Rabu, 14 Agustus 2013

BEAUTIFUL DISASTER - BAB 2



BABI (PIG)

Wajah-wajah yang familiar memenuhi tempat duduk di meja makan. America duduk di sebelahku, dan Finch duduk di sisi yang lain, dan tempat yang kosong lainnya di duduki Shepley dan saudara perkumpulannya di Sigma Tau. Sangat sulit untuk mendengar di dalam kafetaria karena bising dan AC sepertinya tidak menyala lagi. Tercium bau yang menyengat dari makanan yang digoreng dan kulit yang berkeringat di udara, tapi tampaknya semua orang lebih bersemangat dari biasanya.

“Hai, Brazil,” kata Shepley, menyapa ke arah pria yang sedang duduk di hadapanku. Kulit kecoklatan dan mata coklatnya tertutup oleh topi putih tim football Eastern yang ditarik hingga ke bawah dahinya.

“Kau menghilang setelah pertandingan hari Sabtu kemarin, Shep. Aku meminum satu sampai enam bir jatahmu,” dia berkata sambil tersenyum lebar. “Aku hargai itu. Aku mengajak Mare makan malam,” dia membunguk sedikit kemudian mencium rambut pirang panjang America.

“Kau menduduki kursiku, Brazil.”

Brazil menoleh dan melihat Travis berdiri di belakangnya, lalu dia memandang ke arahku dengan rasa terkejut. “Oh, apakah dia salah satu dari pacarmu, Trav?”

“Sama sekali bukan,” aku menjawab sambil menggelengkan kepala.

Brazil melihat lagi ke arah Travis yang sedang menatapnya dengan penuh harap. Brazil menarik nafas panjang lalu membawa nampan makanannya ke ujung meja.

Travis tersenyum padaku ketika dia duduk. “Apa kabar, Pidge?”

“Apa itu?” aku bertanya sambil terus melihat ke arah nampannya. Makanan aneh di atas piringnya tampak seperti lilin.

Travis tertawa sambil meminum air dari gelasnya. “Pekerja kafetaria menakutiku. Aku tidak akan mengkritik keterampilan mereka dalam memasak.”

Aku menyadari tatapan menilai dari mereka yang duduk semeja bersama kami. Kelakuan Travis mengusik rasa ingin tahu mereka, aku tersenyum tenang karena menjadi satu-satunya wanita yang mereka lihat yang membuat Travis memaksa untuk duduk berdekatan dengannya.

“Uuuhh...ujian Biologi nanti setelah makan siang, America menggerutu.

“Apa kau sudah belajar?” tanyaku.

“Tentu saja belum. Aku menghabiskan waktu tadi malam untuk meyakinkan Shepley kalau kau tak akan tidur dengan Travis.”

Pemain football yang duduk di ujung meja kami menghentikan tawanya agar bisa mendengarkan lebih jelas, membuat semua orang heran. Aku membelalak ke arah America, tapi dia tak peduli pada semua tuduhan, menyenggol Shepley dengan bahunya.

“Ya Tuhan, Shep. Kau mengira akan seburuk itu ya?” Travis bertanya, sambil melemparkan sebungkus saos ke arah sepupunya. Shepley tidak menjawab, tapi aku tersenyum menghargai Travis karena mencoba untuk mengalihkan perhatian.

America mengusap punggung Shepley. “Dia akan baik-baik saja. Hanya saja dia membutuhkan waktu untuk percaya kalau Abby menolak pesonamu.”

“Aku belum mencoba untuk menarik perhatiannya,” Travis mendengus, tampak tersinggung. “Dia temanku.”

Aku  menatap Shepley. “Sudah aku bilang. Tidak perlu khawatir.”

Shepley akhirnya menatapku, melihat ekspresi tulusku, matanya bersinar sedikit.

“Apa kau sudah belajar?” Travis bertanya padaku.

Aku cemberut. “Selama apapun aku belajar tidak akan menolong. Biologi bukan pelajaran yang mudah di pelajari.”

Travis berdiri. “Ayo.”

“Apa?”

“Mari kita ambil catatanmu. Aku akan membantumu belajar.”

“Travis...”

“Ayo berdiri, Pidge. kau akan mendapat nilai yang bagus ujian nanti.”

Aku menarik salah satu kepang panjang America sambil lewat. “Sampai bertemu di kelas Mare.”

Dia tersenyum. “Aku akan sisakan tempat duduk untukmu. Aku membutuhkan semua bantuan yang bisa aku dapatkan.”

Travis mengikutiku ke kamar, dan aku mengeluarkan buku pelajaranku sementara dia membuka-buka bukuku. Dia memberikan pertanyaan tanpa henti dan menjelaskan segala sesuatu yang tidak aku mengerti. Dengan caranya menjelaskan, konsep yang tadinya membingungkan menjadi mudah untuk di mengerti.

“...Dan somatik sel menggunakan mitosis untuk berkembang biak. Di situlah terdapat fase-fasenya. Terdengar seperti nama seorang wanita: Prometa Anatela.”

Aku tertawa. “Prometa Anatela?”

Prophase, Metaphase, Anaphase dan Telophase.”

“Prometa Anatela,” aku mengulangi, sambil mengangguk.

Dia memukulkan kertas ke atas kepalaku. “kau sudah hafal semua. kau sudah mempelajari buku panduan belajar ini berulang-ulang.”

Aku menghela nafas. “Well, kita lihat nanti.”

“Aku akan mengantarmu ke kelas. Aku akan menanyakan beberapa pertanyaan sepanjang jalan.”

Aku mengunci pintu. “kau tidak akan marah kan kalau aku gagal dalam ujian ini?”

“kau tidak akan gagal, Pidge. Lain kali kita harus belajar lebih awal,” dia berkata sambil terus berjalan di sampingku hingga tiba di gedung sains.

“Bagaimana caranya kau akan membantuku belajar, mengerjakan PR mu, belajar dan berlatih bertarung?”

Travis tertawa. “Aku tidak  berlatih. Adam menghubungiku, memberitahu tempat bertarungnya dan aku tinggal datang.”

Aku menggelengkan kepala karena tidak percaya saat dia memegang kertas di depannya dan mengajukan pertanyaan pertamanya.

Kami hampir selesai untuk kedua kalinya mempelajari buku bimbingan belajar itu saat kami tiba di depan kelasku.

“kau pasti berhasil,” dia tersenyum sambil menyerahkan catatanku dan bersandar pada kusen pintu.

“Hai, Trav.”

Aku berpaling dan melihat pria tinggi dan kurus tersenyum ke arah Travis ketika akan masuk kelas.

“Parker,” Travis mengangguk.

Matanya berbinar saat melihat ke arahku kemudian tersenyum. “Hai, Abby.”

“Hai,” jawabku, terkejut dia tahu namaku. Aku pernah melihatnya di kelas, tapi kita tidak pernah saling menyapa.

Parker terus berjalan menuju tempat duduknya, bercanda dengan beberapa orang yang duduk di sebelahnya. “Siapa dia?” tanyaku.

Travis mengangkat bahunya, tapi kulit di sekitar matanya jadi semakin tegang dari sebelumnya. “Parker Hayes.”

“Dia salah satu teman perkumpulanku di Sig Tau.”

“kau ikut frat (fraternity: semacam perkumpulan persaudaraan mahasiswa)?” aku bertanya, tidak percaya.

“Sigma Tau, sama seperti Shep. kupikir kau tahu itu,” dia menjawab sambil melihat ke arah Parker.

“Well...kau seperti bukan tipe orang yang ikut perkumpulan,” aku berkata, menatap tato  di atas tangannya.

Travis kembali memperhatikanku dan menyeringai. “Ayahku dulu anggota Sigma Tau, begitu pula semua kakakku...jadi seperti tradisi.”

“Dan mereka mengharapkanmu untuk mengikuti sumpah?” aku bertanya, skeptis.

“Tidak juga. Mereka orang-orang yang baik,” dia menjawab sambil mengibaskan kertas catatanku. “Sebaiknya kau masuk kelas.”

