Minggu, 05 Oktober 2014

SUNSHINE BECOME YOU - BAB 3

ALEX berjalan menyusuri trotoar, kembali ke gedung apartemennya, sambil menyesap kopinya dengan perasaan lega. Ia tidak bisa berfungsi dengan baik sebelum minum secangkir kopi setiap pagi.

Karena itu pagi ini ia hampir gila karena tidak bisa membuat kopi seperti biasa. Sejak kemarin ia baru menyadari bahwa ada banyak hal sederhana yang tidak bisa dilakukannya hanya dengan sebelah tangan, termasuk membuat kopi. Satu-satunya hal yang berhasil
dilakukan Alex dengan sebelah tangan adalah membuat dapurnya berantakan.
 

Semua ini gara-gara gadis itu.
 

Alex mengumpat dalam hati. Tidak, ia tidak akan memikirkan gadis itu. Tidak sekarang. Kalau ia memikirkan gadis itu, yang ingin dilakukannya sekarang adalah meremukkan wadah plastik berisi kopinya dan meninju sesuatu. Jadi, tidak, ia tidak akan memikirkan
gadis itu sekarang. Sekarang ia hanya ingin menikmati kopinya, walaupun kopi yang dibelinya dari kafe di ujung jalan ini sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan kopi buatannya sendiri. Tapi hanya ini yang bisa didapatkannya sekarang. Dan ia harus puas dengan ini. Kopi ini saja sudah cukup. Ia tidak perlu sarapan walaupun ia
kelaparan. Ia juga tidak perlu…


Alex menghentikan jalan pikirannya seiring langkah kakinya yang berhenti mendadak di tengah anak tangga di depan gedung apartemennya.
 

Terkutuklah dirinya. Alex melihat gadis itu berdiri dipintu depan gedung apartemennya.
 

Gadis itu
 

Mimpi buruknya.
 

Malaikat kegelapannya.
 

Dan suasana hati Alex pun kembali buruk. 

Gadis itu berdiri membelakangi Alex, menghadap interkom yang terpasang di samping pintu, menekan bel apartemen Alex berulang-ulang. Setelah menunggu beberapa detik dan tidak mendapat jawaban, ia menghela napas panjang. Tentu saja, ia belum sadar bahwa Alex tidak ada di apartemen karena Alex sebenarnya sedang berdiri tepat di belakangnya.
 

Alex mengerutkan kening menatap malaikat kegelapannya yang mendadak muncul di depan matanya. Kenapa gadis itu datang ke sini?
 

Gadis itu masih berdiri menghadap interkom. Sebelah tangannya terangkat sekali lagi hendak menekan bel, tetapi tidak jadi. Tangannya diturunkan kembali. Ia mendesah pelan, lalu berbalik. Dan langsung terkesiap melihat Alex.
 

Mata gadis itu melebar kaget dan ia berdiri mematung di hadapan Alex. Alex tidak berkata apa-apa. Ia hanya memberengut menatap gadis yang telah menghancurkan dunianya dan
membuatnya cacat dalam sekejap.


Gadis itu membuka mulut, tetapi Alex lebih cepat. "Jangan coba-coba jatuh lagi," katanya tajam. 

Gadis itu menatapnya dengan bingung. Lalu ia menunduk dan sepertinya menyadari apa yang dimaksud Alex. Ia berdiri di puncak tangga di depan gedung apartemen, sementara Alex berdiri di tengah-tengah tangga. Ketika ia kembali menatap Alex, wajahnya terlihat merah. "Tidak, aku…"
 

"Sedang apa kau di sini?" Alex lagi-lagi menyela, dan sama sekali tidak mencoba membuat suaranya terdengar ramah. Kau tentu tidak mungkin mau bersikap ramah pada malaikat kegelapan, bukan?
 

"Aku datang untuk meminta maaf," kata gadis itu cepat, lalu menelan ludah dan menatap Alex sambil menggigit bibir. Alex menyipitkan mata. Ekspresinya tetap tidak berubah.
 

Gadis itu menggerakkan sebelah tangannya tanpa maksud tertentu dan melanjutkan, "Aku belum sempat minta maaf. Kemarin, maksudku. Jadi hari ini aku datang untuk meminta maaf. Aku sangat menyesal. Sungguh, aku benar-benar tidak sengaja."

Alex tidak berkata apa-apa selama sepuluh detik penuh. Lalu,"Baiklah. Kau sudah mengatakannya. Sekarang pergilah," katanya dan berjalan menaiki anak tangga ke arah pintu depan. Ia merasa harus segera menyingkir dari posisinya yang berbahaya di tengah
tangga, sebelum gadis itu jatuh lagi, menubruk dirinya, dan mematahkan kedua tangan serta kakinya.
 

"Aku ingin membantu," kata gadis itu tiba-tiba.

Alex menoleh menatapnya, masih dengan alis berkerut.
 

"Apa?"
 

Gadis itu tetap berdiri di tempatnya dan menatap Alex luruslurus.

"Aku ingin membantu," ia mengulangi kata-katanya tadi, namun dengan suara yang lebih pelan. "Bagaimanapun, akulah yang membuatmu menjadi seperti ini. Jadi…"
 

"Dan bagaimana kau berencana membantuku?" tanya Alex datar, sama sekali tidak berniat menerima bantuan apa pun dari gadis itu.
 

Malaikat kegelapannya ragu sejenak, lalu berkata dengan nada bertanya, "Aku… bisa menjadi tangan kirimu?"

"Kau bisa bermain piano?"


"Eh… tidak."
 

"Kalau begitu tidak ada gunanya kau menjadi tangan kiriku," tukas Alex, lalu berbalik ke arah pintu. Dan tertegun. Matanya menatap kenop pintu, lalu ia menunduk menatap tangan kirinya yang dibebat dan tangan kanannya yang memegang wadah kopi.
 

Oh, sialan.
 

"Kau mau aku memegangi kopimu sementara kau
mengeluarkan kunci?"


Alex menoleh ke arah gadis itu dengan perasaan dongkol tetapi tidak menemukan ekspresi mengejek di wajah gadis itu. Malaikat kegelapannya itu hanya menatapnya dengan ragu.


Tanpa menunggu jawaban, gadis itu meraih kopi Alex dan mau tidak mau Alex terpaksa membiarkan gadis itu mengambil alih kopinya. Sementara Alex merogoh saku celana jinsnya, gadis itu melanjutkan, "Aku bisa menyiram tanamanmu kalau kau punya
tanaman."
 

Alex mengeluarkan kunci dan memasukkannya ke lubang kunci.

