Jumat, 04 April 2014

BEAUTIFUL DISASTER - BAB 3





KOMENTAR PEDAS (CHEAP SHOT)

Finch menghisap sekali lagi. Asap keluar dari hidungnya dalam dua kepulan tebal. Aku mengarahkan wajahku ke arah matahari saat dia menceritakan tentang acara dansa, minuman keras dan teman barunya yang gigih selama weekend kemarin.

"Jika kau tidak menyukainya, mengapa kau membiarkannya membelikanmu minuman?” aku tertawa.

“Jawabannya sederhana, Abby. Aku sedang tidak punya uang.”

Aku tertawa lagi, dan Finch menusukan sikunya padaku lalu melihat Travis berjalan ke arah kami.

“Hai, Travis,” Finch menyapa sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.

“Finch,” dia mengangguk. Dia memegang kunci. “Aku akan pulang, Pidge. Apakah kau butuh tumpangan?”

“Aku baru saja akan ke asrama,” jawabku, aku tersenyum padanya sambil memakai kacamataku.

“kau tak akan tinggal bersamaku malam ini?” dia bertanya, wajahnya tampak terkejut dan kecewa.

“Tidak, aku akan menginap di sana. Hanya saja aku harus mengambil beberapa barang yang lupa aku bawa dari asrama.”

“Barang apa?”

“Well, pisau cukurku misalnya. Apa pedulimu?”

“Memang sudah waktunya kau mencukur bulu kakimu. Karena melukai punyaku,” dia berkata sambil menyeringai nakal.

Mata Finch melotot saat memandangku sekilas, dan aku cemberut ke arah Travis. “Itulah awalnya bagaimana gosip menyebar!” aku melihat ke arah Finch dan menggelengkan kepalaku. “Aku tidur di tempat tidurnya...hanya tidur.”

“Ya, benar,” kata Finch sambil tersenyum  puas.

Aku memukul tangan Finch sebelum menghentak pintu agar terbuka dan menaiki tangga. Ketika aku tiba di lantai dua, Travis berada di sampingku.

“Oh, jangan marah. Aku hanya bercanda.”

“Semua orang sudah berpikiran kita berhubungan seks. Dan kau membuatnya semakin parah.”

“Siapa yang peduli dengan yang apa mereka pikirkan?”

“Aku, Travis, aku peduli,” aku mendorong pintu kamarku hingga terbuka, memasukan barangku ke dalam sebuah tas kecil, lalu melangkah keluar dan Travis mengikuti di belakang. Dia tertawa saat mengambil tas dari tanganku dan aku melotot padanya. “Itu tidak lucu. Apakah kau ingin semua orang di kampus berpikir kalau aku adalah salah satu perekmu?”

Travis mengerutkan dahinya. “Tidak ada seorangpun yang berpikir seperti itu. Dan jika ada, mereka akan berharap aku tak pernah mendengarnya.”

Dia menahan pintu terbuka untukku, dan setelah aku melewatinya, aku berhenti tiba-tiba di depannya.

“Aww!” dia terkejut saat menabrakku.

Aku membalik tubuhku. “Ya Tuhan! Semua orang mungkin berpikir kita pacaran tapi kau tetap melakukan...gaya hidupmu, tanpa rasa malu sama sekali. Aku pasti terlihat sangat menyedihkan!” Aku berkata, baru menyadarinya saat aku bicara. “Kupikir aku tak akan tinggal bersamamu lagi. Kita harus saling menjauh untuk sementara.”

Aku mengambil tas darinya dan dia merebutnya lagi.

“Tak ada seorangpun yang berpikir kita pacaran, Pidge. kau tak harus berhenti bicara padaku untuk membuktikannya.”

Kami tarik-menarik memperebutkan tas, dan ketika dia menolak untuk melepaskannya, aku menggeram keras dengan frustrasi. “Apakah pernah ada seorang wanita—yang hanya teman—tinggal bersamamu? Apakah kau pernah menawarkan tumpangan pada seorang wanita pulang dari kampus? Apa kau makan siang dengannya setiap hari? Tidak ada yang tahu apa yang mereka pikirkan tentang kita, meskipun kita telah menjelaskannya!”