“Terima kasih sudah membantuku,” aku berkata, menyenggol dia dengan sikuku. America masuk dan aku mengikutinya menuju tempat duduk kami.

“Bagaimana tadi?” dia bertanya.

Aku mengangkat bahu. “Dia pengajar yang baik.”

“Hanya pengajar?”

“Dia teman yang baik juga.”

Dia tampak kecewa, dan aku tertawa melihat ekspresi di wajahnya.

America berharap aku akan berkencan dengan teman, atau teman sekamar-garis miring-sepupunya, dan kalau itu terjadi akan menjadi seperti jackpot baginya. Dia ingin agar kita satu kamar saat mendaftar di Eastern tapi aku menolaknya, berharap untuk melebarkan sayap sedikit. Setelah dia berhenti merajuk, dia berusaha memperkenalkan semua teman Shepley padaku.

Ketertarikan Travis padaku telah melampaui semua idenya.

Aku telah mengerjakan ujianku dan duduk di tangga di luar gedung, menunggu America. Ketika dia merosot ke bawah duduk di sebelahku, merasa tak dapat mengerjakan soal ujian dengan baik, aku menunggu dia bicara.

“Tadi sangat sulit!” dia menangis.

“kau harus ikut belajar bersama aku dan Travis. Dia menjelaskan dengan sangat baik.”

America mengerang dan bersandar di bahuku. “kau tidak membantu sama sekali! Tidak bisakah kau cuma mengangguk atau semacamnya?” Aku memeluk lehernya dan menuntunnya menuju asrama.

***

Selama seminggu berikutnya, Travis membantuku membuat makalah mata kuliah Sejarah dan mengajariku Biologi. Aku dan Travis mengamati papan nilai di luar kantor Prof Campbell. Nomor mahasiswaku berada di urutan ketiga dari atas.

“Urutan ketiga tertinggi di kelas! Bagus, Pidge!” dia berkata sambil memelukku. Matanya bersinar karena gembira dan bangga, dan situasi menjadi canggung, membuatku mundur satu langkah.

“Terimakasih, Trav. Aku tak akan berhasil tanpa bantuanmu,” aku berkata sambil menarik bajunya.

Dia memelukku, sambil berjalan ke arah kerumunan di belakang kami. “Awas! Minggir! Beri jalan untuk wanita malang yang menyeramkan, rusak dan berotak encer ini! Dia benar-benar jenius!”

Aku tertawa melihat ekspresi senang dan penasaran teman sekelasku.

***

Ketika hari-hari berlalu, kami berhasil menurunkan gosip tentang hubungan kami. Reputasi Travis dapat menghilangkan gosip itu. Dia tidak pernah setia pada satu wanita lebih dari satu malam, jadi semakin sering kami terlihat bersama, orang-orang semakin mengerti kalau itu hanya hubungan biasa, tidak lebih. Meskipun dengan pertanyaan yang sering diajukan tentang hubungan kami, perhatian yang Travis terima dari para mahasiswi sama sekali tidak surut.

Dia selalu duduk di sampingku setiap mata kuliah Sejarah, dan makan siang bersama. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyadari kalau aku telah salah menilainya, malah aku selalu membelanya di depan orang yang tidak mengenal Travis sepertiku.

Di kafetaria, Travis menaruh sekaleng jus jeruk di hadapanku.

“kau tak perlu melakukannya. Aku akan mengambilnya sendiri,” kataku sambil membuka jaket.

“Well, sekarang kau tak perlu lagi mengambilnya, kan?” dia berkata, memamerkan lesung pipi di pipi kirinya.

Brazil mendengus. “Apa dia telah merubahmu menjadi seorang pesuruh, Travis? Apa selanjutnya, mengipasi dia dengan daun palem, sambil memakai speedo?”

Travis mengarahkan pandangan marah padanya, dan aku melompat berdiri untuk membela Travis. “kau tak akan muat memakai speedo, Brazil. Tutup mulutmu.”

“Tenanglah, Abby! Aku hanya bercanda!” Brazil menjawab sambil mengangkat tangannya.

“Pokoknya...jangan bicara seperti itu padanya,” kataku sambil mengerutkan dahi.

Ekspresi Travis terkejut bercampur syukur. “Sekarang aku sudah melihat semua. Aku dibela oleh seorang wanita,” dia berkata sambil berdiri. Sebelum dia pergi membawa nampannya, dia memberikan tatapan peringatan pada Brazil, kemudian berjalan keluar untuk merokok bersama sekelompok kecil sesama perokok di luar gedung.

Aku berusaha untuk tidak memperhatikan dia yang sedang ngobrol dan tertawa. Setiap wanita bersaing untuk mendapatkan tempat di sampingnya, America menyenggolku dengan sikunya ketika dia menyadari perhatianku teralihkan.

“Apa yang sedang kau lihat, Abby?”

“Tidak ada. Aku tidak sedang melihat apapun.”

Dia meletakan dagunya di atas tangannya dan menggelengkan kepalanya. “Mereka sangat mencolok. Lihat si rambut merah. Dia memainkan jari di rambutnya sebanyak dia berkedip. Aku penasaran apakah Travis pernah merasa bosan dengan itu.”

Shepley mengangguk. “Dia pernah. Semua orang menganggap dia bajingan, andaikan mereka tahu bagaimana sabarnya dia menghadapi semua wanita yang berpikir mereka bisa ‘menjinakkannya’...dia tak bisa pergi kemanapun tanpa gangguan dari mereka. Percayalah; dia jauh lebih sopan dari aku kalau berada di posisinya.”

“Ah, seperti kau tidak akan menikmatinya saja,” America berkata sambil mencium pipinya.

Travis telah selesai merokok di luar kafetaria saat aku melewatinya. “Tunggu, Pidge. Aku akan mengantarmu.”

“kau tidak harus mengantarku ke setiap kelas, Travis. Aku tahu caranya kesana meskipun sendirian.”

Travis mudah teralihkan perhatiannya oleh wanita berambut hitam panjang memakai rok pendek yang berjalan sambil tersenyum padanya. Matanya mengikuti wanita itu dan mengangguk ke arahnya lalu membuang rokoknya.

“Sampai bertemu nanti, Pidge.”

“Ya,” kataku sambil memutar mataku ketika dia berlari ke samping wanita itu.

***

Tempat duduk Travis tetap kosong selama pelajaran berlangsung, dan aku merasa sedikit jengkel padanya karena bolos untuk wanita yang tak  dia kenal. Prof Chaney membubarkan kelas lebih awal, aku bergegas menyebrangi halaman rumput, karena ada janji dengan Finch jam 3 untuk memberinya catatan Sherri Cassidy’s Music Appreciation. Aku melihat jamku dan mempercepat langkahku.

“Abby?”

Parker berlari menyeberangi halaman rumput untuk berjalan di sampingku. “Kupikir kita belum berkenalan secara resmi,” dia berkata sambil mengulurkan tangannya. “Parker Hayes.”

Aku membalas uluran tangannya sambil tersenyum. “Abby Abernathy.”

“Aku ada di belakangmu ketika kau sedang melihat hasil nilai ujian Biologi. Selamat ya,” dia tersenyum sambil memasukkan tangan ke dalam saku celananya.

“Terimakasih. Travis membantuku belajar, kalau tidak, mungkin aku akan berada di urutan paling bawah daftar nilai itu, percayalah.”

“Oh, apakah kalian...”

“Sahabat.”

Parker tersenyum dan mengangguk. “Apakah dia memberitahumu bahwa akan ada pesta di The House akhir minggu ini?”

“Kami kebanyakan hanya membahas Biologi dan makanan.”

Parker tertawa. “Itu terdengar seperti Travis.”

Di depan pintu masuk Aula Morgan, Parker mengamati wajahku dengan mata hijau besarnya. “kau harus datang. Itu akan menyenangkan.”

“Aku akan bicara dengan America. kupikir kita tak punya rencana apapun.”

“Apakah kalian merupakan satu paket?”

“Kita bersumpah musim panas ini. Tak akan datang ke pesta seorang diri.”

“Pintar,” dia mengangguk setuju.