"Aku bisa memberi makan anjingmu… atau kucingmu… kalau kau punya anjing atau kucing."


Alex memutar kuncinya dan langsung menyadari kesulitan lain yang dihadapinya. Untuk membuka pintu dari dalam, yang perlu dilakukannya hanyalah memutar kenop dan pintu akan terbuka. Tetapi untuk membuka pintu dari luar, ia harus memutar kunci dan kenop pintu sekaligus. Nah, bagaimana pula…


Tiba-tiba gadis itu mengulurkan tangannya yang lain ke depan Alex dan memutar kenop pintu. "Aku bahkan tidak keberatan disuruh bersih-bersih," lanjutnya.


Alex menoleh ke arah malaikat kegelapannya yang balas menatapnya dengan penuh harap. Siapa nama gadis ini? Alex bertanya-tanya dalam hati. Apakah Ray pernah menyebutkannya? Mungkin. Entahlah. Ia tidak tahu dan tidak peduli.


"Jadi," kata gadis itu lagi ketika Alex diam saja, "Bagaimana
menurutmu?"


Alex menari napas dan mengembuskan dengan kesal. Lalu ia mendorong pintu dan masuk ke dalam gedung tanpa berkata apaapa.



***

Mia menahan pintu dengan sebelah tangan sebelum pintu itu tertutup di depan wajahnya. Ia menggigit bibir menatap Alex Hirano yang berjalan masuk ke dalam gedung apartemennya dan mengarah ke tangga. Kemarin malam, ketika Ray meneleponnya,  laki-laki itusudah memperingatkan Mia bahwa Mia tidak akan mendapat sambutan hangat dari kakaknya. Tanpa diperingatkan pun, sebenarnya Mia sudah bisa menduganya. Kalau boleh jujur, ia tidak ingin bertemu dengan Alex Hirano lagi. Kenapa? Pertama, karena
malu. Ia telah mencederai tangan seorang pianis sehingga mengharuskan pianis itu membatalkan pertunjukannya, yang tentunya menyebabkan masalah-masalah rumit lain menyangkut kerugian yang sangat besar. Kedua, karena takut. Alex Hirano sangat marah padanya dan itu sudah terlihat jelas kemarin. Hari ini pun laki-laki itu masih marah. Dan tatapan dingin laki-laki itu membuat Mia ingin mundur teratur, berbalik, lalu berlari pergi.
 
Namun apakah setelah mencederai tangan seseorang—walaupun itu tidak disengaja—kau bisa berbalik pergi begitu saja tanpa merasa bersalah dan tanpa merasa perlu melakukan sesuatu untuk menebus kesalahanmu? Well, Mia tidak bisa. Perasaan bersalah terus menghantuinya sejak kemarin dan membuat perasaannya sangat tidak enak.
 
Jadi di sinilah dirinya. Berusaha meminta maaf kepada Alex Hirano dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Berusaha bertanggung jawab. Tetapi laki-laki itu sama sekali tidak ingin berurusan dengannya.

Mia mengembuskan napas putus asa. Apakah sebaiknya ia pergi saja? Karena menghadapi Alex Hirano lagi sepertinya tidak ada gunanya. Malah laki-laki itu akan semakin membencinya. Ya, sepertinya yang terbaik yang bisa dilakukan Mia untuk membantu
Alex Hirano adalah menyingkir dari hadapannya. Setidaknya untuk sementara, sampai laki-laki itu sedikit lebih tenang.
 
Tapi… Mia menunduk menatap kopi Alex Hirano yang masih dipegangnya. Aih…
 
Setelah menarik napas dalam-dalam untuk menguatkan diri, Mia pun menyusul Alex Hirano masuk ke dalam gedung dengan berat hati.
 
"Tunggu," panggil Mia ketika ia melihat Alex Hirano berjalan menaiki tangga. "Kopimu…"
Tentu saja Alex Hirano tidak menjawab. Yah, mungkin ia tidak mendengar panggilan Mia karena sosoknya sudah menghilang ketika ia berbelok di tengah tangga. Mia mendesah dan bergegas menyusulnya.
 
Kenapa laki-laki itu tidak menggunakan lift? Mia tidak tahu. Tetapi napas Mia sudah tersengal ketika ia tiba di lantai empat. Mia berdiri di puncak tangga sambil berpegangan pada dinding dan berusaha mengatur napas.

"Kenapa kau mengikuti?"

Mia mengangkat kepala mendengar suara yang dalam dan tajam itu. Alex Hirano berdiri di depan pintu yang sudah pasti adalah pintu apartemennya dan menatap Mia dengan kening
berkerut.

Mia mengangkat tangannya yang masih memegang kopi. "Ini…"
 
Alex Hirano memiringkan kepada sedikit, menatap Mia. "Naik tangga sedikit dan kau sudah kehabisan napas? Kukira Ray pernah berkata bahwa kau penari."

Mia menegakkan tubuh. "Penari juga manusia," sahutnya datar.

Alex Hirano berkacak pinggang dan mengembuskan napas kesal. "Kenapa kau terus mengikutiku? Apa sebenarnya yang kau inginkan?"

Mia memejamkan mata sejenak. Ia harus mengendalikan diri. Tarik napas… keluarkan… tenangkan diri… Lalu ia membuka mata dan menatap Alex Hirano. "Baiklah, aku akan mengatakannya padamu sekali lagi," katanya dengan nada pelan dan jelas. "Aku datang ke sini untuk meminta maaf dan aku sebenarnya ingin bertanggung jawab atas semua yang sudah kulakukan. Ray merasa kau membutuhkan bantuan dan karena dia tidak bisa menemanimu setiap saat, kupikir aku mungkin bisa membantu." Ia berhenti sejenak
untuk menarik napas, lalu melanjutkan, "Aku sudah meminta maaf dan aku sudah menawarkan bantuan. Tapi sepertinya kau tidak bersedia menerima keduanya. Baiklah, tidak apa-apa. Setidaknya aku sudah melakukan apa yang harus kulakukan dan sekarang aku tidak perlu merasa bersalah lagi."

Alex Hirano menatapnya dengan alis terangkat, walaupun raut wajahnya sulit dibaca.

Mia menghampiri Alex Hirano dan menyodorkan kopi yang masih dipegangnya ke arah laki-laki itu. "Ambil ini," katanya pendek.
 
Alex Hirano menerimanya, namun masih tidak berkata apaapa.
 
"Semoga harimu menyenangkan," gumam Mia datar dan tanpa nada tulus dalam suaranya, lalu berjalan ke arah lift. Ia tidak sudi turun melalui tangga.

