Jumat, 20 November 2015

ANGEL AND DEMON BAB 9-10

BAB 9


MAYAT YANG TERGELETAK di hadapan Langdon tampak mengerikan. Mendiang Leonardo Vetra terbaring terlentang, ditelanjangi, dan kulitnya berwarna kelabu kebiruan. Tulang lehernya mencuat ke luar di tempat yang patah, dan kepalanya di putar ke belakang dengan sempurna, dan mengarah ke arah yang salah. Wajahnya tidak terlihat karena terpelintir mencium lantai.
Lelaki itu terbaring di atas genangan urin bekunya, rambut di sekitar kemaluannya yang membeku berserabut karena bunga es.

Untuk melawan perasaan mualnya, Langdon mengalihkan tatapannya ke arah dada korban. Walau Langdon telah melihat luka simetris itu lusinan kali di kertas faks yang diterimanya, luka bakar itu tampak sangat meyakinkan ketika melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Daging yang terkelupas dan terpanggang itu betul-betul menggambarkan ... simbol yang terbentuk dengan sempurna.

Langdon bertanya-tanya apakah rasa dingin yang menggigit ini hanya berasal dari pengatur udara atau karena keheranannya yang luar biasa pada apa yang dilihatnya sekarang.

Jantungnya berdebar ketika dia berjalan mengitari mayat itu sambil membaca tulisan yang tertera di dadanya dari arah atas untuk menegaskan kejeniusan simetris yang dilihatnya. Sekarang, simbol itu terlihat luar biasa ketika dia melihatnya secara langsung.

”Pak Langdon?

Langdon tidak mendengarnya. Dia sedang berada di dunia lain ... dunianya, bagiannya. Ini adalah dunia tempat sejarah, mitos dan fakta saling bertabrakan, dan membanjiri benaknya.

”Pak Langdon? Mata Kohler menyelidik penuh harap.

Langdon tidak mengalihkan pandangannya dari mayat itu. Perhatiannya sekarang semakin dalam dan sangat terfokus. ”Apa saja yang Anda ketahui dari kata ini? tanyanya kemudian.

Hanya yang sudah kubaca dari situs Anda. Kata Illuminati berarti mereka yang tercerahkan. Itu adalah nama sebuah persaudaraan kuno.

Langdon mengangguk. ”Anda pernah mendengar nama itu sebelumnya?

Tidak sampai aku melihatnya tercap pada tubuh Pak Vetra.

”Jadi Anda membuka internet untuk mencari keterangan tentang itu?

Ya.

Dan kata itu menghasilkan ratusan petunjuk tentunya.

Ribuan, kata Kohler.  Namun situs Anda rujukan ke Harvard, Oxford, sebuah penerbit yang mempunyai reputasi baik dan sebuah daftar dari penerbit lain yang berhubungan. Sebagai seorang ilmuwan, saya tahu mutu informasi yang baik berasal dari sumber yang baik. Informasi Anda tampak meyakinkan.

Mata Langdon masih terpaku pada mayat itu.

Kohler tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya menatap dan menunggu Langdon untuk memberikan keterangan mengenai apa yang dilihatnya sekarang.

Langdon mendongak, dan melihat ke sekeliling ruangan yang membeku itu. ”Mungkin kita dapat membicarakannya di tempat yang lebih hangat?

Kamar ini baik-baik saja. Tampaknya Kohler terbiasa dengan suhu rendah. ”Kita berbicara di sini saja.

Langdon mengerutkan keningnya. Sejarah Illuminati tidak bisa dibilang sederhana. Aku akan mati beku saat mencoba menjelaskannya. Langdon lalu menatap cap itu sekali lagi, dan merasa bertambah kagum.

Walaupun kisah tentang lambang Illuminati merupakan legenda dalam simbologi modern, belum ada ilmuwan yang betulbetul melihatnya. Berbagai dokumen kuno menjelaskan simbol itu sebagai sebuah ambigramambi berarti ”bisa dua-duanya dan itu maksudnya bisa dilihat dari dua sisi. Dan walaupun ambigram sering terlihat di berbagai simbol seperti pada swastika, yin yang,
bintang Yahudi, dan salib sederhana, pemikiran bahwa sebuah kata dapat diukir menjadi sebuah ambigram tampaknya sangat tidak mungkin. Para ahli simbologi modern sudah bertahun-tahun mencoba untuk menulis kata Illuminati dengan gaya simetris, tetapi mereka selalu gagal. Umumnya para ilmuwan sekarang memutuskan bahwa simbol itu hanyalah sebuah mitos belaka.