“Dia bertemu Shep ketika orientasi, jadi aku jarang bisa bersama dengannya. Ini akan menjadi pertama kalinya aku meminta bantuannya, jadi kupikir dia akan senang untuk datang.” Aku dalam hati meringis. Aku meringis dalam hati. Aku tidak hanya mengoceh, aku juga membuatnya sangat jelas terlihat kalau aku tidak pernah diajak ke sebuah pesta.

“Bagus. Sampai bertemu di sana,” dia berkata. Dia memancarkan kesempurnaan, senyum seperti model Banana Republic dengan rahang yang kotak dan kulit coklat alaminya, berbalik berjalan menuju kampus.

Aku terus memandanginya ketika dia pergi; dia sangat tinggi, tercukur rapi, memakai kaos bergaris dan celana jins. Rambutnya yang bergelombang dan pirang gelap bergerak ke atas ke bawah ketika dia berjalan.

Aku menggigit bibirku, tersanjung oleh undangannya.

“Nah kalau dia lebih cocok untukmu,” Finch berbisik di telingaku.

“Dia cakep kan?” aku bertanya, tak bisa berhenti tersenyum.

“Sudah pasti dia tampan...dalam posisi misionari.”

“Finch!” aku berteriak sambil memukul bahunya.

“Apakah kau membawa catatan milik Sherri?”

“Bawa,” aku menjawab sambil mengeluarkannya dari tasku. Dia menyalakan rokok, menghisapnya lalu memicingkan matanya ke arah kertas.

“Benar-benar hebat,” dia berkata sambil membolak-balik halamannya. Dia menggulung dan menyimpannya ke dalam saku kemudian menghisap rokoknya lagi. “Untung pemanas air di asrama mati. kau membutuhkan mandi air dingin setelah bermain mata dengan Parker.”

“Di asrama tak ada air panas?” aku meratap.

“Ya benar,” Finch berkata sambil mengenakan tas ranselnya. “Aku pergi dulu, ada kelas Aljabar. Beritahu Mare jangan lupakan aku akhir minggu ini.”

“Aku akan memberitahunya,” omelku sambil melihat ke arah dinding antik batu bata asrama. Aku membuka pintu kamarku dan menerobos masuk, dan menjatuhkan tas ranselku ke lantai.

“Tidak ada air panas,” Kara bergumam dari meja belajarnya.

“Aku sudah tahu.”

Handphoneku bergetar dan aku memijit satu tombol untuk membaca SMS America yang memaki-maki karena pemanas air mati. Beberapa menit kemudian ada yang mengetuk pintu.

America masuk dan menjatuhkan diri ke atas tempat tidurku, tangannya dilipat. “Apa kau percaya omong kosong ini? Kita sudah membayar mahal tapi tidak bisa mandi air panas?”

Kara mendengus, “Berhentilah merengek. Kenapa kau tidak tinggal di apartemen pacarmu? Bukannya kau sering menginap di sana?”

America menatap tajam Kara. “Ide yang bagus, Kara. Mengingat kau sangat menyebalkan tapi berguna juga kadang-kadang.”

Kara tetap memandangi monitor komputernya, tidak terpengaruh sindiran America.

America mengeluarkan Handphonenya kemudian mengetik SMS dengan ketepatan dan kecepatan yang luar biasa. Handphonenya berbunyi dan dia tersenyum ke arahku. “Kita menginap di tempat Shep dan Travis sampai pemanas air selesai di perbaiki.”

“Apa? Aku tak akan ikut,” teriakku.

“Oh kau ikut. Tidak ada alasan untukmu terkurung di sini dan mandi air dingin sedangkan Travis dan Shep memiliki dua kamar mandi di apartemennya.

“Aku tidak diajak.”

“Aku mengajakmu. Shep sudah bilang tidak apa-apa. kau bisa tidur di sofa...kalau Travis tidak sedang memakainya.”

“Dan kalau dia sedang memakainya?”

America mengangkat bahunya. “kau bisa tidur di kamar Travis.”

“Aku tidak mau!”

Dia memutar matanya. “Jangan seperti anak kecil, Abby. Kalian berteman, kan? Jika dia belum mencoba melakukan apapun sekarang, berarti dia tidak akan pernah melakukannya.”

Kata-katanya membuatku menutup mulutku. Travis bersamaku setiap malam selama seminggu ini. Aku selalu direpotkan untuk meyakinkan semua orang bahwa kami hanya berteman, tidak pernah muncul di benakku kalau dia hanya tertarik untuk berteman. Aku tak tahu mengapa, tapi aku merasa sedikit tersinggung.

Kara menatap tidak percaya ke arah kami. “Travis Maddox tidak berusaha untuk tidur denganmu?”

“Kami hanya teman!” Aku berkata dengan nada membela diri.

“Aku tahu, tapi apakah dia benar tidak pernah...mencoba? Dia tidur dengan semua orang.”

“Kecuali kita,” America berkata lalu memandang Kara. “Dan kau.”

Kara mengangkat bahu. “Well, aku belum pernah bertemu dengannya. Aku cuma mendengar ceritanya.”

“Tepat,” aku membentaknya, “kau bahkan belum mengenalnya.”

Kara kembali menatap komputernya, melupakan kehadiran kami.

Aku menghela nafas. “Baiklah Mare. Aku akan berkemas dulu.”

“Pastikan kau membawa pakaian untuk tinggal beberapa hari, siapa yang tahu berapa lama untuk memperbaiki pemanas airnya,” dia berkata sedikit terlalu bersemangat.

Ada sedikit rasa takut seperti akan mengintip daerah musuh. “Ya...Baiklah.”

America melompat ketika memelukku. “Ini akan sangat menyenangkan!”

Setengah jam kemudian kami memasukan barang bawaan kami ke dalam mobil Honda milik America dan menuju apartemen. America hampir tidak menarik nafas saat dia asyik mengoceh sambil menyetir. Dia membunyikan klakson saat melambat untuk berhenti di tempat biasa dia parkir. Shepley berlari menuruni tangga, dan menarik ke dua tas kami dari dalam bagasi, mengikuti kami ke atas.

“Tidak dikunci kok,” dia terengah.

America membuka pintu dan aku menahan pintunya. Shepley mendengus saat menurunkan tas kami ke lantai. “Ya Tuhan, Sayang! Tasmu 20 pound lebih berat dari tas Abby!”

America dan aku terdiam saat seorang wanita keluar dari kamar mandi, sambil mengancingkan kemejanya.

“Hai,” sapanya, tampak terkejut. Mata dengan maskaranya yang berantakan menatap kami sebelum mendengus melihat ke arah koper kami. Aku mengenali dia sebagai wanita yang diikuti Travis dari kafetaria.

America membelalak ke arah Shepley.

Dia mengangkat tangannya ke atas. “Dia bersama Travis!”

Travis keluar dari pojokan hanya memakai celana boxer sambil menguap. Dia melihat pada tamunya, dan kemudian menepuk pantatnya. “Temanku sudah datang. kau sebaiknya pergi.”

Gadis itu tersenyum dan memeluk Travis lalu mencium lehernya. “Aku akan meninggalkan nomor teleponku di meja dapur.”

“Ehm...tidak perlu,” kata Travis santai.

“Apa?” dia bertanya dan melepaskan pelukannya untuk menatap mata Travis.

“Selalu seperti ini! Kenapa kau terkejut? Dia adalah Travis Maddox si bajingan! Dia terkenal seperti itu tapi selalu saja kalian terkejut!” America berkata sambil berbalik ke arah Shepley. Dia memeluk America untuk menenangkannya.

Wanita itu memicingkan matanya ke arah Travis lalu mengambil tasnya dan berlari keluar sambil membanting pintu di belakangnya.

Travis berjalan menuju dapur dan membuka kulkas seperti tidak terjadi apapun.

America menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju lorong. Shepley mengikuti, memiringkan badannya untuk mengimbangi berat dari tas America sambil berjalan di belakangnya.

Aku duduk bersandar di kursi malas dan menghela nafas, merasa kalau aku sudah sinting karena setuju untuk ikut.

Aku tak menyadari sebelumnya kalau apartemen Shepley menjadi seperti pintu putar untuk cewek gampangan yang tak dikenal.