"Siapa namamu?"

Mia berhenti melangkah dan berbalik menatap Alex Hirano dengan curiga. Apa lagi sekarang? Laki-laki itu mau melaporkanku ke polisi? "Mia," jawabnya datar. "Mia Clark."
 
"Kau benar," kata Alex Hirano.

Mia mengerutkan kening. "Apa?"

"Kau benar,"kata Alex Hirano sekali lagi. Seulas senyum kecil yang hambar tersungging di bibirnya. Mia tidak yakin ia suka melihat senyum seperti itu. "Kau memang bersalah. Dan kalau dipikir-pikir, kau memang harus bertanggung jawab karena telah membuatku cacat dan mengacaukan hidupku."

"Cacat? Kau tidak cacat," sela Mia. "Tanganmu akan sembuh dalam beberapa bulan."

"Tidak ada yang menjamin tanganku bisa kembali seperti sediakala," balas Alex Hirano. 

"Dan semua itu gara-gara kau."

Mia menelan ludah diam-diam. "Aku tahu, karena itulah…"

"Baiklah," sela Alex Hirano tanpa menghiraukan kata-kata Mia. "Kalau kau memang ingin menjadi pesuruhku, kuizinkan kau menjadi pesuruhku."



http://ayobacanovel.blogspot.com/2014/11/sunshine-become-you-bab-4.html
http://ayobacanovel.blogspot.com/2014/10/sunshine-become-you-bab-2.html


ANGEL AND DEMON BAB 5 - 6

BAB 5


DI SEBUAH JALAN yang sibuk di Eropa, si pembunuh menyelinap di antara kerumunan orang.
Dia lelaki yang kuat, berkulit gelap dan perkasa. Dia juga luar biasa tangkas. Otot-ototnya masih terasa keras karena ketegangan pertemuannya tadi.
Pekerjaanku sudah berlangsung dengan baik, katanya dalam hati. Walau bosnya tidak pernah memperlihatkan wajahnya, si pembunuh sudah merasa terhormat boleh berhadapan langsung dengannya. Bukankah baru 15 hari sejak bosnya pertama kali menghubunginya? Si pembunuh itu
masih dapat mengingat dengan jelas tiap kata dalam pembicaraan telepon mereka ...
”Namaku Janus,” kata orang yang meneleponnya waktu itu. ”Kita masih sanak saudara atau semacam itu. Kita memiliki musuh yang sama. Aku dengar orang bisa menyewa keahlianmu.”
”Tergantung kamu mewakili siapa,” sahut si pembunuh.
Orang yang meneleponnya itu kemudian memberitahunya.
”Kamu sedang bercanda?”
”Tampaknya kamu pernah mendengar nama kami,” jawab lelaki yang meneleponnya itu.
”Tentu saja. Persaudaraan itu adalah sebuah legenda.”
”Tapi, kamu tidak percaya kalau aku mewakili organisasi yang asli.”
”Semua orang tahu kalau persaudaraan itu sudah punah.”
ditakuti oleh seorang pun.” IRmbunuh itu ragu-ragu. ”Persaudaraan itu masih ada?”
”Semakin tersembunyi daripada sebelumnya. Akar kami menyusup ke semua tempat yang kamu lihat ... bahkan ke dalam benteng suci milik musuh bebuyutan kami.”
”Tidak mungkin. Mereka tidak dapat dilukai.”
”Jangkauan kami jauh.”
”Tidak seorang pun dapat menjangkau sejauh itu.”
”Kamu akan segera memercayainya. Sebuah demonstrasi kekuatan persaudaraan yang sulit untuk dibantah telah terjadi. Satu tindakan pengkhianatan dan pembuktian.”
”Apa yang kamu lakukan.” c
Orang yang meneleponnya itu mengatakannya.
Mata si pembunuh membelalak. ”Itu tugas yang tidak masuk akal.”
Keesokan harinya, koran-koran di seluruh dunia menampilkan berita utama yang sama. Si
pembunuh pun akhirnya memercayai keberadaan persaudaraan itu.
Kini, 15 hari kemudian, keyakinan pembunuh itu semakin kuat sehingga tidak ada keraguan lagi.
Persaudaraan itu masih ada, pikirnya. Malam ini mereka akan menunjukkan kekuasaan mereka.
Ketika dia menyusuri jalan itu, mata hitamnya berkilauan oleh gambaran masa depannya. Salah satu dari persaudaraan yang paling tertutup dan paling ditakuti yang pernah ada telah meneleponnya untuk meminta bantuannya. Mereka sudah memilih dengan bijaksana, pikirnya.
Reputasinya dalam menjaga kerahasiaan hanya bisa dikalahkan oleh reputasinya dalam memenuhi tenggat waktu.
Sejauh ini, dia sudah melayani mereka dengan rasa hormat. Dia telah melakukan pembunuhan dan menyampaikan barang seperti yang dikehendaki oleh Janus. Sekarang terserah Janus mau ditempatkan di mana benda tersebut.

Penempatan ...

Si pembunuh bertanya-tanya bagaimana Janus dapat menangani tugas yang begitu pelik seperti itu. Lelaki itu~ pasti memiliki koneksi orang dalam. Sepertinya dominasi persaudaraan itu tidak terbatas.
Janus, pikir sang pembunuh. Pasti itu hanya sebuah nama sandi. Dia bertanya-tanya apakah itu mengacu pada nama dewa Romawi yang memiliki dua wajah ... atau pada bulan Saturnus? Baginya tidak ada bedanya. Janus memiliki kekuasaan yang luar biasa. Dia telah membuktikannya.
Ketika pembunuh itu berjalan, dia membayangkan nenek moyangnya tersenyum padanya dari atas sana. Hari ini dia telah bertempur untuk memperjuangkan tujuan mereka. Dia memerangi musuh yang sama yang sudah mereka perangi selama berabadabad sejak sebelas abad silam ... ketika tentara salib musuh mereka itu pertama kali menjarah tanah mereka, memerkosa dan membunuh rakyatnya, menuduh mereka sebagai orang-orang yang tidak suci, lalu menghancurkan kuil-kuil dan dewa-dewa mereka.
Nenek moyangnya telah membentuk pasukan kecil tetapi mematikan untuk melindungi diri mereka sendiri. Pasukan itu mulai terkenal di seluruh negeri sebagai pelindung—penghukum handal yang menjelajahi seluruh negeri untuk membunuhi setiap musuh yang mereka temukan.
Mereka terkenal tidak hanya karena pembunuhan-pembunuhan brutal yang mereka lakukan, tetapi juga karena mereka merayakan pembantaian itu dengan cara mabukmabukan. Pilihan mereka adalah minuman keras yang sangat memabukkan yang mereka sebut hashish.
Ketika nama buruk mereka mulai tersebar, kelompok pembunuh itu menjadi terkenal dengan satu sebutan saja, hassassin, yang makna harfiahnya berarti ”pengikut hassish”. Nama hassassin sendiri memiliki makna yang sama dengan kematian dalam hampir tiap bahasa di muka bumi ini.
Kata itu masih digunakan hingga karang, bahkan dalam bahasa Inggris modern ... namun seperti keahlian mereka untuk membunuh, kata itu lambat laun
mengalami sedikit perubahan.
Sekarang kata itu diucapkan sebagai assassin.


