Kamis, 06 November 2014

ANGEL AND DEMON BAB 7 - 8

BAB 7

DI BELAKANGNYA, Maximilian Kohler, Direktur Jenderal CERN, sering disebut sebagai
Konig atau Sang Raja. Julukan yang diberikan oleh para pegawainya itu lebih disebabkan oleh rasa takut dibandingkan dengan kenyataan bahwa ”sang raja” memerintah dari singgasana yang berupa kursi roda. Walau hanya sedikit orang yang mengenal Kohler secara pribadi, kisah mengenai penyebab kelumpuhannya itu telah tersebar di CERN. Begitu pula dengan kisah tentang penyebab sifat dinginnya dan sumpah setianya pada ilmu-ilmu murni.
 

Meski Langdon baru beberapa saat berada di depan Kohler, dia sudah dapat merasa kalau sang direktur adalah orang yang menjaga jarak. Langdon hams berlari-lari kecil agar bisa tetap berada di samping kursi roda listrik yang membawa sang direktur meluncur tanpa suara ke arah pintu masuk utama. Langdon belum pernah melihat kursi roda seperti itu. Kursi roda itu dilengkapi dengan tempat penyimpanan peralatan elektronik termasuk telepon multi saluran, sistem penyeranta, layar komputer, bahkan sebuah kamera video yang dapat dilepas. Kursi roda listrik itu sepertinya menjadi pusat kendali berjalan Raja Kohler.

Langdon mengikutinya melewati pintu mekanis dan memasuki lobi utama CERN yang sangat luas.

Katedral Kaca, kata Langdon senang sambil melihat ke arah langit.


Di atasnya, langit-langit kaca berwarna kebiruan yang berkilauan di bawah sinar matahari sore memberikan pantulan sinar dengan pola-pola geometris di udara sehingga menimbulkan kesan agung pada ruangan di bawahnya. Bayangan siku-siku terlihat seperti urat nadi dan menghiasi dinding keramik putih dan lantai pualam. Udara tercium bersih dan bebas hama. Sejumlah ilmuwan hilir mudik dengan cepat. Langdon mendengar bunyi langkah mereka menggema di ruangan kosong tersebut.


”Ke sebelah sini, Pak Langdon.” Suara Kohler terdengar hampir seperti suara dari komputer. Aksennya kaku dan tepat seperti penampilannya. Kohler terbatuk dan menyeka mulutnya dengan sapu tangan putih sambil menatap Langdon dengan mata kelabunya. 


”Ayo cepat.” Kursi rodanya terlihat seperti melompati lantai pualam itu.

Langdon mengikutinya dan melewati ribuan koridor yang aDa ke atrium utama. Setiap koridor ramai dengan berbagai iatan. Para ilmuwan yang melihat Kohler tampak terkejut dan merhatikan Langdon seolah mereka bertanya-tanya siapa gerangan tamu yang menemani pimpinan mereka.

”Aku malu mengakui kalau saya belum pernah mendengar tentang CERN sebelumnya,” Langdon berusaha untuk membangun percakapan dengan Sang Raja.


”Tidak heran,” sahut Kohler cepat. Jawabannya terdengar sangat efisien. ”Sebagian besar orang Amerika memang tidak menganggap Eropa sebagai pemimpin dunia di bidang penelitian ilmiah.
 

Mereka hanya melihat Eropa tak lebih dari sekadar distrik pertokoan kuno. Sebuah pemikiran yang aneh kalau Anda ingat dari mana Einstein, Galileo dan Newton berasal.”

Langdon tidak yakin bagaimana dia harus menjawab. Dia lalu menarik kertas faks itu dari dalam sakunya. ”Orang dalam foto ini, dapatkah Anda—”


Kohler memotong kalimat Langdon dengan mengibaskan tangannya. ”Jangan di sini. Aku sedang membawa Anda untuk melihatnya.” Dia kemudian mengulurkan tangannya. ”Mungkin sebaiknya saya saja yang menyimpannya,” katanya sambil mengambil kertas faks dari tangan Langdon.
 

Langdon menyerahkan kertas faks itu dan melanjutkan melangkah tanpa berkata-kata.
 

Kohler membelok tajam ke kiri dan memasuki koridor lebar yang dihiasi oleh berbagai tanda penghargaan. Sebuah plakat yang sangat besar mendominasi koridor itu. Ketika mereka melewatinya, Langdon memperlambat langkahnya untuk membaca ukiran di atas sebuah logam perunggu.

PENGHARGAAN ARS ELECKTRONICA
 

Untuk Inovasi Budaya Di Era Digital
 

Diberikan kepada Tim Berners Lee dan CERN
 

Atas Penemuan WORLD WIDE WEB

Wah, kurang ajar, pikir Langdon ketika membaca tulisan tersebut. Orang ini tidak main-main.
 

Selama ini Langdon selalu mengira kalau internet diciptakan oleh orang Amerika. Terlebih lagi, pengetahuannya tentang situs hanya terbatas pada penjelajahan online mengenai Louvre atau El Prado dengan menggunakan komputer Macintosh tuanya.

”Internet,” kata Kohler sambil terbatuk lagi lalu menyeka mulutnya, ”dimulai dari sini sebagai sebuah jaringan situs komputer internal. Teknologi ini memungkinkan para ahli dari berbagai divisi untuk berbagi penemuan mereka dengan rekan kerja mereka setiap hari. Tapi tentu saja, semua orang mengira internet adalah teknologi dari Amerika.”
 

Langdon berusaha mengikuti kecepatan kursi roda Kohler. ”Mengapa tidak meluruskan
pemahaman itu?”


Kohler mengangkat bahunya dan nampak tidak tertarik. ”Kekeliruan sepele untuk sebuah
teknologi yang sepele. CERN jauh lebih hebat dibandingkan dengan koneksi komputer global. Ilmuwan kami menghasilkan banyak keajaiban hampir setiap hari.”
 

Langdon menatap Kohler dengan tatapan tidak mengerti. ”Keajaiban?” Kata ”keajaiban” jelas tidak ada dalam kamus di fakultas ilmu pasti di Harvard. Keajaiban hanya untuk mereka yang belajar teologi..
 

”Anda sepertinya ragu-ragu,” kata Kohler. ”Saya pikir Anda seorang ahli simbologi agama. Anda tidak percaya pada keajaiban?”
 

”Sikap saya netral dengan keajaiban,” kata Langdon. Terutama dengan keajaiban yang terjadi di lab ilmu pasti.
 

”Mungkin keajaiban adalah kata yang salah. Saya hanya berusaha untuk menggunakan istilah dalam bahasa Anda.”
 

”Bahasa saya?” Langdon tiba-tiba merasa tidak nyaman. ”Saya tidak bermaksud untuk
mengecewakan Anda, Pak, tetapi saya mempelajari simbologi agama—saya seorang akademisi bukan seorang pendeta.”
 

Tiba-tiba Kohler memperlambat lajunya dan menoleh ke arah Langdon. Tatapannya agak
melunak. ”Tentu saja. Betapa bodohnya. Orang tidak perlu mengidap kanker untuk memahami gejala yang dimiliki oleh penyakit itu.”


Langdon belum pernah mendengar ada orang memberikan garnbaran seperti yang dikatakan oleh  Kohler.


Ketika mereka berjalan di sepanjang koridor itu, Kohler mengangguk. ”Saya kira Anda dan saya bisa saling memahami dengan sangat baik, Pak Langdon.”


Entah bagaimana, Langdon meragukannya.


Ketika mereka berjalan dengan terburu-buru, Langdon merasakan adanya getaran kuat yang berasal dari atas. Suara bising itu menjadi semakin keras setiap kali dia melangkah, dan getaran tersebut seperti bergema di dinding. Sepertinya suara itu berasal dari ujung koridor di hadapan mereka.

”Apa itu?” akhirnya Langdon bertanya dengan suara keras. Dia merasa seakan sedang mendekati sebuah gunung api yang sedang aktif.


”Tabung Terjun Bebas,” jawab Kohler. Suaranya yang tanpa ekspresi dapat menembus kebisingan itu dengan mudah. Setelah itu dia tidak menjelaskan lebih lanjut.

Langdon juga tidak bertanya lagi. Dia letih. Selain itu Maximilian Kohler juga sepertinya tidak tertarik untuk memenangkan penghargaan sebagai tuan rumah yang ramah. Langdon
mengingatkan dirinya sendiri untuk apa dia berada di sini. Demi Illuminati. Dia menduga di fasilitas yang sangat besar ini ada sesosok mayat ... mayat yang dicap dengan sebuah simbol yang membuatnya terbang sejauh 3000 mil agar dapat melihatnya.


Ketika mereka mendekati ujung koridor tersebut, kebisingan itu menjadi hampir memekakkan dan menggetarkan telapak kaki langdon. Mereka berbelok, dan menemukan ruangan di sisi kanan mereka. Empat pintu berlapis kaca tebal terdapat di dinding yang melengkung sehingga terlihat seperti jendela di kapal selam. Langdon berhenti dan melongok ke dalam salah satu lubang itu.


Profesor Robert Langdon pernah melihat beberapa haJ aneh dalam hidupnya, tapi ini adalah yang paling aneh. Dia mengejapkan matanya beberapa kali sambil bertanya-tanya apakah dia sedang berhalusinasi. Dia mengintip ke dalam sebuah ruangan bundar yang berukuran luar biasa besar. Di dalam ruangan itu dia melihat beberapa orang mengambang seolah tidak berbobot. Semuanya ada
tiga orang. Salah satu dari mereka melambaikan tangannya dan berjungkir balik di udara.
 

Ya, Tuhan, seru Langdon. Aku berada di negeri para peri! Di lantai ruangan itu terdapat jalinan yang saling bertautan seperti Iembaran kawat ayam yang besar sekali. Di bawah jalinan itu samarsamar terlihat sebuah baling-baling besar dari metal.

”Tabung Terbang Bebas,” kata Kohler sambil berhenti menunggu Langdon. ”Skydiving di dalam ruangan. Bagus untuk menghilangkan stres. Ini adalah terowongan angin vertikal.”


Langdon memandang dengan kagum. Salah satu dari orangorang yang melayang-layang itu adalah seorang perempuan yang sangat gemuk dan dia sekarang bergerak mendekati jendela. Perempuan itu melayang dengan ditopang hanya oleh putaran arus udara. Dia tersenyum dan memberi isyarat kepada Langdon dengan mengangkat ibu jarinya. Langdon tersenyum samar dan membalas isyarat itu sambil bertanya-tanya dalam hatinya, apakah perempuan itu tahu bahwa dia baru saja memberi simbol phalus, simbol kejantanan pria, padanya.