Travis berdiri di belakang meja dapur, melipat tangannya di atas dada dan tersenyum. “Ada apa, Pidge? Lelah?”

“Tidak, aku hanya merasa jijik.”

“Padaku?” dia tersenyum. Aku seharusnya tahu dia telah mengharapkan obrolan ini. Itu hanya membuatku semakin tidak bisa menahan diri.

“Ya, padamu. Bagaimana bisa kau memperalat seseorang lalu memperlakukannya seperti itu?”

“Memang bagaimana aku memperlakukannya? Dia menawarkan nomor teleponnya dan aku menolaknya.”

Mulutku menganga karena kurangnya rasa bersalah Travis. “kau ingin tidur dengannya tapi tidak mau menerima nomor teleponnya?”

Travis bersandar di meja di atas sikunya. “Kenapa aku mau nomor teleponnya kalau aku tak akan pernah meneleponnya?”

“Kenapa kau mau tidur dengannya kalau kau tidak akan meneleponnya?”

“Aku tak menjanjikan apapun pada siapapun, Pidge. Dia tidak menuntut suatu hubungan sebelum bercinta denganku di sofa.”

Aku memandang sofa dengan rasa jijik. “Dia anak perempuan dari seseorang, Travis. Bagaimana jika suatu saat nanti, seseorang memperlakukan anak perempuanmu seperti itu?”

“Anak perempuanku sebaiknya tidak membuka celana dalamnya untuk seorang bajingan yang baru dia kenal, mari kita harap begitu.”

Aku melipat tanganku, marah akan pikiran Travis. “Jadi kau mengakui kalau kau adalah bajingan, kau mengatakan itu karena kau sudah tidur dengannya dan dia pantas untuk dibuang seperti kucing liar?”

“Menurutku aku hanya berusaha untuk jujur padanya. Dia sudah dewasa, atas dasar suka sama suka...dia malah terlalu ‘bersemangat’ kalau kau ingin tahu yang sebenarnya. kau bersikap seperti aku melakukan suatu tindak kejahatan.”

“Dia sepertinya tak mengetahui niatmu yang sebenarnya, Travis.”

“Wanita selalu membenarkan tindakan mereka dengan apapun yang mereka putuskan di dalam kepala mereka. Dia tak memberitahu lebih dulu padaku kalau dia mengharapkan suatu hubungan yang lebih, aku sudah katakan sebelumnya kalau aku hanya ingin seks tanpa ikatan. Apa bedanya?”

“Dasar Babi.”

Travis mengangkat bahunya. “Aku pernah dihina lebih parah dari itu.”

Aku memandangi sofa yang masih berantakan setelah digunakan Travis tadi. Aku tersentak oleh pikiran sudah berapa banyak wanita yang menyerahkan dirinya di atas situ. Membuat gatal kulitku.

“Kupikir aku akan tidur di kursi malas saja.” Aku bergumam.

“Kenapa?”

Aku melotot padanya, sangat marah karena ekspresi bingungnya. “Aku tak akan tidur di sofa itu! Hanya Tuhan yang tahu apa saja yang ada di atas sofa itu!”

Dia mengangkat koperku dari lantai. “kau tak akan tidur di sofa ataupun di kursi malas. Kau akan tidur di kamarku.”

“Yang aku yakin lebih kotor dari sofa.”

“Tak ada yang pernah tidur di kamarku selain aku sendiri.”

Aku memutar mataku. “Yang benar saja!”

“Aku sangat serius. Aku meniduri mereka di sofa. Aku tak memperbolehkan mereka masuk ke kamarku.”

“Lalu, kenapa aku diperbolehkan masuk?”

Sudut bibirnya membentuk seringai nakal. “Apakah kau berencana untuk berhubungan seks denganku malam ini?”

“Tidak!”

“Nah karena itulah. Ayo sekarang berdiri lalu mandi kemudian kita bisa belajar Biologi.”

Aku melotot padanya, sesaat kemudian mengikuti perintahnya sambil menggerutu.

***


Aku berdiri dibawah pancuran cukup lama, membiarkan air menghilangkan rasa marahku. Memijat kepalaku sambil keramas, aku merindukan pada begitu nikmatnya mandi bukan di kamar mandi umum — tidak harus memakai sandal, tidak ada tas peralatan mandi, hanya campuran yang menenangkan dari air dan uap.

Pintu terbuka membuatku terkejut. “Mare?”

“Bukan, ini aku,” Travis menjawab.

Otomatis aku menutupi bagian tubuhku yang tak ingin dilihat Travis dengan tanganku. “Apa yang kau lakukan di dalam sini? Cepat keluar!”

“kau lupa membawa handukmu dan aku membawakan pakaian, sikat gigi dan krem muka aneh ini yang aku temukan di dalam tasmu.”

“kau membuka tasku?” Aku berteriak. Dia bahkan tidak menjawab. Sebaliknya, justru terdengar suara kran dibuka dan suara Travis yang sedang menggosok gigi.”

Aku mengintip dari balik tirai plastik, menahannya menutupi dadaku. “Keluar, Travis.”

Dia menatapku dengan busa odolnya di mulutnya. “Aku tidak bisa tidur tanpa menggosok gigi.”

“Jika kau mendekat jarak dua kaki dari tirai ini, aku akan menusuk matamu saat kau tidur.”

“Aku tidak akan mengintip, Pidge,” dia tertawa.

Aku menunggu di bawah pancuran sambil melipat tanganku di atas dadaku. Dia meludah, berkumur dan meludah lagi lalu pintu tertutup. Aku membersihkan sabun dari tubuhku, mengeringkannya secepat mungkin, memakai kaos dan celana pendek, mengenakan kacamataku, lalu menyisir rambutku. Pelembab malam yang Travis bawakan mengalihkan perhatianku, dan aku tidak dapat menahan senyumku. Dia sangat perhatian dan hampir baik kalau dia menginginkannya.

Travis membuka pintu lagi. “Ayo cepat, Pidge! Aku sudah menunggu terlalu lama.”

Aku melempar sisir ke arahnya dan dia menghindar, lalu dia menutup pintu dan tertawa sepanjang jalan menuju kamarnya. Aku menggosok gigiku lalu berjalan menuju lorong melewati kamar Shepley.

“Selamat tidur, Abby,” America memanggil dari kegelapan.

“Selamat tidur, Mare.”

Aku ragu-ragu sebelum mengetuk pintu kamar Travis dua kali.

“Masuk saja, Pidge. kau tak perlu mengetuk.”

Dia membukakan pintu lalu aku melangkah masuk, melihat besi hitam tempat tidurnya yang di tempatkan sejajar dengan jendela di seberang ruangan. Dindingnya polos kecuali satu sombero yang di gantung di atas ujung kepala tempat tidur. Aku mengira kamarnya akan dipenuhi poster wanita setengah telanjang, tapi bahkan aku tidak melihat poster iklan bir di sana. Tempat tidur hitam, karpet abu dan sisanya semua yang ada di kamar ini berwarna putih. Tampak seperti dia baru saja pindah.

“Piyama yang bagus,” Travis berkata, memperhatikan celana pendekku yang berwarna kuning kotak-kotak biru, dan seragam kaos abu-abu Eastern. Dia duduk di atas tempat tidurnya lalu menepuk-nepuk bantal di sampingnya. “Well, ayo naik. Aku tidak akan menggigit.”

“Aku tidak takut padamu,” aku berkata, berjalan menuju tempat tidur dan menjatuhkan buku biologiku disampingnya. “Apakah kau punya pulpen?”

Dia menggunakan kepalanya untuk menunjuk ke meja. “Laci paling atas.”

Aku melangkah ke seberang tempat tidur dan menarik laci hingga terbuka, menemukan tiga pulpen, pensil, satu tube jelly KY, dan mangkuk kaca penuh dengan kondom dari berbagai merk.

Dengan rasa jijik, aku mengambil pulpennya dan menutup laci dengan cepat.

“Ada apa?” dia bertanya sambil membuka-buka halaman bukuku.

“Apakah kau merampok klinik kesehatan?”