Dia berjalan ke parkiran sambil memegangiku. “Aku akan perbaiki itu, ok? Aku tak ingin ada seseorang yang berpikiran buruk tentangmu karena aku,” dia berkata dengan ekspresi terganggu. Matanya berbinar lalu tersenyum. “Biarkan aku menebusnya. Bagaimana kalau kita pergi ke The Dutch malam ini?”

“Itu bar untuk para biker,” aku mencibir, memperhatikan dia mengikat tasku pada motornya.

“Ok, kalau begitu kita pergi ke club. Aku akan mengajakmu makan malam lalu kita ke The Red Door. Aku traktir.”

“Bagaimana bisa makan malam dan pergi clubbing akan memperbaiki masalah? Kalau orang lain melihat kita pergi bersama, itu akan membuatnya semakin buruk.”

Dia menaiki motornya. “Coba pikir, aku, mabuk, di ruangan penuh wanita setengah telanjang? Tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk mereka mengetahui bahwa kita bukan pasangan.”

“Jadi aku harus melakukan apa? Membawa pria pulang dari bar untuk mengantarku pulang?”

“Aku tidak berkata begitu. Tak perlu terlalu berlebihan,” dia berkata sambil mengerutkan dahinya.

Aku memutar mataku lalu naik ke atas motor, dan meletakkan tanganku di pinggangnya. “Apakah nanti ada seorang wanita yang akan ikut kita pulang dari bar? Itu kah caramu menebusnya padaku?”

“kau tidak cemburu kan, Pigeon?”

“Cemburu pada apa? Pada pembawa penyakit seksual menular yang bodoh yang akan menyerangmu dan membuatmu kesal pada pagi harinya?”   

Travis tertawa, lalu menyalakan Harley-nya. Dia melesat menuju apartemen dengan kecepatan dua kali lipat dari kecepatan maksimum. Aku menutup mataku agar tidak melihat pada bayangan pohon dan mobil yang kami lewati.

Saat turun dari motornya, aku memukul bahunya. “Apakah kau lupa bahwa ada aku di belakangmu? Apa kau mencoba untuk membunuhku?”

“Sangat sulit untuk melupakanmu ada di belakangku saat pahamu menjepitku dengan sangat erat.”

Seringai bodoh muncul di wajahnya karena membayangkan yang tidak-tidak. ”Aku tidak bisa membayangkan cara untuk mati yang lebih baik dari ini.”

“Ada yang benar-benar salah dengan dirimu.”

Kami baru saja masuk ketika America berjalan keluar dari kamar Shepley. “Kami berencana untuk pergi keluar malam ini, kalian ingin ikut?”

Aku memandang Travis dan tersenyum. “Kami berencana makan sushi sebelum pergi ke The Red.”

America tersenyum lebar. “Shep!” dia memanggil sambil berlari ke kamar mandi. “Kita akan pergi keluar malam ini!”

Aku mendapat giliran terakhir untuk mandi, Shepley, America dan Travis sudah tidak sabar menunggu di depan pintu ketika aku keluar dari kamar mandi memakai gaun hitam dan sepatu bertumit warna pink.

America bersiul. “Sangat seksi!”

Aku tersenyum menghargai, dan Travis mengangkat tangannya. “Kaki yang indah.”

“Apakah aku sudah bilang kalau itu pisau cukur ajaib?”

“Aku pikir bukan karena pisau cukurnya,” dia tersenyum sambil menarikku keluar pintu.

Kami merasa terlalu bising dan tidak nyaman di sushi bar, kami sudah cukup banyak minum sebelum pergi ke The Red Door. Shepley memasuki tempat parkir, berputar-putar mencari tempat untuk parkir.

“Cepatlah, Shep,” America menggerutu.