Langdon melihat kalau perempuan gemuk itu adalah satusatunya orang yang mengenakan parasut kecil. Secarik bahan yang menggelembung di atas perempuan itu tampak seperti mainan. ”Parasut kecil itu untuk apa?” tanya Langdon kepada Kohler. ”Saya yakin diameternya tidak lebih dari satu yard.”


”Friksi,” jawab Kohler. ”Mengurangi aerodinamika tubuhnya sehingga baling-baling di bawah itu dapat mengangkatnya.” Lalu dia mulai berjalan lagi. ”Satu yard persegi parasut dapat memperlambat jatuhnya tubuh sebesar hampir dua puluh persen.”

Langdon mengangguk walau masih agak bingung.


Dia tidak tahu kalau malam harinya, di sebuah negara yang , Ribuan mil jauhnya, informasi seperti itu bisa menyelamatkan hidupnya.




***


BAB 8

KETIKA KOHLER dan Langdon keluar dari bagian belakang kompleks utama CERN dan
menyambut sinar matahari Swiss, Langdon merasa seperti dipulangkan ke rumah. Pemandangan yang baru saja dilihatnya ini seperti yang terdapat di sebuah kampus bergengsi di Amerika.
 

Langdon melihat lereng yang menurun ke arah dataran luas di mana sekelompok pohon sugar maples tumbuh di lapangan persegi yang dibatasi oleh gedung asrama dari batu bata dan jalan kecil untuk pejalan kaki. Beberapa orang dengan penampilan serius dan membawa tumpukan buku, bergegas keluar masuk dari gedung itu. Seperti ingin mempertajam kesan bahwa ini adalah lingkungan orang yang terpelajar, dua orang hippies sedang main lempar-lemparan Friesbee sambil menikmati Simfoni Keempat karya Mahler yang suaranya terdengar keras dari salah satu jendela asrama.
 

”Ini asrama tempat tinggal kami,” jelas Kohler sambil mempercepat laju kursi rodanya di atas jalan kecil yang membawa mereka ke arah gedung-gedung tersebut. ”Kami mempunyai lebih dari tiga ribu ahli fisika di sini. CERN sendiri mempekerjakan hampir separuh dari ahli fisika partikel di seluruh dunia. Mereka orangorang terpandai di dunia. Mereka berasal dari Jerman, Jepang, Italia, Belanda, dan Iain-lain. Ahli-ahli fisika kami berasal dari lima ratus universitas dan enam puluh bangsa.”
 

Langdon kagum. ”Bagaimana caranya mereka berkomunikasi?”

”Dalam bahasa Inggris tentu saja. Bahasa ilmu pengetahuan universal.”
 

Selama ini Langdon selalu mendengar bahwa matematikalah yang merupakan bahasa ilmu
pengetahuan universal, tapi dia sudah terlalu letih untuk berdebat. Dengan patuh dia mengikuti Kohler menuruni jalan kecil itu.
 

Di tengah perjalanan menuruni lereng, seorang pemuda berlari-lari kecil melewati mereka. Kausnya bertuliskan pesan: NO GUT, NO GLORY!*
 

Langdon menatap punggung pemuda itu dengan bingung. ”Gut?”
 

General Unified Theory,” jelas Kohler. 

”Oh begitu,” sahut Langdon tanpa memandang lawan bicaranya. Setahunya kata gut hanya berarti keberanian. ”Anda tahu fisika partikel, Pak Langdon?” Langdon mengangkat bahunya. ”Saya hanya tahu tentang fisika umum, seperti benda-benda yang jatuh karena gravitasi atau semacam itulah.” Pengalaman Langdon dalam kegiatan loncat indah selama bertahun-tahun telah membuatnya terpesona dengan kekuatan percepatan gravitasi yang mengagumkan. ”Fisika partikel adalah kajian tentang atom, bukan?”

Kohler menggelengkan kepalanya. ”Atom terlihat seperti sebuah planet kalau dibandingkan dengan apa yang kami tangani ini. Minat kami adalah pada inti atom yang berukuran 1/10.000 dari ukuran atom secara keseluruhan.” Kohler batuk lagi dan suaranya terdengar seperti sakit.
 

”Para ilmuwan di CERN berusaha mencari jawaban dari berbagai pertanyaan yang sudah
ditanyakan oleh manusia sejak awal peradaban. Dari mana kita berasal? Dari elemen apa kita dibuat?”


”Dan jawaban-jawaban itu ada di dalam lab fisika?” 


Kohler menggelengkan kepalanya. ”Atom terlihat seperti sebuah planet kalau dibandingkan dengan apa yang kami tangani ini. Minat kami adalah pada inti atom yang berukuran 1/10.000 dari ukuran atom secara keseluruhan.” Kohler batuk lagi dan suaranya terdengar seperti sakit. ”Para ilmuwan di CERN berusaha mencari jawaban dari berbagai pertanyaan yang sudah ditanyakan oleh manusia sejak awal peradaban. Dari mana kita berasal? Dari elemen apa kita dibuat?”

”Dan jawaban-jawaban itu ada di dalam lab fisika?”


”Anda sepertinya terkejut.”


”Memang. Pertanyaan itu sepertinya lebih bersifat spritual.”

”Pak Langdon, semua pertanyaan tadi memang spiritual pada lnva. Sejak awal peradaban, spiritualitas dan agama digunakan tuk mengisi celah-celah yang tidak dapat dijelaskan oleh ilmu tahuan. Terbit dan tenggelamnya matahari dulu pernah dhubungkan dengan dewa Helios dan kereta kuda berapi. Gempa bumi dan gelombang pasang dianggap sebagai kemarahan dewa Poseidon. Ilmu pengetahuan kini membuktikan bahwa dewa-dewa itu adalah sembahan palsu. Tidak lama lagi Tuhan juga akan terbukti sebagai sembahan palsu. Kini ilmu pengetahuan telah menemukan jawaban untuk hampir semua pertanyaan yang bisa ditanyakan oleh manusia. Hanya ada beberapa pertanyaan yang
masih belum terjawab, dan itu semua merupakan pertanyaanpertanyaan yang luar biasa sulit. Dari mana kita berasal? Apa yang kita lakukan di sini? Apa arti kehidupan dan alam semesta?”


Langdon kagum. ”Dan CERN berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu?”
 

”Ralat. Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang kita semua berusaha untuk menjawabnya.”
 

Langdon terdiam ketika mereka terus berjalan ke arah kompleks asrama. Saat itulah sebuah Frisbee melayang ke arah mereka dan mendarat tepat di depan mereka. Kohler tidak memedulikannya dan terus berjalan.
 

Terdengar suara berseru dari sisi lain lapangan, ”S’il vous plait!” dalam bahasa Perancis. ”Tolong ambilkan!”
 

Langdon mencari sumber suara itu. Seorang lelaki yang sudah tidak muda lagi, berambut putih, dan mengenakan sweatshirt bertuliskan COLLEGE PARIS melambai ke arahnya. Langdon kemudian memungut Frisbee itu lalu dengan terampil melemparkannya kembali ke sana. Lelaki tua itu mengangkapnya dengan satu jari dan melambung-lambungkannya beberapa kali sebelum dia melemparkannya kembali kepada teman bermainnya. ”Merci!” serunya kepada Langdon.
 

”Terima kasih!”
 

Selamat,” kata Kohler ketika Langdon kembali berjalan di lsinya lagi. ”Anda baru saja main lempar-lemparan dengan seorang pemenang Nobel, Georges Charpak, sang penemu multiwire proportional chamber.”

Langdon mengangguk. Mungkin ini hari keberuntunganku.
 

Setelah tiga menit berjalan, Langdon dan Kohler akhirnya sampai ke sebuah ruang duduk asrama yang terawat dengan baik di balik rerimbunan pohon aspen. Dibandingkan dengan asramaasrama lainnya, gedung ini tampak mewah. Di plakat dari batu tertulis: GEDUNG C. . Nama yang imajinatif, ejek Langdon.
 

Walau nama itu terdengar dingin, arsitektur Gedung C yang konservadf dan kokoh itu menarik perhatian Langdon. Gedung tersebut memiliki bagian depan yang terbuat dari bata merah, kusen dengan hiasan yang menarik, dan dikelilingi oleh pagar berukir yang simetris. Ketika kedua lelaki itu menaiki tangga batu menuju ke pintu, mereka melewati gerbang yang terbentuk dari dua pilar pualam. Sepertinya seseorang memasang stiker di salah satu tiang. Di sana tertulis:
 

PILAR INI IONIS
 

Grafiti yang dibuat oleh ahli ilmu fisika? kata Langdon lucu sambil melihat pilar tersebut dan tertawa sendiri. ”Ternyata seorang ahli fisika yang sangat pandai sekalipun bisa membuat kesalahan.”

Kohler melihatnya. ”Apa maksud Anda?”

”Siapa pun yang menuliskan catatan itu pasti tidak tahu kalau tulisannya salah. Pilar itu bukan pilar gaya Ionia. Pilar-pilar Ionia selalu sama lebarnya. Yang ini ujungnya meruncing. Itu pilar gaya Doria. Salah kaprah seperti memang ini sering terjadi.”


Kohler tidak tersenyum. ”Penulisnya tidak bermaksud untuk bergurau, Pak Langdon. Ionis artinya mengandung ion atau partikel-partikel yang dialiri listrik. Sebagian besar benda berisi ion.


Langdon menatap pilar itu lagi dan melongo. Langdon masih merasa bodoh ketika dia melangkahkan kakinya dari lift yang membawa mereka ke lantai teratas Gedung. Dia mengikuti Kohler berjalan ke koridor yang mewah. Dekoinya luar biasa bergaya kolonial Perancis. Dia bisa melihat sebuah sofa dari kayu cherry, jambangan bunga dari keramik, dan ukiran kayu bermotif melingkar-lingkar.


”Kami suka membuat para ilmuwan kami merasa nyaman,” jelas Kohler. 


Tidak diragukan lagi, sahut Langdon dalam hati. ”Jadi, orang yang fotonya Anda kirimkan lewat faks ke saya pernah tinggal di sini? Dia salah satu dari pegawai eselon tinggi?” 


”Tenang,” kata Kohler. ”Lelaki itu tidak hadir dalam rapat denganku pagi ini dan tidak menjawab penyerantanya. Aku datang ke sini dan menemukannya meninggal di ruang tamunya.”