“Tidak, kenapa?”

Aku membuka tutup pulpen, tak mampu menyembunyikan rasa muak dari wajahku. “Kondom untuk persediaan seumur hidupmu.”

“Lebih baik aman daripada menyesal, benar, kan?”

Aku memutar mataku. Travis kembali melihat halaman bukuku, senyum nakal muncul di bibirnya. Dia membacakan catatannya padaku, menandai poin yang penting sambil dia mengajukan beberapa pertanyaan dan dengan sabar menjelaskan apa yang tidak aku mengerti.

Setelah satu jam berlalu, aku melepas kacamataku dan menggosok mataku. “Aku lelah. Tidak dapat mengingat satu lagi mikromolekul.”

Travis tersenyum, menutup bukuku. “Baiklah.”

Aku terdiam, tidak yakin bagaimana pengaturan tempat tidur kita. Travis meninggalkan kamar menuju lorong, menggumamkan sesuatu di kamar Shepley sebelum menyalakan pancuran dan mandi. Aku membalikkan selimut dan menariknya hingga ke atas leherku sambil mendengarkan suara air mengalir di dalam pipa.

Sepuluh menit kemudian, air dimatikan, dan lantai berderak ketika Travis melangkah. Dia berjalan masuk kamar dengan hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggulnya. Dia mempunyai tato di sisi dadanya, dan gambar tribal di kedua bahunya yang berotot. Pada tangan sebelah kanannya, garis hitam dan symbol-simbol membentang dari bahu hingga pergelangan, di bagian tangan kirinya, tato hanya sampai ke sikunya, dengan hanya satu tulisan di bagian dalam lengannya. Aku dengan sengaja membelakangi Travis saat dia berdiri di depan lemarinya dan menjatuhkan handuknya untuk memakai celana boxernya.

Setelah mematikan lampu, dia merangkak ke atas tempat tidur dan tidur disampingku.

“kau tidur di sini juga?” aku bertanya sambil berbalik dan menatapnya. Bulan purnama di luar jendela membuat bayangan di wajahnya. “Well, tentu saja. Inikan tempat tidurku.”

“Aku tahu, tapi aku...” aku tidak melanjutkan. Pilihanku satu-satunya hanya sofa atau kursi malas.

Travis tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Bukankah seharusnya kau sudah percaya padaku? Aku akan menjaga kelakuanku, aku janji,” dia berkata sambil mengangkat dua jarinya yang aku yakin pramuka di America tidak pernah berpikir untuk melakukannya.

Aku tidak membantah, hanya berbalik dan berbaring di atas bantal, dan menyelipkan selimut di belakangku agar ada batas jelas diantara kita.

“Selamat tidur, Pigeon,” dia berbisik di telingaku. Aku dapat mencium aroma mint nafasnya di pipiku, membuat bulu di seluruh tubuhku berdiri di setiap jengkal kulitku. Bersyukur saat itu cukup gelap sehingga dia tak dapat melihat reaksiku yang memalukan atau rona merah di pipiku.

***

Sepertinya aku baru saja tertidur saat alarm berbunyi. Aku meraih untuk mematikannya tapi langsung menarik tanganku kembali dengan cepat ketika merasakan kulit yang hangat di bawah jariku. Aku mencoba mengingat di mana aku berada. Ketika aku mengingatnya, membuatku merasa malu kalau sampai Travis berpikir aku melakukan itu dengan sengaja.

“Travis? Alarmmu,” aku berbisik. Dia tetap tidak bergerak. “Travis!” aku memanggilnya lagi sambil menyikutnya. Ketika dia tetap tidak bergerak, aku meraih alarm itu melewati tubuh Travis, meraba-raba di kegelapan hingga aku merasakan bagian atasnya jam. Tak yakin bagaimana mematikannya, aku memukul-mukul bagian atasnya hingga tombol snooze terpijit dan menjatuhkan diri lagi ke atas bantal dengan gusar.

Travis tertawa.

“kau sudah bangun?”

“Aku sudah berjanji akan menjaga sikapku. Tapi aku tidak bilang apa-apa tentang membiarkanmu berbaring di atasku.”

“Aku tidak berbaring di atasmu,” protesku. “Aku tidak bisa meraih jam itu. Itu adalah alarm yang paling mengganggu yang pernah aku dengar. Suaranya seperti binatang yang sekarat.”

Dia meraih jam itu dan memijit tombolnya. “kau mau sarapan?”

Aku melotot ke arahnya kemudian menggelengkan kepalaku. “Aku tidak lapar.”

“Well, aku lapar. Kenapa kita tidak pergi ke kafe?”

“Kupikir aku tidak bisa menerima kurangnya keterampilan menyetirmu sepagi ini,” jawabku. Aku mengayunkan kakiku keluar dari tempat tidur dan memakai sandalku lalu berjalan menuju pintu.

“Mau kemana?” dia bertanya.

“Bersiap-siap ke kampus. Apakah kau butuh rincian kegiatanku selama aku disini?”

Travis menggeliat, berjalan menuju ke arahku, masih memakai boxernya. “Apakah kau selalu temperamen seperti ini atau akan mereda setelah kau percaya aku tidak sedang membuat skema yang rumit agar bisa tidur denganmu?” Tangannya memegang bahuku dan aku merasakan ibu jarinya menyentuh kulitku.

“Aku tidak temperamental.”

Dia membungkuk mendekat dan berbisik di telingaku. “Aku tidak akan tidur denganmu, Pidge. Aku terlalu menyukaimu.”

Dia berjalan melewatiku menuju kamar mandi, dan aku diam berdiri, terpana. Ucapan Kara berputar ulang di pikiranku. Travis Maddox tidur dengan semua orang; aku tak bisa mencegah merasa rendah diri dalam beberapa hal sampai-sampai dia tak punya keinginan untuk tidur denganku.

Pintu terbuka kembali, dan America berjalan masuk. “Wakey, wakey, eggs and bakey!” Dia tersenyum lalu menguap.

“kau menjadi seperti ibumu, Mare,” aku bergumam sambil mengaduk-aduk tasku.

“Ooohh...apakah seseorang ada yang kurang tidur tadi malam?”

“Dia bahkan tidak bernafas ke arahku,” aku berkata.

Senyum penuh arti muncul di wajahnya. “Oh.”

“Oh apa?”

“Tidak apa-apa,” dia menjawab, kembali masuk ke kamar Shepley.

Travis sedang berada di dapur, menyenandungkan lagu asal-asalan sambil membuat telur urak-arik. “kau yakin tidak mau?” dia bertanya.

“Aku yakin. Terimakasih.”

Shepley dan America masuk dan Shepley mengeluarkan dua piring dari dalam lemari, memegangnya ketika Travis menyendokkan setumpuk telur panas ke atas setiap piring. Shepley meletakan piring di atas meja dapur lalu dia dan America duduk berdua, memuaskan nafsu lapar mereka setelah ‘beraktivitas’ tadi malam.

“Jangan melihatku seperti itu, Shep. Maafkan aku, aku hanya tak ingin pergi,” America berkata.

“Sayang, the House mengadakan pesta kencan dua kali dalam setahun,” Shepley bicara sambil mengunyah. “Acaranya bulan depan. kau akan punya banyak waktu untuk mencari gaun dan melakukan hal lainnya yang biasa dilakukan wanita.”

“Ya benar, Shep...itu sangat manis...tapi aku tidak mengenal siapapun di sana.”

“Akan ada banyak wanita yang datang tanpa mengenal siapapun di sana,” dia berkata, terkejut karena penolakan America.

America merosot di kursinya. “Cewek-cewek sorority (perkumpulan persaudaraan mahasiswi) yang menyebalkan diundang ke acara seperti itu. Mereka semua mengenal satu sama lain...Itu akan aneh nantinya.”

“Ayolah, Mare. Jangan biarkan aku pergi sendirian.”

“Well...mungkin kau bisa menemukan seseorang untuk mengajak Abby?” dia berkata sambil melihat padaku lalu ke arah Travis.