***

“Heh. Aku harus menemukan tempat yang agak luas untuk parkir. Aku tak ingin orang idiot yang mabuk merusak cat mobilku.”

Setelah kita parkir, Travis memajukan kursinya ke depan dan membantuku keluar. “Kalian membuat KTP palsu dimana? Itu sangat rapi. Sulit untuk mendapatkannya di sini.”

“Ya, kami memilikinya sudah cukup lama. Itu sangat penting...di Wichita.” jawabku.

“Penting?” Travis bertanya.

“Untung kau memiliki koneksi,” kata America. Dia cegukan dan menutup bibirnya sambil cekikikan.

“Ya ampun,” Shepley berkata sambil memegang tangan America saat dia berjalan sempoyongan di atas kerikil. “Kupikir kau sudah terlalu banyak minum malam ini.”

Travis penasaran. “Apa maksudmu, Mare? Koneksi apa?”

“Abby mempunyai teman lama yang—“

“Itu KTP palsu, Trav,” kataku memotong. “kau harus mengenal orang yang tepat agar hasilnya bagus, benar kan?”

America sengaja memalingkan wajahnya dari Travis dan aku menunggu.

“Benar,” dia menjawab, tangannya memegang tanganku.

Aku memegang tiga jari Travis dan tersenyum, mengetahui ekspresinya yang tak puas atas jawabanku.

“Aku membutuhkan minum lagi,” kataku sebagai usaha kedua untuk mengubah topik pembicaraan.

“Minum!” America berteriak.

Shepley memutar matanya. “Ya benar, itu yang kau butuhkan, minuman lagi.”

Setelah di dalam, Amarica langsung menarikku ke lantai dansa. Rambut pirangnya berantakan, dan aku tertawa pada bibirnya yang di dorong maju seperti bebek saat dia bergerak mengikuti musik. Ketika lagu berakhir, kita bergabung dengan Shepley dan Travis di meja bar. Ada seorang wanita yang sangat seksi, berambut pirang pucat di samping Travis, dan ekspresi mabuk America berubah menjadi rasa jijik.

“Akan selalu seperti ini sepanjang malam, Mare. Acuhkan saja mereka,” Shepley berkata sambil menunjuk kearah sekumpulan wanita yang berada tidak jauh dari kami menggunakan kepalanya. Mata mereka memandangi si pirang, menunggu giliran mereka untuk mendekati Travis.

“Seperti Vegas yang memuntahkan domba pada sekawanan burung nasar,” America mengejek.

Travis menyalakan rokoknya saat memesan dua botol bir, si pirang sedikit mendesah, membasahi bibirnya lalu tersenyum. Bartender membuka tutup botol dan menyerahkannya pada Travis. Si pirang mengambil salah satu botol bir itu tapi Travis mengambilnya kembali dari tangannya.

“Bukan untukmu,” Travis berkata padanya lalu menyerahkannya padaku.

Awalnya aku berpikir untuk membuang bir itu ke tempat sampah tapi wanita itu tampak tersinggung, lalu aku tersenyum dan meminum bir itu. Dia melangkah pergi dengan dongkol dan aku tersenyum karena tampaknya Travis tak peduli.

“Memangnya aku akan membelikan minuman untuk seorang wanita di bar,” dia berkata sambil menggelengkan kepalanya. Aku mengangkat botol bir ku ke atas dan dia tersenyum kecil. “kau berbeda.”

Aku bersulang dengannya. “Untuk menjadi satu-satunya wanita yang tidak diajak tidur oleh pria yang tidak punya aturan.”  Kataku sambil meneguk birku.

“Apakah kau serius?” dia bertanya sambil menarik botol bir dari mulutku. Dan ketika aku tidak menarik kembali kata-kataku, dia bersandar mendekat ke arahku. Pertama...aku punya aturan. Aku tidak pernah bersama wanita jelek, tidak pernah. Kedua, aku ingin tidur denganmu. Aku telah membayangkan menidurimu di sofaku dengan lima puluh cara yang berbeda, tapi aku tidak melakukannya karena aku tidak melihatmu seperti itu lagi sekarang. Bukan karena aku tidak tertarik padamu, aku hanya berpikir bahwa kau lebih baik dari itu.”