Langdon tiba-tiba merinding ketika dia sadar kalau sebentar lagi dia akan melihat mayat. Perutnya tidak cukup kuat untuk menghadapinya. Ini adalah kelemahan yang baru diketahuinya saat dia menjadi mahasiswa jurusan seni bentuk tubuh manusia dengan cara menggali kembali mayat dari kuburan dan mengiris tubuh mayat tersebut.
 

Kohler mengajak Langdon ke ujung koridor. Ada sebuah pintu saja di sana. ”Griya tawang, seperti istilah Anda,” ujar Kohler sambil menyeka keringat yang muncul di dahinya.
 

Langdon melihat pintu kayu ek di depan mereka. Plakat nama yang terdapat di sana bertuliskan:
 

Leonardo Vetra
 

”Leonardo Vetra,” kata Kohler, ”akan genap berusia 58 tahun minggu depan. Dia adalah salah satu ilmuwan terpandai pada masa kini. Kematiannya merupakan kehilangan besar bagi dunia ilmu pengetahuan.”

Saat itu Langdon melihat luapan perasaan Kohler dari wajahnya yang mengeras. Namun secepat itu terlihat, secepat itu juga perasaan itu menghilang. Kohler merogoh sakunya dan mulai memilah-milah seikat besar kunci.

Tiba-tiba Langdon merasa aneh. Gedung ini tampak sangat lengang. ”Ke mana orang-orang yang lain?” tanyanya. Dia tidak melihat adanya kegiatan apa pun, padahal mereka akan memasuki tempat kejadian pembunuhan.


”Penghuni lainnya sedang bekerja di lab,” jawab Kohler. Tangannya sudah berhasil menemukan kunci pintu tersebut.


”Maksud saya polisi,” jelas Langdon. ”Apakah mereka sudah pergi?”


Kohler berhenti. Sesaat, kuncinya berhenti di udara. ”Polisi?”
 

Mata Langdon bertemu dengan mata sang direktur. ”Polisi. Anda mengirimi saya selembar faks berisi sebuah gambar pembunuhan. Anda pasti sudah menelepon polisi.”
 

”Aku belum memanggil mereka.”
 

Apa?
 

Mata kelabu Kohler menajam. ”Situasinya rumit, Pak Langdon.”

Langdon mulai dilanda rasa cemas. ”Tetapi ... tentunya ada orang lain yang tahu ten tang hal ini!”
 

”Ya. Putri angkat Leonardo. Dia juga ahli fisika di CERN. Mereka berdua bekerja di lab yang sama. Mereka adalah rekan kerja. Nona Vetra sudah pergi selama satu minggu untuk melakukan penelitian lapangan. Saya sudah memberitahukan kematian ayahnya, dan dia sedang menuju ke sini saat kita sedang berbicara sekarang.”
 

”Tetapi orang ini telah dibun—”
 

”Sebuah investigasi resmi,” sela Kohler dengan tegas, ”akan dilakukan. Walau bagaimana,
penyelidikan itu akan membuat digeledahnya lab Vetra, sebuah ruangan yang sangat pribadi bagi mereka berdua. Karenanya, kami harus menunggu sampai Nona Vetra kembali. Aku merasa harus berusaha untuk sedikit merahasiakannya. Demi Nona Vetra.”


Kohler akhirnya memutar kunci itu.
 

Ketika pintu terbuka, hembusan udara sedingin es mendesis dari ruangan dan menerpa wajah Langdon. Dia merasa sangat bineung. Langdon memandang ke dalam ruangan yang terasa sangat asing baginya. Ruangan di depannya seperti terbenam dalam kabut putih tebal. Kabut tidak tembus pandang itu berputarputar di antara perabotan ruangan tersebut.
 

”Apa ini ...?” seru Langdon.

”Sistem pendingin freon,” jawab Kohler. ”Saya membekukan flat ini untuk mengawetkan mayat itu.”
 

Langdon mengancingkan jasnya untuk menahan dingin. Aku benar-benar berada di negeri para peri, katanya lucu. Dan aku lupa membawa serta sandal ajaibku.


 ***
 *Tiada kemasyhuran tanpa keberanian—peny.





http://ayobacanovel.blogspot.com/2014/10/angel-and-demon-bab-5-6.html

 

SUNSHINE BECOME YOU - BAB 4

KUIZINKAN kau menjadi pesuruhku? Yang benar saja!

Mia memberengut dongkol selagi mengikuti Alex Hirano masuk ke dalam apartemen yang luas.

"Jangan berpikir aku tidak ingin meminta ganti rugi darimu."

Mia berhenti mengagumi ruang duduk yang dibanjiri cahaya matahari dan menoleh ke arah suara Alex Hirano. Alex Hirano meletakkan kopinya di atas meja kecil yang dipenuhi kertas dan buku. Lalu ia menegakkan tubuh dan menatap Mia. "Kau tahu seberapa besar kerugian yang kau timbulkan?"

 "Tidak," gumam Mia jujur.

"Kata Ray, kau tidak mungkin sanggup membayar kalau aku meminta ganti rugi darimu."Mia terdiam.

Jemarinya tanpa sadar mencengkeram tali tasnya dengan erat. Sepertinya kerugian yang ditimbulkannya memang sangat besar.

"Jadi asal kau tahu, Ray yang memintaku untuk tidak menyulitkanmu." Alex Hirano mendengus, lalu bergumam, "Menyulitkanmu. Coba lihat siapa yang kesulitan di sini."

Mia tetap diam. Apa yang bisa dikatakannya dalam situasi seperti ini? Tidak ada.

 Alex Hirano mengulurkan tangan kanannya, telapak tangan menghadap ke atas.
Mia menatap tangan itu, lalu menatap Alex Hirano.

"Kunci," gumam Alex Hirano.

"Oh." Mia tersadar dan cepat-cepat mengembalikan kunci apartemen laki-laki itu yang masih dipegangnya, karena tadi ia yang membantu Alex Hirano membuka pintu apartemen.

"Nah, kau pasti sudah tidak sabar ingin mulai bekerja," kata Alex Hirano sambil melemparkan kunci apartemennya ke atas meja.

"Bagaimana kalau kau membuatkan sarapan? Dapurnya di sebelah sana."

Mia menoleh ke arah yang ditunjuk, lalu mendesah dalam hati. Ia sendiri yang menginginkan hal ini, bukan? Ia sendiri yang datang menawarkan diri untuk membantu laki-laki itu. Ia sendiri yang mencari masalah. Jadi… oh, baiklah! Ia juga tidak bisa menarik kembali kata-katanya sekarang.

"Kau mau sarapan apa?", tanya Mia tanya Mia enggan sambil berjalan ke arah dapur.

"Bagaimana kalau kau memberiku kejutan?" balas Alex Hirano acuh tak acuh dan melemparkan seulas senyum hambar ke arah Mia. "Aku suka kejutan."

Mendadak langkah Mia terhenti dan ia mengerjap menatap keadaan dapur yang kacau-balau. Biji-biji kopi tersebar di meja dan di lantai, bercampur dengan pecah-pecahan cangkir dan botol. Genangan air terlihat di permukaan meja dan juga di lantai. Apa yang sebenarnya terjadi di sini?

"Oh, ya, kau boleh membersihkan dapurnya sekalian."


"Apa yang terjadi di sini?" tanya Mia. Namun Alex Hirano tidak menjawab. Mia menoleh dan menyadari Alex Hirano sudah tidak berada di tempatnya tadi. Sedetik kemudian Mia mendengar
bunyi pintu ditutup. Sepertinya laki-laki itu sudah masuk ke kamar.

Mia mendengus dan kembali menatap kekacauan di hadapannya. Ia bisa menebak apa yang terjadi di dapur ini. Sepertinya Alex Hirano ingin membuat kopi, tetapi ia tidak terbiasa menggunakan satu tangan. Beginilah hasilnya.

Mia menoleh ke balik bahunya, menatap ruang duduk yang kosong, dan bergumam, "Dan apa katanya tadi? Dia tidak butuh bantuan?", Ia mendengus pelan. "Yah, yang benar saja."

 Alex Hirano duduk tertegun menatap sarapan yang disiapkan Mia untuknya. "Apa-apaan ini?" tanyanya.

"Apa?", tanya Mia polos. "Kenapa?"

"Susu dan sereal?", tanya laki-laki itu dengan nada tidak percaya sambil mendongak menatap Mia. "Hanya ini yang bisa kau lakukan?"

Mata Mia menyipit mendengar nada mencemooh dalam suara Alex Hirano. "Hanya ini yang bisa kutemukan di dapurmu," katanya membela diri.

"Aku yakin masih ada bacon dan telur," gumam Alex.

 "Tidak ada," sahut Mia tegas, "kecuali kau menyembunyikannya di kamar tidurmu."

Alex memberengut menatapnya. "Roti," katanya. "Aku yakin masih ada roti."

Mia mengangguk, "Memang benar, tapi sudah berjamur. Aku membuangnya karena kupikir kau pasti tidak mau makan roti yang sudah berjamur."

Alex Hirano masih memberengut seolah-olah Mia yang membuat rotinya jamuran.

"Sungguh, tidak ada apa-apa di dapurmu," Mia menegaskan sekali lagi. Lalu ia menambahkan dengan suara yang lebih pelan, "Seharusnya kau tahu itu karena kau yang tinggal di sini."

Alex Hirano menyipitkan matanya menatap Mia dan Mia kembali merasakan keinginan untuk mundur teratur.

"Kalau kau mau, aku bisa membantumu membeli persediaan makanan atau apa pun kau butuhkan dan membawanya ke sini sore nanti, setelah aku selesai mengajar," Mia menawarkan diri.

Sebelum Alex Hirano sempat menjawab, bel pintu berbunyiMia otomatis menoleh ke arah pintu, lalu kembali menatap Alex.

"Apa yang kau tunggu?" tanya Alex.

Mia menatapnya tidak mengerti.

"Buka pintunya."

"Oh."

Mia mendesah dalam hati mendengar nada tajam dalam suara Alex Hirano. Sungguh, ia tidak tahu  kenapa Alex Hirano harus… Oh, baiklah, kalau mau jujur, ia tahu kenapa Alex Hirano bersikap sinis,
terutama padanya.

Dengan enggan, Mia berjalan ke pintu dan membukanya. Seorang laki-laki muda, jangkung, berkulit gelap dan berkepala botak menatapnya dengan alis terangkat. "Siapa kau?" tanya laki-laki itu tanpa basa-basi, namun tidak ada nada tajam dalam suaranya.