BAB 6



 
ENAM PULUH EMPAT menit telah berlalu ketika Robert Langdon, yang masih tidak percaya
dan mabuk udara, menuruni tangga pesawat dan berjalan di landasan yang disinari cahaya
matahari. Angin dingin membuat kerah jas wolnya berkibar. Udara terbuka membuatnya senang.
Dia menyipitkan matanya ketika menatap lembah hijau subur yang menjulang ke puncak
berselimut salju di sekeliling mereka.
Aku sedang bermimpi, katanya dalam hati. Sebentar lagi aku akan terjaga.
”Selamat datang di Swiss,” seru sang pilot keras untuk mengalahkan deru mesin pesawat X-33 yang bising dan
berbahan bakar HEDM yang menimbulkan kabut di belakang mereka.
Langdon memeriksa jam tangannya. Pukul 7:07 pagi.
Anda baru saja melintasi enam zona waktu,” jelas sang pilot tanpa diminta. ”Di sini pukul satu siang lebih sedikit.”
Langdon menyesuaikan jam tangannya.
”Bagaimana perasaan Anda?”
Langdon mengusap perutnya. ”Seperti baru saja menelan styrofoam.”
Pilot itu mengangguk. ”Mabuk ketinggian. Kita tadi terbang di ketinggian 60 ribu kaki di atas permukaan laut. Berat tubuh Anda 30% lebih ringan. Untunglah kita hanya terguncang-guncang sedikit. Kalau kita pergi ke Tokyo, aku harus menerbangkan pesawat itu lebih tinggi lagi, beberapa ratus mil lagi. Pada saat itulah baru Anda akan merasa perut Anda jungkir balik.”
Langdon mengangguk lesu dan menganggap dirinya beruntung. Semuanya terasa seperti
penerbangan yang biasa-biasa saja. Kecuali percepatan yang mereka alami ketika mengudara, gerakan pesawat itu hampir sama dengan pesawat lainnya—kadang-kadang mengalami sedikit turbulensi, lalu mengalami beberapa perubahan tekanan udara ketika mereka mulai menanjak, tetapi tidak terasa kalau mereka sedang melesat di udara dengan kecepatan luar biasa sebesar 11.000 mil per jam.
Sejumlah teknisi bergegas menuju landasan untuk mengurus pesawat X-33 itu. Sang pilot
kemudian menemani Langdon menuju ke sebuah sedan Peugeot hi tarn yang diparkir di samping menara pengawas. Beberapa saat kemudian mereka sudah meluncur cepat menyusuri jalan aspal yang terbentang di atas dataran lembah. Sekelompok gedung tampak samar menjulang di kejauhan. Di luar mobil mereka, Langdon melihat padang rumput tampak kabur karena kecepatan mobil mereka.
Langdon menatap pilot itu dengan tatapan tidak percaya ketika dia menaikkan kecepatan menjadi sekitar 170 kilometer per jam—lebih dari 100 mil per jam. Ada masalah apa antara orang ini dengan kecepatan? Langdon bertanya-tanya.
”Lima kilometer lagi kita akan tiba di laboratorium,” kata si pilot. ”Saya akan mengantar Anda ke sana dalam waktu dua menit.”
Langdon berusaha mencari sabuk pengaman dengan sia-sia. Mengapa tidak tiga menit saja dan tiba di sana dengan selamat? Mobil itu terus melesat seperti berpacu.
”Anda suka Reba?” tanya si pilot sambil memasukkan sebuah kaset ke dalam mesin pemutar kaset.
Terdengar suara perempuan mulai menyanyi. ”Itu hanya ketakutan akan kesendirian ...”
Tidak ada ketakutan di sini, pikir Langdon. Rekan kerjanya yang perempuan sering mengolok-olok dirinya dengan mengatakan , itu artifak yang setara dengan koleksi museum itu tak lebih dari usahanya untuk mengisi rumahnya yang kosong, rumah yang nurut mereka akan tampak lebih cantik dengan kehadiran seorang wanita. Langdon selalu menertawakan gurauan itu dan mengingatkan mereka bahwa dirinya sudah memiliki tiga cinta dalam hidupnya; simbologi, polo air, dan status lajang. Yang terakhir ini berarti kebebasan yang memungkinkan dirinya untuk bepergian keliling dunia, tidur selarut yang dia kehendaki, dan menikmati malam-malam tenang di rumah sambil  meneguk brandy dan membaca sebuah buku bagus.
”Kompleks kami seperti sebuah kota kecil,” kata si pilot seperti menyadarkan Langdon dari lamunannya. ”Tidak hanya berisi laboratorium. Kami juga memiliki beberapa toko swalayan, sebuah rumah sakit, bahkan sebuah gedung bioskop.”
Langdon mengangguk tanpa ekspresi dan melihat ke luar, ke arah gedung-gedung yang menjulang di hadapan mereka.
”Sebetulnya,” tambah si pilot, ”kami juga memiliki mesin terbesar di dunia.”
”Sungguh?” tanya Langdon sambil menyusuri pedesaan itu dengan matanya.
”Anda tidak akan melihatnya dari situ, Pak.” Pilot itu tersenyum. ”Mesin itu kami tanam enam tingkat di bawah tanah.”
Langdon tidak punya waktu lama untuk bertanya. Tiba-tiba, pilot itu menginjak pedal remnya.
Mobil tersebut berhenti dengan suara berdecit di luar sebuah pos penjagaan dari beton.
Langdon membaca tulisan di depannya. SECURITE. ARRETEZ*. Tiba-tiba Langdon merasakan gelombang kepanikan karena sadar di mana dia berada sekarang. ”Ya Tuhan! Aku tidak membawa
paspor.”
Paspor tidak diperlukan,” kata sang pilot meyakinkannya. Kami memiliki hak istimewa dari pemerintah Swiss.”
Pos Keamanan. Berhenti.
Langdon hanya terpaku ketika supirnya memberikan sebuah kartu identitas kepada sang penjaga.
Penjaga itu kemudian menggesekkannya pada sebuah alat pemeriksa. Alat itu menyala hijau.
”Nama penumpang?”
”Robert Langdon.”
”Tamu siapa?”
”Pak Direktur.”
Penjaga itu menaikkan alisnya. Dia kemudian menoleh dan memeriksa kertas hasil cetakan
komputer lalu membandingkannya dengan informasi yang ada di layar komputer. Dia kemudian kembali ke jendela mobil. ”Nikmati kunjungan Anda, Pak Langdon.”
Mobil itu melesat lagi, meluncur sepanjang 200 yard, lalu mengitari sebuah bundaran luas yang membawa mereka di depan pintu masuk utama gedung itu. Sebuah gedung persegi bergaya ultra modern, terdiri atas kaca dan baja, menjulang di depan mereka. Langdon kagum pada rancangan tembus pandang gedung itu. Dia selalu menyukai arsitektur.
”Katedral Kaca,” jelas pengawalnya tanpa diminta.
”Sebuah gereja?”
”Ya ampun, bukan. Gereja adalah satu-satunya yang tidak kami miliki di sini. Fisika adalah agama di sekitar sini. Anda bisa menyebut nama Tuhan sebanyak yang Anda mau dengan sia-sia di sini,”
dia tertawa. ”Asal Anda tidak menjelek-jelekkan quark dan meson* saja.”
Langdon duduk dengan bingung ketika supirnya membelokkan mobil dan menghentikannya di depan gedung kaca tersebut. Quark dan meson? Tidak ada pemeriksaan di perbatasan? Jet berkecepatan 15 mach? Siapa orang-orang ini? Sebuah lempengan batu granit di depan gedung menunjukkan jawaban untuk pertanyaan Langdon:


(CERN)
Conseil Europeen pour la 
Recherche Nucleaire

”Penelitian nuklir?” tanya Langdon yang tidak terlalu yakin dengan keakuratan terjemahannya.
Supirnya tidak menjawabnya. Dia hanya mencondongkan tubuhnya ke depan dan sibuk mengatur pemutar kaset di mobilnya. ”Ini tujuan Anda. Pak Direktur akan menemui Anda
di pintu masuk.”
Langdon melihat seorang lelaki yang duduk di atas kursi roda, keluar dari gedung. Tampaknya lelaki itu berusia awal 60an. Terlihat cekung, berkepala botak dan berahang keras, dia mengenakan jas lab putih dan sepatu dari kain yang tampak menyembul dari bantalan kaki kursi rodanya. Bahkan dari kejauhan, matanya tampak kosong seperti sepasang batu kelabu.
”Itu Pak Direktur?” tanya Langdon.
Supirnya mendongak. ”Yah, aku akan seperti itu,” dia menoleh kepada Langdon dan tersenyum menyebalkan. ”Kalau bicara tentang setan.”
Dengan perasaan tidak pasti dengan apa yang akan dihadapinya, Langdon keluar dari mobil.
Lelaki di atas kursi roda itu meluncur ke arah Langdon dan menjulurkan tangannya yang lembab.
”Pak Langdon? Kita sudah berbicara di telepon. Namaku Maximilian Kohler.”

*quark: elemen dasar yang dianggap muncul secara berpasangan;
*meson: kelompok partikel dasar yang membentuk quark dan antiquark (istilah dalam ilmu fisika)—peny.



http://ayobacanovel.blogspot.com/2014/10/angel-and-demon-bab-3-4.html

BEAUTIFUL DISASTER - BAB 7



SEMBILAN BELAS

 
“Abby,” Shepley memanggilku, mengetuk pintu. “Mare akan pergi mengurus sesuatu, dia ingin aku memberitahumu jika kau ingin ikut pergi.”

Travis tidak melepaskan pandangannya dariku. “Pidge?”

“Ya, aku akan ikut,” aku berkata pada Shepley. “Aku punya beberapa urusan yang harus aku selesaikan.”

“Baiklah, dia siap pergi kalau kau sudah siap,” Shepley berkata, suara langkahnya menghilang di lorong.

“Pidge?”

Aku menarik beberapa barang dari dalam lemari dan berjalan melewati Travis. “Bisakah kita membicarakannya nanti? Aku punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini.”

“Tentu,” dia berkata sambil tersenyum, senyum yang dibuat-buat.

Aku merasa lega saat masuk kamar mandi, langsung menutup pintu di belakangku. Aku masih punya dua minggu lagi untuk tinggal di apartemen ini, dan tidak mungkin menunda membahas permasalahan ini selama itu. Sisi logis pikiranku bersikeras bahwa Parker adalah tipeku; menarik, pintar dan tertarik padaku. Mengapa aku merasa peduli pada Travis adalah sesuatu yang tidak akan pernah aku mengerti.

Apapun alasannya, itu membuat kita berdua menjadi gila. Aku terbagi menjadi dua manusia yang berbeda; penurut, wanita yang sopan saat bersama Parker, dan menjadi pemarah, bingung dan orang yang frustrasi saat berada di dekat Travis. Seluruh kampus telah melihat Travis yang tidak bisa ditebak menjadi hampir mendekati periang.

Aku berdandan dengan cepat, meninggalkan Travis dan Shepley untuk pergi ke kota dengan America. Dia tertawa cekikikan saat menceritakan tentang seks anehnya dengan Shepley tadi pagi, dan aku mendengarkan sambil mengangguk pada setiap saat yang tepat. Sangat sulit untuk fokus pada topik pembicaraan saat berlian di gelang tanganku menciptakan titik-titik kecil cahaya di atap mobil, mengingatkanku akan pilihan yang harus aku hadapi. Travis menginginkan jawaban, dan aku tidak memiliki jawabannya.

“Ok, Abby. Apa yang sedang kau pikirkan? kau jadi pendiam.”

“Masalahku dengan Travis…sangat kacau.”





“Mengapa?” dia bertanya, kacamatanya terdorong ke atas saat dia mengerutkan hidungnya.

“Dia bertanya padaku apa yang terjadi diantara kita.”

”Ada apa diantara kalian berdua? Bukannya kau dengan Parker?”

“Aku menyukainya tapi ini baru seminggu. Kita belum terlalu serius.”

“kau menyukai Travis, ya kan?”