Travis menaikkan satu alisnya, dan Shepley menggelengkan kepalanya. “Trav tak pernah datang ke acara seperti itu. Itu yang harus kau hadiri bersama pacarmu...dan Travis tidak...kau tahu, kan.”

America mengangkat bahunya. “Kita bisa mengenalkannya pada seseorang.”

Aku memicingkan mataku ke arah mereka. “Aku bisa mendengarmu, tahu.”

America memberiku pandangan yang tidak mungkin aku tolak. “Tolonglah, Abby? Kita akan mencarikanmu seorang pria yang baik, lucu, pintar dan aku akan memastikan dia tampan...Aku berjanji kau akan bersenang-senang! Dan siap tahu, mungkin kau akan cocok dengannya.”

Travis meletakan wajan di tempat cuci piring. “Aku tidak bilang aku tidak akan mengajak dia.”

Aku memutar mataku. “Tidak perlu membantuku, Travis.”

“Bukan itu maksudku, Pidge. Pesta kencan adalah pesta yang didatangi pria dengan kekasihnya, dan seperti yang sudah kalian tahu, aku tidak pernah pacaran. Tapi aku tak ingin khawatir kau akan mengharapkan cincin tunangan setelah itu.”

America memanyunkan bibirnya. “Aku mohon, Abby.”

“Jangan melihatku seperti itu!” Aku mengeluh. “Travis tak ingin datang, aku juga tak ingin...kita tidak akan bersenang-senang.”

Travis melipat tangannya dan bersandar di tempat cuci piring. “Aku tidak bilang aku tak ingin datang. Kurasa akan menyenangkan bila kita berempat bisa datang,” dia mengangkat bahunya.

Semua mata menatapku, dan aku mundur satu langkah. “Kenapa kita tidak hang out di sini saja?”

America cemberut dan Shepley bersandar ke depan. “Karena aku harus datang, Abby. Aku anggota baru; Aku harus memastikan semua berjalan lancar, memastikan semua orang memegang  bir di tangannya, hal-hal semacam itu.”

Travis berjalan ke luar dapur dan meletakkan tangannya di bahuku, menarikku ke arahnya. “Ayolah, Pidge. Maukah kau pergi denganku?”

Aku memandang America, lalu Shepley dan akhirnya ke arah Travis lagi. “Ya, aku mau,” aku menghela nafas.

America berteriak lalu memelukku, dan aku merasakan tangan Shepley di punggungku. “Terimakasih, Abby,” kata Shepley.


***

CRAZY!!! - BAB 3

Penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya? pasti kalian penasaran. karena aku saja terkejut dengan kelanjutannya. setelah aku berteriak,"KAZUMAAAAAAA!" dia datang. ya, Kazuma datang. TAPI DALAM MIMPIKU!

Kenyataannya dia tidak datang seperti yang kuharapkan di film-film, dimana si jagoan datang setelah si cewek memanggil namanya minta tolong.

Heh, sangat menyedihkan bukan? (oh, tolong jangan tertawa. perempuan seperti aku juga boleh bermimpi kan?? -_-) setelah aku memanggil nama Kazuma, 4 orang ini hanya tertawa,

"kikikik, dia manggil2 Kazuma.. namaku bukan Kazuma sayang..." mereka pasti sudah sinting. Putus harapan karena aku tahu sia2 saja aku meneriakkan Kazuma, aku berusaha untuk lari. tapi aku sadar kakiku berdarah karena jatuh tadi. dan bukan berdarah saja, bengkaknya luar biasa besar dan warnanya ungu! tak bisakah aku lebih sial dari ini?!!!!

+BUAKHH!!!!+

Oh tuhan? itu,,, itu Kazuma,,....! dia datang!!(kumaafkan kamu Kazuma karena tak datang saat aku berteriak. setidaknya kamu datang sekarang.. hehe)

"APA-APAAN KAU?!" kata salah satu diantara mereka 

"mau mati.....?" tanya Kazuma.

setelah dia berkata begitu, 10 orang, ah tidak bahkan 10 lebih menuju ke arah Kazuma. ya, diantaranya adalah Taiki dan Yusuke.

"enyah.... atau mati...?" kata Kazuma ke 3 orang itu (yang satunya lagi sudah pingsan karena ditonjok Kazuma) ngeri karena melihat Kazuma dan jumlah pasukannya, 3 orang itu lari terbirit-birit. mereka bahkan meninggalkan temannya yang pingsan! teman macam apa mereka itu?!!

"ehm... te.. terima kasih.." kataku kepada Kazuma.

Kazuma hanya memandang ke arahku dan melirik ke arah lututku yang terluka, tapi dia tak berkata apa2.

"bereskan mayat ini!" kata Kazuma ke anak buahnya. 

Dan mereka segera menarik bocah pingsan itu dan meletakkannya di tumpukan plastik di pembuangan sampah. Taiki dan Yusuke berjalan ke arahku dan Kazuma.

"hei Kazu! cewekmu terluka nih!" kata Yusuke.

"kamu bisa berjalan?"kata Taiki kepadaku.

ohohoho... aku tidak bisa berjalan.. tolong papah aku pangeran.... ingin aku berkata begitu, tapi kutelan dalam2 keinginan itu.

"bisa... tentu saja bisa.." kataku sambil berusaha berdiri. Luka itu ternyata lebih menyakitkan dari kelihatannya. begitu mencoba berdiri, lututku lemas dan aku terjatuh lagi.

"naik ke punggungku. biar kuantar ke rumahmu." kata Taiki.

"tak apa-apakah?" kataku, padahal aku mau banget menerkam punggung sexynya itu.

"tak apa-apa.... kan?" kata Taiki sambil melirik ke arah Kazuma.

"untuk apa melihatku? kalau mau gendong, gendong saja. aku ogah menggendong babi seberat dia di punggungku" kata Kazuma.

apa tak bisa dia sedikit baik mengingat dia yang membuatku begini?!

"aku juga gak mau naik punggung baumu itu!" teriakku,

"jangan menjawabku!" kata Kazuma lagi.

yah-yah-yah, terserah apa katamu...

Yang penting aku bisa digendong oleh Taiki!! ohohohohohoohoho!! akhirnya keberuntungan beralih kepadaku juga hari ini!! aku naik ke punggung Taiki. bahunya lebar sekali, bahkan lebih besar dari bahu ayahku (aku sering tejatuh, dan ya, ayahku selalu menggendongku di kala kakiku luka). dan rambutnya wangi sekali, entah apa shampo yang dipakainya.

akhirnya, kami semua berjalan ke jalan yang sedikitnya sudah kukenal sekarang. dan aku sangat berterima kasih karena Taiki sudah menawariku untuk menungganginya sejauh ini. aku jadi berpikir apakah aku berat? tapi tidak mungkin, terakhir kali aku menimbang sepertinya beratku hanya 45kg, dan tinggiku 164. 45 kg?! dia pasti keberatan ya?! aku saja bawa tas sekolah sudah kecapekan setengah mati, apa lagi dia yang menggendongku sejauh ini!

"turunkan aku saja kalau kamu kecapekan" kataku ke Taiki

"enggak.. kamu enteng kok."

"beratku 45kg dan kamu bilang aku enteng?! menggendong anjingku yg 10kg saja aku sudah setengah mati!"

"ehem.. mungkin kamu lupa. hanya saja, aku ini 'cowok' dan 'cowok' lebih kuat dari pada cewek. jadi menggendongmu gampang saja buatku" 

masuk akal juga. aku tak mengira cowok benar2 sekuat ini. dan yang pasti aku senang sekali dan merasa beruntung sekali telah menjadi cewek untuk saat ini! saking senangnya, mungkin bisa saja aku memeluk Taiki sampai dia kehabisan napas hingga mati.

Tapi kebahagiaanku hanya berlanjut sebentar saja, sampai Kazuma berkata, "turun..."