Aku tak dapat menahan senyuman puas yang merayap di wajahku. “kau berpikir bahwa aku terlalu baik untukmu?”

Dia menyeringai pada penghinaan keduaku. “Aku tak dapat menyebutkan satu priapun yang cukup baik untukmu.”

Kesombonganku mencair hilang dan digantikan oleh perasaan tersentuh dan senyum menghargai.

“Terimakasih, Trav,” kataku sambil meletakan botol kosongku di atas meja bar.

Travis menarik tanganku. “Ayo,” dia berkata sambil menarikku ke tengah kerumunan di lantai dansa.

“Aku terlalu banyak minum! Aku akan terjatuh!”

Travis tersenyum dan menarikku ke arahnya, memegang pinggulku. “Diam dan berdansalah.”

America dan Shepley muncul di samping kami. Gerakan Shepley seperti dia terlalu banyak nonton video klipnya Usher. Travis hampir membuatku panik dengan caranya memelukku. Jika dia menggunakan salah satu dari gerakan ini di sofa, aku dapat mengerti mengapa banyak wanita mau dipermalukan keesokan harinya.

Dia bergerak dengan lincah di pinggulku, dan aku menyadari kalau ekspresinya berbeda, hampir serius. Aku menggerakan tanganku di atas dadanya yang tanpa cacat dan six-pack yang saat itu meregang dan menjadi keras di bawah kaos ketatnya mengikuti musik. Aku membelakanginya dan tersenyum ketika dia memeluk pinggangku. Ditambah alkohol dalam darahku, ketika dia menarik tubuhku ke tubuhnya, aku berpikir itu semua lebih dari sekedar hanya teman.

Lagu berikutnya terlalu bersemangat untuk kita berdansa, dan Travis tidak menunjukan tanda kalau dia ingin kembali ke meja bar. Butiran keringat di belakang leherku, lampu sorot warna-warni membuatku sedikit pusing. Aku menutup mataku dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Dia memegang tanganku dan menariknya ke atas lehernya. Tangannya bergerak ke bawah dari tanganku, lalu ke tulang rusukku akhirnya kembali ke pinggulku. Ketika aku merasakan bibirnya lalu lidahnya di leherku, aku menjauh darinya.

Dia tertawa sedikit terkejut. “Ada apa, Pidge?”

Kemarahanku menyala, membuat kata-kata pedas yang ingin aku katakan tertahan di tenggorokanku. Aku kembali menuju bar dan memesan Corona lagi. Travis mengambil tempat duduk di sampingku, mengangkat jarinya untuk memesan satu lagi. Tak lama setelah bartender meletakan botol di hadapanku, aku meneguk setengah isinya sebelum membantingnya ke atas meja bar.

“Kau pikir itu akan mengubah pikiran semua orang tentang kita?” tanyaku sambil menarik rambut untuk menutupi tempat yang dia cium.

Dia tertawa sekali. “Aku tak peduli dengan apa yang mereka pikirkan tentang kita.”

Aku menatapnya dengan pandangan jijik lalu melangkah pergi.

“Pigeon,” panggilnya sambil menyentuh tanganku.

Aku menjauh darinya. “Jangan. Aku tak akan pernah cukup mabuk untuk membiarkanmu menidurkanku di sofa itu.”

Wajahnya berubah menjadi marah, tapi sebelum dia mengatakan sesuatu, seorang wanita yang sangat menarik berambut hitam dengan bibir penuh, mata biru yang sangat besar memakai baju yang belahan dadanya sangat rendah mendekatinya.

“Well, ternyata benar ini Travis Maddox,” dia berkata sambil menggerakan dadanya naik turun di tempat yang tepat.