Aku menggelengkan kepalaku. ”Aku tak tahu bagaimana perasaanku padanya. Aku hanya tahu itu tidak akan terjadi, Mare. Dia punya terlalu banyak hal yang buruk.”

“Salah satu dari kalian harus ada yang mengutarakannya lebih dulu, itu masalahnya. Kalian berdua sangat takut pada apa yang akan terjadi sehingga kalian melawan perasaan itu mati-matian. Aku yakin kalau kau melihat kedalam mata Travis dan mengatakan padanya kalau kau menginginkannya, dia tidak akan pernah lagi melirik wanita lain.”

“Apakah kau yakin?”

“Ya. Aku punya sumber orang dalam, ingat?”

Aku terdiam sambil berpikir beberapa saat. Travis telah memberitahu Shepley tentang aku tapi Shepley tidak mendukung hubungan ini dengan cara tidak memberitahu America. Dia tahu America akan memberitahuku, menuntunku pada satu kesimpulan: America tidak sengaja telah mendengar pembicaraan mereka. Aku ingin menanyakan apa saja yang mereka katakan, tapi lebih baik tidak.

“Aku pasti akan patah hati,” aku berkata, menggelengkan kepalaku. “Kupikir dia tak akan pernah bisa setia.”

“Dia juga dulu tidak bisa memelihara suatu hubungan dengan seorang wanita, tapi kalian berdua telah membuat seluruh Eastern terkejut.”

Aku menyentuh gelang dengan jariku lalu menghela nafas. “Aku tak yakin. Aku tidak keberatan dengan keadaan seperti sekarang. Kita hanya bisa berteman.”

America menggelengkan kepalanya. “Tapi kalian bukan hanya sekedar teman,” dia menghela nafas. “kau tahu, aku sudah muak membicarakan ini. Ayo kita menata rambut kita dan berdandan. Aku akan membelikanmu pakaian baru untuk pesta ulang tahun nanti.”

“Kupikir itu memang yang aku butuhkan,” aku tersenyum.

***

Setelah beberapa jam manikur, pedikur, di sikat, di wax dan dibedaki, aku memakai sepatu hak tinggi kuningku yang mengkilap, dan mengenakan gaun abu-abuku yang baru.

“Nah itu Abby yang aku tahu dan sayangi!” dia tertawa, menggelengkan kepalanya melihat penampilanku.

“kau harus memakai baju itu ke pesta besok.”

“Bukankah dari tadi memang itu rencananya?” kataku, menyeringai. Teleponku berbunyi dari dalam tasku, lalu aku mengangkatnya ke telingaku. “Hallo?”

“Waktunya makan malam! Kalian berdua pergi kemana?” Travis berkata.

“Kami sedikit memanjakan diri. Kau dan Shep kan tahu bagaimana caranya untuk makan sebelum bertemu dengan kami. Aku yakin kalian bisa melakukannya.”

“Well, yang benar saja. Kami menghawatirkan kalian tahu?”

Aku melihat ke arah America lalu tersenyum. “Kami baik-baik saja.”

“Katakan padanya aku akan mengantarmu pulang sebentar lagi. Aku akan ke rumah Brazil dulu sebentar untuk mengambil beberapa catatan untuk Shep, lalu kita akan pulang.”

“kau dengar itu?” aku bertanya.

“Ya. Sampai bertemu nanti, Pidge.”

Kami menuju rumah Brazil dalam keheningan. America mematikan mesin mobil, menatap ke arah gedung apartemen di depan. Aku heran kenapa Shepley meminta America untuk mampir ke rumah Brazil, padahal jaraknya hanya satu blok dari apartemen Shepley dan Travis.

“Kenapa, Mare?”

“Brazil membuatku takut. Terakhir kali aku kemari dengan Shep, dia merayuku.”

“Well, aku akan masuk bersamamu. Jika dia terus mengedipkan matanya padamu, aku akan menusuk matanya memakai sepatu hak tinggi baruku, Ok?”

America tersenyum dan memelukku. “Terima kasih, Abby!”

Kami berjalan ke belakang gedung, dan America menarik nafas panjang sebelum mengetuk pintu. Kami menunggu, namun tidak ada orang yang datang.

“Aku kira dia tidak ada di rumah?” aku bertanya.

“Dia ada di sini,” America berkata, sedikit kesal. Dia memukul pintu kayu dengan kepalan tangannya dan pintupun terbuka.

“SELAMAT ULANG TAHUN!” teriak semua orang di dalam.

“Tapi ulang tahunku kan besok,” aku berkata. Masih terkejut, aku mencoba tersenyum pada semua orang.

Travis mengangkat bahunya. “Well, karena ada yang membocorkannya padamu, kami harus membuat perubahan di menit-menit terakhir untuk memberimu kejutan, terkejut?”

“Sangat!” aku berkata saat Finch memelukku.

“Selamat ulang tahun, sayang!” Finch berkata sambil mencium bibirku.




America menyikutku dengan sikunya. “Untung aku mengajakmu pergi untuk menyelesaikan beberapa urusan hari ini atau kau akan datang kemari dengan penampilan berantakan!”

“kau kelihatan sangat cantik,” kata Travis, memperhatikan gaunku.

Brazil memelukku, menekan pipinya ke pipiku. “Dan aku harap kau tahu yang America katakan tentang Brazil membuatku takut adalah hanya agar kau datang kemari.”

Aku memandang America dan dia tertawa. “Itu berhasil, ya kan?”

Setelah semua orang bergantian memeluk dan mengucapkan selamat ulang tahun padaku, aku mendekati America dan berbisik di telinganya. “Di mana Parker?”

“Dia akan datang nanti,” dia berbisik. “Shepley tidak dapat menghubunginya melalui telepon untuk memberitahunya hingga sore ini.”

Brazil memutar volume di stereo menjadi lebih kencang, dan semua orang berteriak. “Ayo ke sini, Abby!” dia berkata, berjalan menuju dapur. Dia menyusun gelas sepanjang meja dan mengeluarkan satu botol tequila dari lemari. “Ini hadiah ulang tahun dari tim football, sayang,” dia tersenyum, mengisi penuh semua sloki dengan tequila merk Petron. “Ini cara kami merayakan ulang tahun: kau berumur sembilan belas tahun, kau meminum sembilan belas sloki. kau dapat meminumnya atau memberikannya pada orang lain, tapi semakin banyak kau minum, semakin banyak kau mendapatkan ini,” dia berkata, mengipaskan setumpuk uang duapuluh dolar.

“Ya Tuhan!” aku memekik.

“Minum saja semua, Pidge!” kata Travis.