Sebelum Mia sempat menanyakan hal yang sama, suara Alex Hirano terdengar di belakangnya. "Masuklah, Karl."

Mia menepi memberi jalan. Laki-laki yang terlihat seperti peman bola basket profesional yang dipanggil "Karl‖ itu masuk dan berjalan melewati Mia ke ruang duduk.

"Siapa gadis itu?" Mia mendengar Karl bertanya kepada Alex.

"Dan apa maksudmu kau ingin membatalkan—Astaga! Apa yang terjadi padamu? Tanganmu kenapa?"

Mia menutup pintu dan mengikuti tamu Alex ke ruang duduk.

"Karena itulah kubilang semua jadwalku sampai akhir tahun harus dibatalkan,‖ kata Alex sambil duduk bersandar di sofa.

"Ini bencana," gumam Karl. Lalu ia mengeluarkan ponsel dari saku dan mulai menekan beberapa nomor. "Aku harus segera menghubungi orang-orang. Ini benar-benar bencana. Tapi, ceritakan
padaku bagaimana tanganmu bisa berakhir seperti itu?"
Alex menoleh ke arah Mia dan tersenyum samar. "Orang yang berdiri di belakangmu itulah yang membuat tanganku berakhirseperti ini," katanya pada Karl.

Karl berputar dan menatap Mia. "Kau?" tanyanya dengan nada heran. "Kau mematahkan tangannya?"

"Tidak! Itu tidak disengaja‖ sahut Mia cepat. Lalu menambahkan dengan suara yang lebih pelan, "Dan tangannya tidak patah."

Karl memiringkan kepalanya sedikit. "Sengaja atau tidak, kita tetap harus menghitung ganti ruginya."

"Eh, itu…" Mia mengerjap, melirik ke arah Alex yang menyandarkan kepala ke sandaran sofa dan menatap langit-langit, lalu kembali menatap Karl.

"Dia teman Ray." Mia dan Karl serentak menoleh ke Arah Alex.

"Dia teman Ray," kata Alex sekali lagi. "Jadi kau tidak usah repot-repot mencoba meminta ganti rugi darinya."

Karl mengangkat bahu tidak peduli. "Teman Ray atau bukan…"

"Dia juga tidak akan sanggup mengganti kerugian sebesar itu," sela Alex. Matanya berahli dari Karl ke arah Mia. "Tapi dia sudah memikirkan cara lain untuk menggantinya."

Karl mengangkat sebelah alis. "Bagaimana?"

"Karl, kenalkan," kata Alex sambil mengayunkan lengannya ke arah Mia,  "ini… tunggu, siapa namamu tadi? Ah, terserahlah. Karl, ini pengurus rumahku yang baru."

Pesuruh dan pengurus rumah. Mia mendesah dalam hati. Sepertinya itulah posisinya di rumah ini.
Karl tersenyum kecil. "Pengurus rumah?"

Apa lagi yang bisa Mia lakukan saat itu selain mengulurkan tangan ke arah Karl dan berkata, "Halo, aku Mia. Mia Clark."

Senyum Karl melebar dan ia menjabat tangan Mia dengan tegas. "Karl Jones. Aku agen sekaligus manajer Alex," katanya. "Jadi kau temannya Ray?"

"Ya, begitulah." Mia mendapat kesan bahwa Karl Jones ini sepertinya orang baik.

"Kalian bisa melanjutkan basa-basi kalian nanti," sela Alex tajam. "Sekarang ada hal penting yang harus kita bicarakan."

Karl menoleh ke arah Alex. "Oke, oke."

Teringat pada posisinya, Mia bertanya ragu, "Mau minum kopi?"

"Boleh juga," sahut Karl cepat. "Terima kasih."

Mia menyadari Alex menatapnya dengan tatapan curiga. Apa? sebagai pengurus rumah ini di sini aku harus menyuguhkan minuman untuk tamu, bukan? Gerutu Mia dalam hati. Kenapa laki-laki itu
menatapnya seperti itu, seolah-olah ia tidak percaya Mia mampu membuat kopi sendiri. Atau apakah ia curiga Mia akan memasukkan sesuatu ke dalam kopinya dan membuatnya lebih celaka lagi?

"Kau mau juga?" tanya Mia pendek.

Alex masih terlihat ragu, lalu akhirnya menjawab, "Boleh."

***

Alex dan Karl masing-masing berbicara di telepon ketika Mia kembali ke ruang duduk. Alex Hirano sama sekali tidak mengangkat wajah ketika Mia meletakkan cangkir kopi di atas meja di hadapannya, tetapi ia berdiri dari sofa, berjalan ke pintu beranda dan berdiri di sana. Mia menatapnya sejenak, lalu mengalihkan perhatian kepada Karl Jones yang sudah selesai berbicara di telepon.

"Terima kasih," kata Karl sambil meraih cangkir kopinya.

"Aku sudah membuat masalah besar, bukan?" tanya Mia.

Karl menatapnya. "Tentu saja," jawabnya, namun nada suaranya ringan.

Mia menggigit bibir dan mencengkeram pinggiran nampan di
tangannya. "Seberapa parah?"

"Jangan berdiri saja di sana. Duduklah," kata Karl, lalu menyesap kopinya. "Wah, kopi ini enak sekali."

Mia duduk tegak di hadapan Karl, masih mencengkeram pinggiran nampan. "Seberapa parah?" tanyanya sekali lagi.




"Tenang saja," sahut Karl ringan sambil tersenyum lebar.

"Serahkan saja padaku. Tidak ada yang tidak bisa kuatasi."

Jawaban Karl yang penuh percaya diri itu entah kenapa membuat Mia merasa sedikit lebih tenang. Ia melirik Alex yang masih berdiri menghadap pintu kaca beranda, memandang ke luar sambil berbicara di ponsel. Mia mencondongkan tubuh ke depan dan berbisik, "Apakah dia sangat terkenal?"

Karl ikut mencondongkan tubuh ke depan. "Alex? Tentu saja."

Mata Mia melebar. "Benarkah?"

Karl terkekeh pelan, "Dia memang tidak terkenal dikalangan remaja dan umum seperti kebanyakan penyanyi pop,‖ katanya, "tapi namanya terkenal di kalangan tertentu. Kalau kau pianis atau musisi,
kau pasti pernah mendengar namanya."

Mia mengangguk-angguk pelan. "Oh, begitu."

Tepat pada saat itu Alex kembali bergabung dengan mereka di sofa. Ponselnya dilemparkan ke atas meja.

"Bagaimana?" tanya Karl padanya.

"Kacau," sahut Alex muram. "Memangnya apa lagi yang kau harapkan?"

Alex meraih cangkirnya dan menyesap kopinya. Lalu ia tertegun menatap kopi itu sejenak dan tanpa sadar Mia menahan napas. Apa? Apa lagi sekarang? Tetapi Alex tidak berkata apa-apa. Ia hanya menyesap kopinya sekali lagi. Dan lagi. Dan Mia pun akhirnya mengembuskan napas yang ditahannya.

"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Alex tiba-tiba dan menoleh ke arah Mia.

Mia tersentak dan mengerjap. "Apa? Tidak. Aku tidak menatapmu."

Mata Alex menyipit. "Kau sedang menikmati kekacauan yang kau timbulkan?"

"Tidak!" bantah Mia cepat. "Aku bukan orang seperti itu."

Alex mengangkat bahu. "Siapa tahu?" gumamnya acuh tak tacuh, lalu kembali menyesap kopinya.

Oh, laki-laki ini benar-benar… Mia menggigit bibir dan berusaha menahan diri supaya tidak melempar nampan yang dipegangnya ke kepala Alex Hirano. Ia berdiri dan bergumam. "Aku harus pergi."

"Oh, jangan biarkan Alex membuatmu kesal," kata Karl. "Dia memang selalu begitu.

Alex melotot ke arah temannya.

Mia tersenyum kepada Karl. "Bukan begitu. Aku harus mengajar siang hari ini."

"Mengajar apa?" tanya Karl.

"Tari kontemporer."

"Ah, kau penari rupanya. Hebat."

"Kau sudah membersihkan dapur?" sela Alex dengan nada datar.

Mia mendesah dalam hati. Aneh sekali, bagaimana Alex Hirano bisa membuat perasaan seseorang menjadi berat dan muram hanya dengan satu kalimat singkat. "Sudah," sahut Mia. "Kau mau memeriksanya dulu?"

"Nanti saja," kata Alex dan kembali menyesap kopinya.

"Baiklah kalau begitu. Masih ada kopi di dapur kalau kalian mau," kata Mia, lalu berjalan ke dapur untuk meletakkan nampan dan mengambil tasnya. Ia kembali ke ruang duduk dan Karl berdiri
dari sofa.

"Aku akan mengantarmu ke pintu," kata Karl.

Mia tersenyum cerah kepadanya. Karl laki-laki yang baik, pikir Mia. Sangat berbeda dengan laki-laki yang satu lagi yang duduk di sofa dengan tangan dibebat dan wajah memberengut.

Mia berbalik, lalu berhenti. Ia ragu sejenak. Ia pasti sudah gila karena merasa harus bertanya, namun akhirnya ia menoleh ke arah Alex dan bertanya enggan, "Apakah kau ingin aku datang lagi nanti
sore?"

Mia setengah berharap laki-laki menjawab: Tidak, terima kasih banyak. Aku tidak butuh apa-apa, jadi jauh-jauhlah dariku.

"Tidak," sahut Alex Hirano pendek.

Harapannya terkabul. Mia mengangguk. "Baiklah."

"Kami juga akan pergi sebentar lagi," jelas Karl kepada Mia.

"Ada banyak orang yang harus kami temui dan banyak masalah yang harus kami selesaikan. Jadi kami akan sibuk sepanjang hari ini."

"Ya, kami harus menyelesaikan masalah yang kau timbulkan," tambah Alex datar.

Mia menoleh ke arah Alex. Sungguh, ia tidak perlu diingatkan setiap menit tentang "masalah" yang ditimbulkannya. Kalau tidak, kenapa lagi ia masih berada di sini dan menahan diri menerima
semua ini?

Lagi pula, "masalah‖ ini sebenarnya juga bukan sepenuhnya kesalahan Mia. Kalau Mia memang benar-benar ingin membuat Alex Hirano celaka, ia pasti tidak hanya akan membuat tangan kiri lakilaki itu terkilir. Mia pasti sudah melakukan sesuatu yang lebih buruk. Misalnya…

"Tapi kau boleh datang besok pagi,‖ kata Alex Hirano, memotong jalan pikiran Mia yang mulai melantur.