Travis meminum birnya sambil tetap memandang ke dalam mataku. “Hai, Megan.”

“Perkenalkan aku pada pacarmu,” dia tersenyum. Aku memutar mataku karena betapa keterus terangannya menyedihkan.

Travis menengadahkan kepalanya untuk meminum habis birnya lalu mendorong dan luncurkan botol kosongnya di sepanjang meja bar. Semua orang yang sedang menunggu giliran untuk memesan memperhatikan botol itu hingga akhirnya jatuh dan masuk ke tempat sampah di ujung meja. “Dia bukan pacarku.”

Dia menarik tangan Megan yang dengan senang hati berjalan di belakangnya menuju lantai dansa. Travis ‘menyerangnya’ selama lagu pertama, lagu berikutnya, berikutnya. Mereka menarik perhatian dengan cara Megan membiarkan Travis menggerayanginya dan ketika dia membungkukan Megan, aku berpaling dari mereka.

“kau kelihatan kesal,” kata seorang pria yang duduk di sampingku. “Apa dia pacarmu?”

“Bukan, dia hanya temanku,” aku menggerutu.

“Well, bagus kalau begitu. Karena akan jadi canggung kalau itu adalah pacarmu,” dia memandang ke arah lantai dansa, menggelengkan kepalanya ke arah tontonan itu.

“Aku tahu,” jawabku sambil meminum habis birku. Aku hampir merasakan efek dari dua minumanku sebelumnya, dan gigiku mati rasa.

“Apakah kau mau minum lagi?” dia bertanya. Aku menatapnya dan dia tersenyum. “Namaku Ethan.”

“Aku Abby,” jawabku sambil meraih uluran tangannya.

Dia mengangkat dua jarinya untuk memesan dua lagi pada bartender lalu aku tersenyum. “Terimakasih.”

“Apakah kau tinggal di sekitar sini?” dia bertanya.

“Aku tinggal di asrama Morgan di Eastern.”

“Aku tinggal di apartemen di Hinley.”

“kau tinggal di negara bagian lain?” aku bertanya. “Itu kan...satu jam perjalanan? Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku lulus Mei kemarin. Adikku kuliah di Eastern. Aku tinggal dengannya sepanjang minggu ini sambil mencari pekerjaan.”

“Oh...menjalani kehidupan nyata ya?”

Ethan tertawa. “Dan itu sama seperti yang mereka katakan.”

Aku mengeluarkan lipgloss-ku dari dalam tas dan memoleskannya di bibirku, menggunakan cermin yang menempel  sepanjang dinding di belakang bar.

“Warnanya bagus,” dia berkata sambil memperhatikanku menekan bibirku.

Aku tersenyum, merasa marah pada Travis dan karena banyaknya alkohol. “Mungkin kau akan mencobanya nanti.”

Mata Ethan berbinar ketika aku mendekat, lalu aku tersenyum ketika dia menyentuh lututku. Dia menarik tangannya kembali ketika Travis berdiri diantara kami.

“kau siap, Pidge?”

“Aku sedang mengobrol, Travis,” kataku sambil mendorongnya. Bajunya basah karena bersirkus di lantai dansa, lalu aku sengaja mengelapkan tanganku pada rokku.

Travis menyeringai. “Apakah kau benar-benar mengenal pria ini?”

“Namanya Ethan,” jawabku, sambil tersenyum semenggoda mungkin ke arah Ethan.

Dia mengedipkan satu matanya padaku, memandang Travis lalu mengulurkan tangannya. “Senang bertemu denganmu.”

Travis melihat sekilas ke arahku dan aku mendengus. “Ethan ini Travis,” aku bergumam pelan.

“Travis Maddox,” dia menambahkan, menatap tangan Ethan seperti akan merobeknya hingga lepas.

Mata Ethan melebar dan dengan canggung menarik kembali tangannya. “Travis Maddox? Travis Maddox dari Eastern?