"Jadi, siapakah orang-orang Illuminati itu?”   tanya  Kohler mendesak.

Ya, pikir Langdon. Siapa mereka sebenarnya? Dia lalu memulai ceritanya.

Sejak awal peradaban, jelas Langdon, sebuah jurang dalam telah terbentuk di antara ilmu pengetahuan dan agama. Ilmuwan-ilmuwan yang berani bicara seperti Copernicus—”

Dibunuh, sela Kohler. ”Dibunuh oleh gereja karena mereka menguak kebenaran ilmiah. Agama selalu menganiaya ilmu pengetahuan.

Ya. Tetapi pada tahun 1500-an, sebuah kelompok di Roma melawan gereja. Beberapa orang Italia yang sangat terpelajar, seperti para ahli fisika, matematika, dan ahli astronomi, diam-diam mulai mengadakan pertemuan untuk berbagi keprihatinan terhadap pengajaran gereja yang tidak benar. Mereka takut kalau monopoli gereja pada kebenaran akan mengancam pencerahan ilmuwan di seluruh dunia. Mereka mendirikan sebuah think tank, lembaga pemikir pertama di dunia, dan menyebut diri mereka sendiri sebagai orang-orang yang tercerahkan.

Kelompok Illuminati itu.

Ya, sahut Langdon. Orang-orang paling pandai di Eropa ... mengabdi untuk mencari kebenaran ilmiah.

Kohler terdiam.

Tentu saja kelompok Illuminati itu diburu dengan kejam oleh Gereja Katolik. Hanya karena mereka dapat bersembunyi dengan baik, mereka bisa selamat. Pemikiran mereka pun tersebar ke seluruh ilmuwan bawah tanah, dan persaudaraan Illuminati berkembang serta melibatkan seluruh ilmuwan di seluruh Eropa. Para ilmuwan itu mengadakan pertemuan secara teratur di Roma di sebuah markas yang sangat dirahasiakan yang mereka sebut Gereja Illuminati.

Kohler terbatuk dan menggerakkan tubuhnya.

Beberapa anggota kaum Illuminati, lanjut Langdon, ingin melawan tirani gereja dengan kekerasan, tetapi anggota yang paling mereka hormati membujuk mereka untuk tidak melakukan itu. Dia adalah orang yang cinta damai dan seorang ilmuwan yang paling ternama dalam sejarah.

Langdon yakin Kohler tahu nama ilmuwan itu. Bahkan orang awam pun mengenali seorang ahli astronomi yang bernasib malang. Ilmuwan itu ditangkap dan hampir dihukum oleh gereja karena meneatakan bahwa matahari, dan bukan bumi, adalah pusat tata surya. Walau fakta yang dikemukakannya itu tidak dapat disangkal, ahli astronomi tersebut tetap di hukum berat karena secara tidak langsung mengatakan bahwa Tuhan menempatkan manusia di tempat lain selain di pusat semesta-Nya.

Namanya Galileo Galilei, kata Langdon. Kohler mendongak. ”Galileo?
Ya. Galileo adalah seorang Illuminatus. Dan dia juga seorang Katolik yang taat. Dia berusaha untuk memperlunak pemikiran gereja terhadap ilmu pengetahuan dengan mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak mengecilkan keberadaan Tuhan, tetapi malah memperkuatnya. Dia pernah menulis ketika dia memerhatikan planet-planet yang berputar melalui teleskopnya, dia dapat mendengar suara Tuhan dalam musik alam semesta. Dia meyakinkan bahwa ilmu pengetahuan dan agama bukanlah musuh, tetapi rekanan—dua bahasa berbeda yang menceritakan sebuah kisah yang sama, kisah ten tang simetri dan keseimbangan ... surga dan neraka, malam dan siang, panas dan dingin, Tuhan dan setan. Ilmu pengetahuan dan agama keduanya bergembira bersama dalam simetri
Tuhan ... pertandingan tak pernah berakhir antara terang dan gelap. Langdon berhenti sejenak lalu menghentakkan kakinya supaya tetap hangat.