"Ya?"

"Besok pagi jam delapan tepat," kata Alex datar.

"Apa yang akan kalian lakukan? Aku bisa membantu kalau boleh," sela Karl menatap Mia dan Alex bergantian.

Alex menatap Karl. "Kau mau menjadi manajer merangkap pengurus rumahku?"

Karl tersenyum lebar. "Tidak, terima kasih banyak. Menjadi manajermu saja sudah cukup merepotkan."

"Bagus." Alex kembali menoleh ke arah Mia. "Kau boleh pergi sekarang."

Sungguh. Kata-kata terakhir Alex Hirano dan caranya mengucapkan kata-kata itu membuat Mia merasa seolah-olah ia memang telah menjadi pesuruh laki-laki itu. Mia hampir tidak percaya ia sendirilah yang dengan sukarela melemparkan diri ke dalam masalah ini. Tapi siapa yang menduga Alex Hirano bisa begitu menyebalkan?

Memang benar kata orang. Penyesalan selalu datang terlambat.





http://ayobacanovel.blogspot.com/2014/10/sunshine-become-you-bab-3.html


BEAUTIFUL DISASTER - BAB 8


GOSIP

Ketika mataku akhirnya terbuka, aku melihat bahwa aku tidur beralaskan kaki yang memakai celana jins. Travis duduk bersandar pada tub, dan kepalanya ke tembok, tidur kedinginan. Dia kelihatan sama parahnya denganku. Aku melepas selimutku lalu berdiri, tersentak melihat bayanganku yang menakutkan dalam cermin di atas wastafel.

Aku terlihat seperti mayat.





Maskara luntur, noda air mata hitam sepanjang pipiku, lipstik belepotan dan ada rambutku diikat seperti buntut tikus di kedua sisinya.

Ada sprei, handuk dan selimut di sekeliling Travis. Dia membuat alas empuk untuk tidur sementara aku memuntahkan lima belas sloki tequila yang aku minum tadi malam. Travis memegangi rambutku menjauh dari toilet dan duduk bersamaku sepanjang malam.

Aku menyalakan kran, menahan tanganku di bawah air hingga temperaturnya sesuai dengan yang aku inginkan. Menggosok wajahku yang berantakan, aku mendengar erangan dari lantai. Travis bangun, menggosok matanya, menggeliat lalu melihat ke sampingnya, dia tersentak panik.

“Aku di sini,” kataku. “Kenapa kau tidak pergi ke kamar saja? Untuk tidur lagi?”

“kau baik-baik saja?” dia berkata, mengusap matanya sekali lagi.

“Ya, aku baik-baik saja. Well, sebaik yang aku bisa. Aku akan merasa lebih baik setelah mandi nanti.”

Dia berdiri. “Kau sangat hebat tadi malam, asal kau tahu. Aku tak tahu dari mana asalnya, tapi aku tidak ingin kau melakukannya lagi.”

“Aku sudah terbiasa, Trav. Bukan masalah besar bagiku.”

Dia memegang pipiku dengan tangannya lalu menghapus sisa maskara luntur yang masih ada di bawah mataku dengan ibu jarinya. “Itu masalah besar bagiku.”

“Baiklah, aku tidak akan mengulanginya lagi. Puas?”

“Ya. Tapi, aku akan memberitahumu sesuatu, tapi janji kau tidak akan panik.”

“Oh, Tuhan, apa yang telah aku lakukan?”

“kau tidak melakukan apa-apa, tapi kau harus menelepon America.”

“Di mana dia?”

“Di asrama. Dia bertengkar dengan Shep tadi malam.”

Aku mandi dengan tergesa-gesa dan memakai baju yang telah Travis siapkan untukku di atas wastafel. Ketika aku keluar dari kamar mandi, Shepley dan Travis sedang duduk di ruang tamu.

“Apa yang telah kau lakukan padanya?” aku bertanya.

Wajah Shepley tampak sedih. “Dia sangat marah padaku.”

“Apa yang terjadi?”

“Aku marah padanya karena mendorongmu untuk minum sebanyak itu. Kupikir kita akan berakhir dengan membawamu ke rumah sakit. Satu hal mengarah ke hal lainnya, dan selanjutnya yang aku tahu kita sedang saling berteriak. Kita berdua mabuk, Abby. Aku mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku tarik kembali,” dia menggelengkan kepalanya, menunduk.

“Seperti apa?” tanyaku, marah.

“Aku menyebutnya sesuatu yang tidak aku banggakan lalu menyuruhnya pergi.”

“Kau membiarkannya pergi dari sini dalam keadaan mabuk? Apakah kau idiot?” kataku, lalu mengambil tasku.

“Tenang, Pidge. Dia sudah cukup merasa bersalah,” kata Travis.

Aku mengeluarkan ponselku dari tas, menghubungi nomor America.

“Hallo?” dia menjawab. Dia terdengar sangat kacau.

“Aku baru saja mendengarnya,” aku menghela nafas. “Apa kau baik-baik saja?” aku berjalan ke luar untuk mendapatkan privasi, dan sekali lagi melihat ke arah Shepley dengan tatapan marah.

“Aku baik-baik saja. Dia brengsek.” Kata-katanya kasar tapi aku bisa mendengar rasa sakit dalam suaranya. America ahli dalam menyembunyikan emosinya, dan dia dapat menyembunyikannya dari semua orang kecuali aku.

“Maafkan aku tidak pergi bersamamu.”

“kau sedang tidak bisa, Abby,” dia berkata dengan acuh.

“Kenapa kau tidak menjemputku sekarang? Kita bicarakan masalah ini.”

Dia bernafas ke arah telepon. “Aku tidak mau. Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya.”

“Aku akan menyuruhnya agar tetap di dalam kalau begitu.”

Dia terdiam cukup lama, lalu aku mendengar suara kunci di telepon. “Baiklah. Aku akan tiba dalam sepuluh menit.”

Aku masuk ke ruang tamu, mengaitkan tas di bahuku. Mereka mengamatiku membuka pintu untuk menunggu America, dan Shepley bergeser ke depan di atas sofa.

“Dia akan datang kemari?”

“Dia tidak ingin bertemu denganmu, Shep. Aku bilang padanya kalau kau akan tetap di dalam.”

Dia menghela nafas, dan menjatuhkan diri ke kursi. “Dia membenciku.”

“Aku akan bicara dengannya. Tapi sebaiknya kau punya cara yang hebat untuk minta maaf.”

Sepuluh menit kemudian, klakson berbunyi dua kali di luar, dan aku menutup pintu di belakangku.

Ketika aku tiba di dasar tangga, Shepley melewatiku dengan cepat menuju mobil Honda merah America, dan membungkuk untuk melihat ke dalam jendela mobil. Aku berhenti, melihat America mengumpat pada Shepley sambil melihat lurus ke depan. Dia menurunkan jendelanya, dan Shepley kelihatannya sedang menjelaskan, lalu mereka mulai berdebat. Aku masuk ke dalam untuk memberi mereka privasi.

“Pigeon?” Travis memanggil, berlari kecil menuruni tangga.

“Kelihatannya buruk.”

“Biarkan mereka menyelesaikannya. Ayo kita masuk,” dia berkata, jarinya meraih jariku dan menuntunku ke atas.

“Apakah seburuk itu?” aku bertanya.

Dia mengangguk. “Lumayan buruk. Mereka baru saja keluar dari masa bulan madu. Mereka akan menyelesaikannya.”

“Buat seseorang yang tidak pernah punya kekasih, kau tampak seperti tahu banyak tentang suatu hubungan.”

“Aku punya empat saudara laki-laki dan teman yang banyak,” dia berkata, menyeringai pada dirinya sendiri.

Shepley masuk ke dalam apartemen lalu membanting pintu di belakangnya. “Dia sangat tidak masuk di akal!”

Aku mencium Travis di pipi. “Itu tandaku.”

“Semoga berhasil,” Travis tersenyum.

Aku meluncur duduk di samping America, dan dia mendengus. “Dia sangat tidak masuk di akal!”

Aku tertawa, namun dia melotot ke arahku. “Maaf,” kataku, memaksa senyumku agar hilang.

Kami bersiap-siap untuk pergi dan America berteriak, menangis dan berteriak lagi. Kadang dia mengeluarkan kata-kata kasar yang ditujukan pada Shepley, seolah dia duduk di tempatku. Aku duduk dengan tenang, membiarkan dia mengatasinya dengan caranya sendiri.

“Dia menyebutku tidak bertanggung jawab! Padaku! Seperti aku tidak mengenalmu! Seperti aku tak pernah melihatmu merampok minuman keras milik ayahmu berharga ratusan dolar yang jumlahnya dua kali lipat. Dia tak tahu apa yang dia bicarakan! Dia tak tahu bagaimana kehidupanmu dulu! Dia tak tahu apa yang aku tahu, dan dia memperlakukanku seperti aku adalah anaknya, bukan kekasihnya!” Aku memegang tangannya namun dia menariknya menjauh. “Dia pikir kau yang akan menjadi alasan hubungan kami tidak akan berjalan dengan baik, tapi justru dia yang melakukannya sendiri. Dan berbicara tentang dirimu, apa yang kau pikirkan tadi malam bersama Parker?”

Pergantian topik pembicaraan yang tiba-tiba ini membuatku terkejut. “Apa maksudmu?”

“Travis mengadakan pesta untukmu, Abby, tapi kau malah pergi dan bercumbu dengan Parker. Dan kau heran kenapa orang lain membicarakan dirimu!”

“Tunggu sebentar! Aku memberitahu Parker bahwa kita tidak seharusnya di belakang sana. Apa masalahnya kalau Travis mengadakan pesta itu untuk aku atau bukan? Aku kan tidak berpacaran dengannya!”

America menatap lurus ke depan, menghembuskan udara dari hidungnya.

“Baiklah, Mare. Ada apa? kau marah padaku, sekarang?”

“Aku tidak marah padamu. Aku hanya tidak gaul dengan orang yang benar-benar idiot.”

Aku menggelengkan kepalaku, lalu melihat keluar jendela sebelum aku mengatakan sesuatu yang akan aku sesali...America selalu bisa membuatku merasa buruk saat dia menginginkannya.

“Apa kau benar-benar melihat apa yang terjadi?” tanyanya. “Travis berhenti bertarung. Dia tidak membawa wanita pulang sejak perek kembar dulu...belum membunuh Parker, dan kau mengkhawatirkan tentang apa yang dibicarakan orang lain. Kau tahu kenapa itu, Abby? Karena itu adalah kebenaran!”