Aku meletakan kepalan tanganku di pipiku, takut akan terjadi pertikaian yang dipicu hormon testosteron yang tidak terelakkan.

Travis meregangkan tangannya di belakangku untuk berpegangan pada meja bar. “Ya benar, kenapa?”

“Aku melihat pertarunganmu dengan Shawn Jenks tahun lalu. Aku pikir aku akan menyaksikan kematian seseorang!”

Travis menatap tajam ke arahnya “Apakan kau ingin melihatnya lagi?”

Ethan tertawa sekali dan menatap pada kami bergantian. Ketika dia menyadari Travis serius, dia tersenyum padaku meminta maaf lalu pergi.

“kau siap pergi sekarang?” Travis membentak.

“kau benar-benar brengsek, kau tahu itu?”

“Aku pernah di panggil lebih parah,” dia berkata sambil membantuku turun dari kursi bar.

***

Kami mengikuti America dan Shepley menuju mobil, dan ketika Travis berusaha memegang tanganku untuk menuntun ke tempat parkir, aku menepiskan tangannya. Dia berbalik dan aku tersentak lalu berhenti, mundur ke belakang ketika dia hanya beberapa inchi dari wajahku.

“Aku harusnya tinggal menciummu dan mengakhiri semua ini!” dia berteriak. “kau sangat menggelikan! Aku mencium lehermu, terus kenapa?”

Aku dapat mencium bau bir dan rokok dari nafasnya lalu aku mendorongnya. “Aku bukan teman berhubungan seks, Travis.”

Dia menggelengkan kepalanya karena tidak percaya. “Aku tidak pernah bilang kau begitu! kau selalu bersamaku dua puluh empat jam sehari, kau tidur di tempat tidurku tapi sepanjang waktu kau bertingkah seperti kau tidak ingin terlihat bersamaku!”

“Aku datang kemari bersamamu!”

“Aku selalu memperlakukanmu dengan hormat, Pidge.”

Aku berdiri tegak. “Tidak, kau memperlakukanku seperti aku adalah barang milikmu. kau tidak berhak mengusir Ethan seperti itu!”

“Apakah kau tahu Ethan itu siapa?” dia bertanya. Ketika aku menggelengkan kepalaku, dia mendekat. “Aku tahu dia siapa. Dia pernah di penjara karena pelecehan seksual, tapi tuntutannya di batalkan.”

Aku melipat tanganku. “Oh, jadi kalian mempunyai kesamaan?”

Mata Travis menyipit, dan otot rahangnya berkedut di bawah kulitnya. “Apakah kau memanggilku pemerkosa?” dia bertanya dengan dingin dan pelan.

Aku menekan bibirku, bahkan lebih marah karena Travis benar. Aku sudah bertindak terlalu jauh. “Tidak, aku hanya marah padamu!”

“Aku habis minum-minum, kulitmu hanya beberapa inchi dari wajahku, kau cantik dan kau sangat wangi saat berkeringat. Aku menciummu! Maafkan aku! Lupakanlah!”

Alasannya membuat bibirku tersenyum. “Menurutmu aku cantik?”

Dia mengernyit dengan muak. “Kau sangat cantik dan kau tahu itu. Apa yang kau tertawakan?”

Aku berusaha menyembunyikan rasa kagumku dengan tidak mengakuinya. “Tidak ada apa-apa. Ayo pergi.”

Travis tertawa satu kali dan menggelengkan kepalanya. “Apa..? kau..? kau adalah orang yang sangat merepotkan!” dia berteriak dan melotot padaku. Aku tak bisa berhenti tersenyum, setelah beberapa lama, Travis mulai tersenyum. Dia menggelengkan kepalanya lagi dan melingkarkan tangannya di leherku. “kau membuatku gila. Apa kau tahu itu?”

***

Tiba di apartemen, kami semua terhuyung di pintu. Aku langsung menuju kamar mandi untuk mencuci bau asap rokok dari rambutku. Ketika aku keluar dari pancuran, aku lihat Travis telah membawakanku salah satu kaos dan celana boxernya untuk baju gantiku.

Kaosnya kebesaran dan boxernya menghilang di bawah kaos. Aku berbaring di atas tempat tidur dan menghela nafas, masih tetap tersenyum mengingat apa yang telah dia katakan di tempat parkir.

Travis menatapku sekilas, dan aku merasakan sengatan di dadaku. Aku hampir merasakan dorongan kuat untuk menarik wajahnya dan menciumnya, tapi aku melawan aliran alkohol dan hormon yang mengalir di dalam darahku.

“Selamat tidur, Pidge.” dia berbisik kemudian membalik.

Aku bergerak dengan gelisah, belum ingin tidur. “Trav?” aku memanggilnya sambil menyandarkan pipiku di pundaknya.

“Ya?”

“Aku tahu aku mabuk, dan kita baru saja bertengkar hebat karena masalah ini, tapi...”

“Aku tidak akan berhubungan seks denganmu, jadi berhentilah bertanya,” dia berkata sambil tetap membelakangiku.

“Apa? Bukan itu!” Aku berteriak.

Travis tertawa dan berbalik menatapku dengan lembut. “Ada apa, Pidge?”

Aku mendesah. “Ini...” kataku sambil membaringkan kepalaku di dadanya dan melingkarkan tanganku di pinggangnya, meringkuk sedekat mungkin padanya.

Tubuhnya menegang dan tangannya di atas, tak tahu bagaimana harus bereaksi. “kau benar-benar mabuk.”

“Aku tahu,” jawabku, terlalu mabuk untuk merasa malu.

Dia meletakkan satu tangannya di punggungku dan tangan satunya di rambut basahku, lalu mencium dahiku. “kau adalah wanita yang paling membuatku bingung yang pernah kutemui.”

“Setidaknya ini yang bisa kau lakukan setelah menakuti satu-satunya pria yang mendekatiku malam ini.”

Maksudmu Ethan si pemerkosa? Ya, aku berhutang padamu untuk itu.”

“Lupakan saja,” kataku mulai merasakan penolakan.

Dia menarik tanganku dan menahannya di atas perutnya mencegah aku untuk melepaskannya. “Tidak, aku serius. kau harus lebih berhati-hati. Jika aku tidak ada di sana...aku bahkan tidak mau memikirkannya. Dan sekarang kau mengharapkan aku meminta maaf karena mengusirnya?”

“Aku tak ingin kau meminta maaf. Ini bahkan bukan tentang itu.”

“Lalu tentang apa?” dia bertanya, menatap mataku mencari sesuatu. Wajahnya hanya beberapa inchi dariku dan aku bisa merasakan nafasnya di bibirku.

Aku cemberut. “Aku mabuk, Travis. Hanya itu alasan yang aku punya.”

“kau hanya ingin aku memelukmu hingga kau tertidur?”

Aku tidak menjawab.

Dia bergerak untuk menatap lurus ke mataku. “Seharusnya aku menolaknya untuk membuktikan maksudku,” dia berkata, alisnya mengernyit. “Tapi aku akan membenci diriku nanti jika aku menolaknya dan kau tak pernah memintanya lagi.”

Aku membaringkan leherku di dadanya, lalu dia mempererat pelukannya, mendesah. “kau tidak membutuhkan alasan, Pidge. Kau hanya tinggal minta.

***

Aku meringis karena sinar matahari menembus jendela dan alarm berbunyi di telingaku. Travis masih tertidur, memelukku dengan kedua tangan dan kakinya. Aku memutar tanganku untuk meraih dan menekan tombol tunda. Mengusap wajahku, lalu memandanginya yang sedang tertidur nyenyak di dekatku.

“Ya Tuhan,” aku berbisik, heran bagaimana kita bisa seperti ini. Aku menarik nafas panjang dan menahannya saat aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya.

“Hentikan, Pidge. Aku sedang tidur.” Dia bergumam, semakin erat memelukku.

Setelah beberapa kali berusaha, akhirnya aku lepas dari pelukannya lalu duduk di ujung tempat tidur, menatap tubuhnya yang setengah telanjang tertutup selimut. Aku memandangnya sebentar dan mendesah. Batasnya jadi semakin tidak jelas dan itu kesalahanku.

Tangannya keluar dari selimut dan menyentuh jariku. “Ada apa, Pidge?” dia bertanya dengan mata sedikit terbuka.

“Aku akan bawa segelas air minum, apa kau menginginkan sesuatu?” Travis menggelengkan kepalanya lalu memejamkan matanya lagi, pipinya menempel di atas tempat tidur.

“Selamat pagi, Abby,” Shepley menyapa dari atas kursi malas ketika aku muncul.

“Di mana Mare?”

“Masih tidur. Apa yang kau lakukan sepagi ini?” dia bertanya sambil melirik jam.

“Alarmnya mati tapi aku selalu bangun pagi setelah mabuk, itu kutukan.”

“Aku juga,” dia mengangguk.

“Sebaiknya kau membangunkan Mare. Kita ada kelas dalam satu jam.” Aku berkata sambil membuka kran dan membungkuk untuk minum seteguk.

Shepley mengangguk. “Tadinya aku akan membiarkan dia tidur.”

Aku menggeleng. “Jangan, dia akan marah kalau kesiangan.”

“Oh,” dia berkata lalu berdiri. “Sebaiknya membangunkan dia kalau begitu.” Dia berbalik, “Hey, Abby?”

“Ya?”

“Aku tak tahu apa yang terjadi antara kau dan Travis, tapi aku tahu dia akan melakukan hal yang bodoh untuk membuatmu kesal. Dia selalu seperti itu. Dia jarang dekat dengan seseorang dan aku tak tahu apa alasannya, dia membiarkanmu mendekat. Tapi kau harus mengabaikan kelakuan jeleknya. Hanya dengan itu dia akan tahu.”

“Tahu apa?” aku bertanya sambil mengangkat alisku karena ucapannya yang melodramatis.

“Kalau kau bersedia menerima Travis," dia menjawab dengan sungguh-sungguh.

Aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum. “Terserah apa katamu, Shep.”

Shepley menghela nafas lalu menghilang masuk ke kamarnya. Aku mendengar keluhan pelan, erangan protes lalu tawa cekikikan manis America.

Aku mengaduk oatmeal di mangkukku dan menambahkan coklat sirup ke dalamnya saat aku mengaduk.

“Sangat menjijikan, Pidge,” Travis berkata, hanya memakai celana boxer kotak-kotak hijau. Dia menggosok matanya lalu mengeluarkan sereal dari dalam lemari.

“Selamat pagi juga,” kataku sambil menutup botol sirup coklat.

“Aku dengar sebentar lagi ulang tahunmu. Kesempatan terakhir di tahun remajamu,” dia menyeringai, matanya merah dan bengkak.

“Ya...aku orang yang tidak suka merayakan ulang tahunnya. Aku pikir Mare akan mengajakku makan malam atau lainnya.” Aku tersenyum. “kau boleh ikut kalau mau.”

“Baiklah,” dia mengangkat bahunya. “Itu seminggu dari hari minggu, kan?”

“Ya benar. Kapan ulang tahunmu?”

Dia menuangkan susu, mencelupkan flake dengan sendoknya. “Nanti April, tanggal satu.”

“Serius?”

“Aku serius,” dia menjawab sambil mengunyah.

“Ulang tahunmu tepat pada saat April Fool’s?” aku bertanya lagi sambil mengangkat alisku.

Dia tertawa. “Ya benar! kau akan terlambat nanti. Sebaiknya aku bersiap-siap.”

“Aku akan pergi bersama America.”

Aku tahu dia berusaha bersikap tak acuh saat dia mengangkat bahu. “Terserah,” jawabnya lalu berbalik untuk menghabiskan serealnya.
***