koran harian untuk besok ,'SISWI SMUDITEMUKAN MENINGGAL DI PINGGIR JALAN'

oh tidak tidak..... aku tak mau jadi begitu... Cuma satu yang kupikirkan dan akhirnya kuteriakkan "KAZUMAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!"