Aku berpaling, menjulurkan leherku dengan pelan ke arahnya, mencoba untuk memberikan tatapan paling marah yang aku tahu padanya. “Ada apa denganmu?”

“kau berkencan dengan Parker, sekarang, dan kau sangat bahagia,” dia berkata dengan nada menghina. “Tapi kenapa kau tidak pulang ke asrama?”

“Karena aku kalah taruhan, kau tahu itu!”

“Yang benar saja, Abby! kau bicara tentang betapa sempurnanya Parker, kencanmu dengannya selalu sempurna, bicara dengannya berjam-jam di telepon, lalu kau tidur di samping Travis tiap malam. Kau melihat apa yang salah dengan situasi ini? Jika kau benar-benar menyukai Parker, semua barangmu sudah akan berada di asrama sekarang.”

Gigiku terkatup dengan rapat. “Kau tahu aku tidak pernah lari saat kalah taruhan, Mare.”

“Itu yang pikirkan,” dia berkata, memutar tangannya dia atas kemudi. “Travis adalah orang yang kau inginkan, sedangkan Parker hanyalah yang kau pikir kau butuhkan.”

“Aku tahu kelihatannya seperti itu, tapi—,”

“Kelihatan seperti itu oleh semua orang. Jadi jika kau tak suka dengan cara orang lain membicarakan dirimu—rubahlah. Ini bukan kesalahan Travis. Dia berubah 180 derajat untukmu. Kau yang dapat hadiah tapi Parker yang mendapatkan keuntungannya.”

“Seminggu yang lalu kau ingin membawaku pergi dan tidak akan pernah membiarkan Travis mendekatiku lagi! Sekarang kau membelanya?”

“Abigail! Aku tidak membelanya, bodoh! Aku justru menjagamu! Kalian berdua tergila-gila satu sama lain! Lakukan sesuatu tentang itu!”

“Bagaimana bisa kau berpikir aku harus bersamanya?” aku meratap. “Kau seharusnya menjauhkanku dari orang seperti dia!”

Dia menutup bibirnya rapat, jelas kehilangan kesabarannya. “Kau telah bersusah payah untuk menjauh dari ayahmu. Itu adalah satu-satunya alasan kau mempertimbangkan Parker! Dia bertolak belakang dengan Mick. Dan kau pikir Travis akan membawamu kembali ke tempat kau dulu berada. Dia bukan ayahmu, Abby.”

“Aku tidak bilang dia seperti ayahku, tapi itu membuatku dalam posisi harus menuruti segala kemauannya.”

“Travis tidak akan melakukan itu padamu. Kupikir kau meremehkan betapa berartinya dirimu untuknya. Jika saja kau memberitahunya—,”

“Tidak. Kita meninggalkan semua di belakang agar semua orang di sini tidak melihatku seperti mereka yang di Wichita. Kita fokus pada masalah yang ada saja dulu. Shep menunggumu.”

“Aku tidak ingin membicarakan Shep,” dia berkata, melaju pelan untuk berhenti di lampu merah.

“Dia menderita, Mare. Dia mencintaimu.”

Matanya penuh dengan air mata dan bibir bawahnya bergetar. “Aku tidak peduli.”

“Kau peduli.”

“Aku tahu,” dia berbisik, menyenderkan kepalanya ke bahuku.

Dia menangis sampai lampu berubah, lalu aku mencium kepalanya. “Lampu hijau.”

Dia duduk, mengelap hidungnya. “Aku sangat jahat padanya tadi. Kupikir dia tidak akan mau bicara padaku sekarang.”

“Dia akan bicara padamu. Dia tahu kau sedang kesal tadi.”

America mengusap wajahnya, lalu berputar arah pelan-pelan. Aku tadinya khawatir harus terus membujuknya dulu agar dia mau pulang bersamaku, dan Shepley sudah berlari di tangga sebelum America mematikan mesin mobilnya.

Dia menarik untuk membuka pintu mobil America lalu membantunya berdiri. “Maafkan aku, sayang. Aku harusnya mengurus urusanku sendiri, aku...aku mohon jangan pergi. Aku tidak tahu harus bagaimana tanpa dirimu.”

America memegang wajah Shepley lalu tersenyum. “Kau adalah seorang bajingan sombong, tapi aku tetap mencintaimu.”

Shepley menciumnya berkali-kali seolah sudah tidak bertemu dengannya selama berbulan-bulan, dan aku tersenyum karena berhasil melakukan tugasku. Travis berdiri di pintu masuk, menyeringai saat aku masuk apartemen. “Dan mereka hidup bahagia selamanya,” dia berkata, sambil menutup pintu di belakangku. Aku menjatuhkan diri ke sofa, dan dia duduk di sampingku, menarik kakiku ke atas pangkuannya.

“Apa yang ingin kau lakukan hari ini, Pidge?”

“Tidur. Atau istirahat...atau tidur.”

“Sebelumnya, bolehkah aku memberikan hadiah untukmu sekarang?”

Aku mendorong bahunya. “Astaga, kau memberikan aku hadiah?”

Mulutnya membentuk satu senyuman gugup. “Ini bukan gelang berlian, tapi kupikir kau akan menyukainya.”

“Aku akan sangat menyukainya, meskipun belum melihatnya.”

Dia menurunkan kakiku dari pangkuannya, lalu dia menghilang ke kamar Shepley. Aku mengangkat satu alisku saat aku mendengar dia bergumam, lalu dia keluar sambil memegang kotak. Dia menaruhnya di bawah di dekat kakiku, lalu berjongkok di belakangnya.

“Cepatlah, aku ingin melihatmu terkejut,” dia tersenyum.

“Cepat?” aku bertanya, membuka tutupnya.

Mulutku menganga, saat sepasang mata hitam besar melihat ke arahku.

“Anak anjing?” aku menjerit, mengeluarkannya dari kotak. Aku mengangkat mahluk kecil berbulu hitam tebal di depan wajahku, lalu dia menciumku dengan hangat dan basah di mulutku.

Travis berseri-seri, gembira. “Kau menyukainya?”

“Menyukainya? Aku sangat menyukainya! kau memberiku seekor anak anjing!”

“Itu anjing jenis Cairn Terrier. Aku harus menempuh perjalanan selama tiga jam untuk mengambilnya hari Kamis kemarin sepulang kuliah.”

“Jadi waktu kau bilang akan pergi bersama Shepley untuk membawa mobilnya ke bengkel…”

“Kami pergi mengambil hadiahmu,” dia mengangguk.

“Dia menggoyangkan ekornya.” Aku tertawa.

“Setiap wanita dari Kansas membutuhkan seekor Toto (Jenis anjing dari Kansas),” kata Travis, dia membantukku memegangi bola halus dan menaruhnya di atas pangkuanku.

“Dia memang mirip Toto! Aku akan memanggilnya Toto,” aku berkata sambil mengerutkan hidungku pada anak anjing yang sedang menggeliat.

“Kau bisa menyimpannya di sini. Aku akan merawatnya untukmu saat kau kembali ke asrama,” bibirnya membentuk senyuman yang dipaksakan, “Dan ini akan menjadi jaminanku agar kau datang berkunjung ketika satu bulan ini berakhir.”

Aku menutup rapat bibirku. ”Bagaimanapun aku akan tetap berkunjung, Trav.”

“Aku akan melakukan apapun untuk melihat senyuman di wajahmu itu saat ini.”

“kupikir kau butuh tidur siang, Toto. Ya, kau butuh,” aku mengelus Toto.

Travis mengangguk, menarikku ke atas pangkuannya lalu berdiri. “Ayo, kita tidur siang kalau begitu.”

Dia menggendongku ke kamar, menarik selimut lalu menurunkanku di tempat tidur. Merangkak di atasku, dia meraih untuk menutup tirai lalu tidur di bantalnya.

“Terima kasih untuk tetap bersamaku tadi malam,” kataku, membelai bulu halus Toto. “kau tidak perlu tidur di lantai kamar mandi.”

“Tadi malam adalah malam terbaik dalam hidupku.”

Aku berpaling untuk melihat ekspresinya. Dan ketika aku melihat bahwa dia serius, aku memandangnya dengan tatapan meragukan.

“Tidur di antara toilet dan tub diatas lantai yang dingin dengan seorang idiot yang terus muntah adalah salah satu malam terbaik dalam hidupmu? Itu menyedihkan, Trav.”

“Tidak, tinggal bersamamu saat kau mual lalu kau tertidur di atas pangkuanku adalah malam terbaikku. Memang tidak nyaman, aku tidak bisa tidur nyenyak, tapi aku merayakan ulang tahun kesembilan belasmu bersamamu, dan kau lumayan manis saat mabuk.”

“Aku yakin diantara saat aku muntah dan kau membersihkannya aku sangat menawan.”

Dia menarikku mendekat, membelai Toto yang berbaring di atas leherku. “kau satu-satunya wanita yang aku tahu yang tetap kelihatan cantik meskipun kepalamu di atas toilet. Itu berarti sesuatu.”

“Terima kasih, Trav. Aku tidak akan menyusahkanmu lagi.”

Dia berbaring di atas bantalnya. “Terserah. Tidak ada yang bisa memegangi rambutmu ke belakang sebaik aku.”

Aku cekikikan lalu menutup mataku, membiarkanku tenggelam dalam kegelapan.

***

“Bangun, Abby!” America berteriak, membangunkanku.

Toto menjilati pipiku. “Aku bangun! Aku bangun!”

“Kita ada kuliah setengah jam lagi!”

Aku melompat dari tempat tidur. “Aku sudah tidur selama...empat belas jam? Ya ampun?”

“Cepat mandi! Jika kau belum siap dalam sepuluh menit, aku akan meninggalkanmu!”

“Aku tidak punya waktu untuk mandi!” aku berkata sambil mengganti baju yang telah aku pakai tidur.

Travis menyangga kepalanya dengan tangan lalu tergelak. “Kalian menggelikan, dunia tidak akan kiamat kalau kalian terlambat masuk satu kelas.”

“Akan kiamat jika kau adalah America. Dia tidak pernah terlambat dan dia benci kalau harus terlambat.” Kataku sambil mengenakan kaos dan celana jinsku.

“Biarkan Mare pergi duluan, aku akan mengantarmu.”

Aku memasukan satu kakiku lalu kaki satu lagi, memakai sepatu bootku. “Tasku ada di mobilnya, Trav.”