"apa?" kataku dan Taiki serentak

"CEPAT TURUN KATAKU CEWEK TULI! TURUN DARI PUNGGUNGNYA! HEI TAIKI, TAK BISA KAU LIHATKAH? CEWEK INI MELIHAT PUNGGUNGMU SAMPAI
NGILER SEPERTI MAU MEMAKANMU?! SEBAIKNYA CEPAT TURUN SEBELUM KUTARIK KAU!"

entah apa yang ada di otaknya!

dia gila atau apa sih?! tapi mendengar kata2nya itu aku sempat mengelap mulutku barang sebentar, takut kata2nya itu benar kalau aku ngiler.

aku turun dari punggung Taiki dan berdiri dengan 1 kaki.

aku marah sekali kepada Bule sialan ini. ingin rasanya aku meremas mulutnya dan kucabut lalu kubuang ke tempat sampah terdekat.

"hei Taiki, pulang sana. DAN KALIAN SEMUA JUGA PULANG SANA!" kata Kazuma ke Taiki dan pengikut2 lainnya.

Taiki dan yang lainnya akhirnya mengikuti kemauan Kazuma.

"hei Fujimoto. maafkan aku ya. sepertinya kau harus jalan sendiri untuk pulang." kata Taiki sebelum akhirnya dia berjalan pulang mengikuti teman2 yang lainnya.

tinggal aku dan Kazuma disini, sampai aku akhirnya meledak saking kesalnya.

"APA SIH MAUMU?! AKU NAIK BUKAN KARENA AKU MENGINGINKANNYA! KAU TAK BISA LIHAT DIA HANYA BERUSAHA BAIK UNTUK MENGGENDONGKU?! SETIDAKNYA DIA LEBIH BERMORAL DARIPADA KEPALA EMASMU ITU!"

"tutup mulutmu. jangan bicara seperti itu kepadaku."

"APA?! APA HAH?! HARUS SEPERTI APA AKU BICARA KEPADAMU?! KAU PIKIR KAU SIAPA?!"

Saat aku meneriakinya, dia hanya menutup mata seakan menekan amarahnya terhadapku.tapi akhirnya dia mengangkat kakiku dan menggendongku di bahunya.

dia menggendongku seperti menggendong barang saja! aku mulai berontak dan berteriak," hei turunkan aku dasar psikopat gila! turunkan aku!" aku berontak dan berteriak sepanjang jalan.
dan akhirnya dia menurunkan aku di pinggir jalan.

"sesuai keinginanmu." katanya sebelum akhirnya dia meninggalkanku. dan, ya. disinilah aku. terbengong di pinggir jalan seperti seorang gelandangan atau apa.

aku mulai mengutukinya karena telah menurunkanku yang terluka ini (aku memang minta diturunkan, tapi bukan itu kemauanku sebenarnya.

kau pasti pernah dengar juga kan? 'lain di hati lain di mulut'. jadi tolong, jangan anggap aku sok jual mahal atau apa) aku berjalan dengan 1 kaki, sambil berpegangan kepada apapun yg bisa membuatku tetap berdiri. dan akhirnya aku sampai di rumah.

orang tuaku meneriakiku karena pulang jauh malam tanpa memberi kabar dan pulang dengan keadaan kotor dan terluka. adik laki2ku tertawa2 melihatku diomeli oleh orang tuaku. TAK BISAKAH AKU LEBIH SIAL DARI INI?!!

aku meninggalkan orang tuaku yang sedang meneriakiku ke kamarku. aku tak mengganti baju dan sama sekali tidak peduli untuk mandi sampai akhirnya aku merebahkan badanku di kasur dan akhirnya aku tertidur. setelah hari2 melelahkan ini, yang kuinginkan hanya tidur.........

***

aku terbangun keesokan harinya. dan itu sudah jam 9...sudah terlambat untuk masuk sekolah!
hm.... aku berpikir kenapa orang tuaku tak membangunkan aku? biasanya mereka akan marah2 padaku kalau bangun tak tepat waktu... dan juga tak ada suara berisik adikku.. oh iya, ini hari kamis. dia pasti sudah berangkat ke sekolah.

aku turun ke lantai bawah dan menuju dapur untuk mencari minum. leherku kering sekali sampai terbakar rasanya. eh? ada surat di meja makan. kuambil suratnya, dan kubuka. 'asuka, ayah dan ibu harus pergi ke tempat tante Yamada. anak mereka menikah, dan ibu lupa memberitahumu dan adikmu kemarin. makan pagi dan malam sudah ibu taruh di kulkas. tinggal dipanaskan saja bila kamu dan adikmu lapar.

ps: ibu dan ayah akan pulang kira2 2 hari atau 3 hari lagi. jangan lupa belajar'

yang kupikirkan hanya satu, yaitu............

'HORE AYAH DAN IBU TAK ADA!! AKU BEBASSS!! AKHIRNYA KEBERUNTUNGAN MENGARAH PADAKU! MUAHAHAHHA!'

dan kuputuskan hari itu aku bolos. ya tentu saja,selain kakiku sakit, sudah telat pula.. asik asik asik! akhirnya aku bisa mengistirahatkan jiwa dan ragaku untuk sementara. aku langsung pergi mandi,dan mengobati lukaku (yang sudah bernanah dan membengkak karena kutinggal tidur tanpa diobati semalam).

setelah itu aku makan dan nonton TV sebentar. tak terasa, ternyata aku tertidur lagi di sofa.
tidur yang benar2 nyaman.. tanpa mimpi dan tanpa gangguan sama sekali..

"ka... Asuka.... hei Asuka!!!!"

aku terbangun sampai melompat saking kagetnya. itu Emi! tak bisa apa aku tidur barang sejenak?!!
AAAARGGGHHH!!!!

"apa maumu? pulang sana!" kataku ke Emi (maafkan aku kalau aku kasar kepada sahabatku sendiri. tapi, ya. mood-ku jelek kalau baru bangun tidur).

"jangan begitu dong! ayo bangun... ayo,.. ayo bangun..."

"pergi sana.... jangan ganggu aku..."

setelah berkata begitu, aku mencium bau yang amat sedap... hm... bau ini... RAMEN!!!!! AKH AKU LAPAR! mataku langsung terbuka. dan langsung kurampas plastik yang berada di tangan Emi.

"hei! itu memang kubawakan untukmu! tapi gak bisa sopan sedikit?!" protes Emi. ku jitak kepala Emi, "sejak kapan kau belajar sopan santun heh?"

Setelah itu aku langsung mengarah ke dapur, dan segera memindahkan ramen itu ke mangkuk.

"kenapa kau tidak masuk?" tanya Emi

"tak bisa kaulihat aku sakit?" Kataku sambil makan ramen bawaannya.

"apa yang bisa kulihat?! nafsu makanmu masih gila seperti biasa"

"jangan menjawabku begitu.... mau mati?"

"ih! cara bicaramu sudah benar2 mirip Kazuma! lebih baik hentikan itu sebelum kupelintir lidahmu!"

"oh ehm, baik.. baik.." jujur saja, terkadang aku suka ngeri sama Emi. bukan karena kata2nya atau ekspresinya. tapi karena auranya. mungkin dia itu dulu setan atau apa hingga membuatku ngeri begini... -_-

"hei, kenapa semalam kau meninggalkan aku?! aku takut tahu!"

"maaf Emi.. semalam aku cuma emosi saja. Kazuma itu benar2 membuatku marah semarah marahnya!"

"tapi dia keren sekali semalam....tak kusangka gadis sepertimu bisa mendapatkan cowok seperti dia!"

"apa kerennya?! kalau kau mau ambil saja! dia cowok paling menjijikan yang bisanya memalukanku saja!"

"memalukanmu?"

"iya! semalam apa kau tak dengar dia bilang dia malu terhadapku? dia cuma membawaku ke kafe itu untuk dipermalukan!"

membicarakannya benar2 membuatku marah. mengingatkanku kepada kepala kosong emasnya itu!

"tunggu.. tunggu sebentar... apa maksudmu sih?! bukannya kamu yang bersikap aneh langsung lari keluar sebelum Kazuma selesai bicara?"

" apa sih maksudmu?! jangan membuatku makin kesal deh"

"setelah kau pergi meninggalkan kafe, apa kamu tahu Kazuma menampar cewek yang mengejekmu itu? siapa namanya..? ehm tunggu sebentar kuingat dulu.. ah!Hyori! Hyori namanya kalau aku tak salah ingat!" aku tersedak ramen saat dia bicara begini saking kagetnya aku.