Aku menatap Brazil, curiga. “Aku mendapat dua puluh dolar setiap sloki yang aku minum?”

“Ya benar, enteng. Melihat ukuranmu, kupikir kami hanya akan kehilangan enam puluh dolar sampai tengah malam nanti.”

“Pikirkan lagi, Brazil,” kataku, mengambil sloki pertama, memutarnya di bibirku, mendongakkan kepalaku ke belakang untuk mengosongkan gelas lalu menelannya sampai habis dan menjatuhkan gelas ke tanganku yang lainnya.

“Ya ampun!” Travis berseru.

“Ini akan sangat mudah, Brazil.” Kataku, mengelap sudut mulutku. Kau menuangkan Cuervo bukan Petron.”

Senyum sombong Brazil menghilang perlahan, dan dia menggelengkan kepalanya lalu mengangkat bahu. “Maka kau akan mendapatkannya setelah ini. Aku punya semua dompet kedua belas pemain football yang mengatakan kau tidak akan mencapai sepuluh sloki.”

Aku memicingkan mataku. “Gandakan atau tidak sama sekali apabila aku bisa menghabiskan lima belas sloki.”

“Nanti dulu!” Shepley berteriak. “kau tidak boleh masuk rumah sakit pada hari ulang tahunmu, Abby!”

“Dia sanggup meminumnya,” kata America, menatap ke arah Brazil.

“Empat puluh dolar satu sloki?” kata Brazil, tak yakin.

“kau takut?” aku bertanya.

“Tentu saja tidak! Aku akan memberimu dua belas sloki, dan ketika kau minum lima belas, aku akan menggandakan totalnya.”

“Begitulah cara Kansas merayakan ulang tahun.” Kataku sambil menenggak sloki berikutnya.

Satu jam dan tiga sloki berikutnya, aku berada di ruang tamu sedang berdansa dengan Travis. Diiringi lagu rock balada dan Travis mengatakan sesuatu tanpa suara padaku saat kita berdansa. Dia memiringkanku ke belakang pada chorus pertama, dan aku membiarkan tanganku jatuh di belakangku. Dia menarikku lagi ke atas dan aku menghela nafas.

“kau tak boleh melakukan itu ketika aku sudah minum dua digit sloki,” aku tersenyum cekikikan.

“Apa aku sudah bilang kalau kau terlihat sangat cantik malam ini?”

Aku menggelengkan kepalaku dan memeluknya, meletakan kepalaku di bahunya. Dia mengeratkan pegangannya, dan memendamkan wajahnya di leherku, membuatku lupa tentang keputusan atau gelang atau dua kepribadianku yang berbeda; aku berada di tempat yang aku inginkan.

Ketika musik berganti menjadi lebih nge-beat, pintu terbuka.

“Parker!” kataku, berlari untuk memeluknya. “kau datang juga!”

“Maafkan aku terlambat, Abs,” dia berkata, mencium bibirku. “Selamat ulang tahun.”

“Terima kasih,” kataku, melihat Travis yang sedang memandang ke arah kami dari ujung mataku.

Parker mengangkat pergelangan tanganku. “kau memakainya.”

“Aku kan sudah bilang akan memakainya. Mau berdansa?”

Dia menggelengkan kepalanya. “Ehm...aku tidak berdansa.”

“Oh. Well, kau ingin menyaksikanku meminum gelas yang ke enam Pertron?” aku tersenyum, memperlihatkan lima lembar uang dua puluh dolarku. “Aku akan mendapatkan double jika aku meminum lima belas sloki.”

“Bukankah itu agak sedikit berbahaya?”

Aku mendekat ke telinganya. “Aku benar-benar memperdaya mereka. Aku telah memainkan permainan ini sejak berumur enam belas tahun bersama ayahku.”

“Oh,” dia berkata, mengkerutkan dahinya karena tidak menyukainya. “kau meminum tequila bersama ayahmu?”

Aku mengangkat bahuku . “Itu caranya untuk mempererat ikatan.”




Parker tampak tidak terkesan saat matanya mengalihkan perhatiannya dariku ke arah kerumunan orang. “Aku tidak bisa lama. Aku akan pergi berburu dengan ayahku besok pagi.”

“Untung pestanya malam ini, kalau besok, kau pasti tidak bisa datang,” aku berkata, terkejut mendengar rencananya.

Dia tersenyum dan memegang tanganku. “Aku akan mengusahakan pulang pada waktunya.”

Aku menariknya ke meja, mengangkat sloki berikutnya dan meminumnya, membantingnya terbalik di atas meja seperti yang sudah aku lakukan lima sloki sebelumnya. Brazil menyerahkan dua puluh dolar lagi padaku, dan aku menari menuju ruang tamu. Travis menarikku, dan kita berdansa dengan America dan Shepley.

Shepley memukul pantatku. “Satu!”

America menambahkan pukulan keras kedua di pantatku, lalu semua orang bergabung kecuali Parker.

Pada hitungan ke sembilan belas, Travis menggosok-gosok tangannya. “Giliranku!”

Aku mengusap pantatku yang sakit. “Pelan-pelan! Pantatku sakit!”

Dengan seringai jahat, dia mengangkat tangannya jauh ke atas bahunya. Aku menutup rapat mataku. Beberapa saat kemudian, aku membukanya lagi sedikit. Tepat sebelum tangannya menyentuh pantatku, dia berhenti dan memberiku pukulan pelan.

“Sembilan belas!” dia berseru.

Semua tamu bersorak, dan America mulai menyanyikan lagu Happy Birthday sambil mabuk. Aku tertawa saat bagian menyebutkan namaku, semua orang mengatakan “Pigeon”.

Lagu slow lainnya mengalun dari stereo, dan Parker menarikku ke lantai dansa yang dibuat seadanya. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui alasan mengapa Parker tidak berdansa.

“Maaf,” dia berkata setelah menginjak kakiku untuk ketiga kalinya.

Aku meletakkan kepalaku di bahunya. “Kau berdansa cukup bagus.” Aku berbohong.

Dia mencium pelipisku. “Apa kau punya rencana Senin malam nanti?”

“Pergi makan malam denganmu?”

“Ya. Di apartemen baruku.”

“kau sudah menemukannya!”

Dia tertawa dan mengangguk. “Tapi kita akan memesan makanan. Masakanku tidak bisa di makan.”

“Aku akan memakannya bagaimanapun juga,” aku tersenyum padanya.