“Terserah,” dia mengangkat bahu, “Asal jangan sampai terluka saat kau terburu-buru masuk kelas.” Dia mengangkat Toto, menggendongnya dengan satu tangan seperti membawa bola kecil, lalu membawanya keluar.

America mendorongku keluar pintu dan masuk ke mobil. “Aku tidak percaya dia memberimu anak anjing,” dia berkata sambil melihat ke belakang saat mundur keluar dari tempat parkir.

Travis berdiri di bawah sinar matahari pagi, hanya memakai celana boxer dan bertelanjang kaki, tangannya memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan. Dia memperhatikan Toto yang sedang mengendus rumput, membujuknya seperti seorang ayah yang bangga.

“Aku belum pernah memiliki anjing sebelumnya,” aku berkata. “Ini akan menyenangkan.”

America memandang Travis sebelum memasukan persneling mobilnya. “Lihat dia,” kata America sambil menggelengkan kepalanya. “Travis Maddox; Bapak rumah tangga.”

“Toto sangat lucu. Bahkan kau akan takluk di bawah tangannya.”

“kau tidak bisa membawanya ke asrama nanti, kau tahu. Kupikir Travis tidak memikirkan tentang itu.”

“Travis bilang dia akan memeliharanya di apartemen.”

Dia menarik ke atas satu alisnya. “Tentu saja. Travis selalu berpikir ke depan, aku salut padanya,” America berkata, sambil menggelengkan kepalanya lalu menginjak gas.

***

Aku terengah-engah, meluncur ke atas kursiku dengan sisa satu menit sebelum kuliah di mulai. Setelah adrenalin menghilang dari tubuhku, rasa berat dari koma pasca ulang tahun mengambil alih. America menyikutku ketika kelas bubar, dan aku mengikutinya ke kafetaria.

Shepley menunggu kami di pintu, dan aku langsung menyadari ada yang tidak beres.

“Mare,” Shepley berkata, memegang tangan America.

Travis berlari ke arah kami, memegang pinggangnya, dia mengambil nafas hingga agak tenang.

“Apa ada segerombolan wanita marah yang mengejarmu?” aku menggodanya.

Dia menggeleng. “Aku mencoba mengejarmu...sebelum kau…masuk,” dia menarik nafas.

“Apa yang terjadi?” America bertanya pada Shepley.

“Ada gosip,” Shepley mulai bercerita. “Semua orang mengatakan bahwa Travis membawa Abby pulang dan...detilnya berbeda-beda, tapi cukup buruk.”

“Apa? Serius?” aku berteriak.

America memutar matanya. “Siapa yang peduli, Abby? Semua orang sudah berspekulasi tentangmu dan Trav selama beberapa minggu ini. Ini bukan pertama kalinya seseorang menuduh kalian berdua telah tidur bersama.”

Travis dan Shepley saling pandang.

“Ada apa?” kataku. “Ada sesuatu yang lainnya, kan?”

Shepley mengernyit. “Mereka bilang kau tidur dengan Parker di rumah Brazil, lalu kau membiarkan Travis...membawamu pulang, jika kau mengerti maksudku.”

Mulutku menganga. “Bagus! Jadi aku ayam kampus sekarang?”

Mata Travis menjadi gelap dan mulutnya tegang. ”Ini semua salahku. Jika itu orang lain, mereka tidak akan mengatakan hal itu tentangmu.” Dia melangkah masuk ke dalam kafetaria, tangannya mengepal.

America dan Shepley mengikutinya di belakang. “Semoga tidak ada orang yang cukup bodoh dan mengatakan sesuatu pada Travis.” America berkata.

“Atau pada Abby,” Shepley menambahkan.

Travis duduk jauh beberapa kursi di seberang tempat dudukku, melamun sambil menatap roti lapisnya. Aku menunggunya melihat ke arahku, ingin memberikan senyuman yang menenangkannya. Travis memiliki reputasi, dan aku membiarkan Parker membawaku ke lorong.

Shepley menyikutku saat aku memandangi sepupunya. “Dia hanya merasa tidak enak. Mungkin dia mencoba untuk meredakan gosip itu.”

“kau tidak harus duduk jauh di sana, Trav. Ayo, duduk di sini,” aku berkata, menepuk tempat kosong di depanku.

“Aku dengar pesta ulang tahunmu sangat berkesan, Abby,” kata Chris Jenks sambil melemparkan sepotong daun selada ke dalam piring Travis.

“Jangan macam-macam dengannya, Jenks,” Travis memperingatkan, menatapnya tajam.

Chris tersenyum, mengangkat tulang pipinya, pipinya yang berwarna pink. “Aku dengar Parker sangat marah. Dia bilang dia mampir ke apartemenmu kemarin, lalu melihatmu dan Travis masih berada di tempat tidur.”

“Mereka sedang tidur siang, Chris,” America menyeringai.

Mataku langsung menatap Travis. “Parker mampir?”

Dia bergerak dengan tidak nyaman di kursinya. “Aku tadi akan memberitahumu.”

“Kapan?” aku membentak.

America berbisik di telingaku. “Parker mendengar gosip itu, lalu datang untuk menanyakannya secara langsung padamu. Aku mencoba untuk menghentikannya, tapi dia menerobos masuk lalu...benar-benar salah paham.”

Aku meletakan sikuku si atas meja, sambil menutupi wajahku. “Ini semua semakin memburuk.”

“Jadi kalian tidak melakukan hal itu?” Chris bertanya. “Sialan, itu menyebalkan. Padahal aku sudah berpikir Abby sangat cocok untukmu setelah semua itu, Trav.”

“Sebaiknya kau berhenti, sekarang, Chris,” Shepley memperingatkan.

”Jika kau tidar tidur dengannya, keberatan jika aku yang mencobanya?” kata Chris, cekikikan bersama teman satu timnya.

Wajahku memerah karena malu, namun lalu America berteriak di dekat telingaku karena melihat reaksi Travis melompat dari tempat duduknya. Dia meraih dari atas meja, memegang leher Chris dengan satu tangan, dan tangan satu memegang bajunya. Si pemain gelandang di tim football itu terjatuh dari tempat duduknya, terdengar banyak suara kaki kursi yang bergesekan dengan lantai saat semua orang berdiri untuk melihat. Travis menonjok wajahnya berkali-kali, sikunya diangkat tinggi di udara sebelum dia mendaratkan setiap tinjunya. Hanya satu yang bisa Chris dapat lakukan yaitu melindungi wajahnya dengan tangan.

Tidak ada seorangpun yang menyentuh Travis. Dia sudah di luar kendali, dan reputasinya membuat semua orang takut untuk menghalanginya. Para pemain football hanya menunduk dan meringis saat mereka menyaksikan temannya diserang tanpa ampun di lantai.

“Travis!” Aku berteriak, berlari mengitari meja.

Ketika akan memukul lagi, Travis menahan tinjunya lalu melepaskan bajunya Chris, membiarkannya jatuh ke lantai. Travis terengah-engah saat melihat ke arahku; aku belum pernah melihatnya begitu menakutkan. Aku menelan ludah dan mundur selangkah ketika Travis menabrakku di bahu saat dia melewatiku.

Aku melangkah untuk mengikutinya, tapi America mencegahnya dengan memegang tanganku. Shepley mencium America lalu mengikuti sepupunya keluar.

“Ya Tuhan,” America berbisik.

Kami berpaling dan melihat semua temannya Chris mengangkatnya dari lantai, dan aku meringis saat melihat wajahnya yang merah dan bengkak. Darah keluar dari hidungnya, dan Brazil memberinya tisu yang ada di atas meja.

“Dasar orang sinting gila!” Chris mengerang, duduk di atas kursi sambil memegang wajahnya. Dia menatapku, lalu. “Maafkan aku, Abby. Aku hanya bercanda.”

Aku tidak menjawabnya. Aku tidak dapat menjelaskan apa yang baru saja terjadi.

“Dia tidak tidur dengan salah satu dari mereka,” America berkata.

“kau tidak pernah tahu kapan harus menutup mulut, Jenks,” kata Brazil dengan kesal.

America menarik tanganku. “Ayo kita pergi.”

Dia terburu-buru sambil menarikku ke dalam mobil. Ketika dia memasukan persneling, aku memegang pinggangnya. “Tunggu! Kita akan kemana?”

“Kita akan ke apartemen Shepley. Aku tidak ingin meninggalkannya berdua dengan Travis. kau tadi lihat dia, kan? Dia benar-benar lepas kendali!”

“Well, aku tidak ingin berada di dekatnya juga!”

America memandangku tidak percaya. “Sangat terlihat jelas ada sesuatu yang mengganggunya. kau tidak ingin mengetahuinya apa itu?”

“Rasa untuk menjaga diriku lebih besar dari rasa penasaranku saat ini, Mare!”

“Satu-satunya yang membuatnya berhenti hanyalah suaramu, Abby. Dia akan mendengarkanmu. kau harus bicara dengannya.”

Aku menghela nafas dan melepaskan pinggangnya, duduk di kursiku. “Baiklah, ayo kita pergi.”

***

Kita masuk ke tempat parkir, America melaju dengan pelan dan berhenti diantara mobil Shepley dan motor Travis. Dia berjalan menuju tangga, meletakkan tangan di pinggangnya dengan cara yang dramatis.

“Cepat, Abby!” America memanggil, membuatku bergerak mengikutinya.

Dengan ragu, aku mengikutinya, langkahku terhenti saat melihat Shepley menuruni tangga untuk berbicara dengan pelan di telinga America. Dia menatapku, menggelengkan kepalanya lalu berbisik di telinga America lagi.

“Ada apa?” aku bertanya.

“Shep pikir...,” America gelisah, “Shep pikir bukan ide yang bagus kalau kita masuk sekarang. Travis masih sangat marah.”

“Maksudmu dia pikir aku tidak seharusnya masuk.” Aku berkata. America mengangkat bahu dengan malu, lalu memandang Shepley.

Shepley menyentuh bahuku. “Kau tidak melakukan kesalahan, Abby. Dia hanya...dia hanya tidak ingin bertemu denganmu saat ini.”

“Jika aku tidak melakukan kesalahan, lalu mengapa dia tidak ingin bertemu denganku?”

“Aku tak tahu kenapa; dia tidak memberitahuku. Kupikir dia merasa malu karena lepas kendali di depanmu.”

“Dia lepas kendali di depan semua orang di kafetaria! Apa hubungannya denganku?”

“Lebih dari yang kau pikir,” Shepley berkata, menghindari tatapan mataku.

Aku memandang mereka beberapa saat, lalu mendorong mereka untuk lewat, berlari menaiki tangga. Aku langsung melewati pintu dan melihat ruang tamu yang kosong. Pintu kamar Travis tertutup rapat, maka aku mengetuk pintu.

“Travis? Ini aku, buka pintunya.”

“Pergilah, Pidge,” dia bicara dari balik pintu.

Aku mengintip ke dalam dan melihat dia sedang duduk di ujung tempat tidur, menghadap ke jendela. Toto menggaruk punggungnya, tidak merasa senang karena di abaikan.

“Apa yang terjadi pada dirimu, Trav?” aku bertanya. Dia tidak menjawab, maka aku berdiri di sampingnya, melipat tangan di dadaku. Wajahnya tegang, tapi ekspresinya sudah tidak semenakutkan seperti tadi di kafetaria. Dia kelihatan sedih. Sangat putus asa.

“kau tidak akan membicarakan ini denganku?”

Aku menunggu, namun dia tetap diam. Aku berbalik menuju pintu dan akhirnya dia menghela nafas. “Kau ingat kemarin saat Brazil bicara yang tidak-tidak tentangku dan kau langsung membelaku? Well...ini kejadiannya seperti itu. Namun aku sedikit keterlaluan.”

“Kau sudah marah sebelum Chris mengatakan sesuatu,” aku berkata, kembali duduk di sampingnya di atas tempat tidur.

Dia kembali menatap jendela. “Aku serius dengan yang aku katakan tadi. kau harus pergi, Pidge. Tuhan tahu aku tidak bisa pergi darimu.”

Aku menyentuh lengannya. “Kau tidak serius ingin aku pergi.”

Wajah Travis kembali tegang, lalu memelukku. Dia terdiam beberapa saat lalu mencium keningku, menekan pipinya ke pelipisku. “Tidak peduli seberapa kerasnya aku berusaha. kau akan membenciku setelah aku memberitahumu.”

Aku memeluknya. “Kita harus bersahabat. Aku tak akan menerima kata tidak sebagai jawaban.”

Alisnya naik lalu dia memelukku lagi dengan kedua tangannya, sambil tetap melihat ke jendela. “Aku memandangimu saat kau tidur. Kau selalu terlihat sangat damai. Aku tak pernah merasa damai seperti itu. Aku selalu merasa marah dan kesal yang bergejolak di dalam diriku—kecuali saat aku melihatmu yang sedang tertidur. Itu yang sedang aku lakukan saat Parker masuk,” dia melanjutkan. “Aku sudah bangun dan dia masuk, namun hanya berdiri di pintu dengan ekspresi terkejut di wajahnya. Aku tahu apa yang dia pikirkan, tapi aku tidak meluruskannya. Aku tidak menjelaskan karena aku ingin dia berpikir telah terjadi sesuatu di antara kita. Sekarang seluruh kampus berpikir kau melakukannya dengan kami berdua dalam satu malam yang sama.”

Toto menyeruduk ke pangkuanku, dan aku mengusap telinganya. Travis meraih untuk membelainya sekali, lalu memegang tanganku. “Maafkan aku.”

Aku mengangkat bahu. “Jika dia percaya gosip itu, itu salahnya sendiri.”

“Sulit untuk berpikir hal lain saat dia melihat kita di atas tempat tidur.”

“Dia tahu aku tinggal bersamamu. Lagi pula aku masih berpakaian lengkap.”

Travis menghela nafas. “Dia mungkin sudah terlalu kesal untuk menyadarinya. Aku tahu kau sangat menyukainya, Pidge. Aku seharusnya menjelaskan padanya. Aku berhutang begitu banyak padamu.”

“Itu bukan masalah.”

“kau tidak marah?” dia bertanya, terkejut.

“Itukah yang tadi membuatmu kesal? kau berpikir aku akan marah padamu setelah kau memberitahuku yang sebenarnya?”

“Seharusnya kau marah. Jika ada seseorang yang menjatuhkan reputasiku, aku akan sangat marah.”

“Kau tidak peduli tentang reputasi. Apa yang terjadi dengan Travis yang tidak peduli dengan apa yang orang lain pikirkan?” aku meledek sambil menyikutnya.

“Itu sebelum aku melihat ekspresi wajahmu saat mendengar apa yang dibicarakan semua orang. Aku tak ingin kau tersakiti karena aku.”

“kau tidak akan pernah melakukan sesuatu yang akan menyakitiku.”

“Aku lebih baik memotong tanganku daripada melakukannya.” Dia menghela nafas.

Dia meletakan pipinya di rambutku. Aku tidak menjawab, dan Travis sepertinya sudah mengatakan semua yang ingin dia katakan, jadi kita hanya duduk dan terdiam. Sesekali Travis memelukku dengan erat di sampingnya. Aku berpegangan pada kaosnya, tak tahu harus bagaimana lagi untuk membuatnya merasa lebih baik selain hanya membiarkannya memelukku.

Ketika matahari tenggelam, aku mendengar ketukan di pintu. “Abby?” suara America terdengar pelan di balik pintu.

“Masuklah, Mare,” Travis menjawab.

America masuk bersama dengan Shepley, dan dia tersenyum melihat kami yang berpegangan tangan. “Kita akan pergi makan. Kalian mau makan di Pei Wei?”

“Aahh…makanan Asia lagi, Mare? Serius?” Travis bertanya.

Aku tersenyum. Dia sudah terdengar seperti dirinya lagi.

America menyadarinya juga. “Ya, serius. Kalian ikut atau tidak?”

“Aku sangat lapar.” kataku.

“Tentu saja kau lapar, kau tidak sempat makan siang,” Travis berkata sambil merengut. Dia berdiri, mengajakku bersamanya. “Ayo kita pergi cari makan untukmu.”

Dia terus memelukku dan tidak melepaskannya hingga kita tiba di Pei Wei.

Sesaat setelah Travis pergi ke kamar mandi, America mendekat. “Jadi? Apa yang dia katakan?”

“Tidak mengatakan apa-apa.” aku mengangkat bahu.

Dia mengangkat alisnya. “kau berada di kamarnya selama dua jam. Dia tidak mengatakan apapun?”

“Dia biasanya begitu kalau sedang marah.” Shepley berkata.

“Dia pasti mengatakan sesuatu.” America mendesak.

“Dia bilang dia agak kelewat batas dalam membelaku, dan bahwa dia tidak memberitahu Parker yang sebenarnya ketika dia melihat kami. Hanya itu,” kataku sambil merapikan botol garam dan merica.

Shepley menggelengkan kepala dan menutup matanya.

“Kenapa, sayang?” America berkata, duduk dengan tegak.

“Travis..,” dia menghela nafas, memutar matanya. “Lupakan saja.”

Ekspresi America keras kepala. “Oh tidak, kau tidak bisa—,”

Dia berhenti saat Travis duduk dan mengayunkan tangannya di belakangku. “Sialan! Makanannya belum datang juga?”
***

Kami tertawa dan bercanda hingga restoran tutup, lalu kita masuk ke dalam mobil untuk pulang. Shepley menggendong America ke atas di atas punggungnya, namun Travis tetap diam di belakang, menarikku agar aku tidak mengikuti mereka ke atas. Dia melihat ke atas memperhatikan mereka hingga mereka menghilang di belakang pintu, lalu memberiku senyuman menyesal. “Aku berhutang permintaan maaf hari ini, jadi maafkan aku.”

“kau sudah meminta maaf. Itu tidak apa-apa.”

“Belum, tadi aku meminta maaf karena Parker. Aku tidak ingin kau berpikir aku adalah orang gila yang suka menyerang orang lain hanya karena masalah kecil,” dia berkata, “tapi aku berhutang permintaan maaf karena aku tidak membelamu untuk alasan yang tepat.”

“Dan itu adalah…” aku mendesak.

“Aku menyerangnya karena dia bilang dia ingin menjadi yang berikutnya, bukan karena dia mengganggumu.”

“Menyindir itu ada batasnya, banyak alasan untukmu untuk membelaku.”

“Itu maksudku. Aku kesal karena aku menganggap dia ingin tidur denganmu.”

Setelah memproses apa yang Travis maksudkan, aku menarik ujung kaosnya lalu meletakan kepalaku di dadanya. “kau tahu? Aku tak peduli,” kataku, menatap wajahnya. “Aku tak peduli apa yang orang lain katakan, atau saat kau kehilangan kendali, atau mengapa kau merusak wajah Chris. Hal yang tak ingin aku miliki adalah reputasi yang buruk, namun aku lelah harus menjelaskan hubungan persahabatan kita pada semua orang. Persetan dengan mereka.”

Mata Travis melembut, dan ujung bibirnya terangkat ke atas. “Persahabatan kita? Kadang aku bertanya kapan kau benar-benar mau mendengarkanku.”

“Apa maksudmu?”

“Ayo kita masuk. Aku lelah.”

Aku mengangguk. Dan dia memelukku di sampingnya sampai kita masuk ke apartemen. America dan Shepley sudah masuk ke dalam kamar tidur mereka, lalu aku mandi. Travis dan Toto menunggu di luar saat aku mengenakan piyamaku, dalam waktu setengah jam, kami berdua sudah berada di tempat tidur.

Aku membaringkan kepala di atas tanganku, menghembuskan nafas panjang, mengeluarkan hembusan udara keluar. “Hanya tinggal dua minggu. Apa yang akan kau lakukan untuk drama ketika aku pindah kembali ke asrama?”

“Aku tak tahu,” dia berkata. Aku bisa melihat garis tersiksa di wajahnya, meskipun di dalam kegelapan.

“Hey,” aku menyentuh tangannya. “Aku hanya becanda.”

Aku menatapnya lama, bernafas, berkedip dan berusaha untuk tenang. Dia sedikit gelisah lalu melihat ke arahku. “Kau percaya padaku, Pidge?”

“Ya, kenapa?”

“Kemarilah,” dia berkata, menarikku mendekat ke arahnya. Aku menjadi tegang beberapa saat sebelum membaringkan kepalaku di atas dadanya. Apapun yang terjadi padanya, dia membutuhkanku di dekatnya, dan aku merasa tidak keberatan walaupun aku menginginkannya. Terasa sangat tepat berbaring di sampingnya.
***




http://ayobacanovel.blogspot.co.id/2015/11/beautiful-disaster-bab-9.html

http://ayobacanovel.blogspot.com/2014/10/beautiful-disaster-bab-7.html