"uhuk uhuk! dia menampar Hyori....?tapi, bagaimana bisa...?"

"tentu saja bisa! si rubah betina itu mengejekmu 'senpai pasti sangat malu deh.. lihat saja ceweknya aneh seperti itu.. kasihan senpai~~ lebih baik sama aku~' lalu +PAAAK!+, si Kazuma menamparnya. terus Kazuma bilang ,'tentu saja aku malu... aku malu karena aku membawa dia kesini hanya untuk dipermalukan!' . setelah itu dia pergi mengejarmu!! KYAAAA!!!! KEREN SEKALIII! AAAAH!!"

"kamu serius? kamu serius dia bicara begitu...?"

"duh! untuk apa deh aku berbohong??? sungguh, dia itu keren sekali...! tapi tentu saja aku lebih suka Yusuke.. kekeke"

Setelah bicara begitu, Emi menyibukkan dirinya dengan menonton Tv sambil memakan cemilanku.
sementara aku.. terbengong disini,... saking 'shock'nya..

Kazuma...?

Kazuma si psikopat itu menampar rubah betina itu demi aku..?

Kazuma si mulut penjahat itu??? membelaku???

MEMBELAKU? MEMBELAKU?? MEMBELAKU???

rasanya aku tak percaya sekali...

dan aku juga sangat gembira... lebih gembira dari aku memenangkan lotre pertamaku.. lebih gembira daripada saat kenaikan uang jajanku.... lebih gembira dari aku menjambak adikku... pokoknya aku gembira sekali mendengarnya!

ingin sekali rasanya aku memeluk Kazuma sekarang juga! KAZUMAAAAAA.... maafkan aku.. huhu... TT_TT

+DING DING~ CHA CHA CHA~ DING DING ~ CHA CHA CHA~+

ah! hpku berbunyi... caller id "unknown"

kuangkat sajalah....

"halo??" tanyaku

"........." orang di sebrang diam saja

"halo...?????"

"......."

"KOLORKU WARNA BIRU!" teriakku, lalu kututup teleponnya. siapa sih yang berani2nya menelpon di saat2 aku lagi hepi begini?! mana gak ngomong apa2 lagi waktu diangkat! bikin marah saja!

+DING DING~ CHA CHA CHA~ DING DING~ CHA CHA CHA~+

hpku berbunya lagi... caller id "unknown".. pasti ini yang tadi lagi..

"APA SIH?!" teriakku kesal.

"................" dia tetap diam saja

"kalau kau tak bicara dalam waktu 3 detik, kututup!"

"....."

"satu......"

"............."

"dua..........."

"ini aku" akhirnya dia bicara juga

"aku? aku siapa ya?"

"ini aku..."

"iya ini aku! tapi aku siapa!" tanyaku kesal

"ini aku! mau mati?!"

O_O kazuma?! ini kazuma!!ahahaha! kazuma!

"ooh.... kamu...kenapa telepon?"

"kamu siapa...?" kata Kazuma.

otak orang ini terbuat dari kacang polong atau apa sih?!

"iya! kamu! kenapa telepon?!" akhirnya aku teriak lagi kepadanya. dia memang paling jenius dalam membuatku marah.

"siapa aku? sebut namaku."

"kamu,,,,, si bule sinting" candaku.

+tut~ tut~ tuuuuuuuuuuuuuuut~+

ap... apa?! dia memutuskan teleponnya!

ih... dasar bule gila kepala polong sinting! masa dia tak bisa diajak bercanda sih! ckckck akhirnya aku memutuskan untuk menelponnya

"SIAPA?!" teriak Kazuma

"ini aku ASUKA! kenapa teriak sih?!"

"siapa itu asuka?! aku gak kenal!"

"ap... apa katamu...?!"

"hei Yusuke! siapa itu Asuka?!" dia menyebut nama 'Yusuke' , sepertinya dia sedang bertanya kepada Yusuke siapa Asuka itu.. itu aku! dasar kacang polong! -_-

"asuka?! oh... itu lho... cewekmu itu... si cewek mesum itu looohhhh..." jawab Yusuke.

Lihat saja nanti kalau ketemu kamu Yusuke... kupastikan akan kupindahkan rambutmu menjadi bulu dadamu...

"ohh.... halo? kenapa telepon?" akhirnya dia tahu juga kalau Asuka itu 'aku'..

"tadi kau yang telepon duluan.. harusnya aku yang bertanya... -_-" aku capek teriak2.. jadi aku coba sabar saja...

"tidak ada apa2! memangnya aku harus ada apa2 kalau mau telepon?!" teriaknya

"oh begituu yaaa~~~~ ya sudah, kututup yaaaaaa~~~ daaaaahhh~~~"

"tunggu-" cegahnya.

kekekeke, sepertinya aku mulai mengerti cara kacang polong ini berpikir?

"apaaa??? katanya tak ada apa2????"

"memang tidak ada apa2! jadi tutup mulutmu dan dengar sajalah!"

".......... -_-'..........."

"ba... bagaimana lututmu?"

O_O!

Jadi dia menelpon untuk menanyakan itu???

aku terharu....TT_TT

"tidak apa2 kok... hanya memar saja... sudah, tak usah kuatir. terimakasih yaa... TT_TT"

"ap.. apa katamu?! siapa yang kuatir sama manusia barbar sepertimu!"

"iya... iya... terima kasih ya.... TT_TT"

"AKU.TIDAK.KUATIR!"

"iya! kamu tidak kuatir! puas?!"

"jangan menjawabku begitu!"

"oh? oh? begitu ya??? sudah selesai kan ngomongnya?? sudah ya.... DAAAAHHH~~~~"

"TUNGGU!-" kekeke... terjebak lagi si kacang polong ini...

"apa lagi...???! kakiku sakit nih! cepat deh ngomongnya..." hehehehe

"katamu sudah tidak sakit! mana yang benar?!"

"sudah tidak sakit! cepat! ngomong saja!"

"cewek emang resek... "

"ap.. apa katamu?!"

"jangan lihat yang lain..."

"hah?"

"jangan lihat yang lain..."

"apa sih maksudmu?! kamu selalu bikin aku bingung!"

"JANGAN LIHAT YANG LAIN SAAT KAU BERSAMAKU! SAAT AKU BERSAMAMU, JANGAN BERANI2NYA KAU BERDEKATAN DENGAN YANG LAIN! SAMPAI KULIHAT KAU SEPERTI KEMARIN LAGI, SIAP2 SAJA UNTUK MATI!"

"itu sebenarnya kata2 yang sangat mengharukan! tapi kenapa kamu harus teriak sih?!"

"aku tidak berusaha untuk mengharukanmu! jadi tutup mulutmu, dengar, dan lakukan!"

"iya... iya... iya sayang...."

"sayang..? siapa dia? dimana sekolahnya?! kamu tak dengar apa yg kubilang barusan?!"

"sayang itu kamu bodoh!"

"namaku 'K.A.Z.U.M.A' bukan 'S.A.Y.A.N.G' "

"yayaya.... terserah... -_-"

"sudah dulu! aku sibuk mau pergi! yang lain menunggu!" kata Kazuma.

"eh tunggu-"

"apa lagi?!"

"kamu mau ngapain?"

"kami mau berantem dengan SMU Higashi."

"yayaya, terserah"

"kamu tidak percaya?! datang saja kesini kalau tak percaya! eh tunggu- JANGAN BERANI-BERANI KAU DATANG KEMARI!"

+TUT~TUT~TUT~TUT~TUT+

Si kepala emas itu memutuskan teleponnya... dasar tak punya hati! tapi tidak apa2... aku senang telah berbicara dengannya.. sepertinya, hari2ku akan lebih mendebarkan kedepannya.. hem,,, kita lihat saja... hehehe

Suasana hatiku jadi bagus hari ini... dan sepertinya aku akan berjalan2 dan mampir ke toko terdekat untuk jajan dan berpesta di rumah dengan Emi (mumpung rumah kosooonggg.... hehehehe)
"Emi! ayo kita jalan2 sebentar!"