Parker memandang sekilas ke sekeliling ruangan lalu menuntunku ke lorong. Dia dengan lembut menekanku ke tembok, menciumku dengan bibir lembutnya. Tangannya ke mana-mana. Awalnya aku mengikuti, namun saat lidahnya menyusup ke dalam bibirku, aku dengan jelas merasakan bahwa aku telah melakukan kesalahan.

“Ok, Parker,” kataku menghentikannya.

“Semuanya baik-baik saja?”

“Kupikir tidak sopan jika aku bercumbu denganmu di pojokan yang gelap sementara aku ada tamu di sana.”

Dia tersenyum lalu menciumku lagi. “kau benar, maafkan aku. Aku hanya ingin memberikanmu ciuman ulang tahun yang tak akan terlupakan sebelum aku pergi.”

“kau akan pergi?”

Dia menyentuh pipiku. “Aku harus sudah bangun tidur dalam waktu empat jam, Abs.”

Aku merapatkan bibirku. “Baiklah. Kita akan bertemu hari Senin?”

“kau akan bertemu denganku besok. Aku akan mampir saat pulang nanti.”

Dia menuntunku ke pintu lalu mencium pipiku sebelum dia pergi. Aku menyadari Shepley, America dan Travis sedang memandang ke arahku.

“Ayah sudah pergi!” Travis berteriak ketika pintu di tutup. “Waktunya pesta ini di mulai!”

Semua orang bersorak, dan Travis menarikku ke tengah ruangan .

“Tunggu sebentar...aku punya jadwal,” kataku, menuntunnya ke meja. Aku menghabiskan satu minuman lagi, dan tertawa ketika Travis juga mengambil satu yang di ujung, menenggaknya hingga habis. Aku mengambil satu lagi lalu meneguknya, dia juga melakukan hal yang sama.

“Tujuh gelas lagi, Abby,” kata Brazil, menyerahkan lagi dua lembar duapuluh dolar padaku.

Aku mengelap mulutku saat Travis menarikku kembali ke ruang tamu. Aku berdansa dengan America, lalu Shepley, namun ketika Chris Jenks dari tim football mencoba berdansa denganku, Travis menarik bajunya ke belakang dan menggelengkan kepala. Chris mengangkat bahu dan berbalik, berdansa dengan wanita pertama yang dia lihat.

Minuman yang ke sepuluh memukul dengan keras, dan aku merasa sedikit pusing saat berdiri di atas sofanya Brazil bersama America, berdansa seperti anak sekolahan yang ceroboh. Kita cekikikan tanpa sebab, melambaikan tangan kita mengikuti alunan musik.

Aku terhuyung, hampir terjatuh ke belakang dari sofa, namun tangan Travis selalu di pinggangku untuk memegangiku.

“kau sudah membuktikan maksudmu,” dia berkata. “kau mabuk lebih dari semua wanita yang pernah kita lihat. Aku akan menghentikannya.”

“Persetan, kalau berani,” aku bicara dengan tidak jelas. “Aku punya enam ratus dolar yang menunggu di bawah sloki itu dan kau diantara semua orang yang tidak boleh melarangku melakukan sesuatu yang ekstrim untuk uang.”

“Jika kau begitu kesulitan uang, Pidge…”

“Aku tidak akan meminjam uang darimu,” aku menyeringai.

“Aku tadinya akan menyarankan untuk menggadaikan gelang itu,” dia tersenyum.

Aku memukul tangannya saat America mulai berhitung mundur menuju tengah malam. Ketika jarumnya menunjukan jam dua belas, kita semua berpesta.

Aku sekarang sembilan belas tahun.

America dan Shepley masing-masing mencium satu pipiku, dan Travis mengangkatku ke atas, lalu memutar-mutarku.

“Selamat ulang tahun, Pigeon,” dia berkata dengan ekspresi yang lembut.

Aku menatap matanya yang coklat dan hangat untuk beberapa saat, merasa tersesat di dalamnya. Waktu seperti berhenti di ruangan ini saat kita saling menatap satu sama lain, sangat dekat sehingga aku dapat merasakan nafasnya di kulitku.

“Minum!” kataku, terhuyung ke meja.

kau terlihat sangat mabuk, Abby. Aku pikir sudah waktunya untuk menghentikannya,” kata Brazil.

“Aku bukan orang yang mudah menyerah,” kataku. “Aku ingin melihat uangku.”

Brazil meletakan uang dua puluh dolar di bawah dua sloki terakhir, dia lalu berteriak pada teman satu timnya, “Dia akan meminum semuanya! Aku butuh seratus lima puluh dolar!”

Mereka semua mengerang dan memutar mata mereka, mengeluarkan dompetnya untuk menyusun setumpuk uang dua puluh dolar di belakang sloki terakhir. Travis sudah menghabiskan empat sloki lainnya yang tersisa di luar lima belas sloki minumanku.

“Aku tidak pernah percaya akan kalah lima puluh dolar saat taruhan minum lima belas sloki dengan seorang wanita.” Chris mengeluh.

“Percayalah, Jenks.” Aku berkata, mengangkat dua gelas dengan kedua tanganku.

Aku menenggak masing-masing gelas dan menunggu agar muntahanku yang naik ke tenggorokan untuk turun kembali.

“Pigeon?” Travis bertanya, mendekat satu langkah ke arahku.

Aku mengangkat jariku dan Brazil tersenyum. “Dia akan memuntahkannya,” Brazil berkata.

“Tidak, tidak akan,” America menggelengkan kepalanya. “Tarik nafas panjang, Abby.”

Aku menutup mataku lalu menarik nafas, menghabiskan gelas terakhirku.

“Sialan, Abby! kau akan mati karena keracunan alkohol!” Shepley berteriak.

“Dia tidak akan apa-apa,” America meyakinkannya.

Aku mendongakkan kepalaku ke belakang dan membiarkan tequila mengalir turun di tenggorokanku. Gigi dan mulutku sudah mati rasa sejak sloki ke delapan, dan efek dari kadar alkohol 40 persen menendang jauh sebelum itu kehilangan tepinya. Suasana pesta meledak menjadi suara siulan dan teriakan saat Brazil menyerahkan setumpuk uang padaku.

“Terima kasih,” kataku dengan bangga, menyelipkan uang ke dalam braku.

“kau benar-benar sangat cantik sekarang,” Travis berkata di telingaku saat kita berjalan ke ruang tamu. Kita berdansa sampai pagi dan tequila yang mengalir di pembuluh darahku berkurang dan terlupakan.


http://ayobacanovel.blogspot.com/2014/11/beautiful-disaster-bab-8.html
http://ayobacanovel.blogspot.com/2014/10/beautiful-disaster-bab-6.html