Kohler hanya duduk di atas kursi rodanya dan memerhatikan Langdon.

Celakanya, lanjut Langdon,   ”penggabungan ilmu  pengetahuan dan agama tidak diinginkan gereja.

Tentu saja tidak, sela Kohler. ”Pengabungan itu akan menghancurkan apa yang sudah dikatakan gereja sebagai satusatunya kendaraan yang dapat digunakan manusia untuk mengerti luhan. Jadi gereja mengadili Galileo sebagai orang yang sesat, diputus bersalah dan dijatuhi hukuman tahanan rumah seumuhidup. Saya paham benar sejarah ilmu pengetahuan, Pak Langdon. Tetapi itu sudah terjadi berabad-abad yang lalu. Apa hubungannya dengan Leonardo Vetra?

Pertanyaan bagus. Langdon tidak menghiraukannya. ”Penangkapan Galileo membuat kaum Illuminati bergejolak. Tapi mereka membuat kesalahan sehingga gereja dapat mengenali empat orang anggota Illuminati. Mereka kemudian ditangkap dan diinterogasi. Tetapi keempat ilmuwan itu tidak mengatakan apa-apa ... walau pun mereka disiksa.

Disiksa?

Langdon mengangguk. ”Mereka dicap hidup-hidup di dada mereka dengan simbol salib.” Mata Kohler membelalak, dia menatap mayat Vetra dengan tatapan gelisah.
Setelah itu para ilmuwan dibunuh dengan sadis, mayat mereka di buang di jalan-jalan di Roma sebagai peringatan bagi yang lainnya supaya tidak bergabung dengan kaum Illuminati. Karena serangan gereja yang begitu gencar, anggota Illuminati yang masih tersisa akhirnya melarikan diri dari Italia.

Langdon berhenti sesaat. Dia memandang mata Kohler yang menatap tanpa ekspresi. ”Kaum Illuminati bergerak di bawah tanah dan mulai bergabung dengan para pelarian lainnya yang berusaha menyelamatkan diri dari aksi pembersihan yang dilakukan gereja. Mereka adalah para penganut aliran mistik, ahli kimia, pengikut ilmu gaib, dan orang-orang Muslim dan Yahudi. Selama bertahuntahun, Illuminati menambah anggotanya. Sebuah Illuminati baru pun muncul. Kelompok Illuminati yang lebih gelap. Kelompok Illuminati yang sangat anti-Kristen. Mereka menjadi begitu kuat, mengadakan upacara-upacara misterius, kerahasiaan yang sangat tertutup, dan bersumpah untuk bangkit lagi pada suatu hari untuk membalas dendam pada Gereja Katolik. Kekuatan mereka berkembang sehingga gereja menganggap mereka sebagai suatu gerakan anti- Kristen yang paling berbahaya di bumi ini. Vatikan mengolok mereka sebagai persaudaraan Shaitan.

Shaitan?’

Itu istilah dalam Islam. Artinyamusuh... musuh Tuhan. C reia sengaja memilih nama dari istilah Islam karena itu adalah bahasa yang mereka anggap kotor. Langdon meneruskan dengan ragu-ragu. Shaitan adalah asal kata untuk kata bahasa Inggris ..Satan.

Kegelisahan terlintas di wajah Kohler.

Suara Langdon terdengar muram. ”Pak Kohler, saya tidak tahu bagaimana atau kenapa tanda itu tercetak di dada Vetra ... tetapi Anda sedang melihat simbol dari sebuah perkumpulan setan terkuat di dunia yang sudah lama tak tentu rimbanya.


***



BAB 10


LORONG ITU SEMPIT dan lengang. Sekarang si Hassassin berjalan dengan cepat, mata hitamnya memandang dengan waspada. Sesaat sebelum sampai ke tempat yang ditujunya, kata- kata perpisahan Janus bergema di benaknya. Fase keduakan segera mulai. Beristirahatlah.

Si Hassassin menyeringai. Dia sudah tidak tidur sepanjang malam, tetapi tidur adalah pilihan terakhirnya. Tidur adalah pekerjaan orang lemah. Dia seorang pejuang seperti nenek moyangnya dahulu, dan bangsanya tidak pernah tidur begitu perang dimulai. Genderang perang jelas sudah ditabuh, dan dia mendapat kehormatan untuk memulainya. Kini dia hanya memiliki waktu selama dua jam untuk merayakan kejayaannya sebelum kembali bekerja.

Tidur? Ada cam yang jauh lebih baik untuk bersantai .... oeleranya pada kesenangan duniawi merupakan sesuatu yang tfurunkan oleh nenek moyangnya.  Generasi sebelumnya selalu menghibur diri dengan mengisap hashish,  tetapi dia lebih me- yukai jenis hiburan yang lain.  Dia bangga pada  tubuhnya, mesin pembunuh yang kuat dan dia tidak sudi untuk mengotorinya dengan narkotika. Dia memiliki ketergantungan pada sesuatu yang lebih baik daripada obat bius ... hadiah yang jauh lebih sehat dan memuaskan.

Merasakan gairah yang berkembang dalam tubuhnya, si Hassassin pun bergerak lebih cepat di jalan sempit itu. Dia sampai di depan sebuah pintu yang berbentuk tidak biasa lalu membunyikan belnya. Jendela intip di pintu itu terbuka dan dua mata berwarna cokelat lembut memandangnya untuk menaksir penampilannya. Pintu pun akhirnya terbuka

Selamat datang, sapa seorang perempuan dengan pakaian yang apik. Dia mengantar si Hassassin ke ruang duduk yang dihiasi oleh perabotan mahal dengan lampu yang temaram. Tercium wangi parfum dan pengharum ruangan yang mahal. Kapan pun kamu siap. Perempuan itu memberinya sebuah album foto. ”Panggil aku jika kamu sudah menentukan pilihanmu. Perempuan itu pun menghilang.

Si Hassassin tersenyum.

Ketika dia duduk di atas sofa besar yang empuk dan meletakkan album foto itu dipangkuannya, dia merasa gairahnya berputar. Walau bangsanya tidak merayakan Natal, dia bisa membayangkan seperti inilah perasaan seorang anak Kristen ketika duduk di depan setumpukan hadiah Natal dan ingin menemukan keajaiban di dalam hadiah-hadiah itu. Dia membuka album itu dan memerhatikan foto-foto yang terdapat di sana dengan seksama. Fantasi seksual sepanjang hidupnya hidup kembali dalam benaknya.

Marisa. Seorang dewi Italia. Berapi-api. Sophia Loren muda.

Sachiko. Seorang geisha Jepang. Luwes. Keahliannya tidak diragukan.

Kanara. Gadis berkulit hitam yang luar biasa. Bertubuh kencang. Eksotis.

Dia meneliti seluruh foto dalam album itu sebanyak dua kali lalu memutuskan pilihannya. Setelah itu dia menekan sebuah tombol yang terletak di atas meja yang berada di sampingnya.

Reberapa  saat kemudian   perempuan  yang  tadi   menyambutnya uncul kembali. Lelaki itu menunjukkan pilihannya. Perempuan itu tersenyum. Ikuti aku.

Setelah menyelesaikan pembayaran, perempuan itu menelepon dengan suara lirih. Dia menunggu beberapa menit, lalu mengantar lelaki itu menaiki tangga putar dari pualam ke sebuah koridor mewah. ”Pintu keemasan di ujung itu, katanya. Seleramu mahal

juga.

Memang begitu, jawab lelaki itu dalam hati. Aku kan pecinta keindahan sejati.
Si Hassassin melangkah di sepanjang koridor seperti seekor macan kumbang menghampiri santapan yang sudah lama dinantikannya. Ketika dia tiba di ambang pintu, dia tersenyum pada dirinya sendiri. Pintu itu sudah terbuka sedikit seperti menyambutnya. Dia mendorongnya dan pintu itu pun terbuka dengan mudahnya.

Ketika dia melihat pilihannya, dia tahu dia telamemilih dengan tepat. Perempuan itu tepat seperti yang dikehendakinya ... telanjang, terbaring terlentang, kedua lengannya terikat di kepala tempat tidur dengan pita beledu tebal.

Lelaki itu berjalan mendekat dan mengusapkan jarinya yang berwarna gelap di atas perut berkulit putih dan mulus itu. Aku sudah membunuh orang kemarin malam, katanya dalam hati. Kamu adalah hadiah untukku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar