Senin, 16 November 2015

BEAUTIFUL DISASTER - BAB 10

WAJAH TANPA EKSPRESI


Dua meja di depan, satu meja di belakang. America dan Shepley hampir tidak terlihat dari tempat aku duduk, dan aku membungkuk, melihat Travis menatap kursi kosong tempat aku biasa duduk sebelum dia duduk di ujung meja. Aku merasa konyol karena bersembunyi, tapi aku merasa belum siap untuk duduk di hadapannya selama satu jam penuh. Ketika aku telah menghabiskan makananku, aku mengambil nafas panjang dan melangkah keluar ke arah Travis yang sedang menghabiskan rokoknya.

Aku telah menghabiskan sepanjang malam berusaha untuk membuat satu rencana yang akan membawa kami pada keadaan sebelumnya. Jika aku menganggap pertemuan kami seperti dia menganggap seks adalah hal yang biasa, aku akan mempunyai kesempatan yang lebih baik. Semua rencanaku beresiko akan kehilangan dia, tapi aku harap ego lelakinya yang besar akan memaksanya untuk menerima itu seperti hal yang biasa juga.

“Hai,” aku tersenyum.

Dia menyeringai. “Hai. Kupikir kau sedang makan siang.”

“Aku buru-buru, harus belajar,” aku mengangkat bahu, berusaha sebaik mungkin terlihat biasa.

“Butuh bantuan?”

“Itu mata kuliah Kalkulus. Kupikir aku bisa mengatasinya.”

“Aku bisa datang hanya untuk memberikan bantuan moral.” dia tersenyum, memasukan tangannya ke dalam saku. Ototnya yang kekar di tangannya menjadi tegang karena melakukan itu, dan memikirkannya meregang ketika dia mendorong dirinya masuk kedalam diriku berputar kembali dengan jelas di dalam kepalaku.

“Ehm..apa?” aku bertanya, bingung karena pikiran erotis yang tiba-tiba terlintas di pikiranku.

“Apakah kita harus berpura-pura yang terjadi kemarin malam tidak pernah terjadi?”

“Tidak, kenapa?” aku pura-pura bingung dan dia menghela nafas, frustrasi karena kelakuanku.

“Aku tak tahu…karena aku mengambil keperawananmu?” dia mendekat ke arahku, mengatakan kata itu dengan suara berbisik.

Aku memutar mataku. “Aku yakin itu bukan pertama kalinya kau mengambil keperawanan seorang cewek, Trav.”

Seperti yang aku takutkan, sikapku yang seperti tidak terjadi apapun telah membuatnya marah. “ Sebenarnya, itu adalah yang pertama.”

“Ayolah…aku sudah bilang aku tidak ingin kita jadi canggung.”

Travis mengambil satu lagi hisapan terakhir rokoknya lalu membuangnya ke bawah. “Well, jika aku telah belajar sesuatu beberapa hari terakhir ini, itu adalah bahwa kita tidak selalu mendapat apa yang kita inginkan.”

“Hai, Abs,” Parker berkata sambil mencium pipiku.

Travis melotot ke arah Parker dengan ekspresi kejam.

“Aku akan menjemputmu sekitar jam enam?” kata Parker.

Aku mengangguk. “Jam enam.”

“Sampai bertemu sebentar lagi,” dia berkata, berjalan menuju kelasnya. Aku memperhatikan dia pergi, takut pada konsekuensi yang akan di dapat karena sepuluh detik terakhir tadi.

“Kau akan pergi kencan bersamanya malam ini?” Travis mendesis marah. Mulutnya tertutup rapat, dan aku dapat melihat dia menggertakkan gigi di bawah kulitnya.

“Aku sudah bilang padamu dia akan mengajakku kencan lagi setelah aku kembali ke asrama. Dia meneleponku kemarin.”

“Apakah kau tidak berpikir semua sedikit berubah setelah pembicaraan itu?”

“kenapa?”

Dia pergi menjauhiku, dan aku menelan ludah, berusaha menahan air mata yang akan menetes. Travis berhenti dan kembali, mendekat pada wajahku. “Itu sebabnya kau berkata aku tidak akan merindukanmu lagi setelah hari ini! Kau tahu bahwa aku akan mengetahui tentang kau dan Parker, dan kau pikir aku akan…apa? Melupakanmu? kau tidak percaya padaku, atau karena aku kurang pantas untukmu? Beritahu aku, sialan! Beritahu apa yang telah aku lakukan padamu yang membuatmu melakukan ini padaku!”

Aku berdiri tegak, menatap langsung ke matanya. “Kau tidak melakukan apapun padaku. Sejak kapan seks menjadi masalah hidup dan mati untukmu?”

“Sejak itu bersamamu!”

Aku melihat sekeliling, menyadari kalau kami menarik perhatian orang lain. Orang-orang berjalan pelan, menatap dan berbisik satu sama lain. Aku rasa telingaku menjadi merah, dan menyebar ke wajahku, membuat mataku berair.

Dia menutup matanya, berusaha menenangkan dirinya sendiri sebelum mulai bicara lagi. “Apa memang begitu? Kau pikir itu tidak berarti apapun bagiku?”

“Kau adalah Travis Maddox.”

Dia menggelengkan kepalanya, merasa jijik. “Kalau aku tidak tahu lebih baik, aku akan berpikir kau sedang mengingatkan aku akan masa laluku.”

“Kupikir empat minggu yang lalu bukan merupakan masa lalu.” Wajahnya mengernyit dan aku tertawa. “Aku bercanda! Travis, semua baik-baik saja. Aku baik-baik saja, kau baik-baik saja. Tidak perlu terlalu membesar-besarkan masalah ini.”

Semua amarah hilang dari wajahnya lalu dia mengambil nafas panjang dari hidungnya. “Aku tahu apa yang sedang kau lakukan.” Matanya menerawang sesaat, terhanyut dalam pikirannya sendiri. “Aku harus membuktikannya padamu kalau begitu.” Matanya tajam saat melihat ke dalam mataku, bertekad seperti saat sebelum dia bertarung. “Jika kau pikir aku akan langsung kembali berhubungan seks dengan semua orang, kau salah. Aku tidak menginginkan orang lain. Kau ingin kita hanya berteman? Baiklah, kita berteman. Tapi kau dan aku tahu apa yang telah terjadi bukan hanya sekedar seks.”

Dia bergegas pergi melewatiku dan aku menutup mataku, menghembuskan nafas yang tanpa aku sadari telah aku tahan. Travis memandang kembali ke arahku, lalu melanjutkan langkahnya menuju kelas selanjutnya. Air mata yang tidak dapat aku tahan turun di pipiku dan aku langsung menghapusnya. Pandangan ingin tahu dari teman sekelasku menusuk tajam di punggungku saat aku bersusah payah masuk kelas.

Parker ada di barisan kedua dan aku langsung duduk di sampingnya.

Senyuman terlihat di wajahnya. “Aku tidak sabar menunggu nanti malam.”

Aku menarik nafas lalu tersenyum, berusaha merubah moodku setelah berbicara dengan Travis tadi.

“Apa rencananya?”

“Well, aku telah selesai membereskan apartemenku. Aku ingin kita makan malam di sana.”

“Aku juga sudah tidak sabar menunggu nanti malam.” Aku berkata, berusaha meyakinkan diriku sendiri.
***

Karena America menolak untuk membantu, Kara dengan enggan menjadi asisten yang membantuku memilih gaun untuk kencanku dengan Parker. Setelah aku memakainya, aku langsung melepaskannya lagi dan malah memakai celana jins saja. Setelah merenungi tentang rencanaku yang gagal sepanjang sore, aku tidak bisa menyuruh diriku untuk berdandan. Mengingat udara yang dingin, aku mengenakan sweater kasmir tipis berwarna gading di atas tank top coklatku, lalu menunggu di pintu. Ketika mobil porsche Parker yang mengkilap berhenti di depan asrama, aku langsung keluar sebelum dia sempat berjalan menghampiriku.

“Aku tadi akan menghampirimu,” dia berkata, merasa kecewa saat dia membukakan pintu mobil untukku.

“kau kan jadi tidak perlu berjalan,” aku berkata sambil memakai sabuk pengamanku.

Dia duduk di sampingku dan mendekat, memegang kedua sisi wajahku, menciumku dengan bibir lembutnya. “Wow,” dia menarik nafas, “Aku merindukan bibirmu.”

Nafasnya beraroma mint, colognenya sangat wangi, tangannya hangat dan lembut dan dia terlihat tampan memakai celana jins dengan kemeja hijaunya, tapi aku tidak dapat menghilangkan perasaanku yang merasa ada sesuatu yang hilang. Kegembiraan yang aku rasakan dulu telah hilang, dan aku diam-diam mengutuk Travis karena telah menghilangkan perasaan itu.

Aku memaksakan satu senyuman. “Aku anggap itu sebagai pujian.”

Apartemennya sama seperti yang telah aku bayangkan: Rapi, bersih, dengan barang-barang elektronik yang mahal di setiap sudut, yang sepertinya di dekorasi oleh ibunya.

“Jadi? Bagaimana menurutmu?” dia berkata, tersenyum seperti anak kecil yang sedang memamerkan mainan barunya.

“Sangat indah,” aku mengangguk.

Ekspresinya berubah dari bermain-main menjadi intim, dan dia menarikku ke dalam pelukannya, mencium leherku. Semua otot dalam tubuhku menjadi tegang.

Aku ingin berada di tempat lain selain di apartemen ini.

Teleponku berbunyi, dan aku memberinya senyuman minta maaf sebelum menjawab teleponku.

“Bagaimana kencanmu, Pidge?”

Aku membalikkan tubuhku dari Parker dan berbisik ke arah telepon. “Apa yang kau butuhkan, Travis?” aku mencoba agar suaraku terdengar tegas, tapi itu malah menjadi lembut karena lega mendengar suaranya.

“Aku akan pergi bowling besok. Aku membutuhkan partner.”

“Bowling? kau tidak bisa meneleponku nanti?” aku merasa seperti orang munafik karena mengatakan hal itu, mengetahui aku mengharapkan alasan untuk membuat bibir Parker jauh dariku.

“Bagaimana aku tahu kalau kau telah selesai? Oh. Itu tidak terdengar tepat…” dia berhenti, terdengar kagum pada dirinya sendiri.

“Aku akan meneleponmu besok lalu kita akan membicarakan ini nanti, OK?”

“Tidak, itu tidak OK. kau bilang ingin kita bersahabat, tapi kita tidak bisa hang out?” aku memutar mataku dan Travis menghela nafas. “Jangan memutar matamu padaku. Kau ikut apa tidak?”

“Bagaimana kau tahu aku memutar mataku? Apa kau membuntutiku?” aku bertanya, melihat ke arah tirai.

“kau selalu memutar matamu. Ikut? Tidak? kau membuang waktu berkencanmu yang berharga.”

Dia sangat mengenalku. Aku melawan keinginan untuk memintanya menjemputku nanti. Aku tidak dapat menahan senyumku karena berpikir seperti itu.

“Ya!” aku berkata dengan suara berbisik, berusaha untuk tidak tertawa. “Aku akan ikut.”

“Aku akan menjemput jam tujuh.”

Aku berbalik ke arah Parker, tersenyum seperti kucing Cheshire.

“Travis?” dia bertanya dengan ekspresi ingin tahu.

“Ya,” aku merengut, tertangkap basah.

“Kalian masih hanya bersahabat?”

“Masih hanya bersahabat,” aku mengangguk sekali.

Kami duduk di meja, memakan masakan cina yang tadi di beli. Aku menjadi lebih hangat padanya setelah beberapa saat, dan dia mengingatkanku betapa menawannya dia. Aku merasa lebih ringan, hampir cekikikan, berubah dari sebelumnya. Sekuat apapun aku mendorong pikiran itu keluar dari kepalaku, aku tidak bisa menyangkal bahwa rencanaku dengan Travislah yang membuat moodku lebih baik.

Setelah makan malam, kami duduk di sofa menonton film, namun sebelum daftar pemain selesai, Parker membaringkanku di sofa. Aku lega aku memilih memakai celana jins; aku tidak akan mampu menangkisnya kalau memakai gaun. Bibirnya turun menelusuri tulang leherku, dan tangannya berada di atas ikat pinggangku. Dengan kikuk dia berusaha menarik lepas ikat pinggang itu, dan setelah lepas, aku meluncur keluar dari bawahnya lalu berdiri.

“OK! Kurasa base pertama adalah satu-satunya yang kau dapat malam ini,” aku berkata sambil memasang kembali ikat pinggangku.

“Apa?”

“Base pertama…base kedua? Lupakanlah. Ini sudah malam, aku sebaiknya pergi.”

Dia terduduk bangun dan memegang kakiku. “Jangan pergi, Abs. Aku tak ingin kau berpikir ini alasan aku membawamu kemari.”

“Bukankah itu alasannya?”

“Tentu bukan,” dia berkata, menarikku ke pangkuannya. “Hanya kau yang aku pikirkan selama dua minggu ini. Maaafkan aku karena menjadi tidak sabar.”

Dia mencium pipiku, dan aku bersandar di dadanya, tersenyum saat nafasnya menggelitik leherku. Aku berpaling ke arahnya dan menekan bibirku di bibirnya, berusaha sekuat tenaga untuk merasakan sesuatu — tapi aku tidak merasakannya. Aku menjauh darinya dan menghela nafas. Parker mengernyitkan alisnya. “Aku sudah bilang aku menyesal.”

“Aku bilang ini sudah larut.”
***

Kami naik mobil ke asrama, dan Parker meremas tanganku setelah menciumku. “Mari kita mencoba lagi. Ke Biasetti besok?”

Aku menutup rapat bibirku. “Aku akan pergi bowling dengan Travis besok.”

“Rabu kalau begitu?”

“Rabu boleh,” aku berkata, memberinya senyuman yang di buat-buat.

Parker bergeser di tempat duduknya. Dia mengusahakan sesuatu. “Abby? Ada pesta kencan di The House dua minggu dari sekarang…”

Dalam hati aku meringis, takut akan diskusi yang mau tak mau akan kami lakukan.

“Ada apa?” dia bertanya, tertawa gugup.

“Aku tidak bisa pergi denganmu,” aku berkata, sambil keluar dari mobil.

Dia mengikuti hingga pintu masuk asrama. “Kau sudah punya rencana?”

Aku meringis. “Aku punya rencana…Travis sudah mengajakku pergi ke sana,”

“Travis mengajakmu ke mana?”

“Ke pesta kencan,” aku menjelaskan, sedikit frustrasi.

Wajah Parker memerah, dan dia menggeser tubuhnya. “Kau akan pergi ke pesta kencan dengan Travis? Dia tidak pernah datang ke acara seperti itu. Dan kalian hanya berteman. Sangat tidak masuk akal kalau kau pergi bersamanya.”

“America tidak mau pergi bersama Shepley, kecuali aku ikut.”

Dia sedikit tenang. “Kalau begitu pergilah denganku,” dia tersenyum sambil memegang tanganku.

Aku meringis akan keputusannya. “Aku tidak bisa membatalkan pergi dengan Travis lalu pergi bersamamu.”

“Aku tidak melihat masalahnya,” dia mengangkat bahunya. “kau bisa berada di sana untuk America, Travis bisa lepas dari kewajibannya untuk pergi kesana. Dia sama sekali tidak pernah datang ke acara pesta kencan. Menurutnya itu hanya salah satu cara untuk para wanita memaksa kami agar mengumumkan hubungan kami.”

“Aku yang tidak ingin pergi. Dia memaksaku untuk ikut.”

“Sekarang kau punya alasan,” dia mengangkat bahu. Dia jadi menjengkelkan karena merasa yakin kalau aku akan merubah pikiranku.

“Aku tidak ingin pergi sama sekali.”

Kesabaran Parker sudah habis. “Aku hanya ingin menjelaskan; kau tidak ingin pergi ke pesta kencan. Travis ingin pergi, dia mengajakmu, dan kau tidak ingin membatalkan pergi dengannya untuk pergi denganku, meskipun kau pada awalnya tidak ingin pergi?”

Aku kesulitan menatap balik matanya. “Aku tidak bisa melakukan itu kepadanya, Parker, maafkan aku.”

“Apakah kau tahu pesta kencan itu apa? Seharusnya kau pergi kesana bersama kekasihmu.”

Nada suaranya yang merendahkan membuat empati yang aku rasakan padanya telah hilang. “Well, aku tidak punya kekasih, jadi secara teknis aku tidak harus pergi sama sekali.”

“Kupikir kita akan mencoba lagi. Aku pikir kita memiliki sesuatu.”

“Aku sedang mencoba.”

“Apa yang kau harap aku lakukan? Duduk di rumah sendirian sementara kau pergi ke pesta kencan yang diadakan perkumpulan persaudaraanku bersama orang lain? Apa aku harus mengajak wanita lain?”

“Aku tidak melarangmu pergi ke pestamu sendiri. Kita akan bertemu di sana.”

“kau ingin aku mengajak wanita lain? Dan kau pergi bersama Travis. Apa kau tidak lihat betapa anehnya itu?”

Aku menyilangkan tanganku, siap untuk pertengkaran. “Aku bilang padanya aku akan pergi dengannya sebelum kita berkencan, Parker. Aku tidak bisa membatalkannya.”

“kau tidak bisa, atau tidak mau?”

“Perbedaan yang sama. Aku menyesal kau tidak mengerti.” Aku mendorong pintu asrama hingga terbuka, dan Parker menahanku.

“Baiklah,” dia menarik nafas menyerah. “Ini jelas adalah satu masalah yang harus aku mengerti. Travis adalah salah satu sahabatmu, aku sangat mengerti itu. Aku tidak ingin ini mempengaruhi hubungan kita. OK?”

“OK,” kataku sambil mengangguk.

Dia membukakan pintu dan menyuruhku masuk, mencium leherku sebelum aku berjalan masuk. “Sampai bertemu hari Rabu jam enam?”

“Jam enam.” aku tersenyum, melambai ke arahnya saat aku menaiki tangga.
***

America sedang berjalan keluar dari kamar mandi ketika aku berbelok, matanya bersinar ketika dia melihatku. “Hai, chickie! Bagaimana kencanmu?”

“Biasa saja,” kataku datar.

“Uh oh.”

“Jangan beritahu Travis, OK?”

Dia mendengus. “Tidak akan, apa yang terjadi?”

“Parker mengajakku ke pesta kencan.”

America mengencangkan handuknya. “Kau tidak akan membatalkan pergi dengan Trav kan?”

“Tidak, dan Parker tidak senang karena itu.”

“Bisa dipahami,” dia berkata, mengangguk. “Itu juga sangat buruk.”

America menarik rambutnya yang panjang dan basah ke sisi salah satu bahunya, dan butiran air menetes di kulit telanjangnya. Dia kontradiksiku yang berjalan. Dia melamar masuk Eastern agar kami bisa tinggal bersama. Dia adalah suara hatiku, akan turun tangan saat aku menyerah pada kecenderunganku yang tertanam untuk pergi keluar jalur. Semua berlawanan dengan yang telah kam bicarakan tentang aku berhubungan dengan Travis, dan dia telah menjadi penyemangat Travis yang terlalu antusias.

Aku bersandar ke dinding. “Apa kau akan marah kalau aku tidak jadi pergi?”

“Tidak, aku akan sangat kesal hingga tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Di sana akan banyak terjadi perkelahian antar wanita, Abby.”

“Kalau begitu aku akan pergi,” aku berkata, memasukkan kunciku ke pintu. Teleponku berbunyi, dan terlihat foto Travis yang sedang membuat wajah yang lucu di layar.

“Halo?”

“kau sudah di rumah, belum?”

“Ya, dia mengantarku pulang lima menit yang lalu.”

“Aku akan tiba di sana lima menit lagi.

“Tunggu! Travis?” aku berkata saat dia menutup telepon.

America tertawa. “kau baru pulang dari kencan yang mengecewakan dengan Parker, tapi kau tersenyum saat Travis menelepon. Apakah kau begitu bodoh?”

“Aku tidak tersenyum,” protesku. “Dia akan kemari. Maukah kau menemuinya di luar dan bilang padanya kalau aku sudah tidur?”

“Kau tadi tersenyum, dan tidak mau…bilang saja sendiri.”

“Ya, Mare, seperti akan berhasil baik kalau aku bilang sendiri bahwa aku sudah tidur.” Dia meninggalkanku, berjalan ke kamarnya. Aku mengangkat tanganku dan memukul pahaku. “Mare! Ku mohon?”

“Selamat bersenang-senang, Abby,” dia tersenyum, menghilang ke dalam kamarnya.

Aku menuruni tangga dan melihat Travis di atas motornya, sedang parkir di depan tangga masuk. Dia memakai kaos putih dengan gambar berwarna hitam, membuat tatoo di tangannya semakin kelihatan.

“Apakah kau tidak kedinginan?” aku bertanya, menarik jaketku lebih kencang.

“kau kelihatan cantik. Apakah kau bersenang-senang?”

“Uh…ya, terima kasih,” aku berkata, salah tingkah. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Dia menstarter motornya, dan mesinnya hidup. “Aku akan berkeliling naik motor untuk menjernihkan pikiranku. Aku ingin kau ikut denganku.”

“Tapi dingin, Trav.”

“kau mau aku meminjam mobilnya Shepley?”

“Kita akan pergi bowling besok. Tidak bisakah kau menunggu hingga besok?”

“Aku dari yang bertemu denganmu setiap detik sepanjang hari menjadi hanya bertemu denganmu selama sepuluh menit, itu juga kalau aku beruntung.”

Aku tersenyum dan menggelengkan kepala. “Ini baru dua hari, Trav.”

“Aku merindukanmu. Ayo cepat naik dan kita pergi.”

Aku tidak bisa membantah. Aku juga merindukannya. Lebih dari yang akan aku akui padanya. Aku menyeletingkan jaketku dan naik ke belakangnya, memasukkan jariku ke tempat ikat pinggang celana jinsnya. Dia menarik pergelangan tanganku ke dadanya dan melipatnya satu di atas yang lain. Setelah dia merasa puas karena aku telah memeluknya erat, dia melaju pergi, melaju cepat di jalan.

Aku menyandarkan pipiku di punggungnya dan menutup mataku, menghirup aroma wangi tubuhnya. Itu mengingatkanku pada apartemennya, sprei dan wangi tubuhnya saat dia berjalan dengan hanya memakai handuk di pinggangnya. Pemandangan kota kelihatan tidak jelas saat kami lewat, dan aku tidak peduli seberapa cepat dia menyetir, atau seberapa dingin angin saat menyentuh kulitku; aku bahkan tidak memperhatikan ke mana kami pergi. Yang aku pikirkan hanya tubuhnya menempel ditubuhku. Kami tidak memiliki tujuan ataupun jangka waktu, dan kami berkeliling hingga tidak ada orang lagi di jalan selain kami.

Travis berhenti di pom bensin lalu parkir. “kau menginginkan sesuatu?” dia bertanya.

Aku menggelengkan kepala, turun dari motor untuk meluruskan kakiku. Dia memperhatikanku yang sedang menyisirkan jari di rambutku, dan tersenyum.

“Hentikan itu. Kau sudah terlihat sangat cantik.”

“Tunjukan saja padaku video musik rock tahun delapan puluhan yang terdekat,” aku berkata.

Dia tertawa, lalu menguap sambil mengusir ngengat yang berdengung di sekitarnya. Mulut pipa bensin berbunyi, terdengar lebih keras dari seharusnya di malam yang hening. Kami tampaknya menjadi satu-satunya orang di dunia.

Aku mengeluarkan teleponku untuk melihat jam. “Ya Tuhan, Trav. Ini sudah jam tiga pagi.”

“kau ingin pulang?” dia bertanya, wajahnya tampak kecewa.

Aku menutup rapat bibirku. “Sebaiknya kita pulang.”

“Kita masih akan pergi bowling malam ini?”

“Aku sudah bilang aku akan ikut.”

“Dan kau tetap akan pergi ke Sig Tau bersamaku kan dua minggu lagi?”

“Apa kau menyindirku bahwa aku tidak akan menepati janjiku? Aku merasa sedikit tersinggung.”

Dia menarik keluar mulut pipa bensin dari tankinya dan menggantung di tempatnya. “Aku hanya tidak tahu lagi apa yang akan kau lakukan.”

Dia duduk di atas motornya dan membantuku naik di belakangnya. Aku mengaitkan jariku di tempat ikat pinggangnya namun aku pikir lebih baik aku melingkarkan tanganku di tubuhnya.

Dia menghela nafas dan menegakkan motornya, dengan berat hati menyalakan mesinnya. Telapak tangannya menjadi putih saat dia memegang stang motor. Dia mengambil nafas, dan mulai berbicara lalu menggelengkan kepalanya.

“Kau sangat berarti untukku, kau tahu,” aku berkata, memeluknya lebih erat.

“Aku  tidak mengerti dirimu, Pigeon. Ku pikir aku mengenal wanita, tapi dirimu benar-benar sangat membuat bingung hingga aku tak tahu harus bagaimana.”

“Aku juga tidak mengerti dirimu. Kau seharusnya menjadi kekasih semua wanita di Eastern. Aku belum mendapat semua pengalaman seorang mahasiswa baru yang mereka tawarkan di brosur,” aku menggodanya.

“Well, itu yang pertama. Aku belum pernah bertemu wanita yang mau tidur denganku hanya agar aku tidak mengganggunya lagi,” dia berkata, tetap membelakangiku.

“Bukan itu maksudnya, Travis,” aku berbohong, merasa malu karena dia dapat menebak maksudku tanpa menyadari seberapa benarnya dia.

Dia menggelengkan kepalanya lalu menyalakan mesin motornya, melaju ke jalan. Dia menjalankan motornya dengan pelan tidak seperti biasa, berhenti di setiap lampu kuning, mengambil jalan yang terjauh menuju kampus.

Kami berhenti di depan pintu masuk asrama, kesedihan yang sama yang aku rasakan di malam aku pergi meninggalkan apartemen menelanku. Mengetahui itu tampak konyol untuk merasa begitu emosional, namun setiap kali aku melakukan sesuatu untuk mendorongnya pergi, aku sangat takut itu akan benar-benar membuatnya pergi.

Dia mengantarku ke pintu, aku mengeluarkan kunciku, menghindari tatapannya. Saat aku merogoh kunci, tangannya tiba-tiba ada di daguku, ibu jarinya menyentuh bibirku dengan lembut.

“Apakah dia menciummu?” dia bertanya.

Aku mundur menjauh, terkejut karena jarinya mengakibatkan rasa terbakar yang membakar semua saraf dari mulut hingga ujung kakiku. “Kau benar-benar tahu bagaimana caranya mengacaukan malam yang sempurna, ya?”

“Kau berpikir malam ini sempurna, ya? Apa itu berarti kau merasa senang?”

“Aku selalu merasa senang saat bersamamu.”

Dia melihat ke bawah dan alisnya mengernyit. “Apakah tadi dia menciummu?”

“Ya,” aku menghela nafas, merasa terganggu.

Matanya tertutup. “Apakah hanya itu?”

“Itu sama sekali bukan urusanmu!” aku berkata sambil menarik pintu hingga terbuka.

Travis mendorongnya hingga tertutup dan menghalangi jalan masukku, ekspresinya seperti meminta maaf. “Aku harus tahu.”

“Tidak, kau tidak harus tahu! Minggir, Travis!”

“Pigeon…,”

“Kau pikir karena aku bukan lagi perawan, aku akan tidur dengan semua orang yang ada? Terima kasih!” aku berkata sambil mendorongnya.

“Aku tidak mengatakan itu, sialan! Apakah itu terlalu berlebihan untuk ditanyakan agar pikiranku tenang?”

“Mengapa itu akan membuat pikiranmu tenang jika mengetahui apa aku tidur dengan Parker?”

“Bagaimana kau tidak tahu? Itu terlihat sangat jelas untuk semua orang kecuali dirimu!” dia berkata, putus asa.

“Kalau begitu mungkin hanya karena aku adalah orang yang tolol. kau mabuk malam ini, Trav,” aku berkata sambil meraih pegangan pintu.

Dia menahan bahuku. “Perasaan aku padamu…sangat membuatku gila.”

“Bagian gila itu memang benar,” aku membentak, melepaskan diri darinya.

“Aku sudah melatih ini di pikiranku sepanjang waktu kita di motor tadi, jadi dengarkanlah aku,” dia berkata.

“Travis—,”

“Aku tahu kita sangat kacau, kan? Aku impulsif, cepat marah, dan aku selalu memikirkan dirimu. kau bersikap seperti membenciku menit ini, lalu menit berikutnya kau membutuhkanku. Aku tak pernah melakukan hal yang benar, dan aku tidak pantas untukmu…tapi aku benar-benar mencintaimu, Abby. Aku mencintaimu lebih dari aku mencintai seseorang atau sesuatu, sebelumnya. Saat kau ada di sisiku, aku tidak membutuhkan minuman keras, uang, pertarungan, atau hubungan seks satu malam…yang aku butuhkan hanya dirimu. Hanya kau yang aku pikirkan. Hanya kau yang aku mimpikan. Hanya kau yang aku inginkan.”

Rencanaku untuk bersikap seolah tidak peduli gagal total. Aku tidak bisa berpura-pura tidak terpengaruh saat dia mengungkapkan semua perasaannya. Saat kami bertemu pertama kali, sesuatu di dalam diri kami berubah, dan apapun itu, membuat kami saling membutuhkan. Untuk alasan yang tidak aku ketahui, aku adalah pengecualiannya, dan sekuat apapun aku mencoba melawan perasaanku, dia adalah pengecualianku.

Dia menggelengkan kepalanya, memegang kedua sisi wajahku, dan menatap langsung ke mataku. “Apakah kau tidur dengannya?”

Air mata yang hangat memenuhi mataku saat aku menggelengkan kepalaku. Dia langsung menciumku, dan lidahnya masuk ke dalam mulutku tanpa rasa ragu. Tidak dapat mengontrol diriku sendiri, aku mencengkram kaosnya di dalam kepalan tanganku, dan menariknya ke arahku. Dia mendesah karena rasa takjubnya, suara yang berat, dan mencengkeramku sangat erat hingga membuat sulit untuk bernafas.

Dia mundur, terengah. “Telepon Parker. Katakan padanya kau tidak ingin berkencan dengannya lagi. Katakan padanya kau bersamaku sekarang.”

Aku menutup mataku. “Aku tidak bisa bersamamu, Travis.”    

“Kenapa tidak bisa?” dia berkata, melepaskan tangannya.

Aku menggelengkan kepalaku, takut pada reaksinya saat mengetahui yang sebenarnya.

Dia tertawa sekali. “Tak bisa dipercaya. Satu-satunya gadis yang aku inginkan, tapi dia tidak menginginkan aku.”

Aku menelan ludah, mengetahui aku harus lebih banyak mengungkapkan kebenaran daripada yang seharusnya selama bulan-bulan terakhir ini.

“Ketika aku dan America pindah kemari, itu dengan pengertian hidupku akan berjalan sesuai rencanaku. Atau tidak akan berjalan di luar rencanaku. Pertarungan, perjudian, minuman…itu semua yang aku tinggalkan. Ketika aku berada di dekatmu…itu semua terbungkus dalam satu paket tatoo yang tidak bisa aku tolak. Aku tidak pindah ratusan kilometer hanya untuk menjalaninya sekali lagi.”

Dia mengangkat daguku sehingga aku bisa melihat wajahnya. “Aku tahu kau berhak mendapatkan yang lebih baik daripada aku. kau pikir aku tak tahu itu? Tapi jika ada satu wanita yang tercipta untukku…wanita itu adalah dirimu. Aku akan melakukan apapun yang harus aku lakukan, Pidge. kau dengar aku? Aku akan melakukan apapun.”

Aku berbalik dari cengkramannya, merasa malu karena tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Akulah yang tidak pantas untuknya. Aku akan menjadi orang yang menghancurkan semuanya; menghancurkan dia. Dia akan membenciku suatu hari nanti, dan aku tidak akan bisa melihat ke dalam matanya saat dia pada akhirnya menyadari itu.

Dia menahan pintu tertutup dengan tangannya . “Aku akan berhenti bertarung setelah aku lulus. Aku tidak akan minum minuman keras satu tetes pun lagi. Aku akan memberimu akhir yang bahagia selamanya, Pigeon. Jika kau mempercayaiku, aku akan dapat melakukannya.”

“Aku tidak ingin kau berubah.”

“Lalu katakan aku harus melakukan apa. Katakan padaku dan aku akan melakukannya,” dia memohon.

Semua pikiran untuk bersama Parker telah lama hilang, dan aku tahu sebabnya karena perasaanku pada Travis. Aku membayangkan tentang jalan berbeda yang aku akan ambil sejak saat itu — mempercayai Travis dengan sebuah lompatan keyakinan dan mengambil resiko untuk yang tidak pasti, atau mendorongnya menjauh dan mengetahui dengan pasti aku akan berakhir di mana, yang termasuk hidup tanpa dirinya — kedua keputusan itu membuatku sangat takut.

“Boleh aku meminjam teleponmu?” aku bertanya.

Travis mengeryit, bingung. “Tentu,” dia berkata, mengeluarkan telepon dari dalam sakunya, memberikannya padaku.

Aku menekan nomor, lalu menutup mata saat itu berdering di telingaku.

“Travis? Ada apa? kau tahu jam berapa ini?” Parker menjawab. Suaranya dalam dan serak, dan aku langsung merasa hatiku bergetar di dadaku. Tidak terpikir olehku bahwa dia akan mengetahui aku menelepon dari teleponnya Travis.

Kata berikutnya akhirnya menemukan cara untuk keluar dari bibirku yang gemetar. “Maafkan aku meneleponmu malam-malam, tapi ini tidak bisa menunggu. Aku….tidak bisa pergi makan malam denganmu hari Rabu nanti.”

“Ini sudah hampir jam empat pagi, Abby. Apa yang terjadi?”

“Aku tidak bisa pergi lagi denganmu, sebenarnya.”

“Abs…”

“Aku…sangat yakin aku jatuh cinta pada Travis,” aku berkata, bersiap untuk reaksinya.

Setelah beberapa saat hening, dia menutup telepon di telingaku.

Mataku masih fokus melihat trotoar, aku menyerahkan kembali telepon pada Travis, lalu dengan enggan menatap wajahnya. Kombinasi antara bingung, kaget, dan rasa kagum terlihat di wajahnya.

“Dia menutup teleponnya.” Aku menyeringai.

Dia menatap wajahku dengan harapan yang hati-hati di matanya. “kau mencintaiku?”

“Itu karena tatoonya,” aku mengangkat bahuku.

Senyuman lebar terlihat di wajahnya, membuat lesung pipinya menjadi jelas terlihat. “Mari pulang bersamaku,” dia berkata, mendekapku di tangannya.

Alisku naik. “Kau mengatakan semua itu untuk membawaku ke tempat tidur? Aku pasti telah membuat kesan yang hebat.”

“Satu-satunya yang aku pikirkan sekarang adalah memelukmu sepanjang malam.”

“Mari kita pergi.” Aku tersenyum.

***

Walaupun sudah melaju dengan kecepatan yang maksimal dan jalan pintas, perjalanan menuju apartemen seperti tak berujung. Ketika akhirnya kami tiba, Travis menggendongku ke atas. Aku cekikikan sambil menciumnya saat dia meraba-raba untuk membuka pintu. Ketika dia menurunkanku dan menutup pintu di belakang kami, dia menghembuskan nafas lega yang panjang.

“Ini tidak seperti rumah lagi setelah kau pergi,” dia berkata, mencium bibirku.

Toto berlari menelusuri lorong dan menggoyangkan ekornya, mengais-ngais kakiku. Aku mengelusnya saat mengangkatnya dari lantai.

Tempat tidur Shepley berderit, dan terdengar suara kakinya terhuyung di lantai. Pintunya terbuka saat dia memicingkan matanya karena sinar lampu. “Sialan jangan, Trav, kau tidak boleh melakukan ini! Karena kau jatuh cinta pada Ab...,” matanya menjadi fokus dan dia menyadari kesalahannya, “…by. Hai, Abby.”

“Hai, Shep,” aku tersenyum sambil menurunkan Toto ke lantai.

Travis menarikku melewati sepupunya yang masih terkejut, dan menendang pintu tertutup di belakang kami, menarikku ke pelukannya, dan menciumku tanpa pikir dua kali, seolah kami sudah melakukannya sejuta kali sebelumnya. Aku melepas kaosnya, dan dia mencopot jaket dari bahuku. Aku berhenti menciumnya cukup lama untuk melepas sweater dan tank topku, lalu menciumnya lagi. Kami saling melepas baju satu sama lain, dan dalam hitungan detik dia membaringkanku di tempat tidur. Aku meraih ke atas kepalaku untuk membuka laci dan memasukan tanganku ke dalam, mencari sesuatu yang bergemericik.

“Sialan,” dia berkata, terengah dan frustrasi. “Aku membuangnya semua.”

“Apa? Semua?” aku menarik nafas.

“Aku pikir kau tidak…jika aku tidak bersamamu, aku tidak akan membutuhkannya.”

“kau bercanda!” aku berkata, menjatuhkan kepalaku di atas kepala tempat tidur.

Dahinya terkulai di dadaku. “Mengingat dirimu adalah kebalikan dari satu kepastian.”

Aku tersenyum, dan menciumnya. “kau belum pernah melakukannya dengan seseorang tanpa memakainya?”

Dia menggelengkan kepalanya. “Tidak pernah.” Aku melihat sekeliling sesaat, hanyut dalam pikiran. Dia tersenyum sekali melihat ekspresiku. “Apa yang sedang kau lakukan?”

“Ssstt, aku sedang berhitung.” Travis memperhatikanku sebentar, lalu mendekat untuk mencium leherku. “Aku tidak bisa konsentrasi kalau kau melakukan it…,” aku mendesah, “hari ke dua puluh lima dan dua hari…,” aku menarik nafas.

Travis terkekeh. “Apa yang kau katakan?”

“Kita akan baik-baik saja,” aku berkata, bergeser turun sehingga aku berada tepat di bawahnya.

Dia menekan dadanya di dadaku, dan menciumku dengan lembut. “Apakah kau yakin?”

Aku membiarkan tanganku meluncur dari bahu ke pantatnya dan menekannya ke tubuhku. Dia menutup matanya, dan mengeluarkan erangan panjang yang berat.

“Ya Tuhan, Abby,” dia menarik nafas. Dia bergoyang untuk masuk ke dalam diriku lagi, dan satu erangan lagi keluar dari tenggorokannya. “Ya ampun, kau terasa sangat menakjubkan.”

“Apakah terasa berbeda?”

Dia menatap mataku. “Terasa berbeda bersamamu, bagaimanapun juga, tetapi,” dia mengambil nafas panjang dan menegang lagi, menutup matanya untuk sesaat, “Aku tak akan pernah sama lagi setelah ini.”

Bibirnya mencium setiap inci leherku, dan ketika dia menemukan jalannya kembali ke dalam mulutku, aku mencengkeram otot bahunya dengan semua ujung jariku, aku terhanyut dalam intensitas ciuman itu.

Travis membawa tanganku ke atas kepalaku dan memegang jariku dengan jarinya, meremas tanganku pada setiap dorongan. Gerakannya menjadi sedikit lebih kasar, dan aku menancapkan kukuku di tangannya, bagian dalam tubuhku menegang bersamaan dengan dorongan yang kuat.

Aku berteriak, menggigit bibirku dan menutup rapat mata.

“Abby,” dia berbisik, terdengar ragu, “Aku mau..aku akan…,”

“Jangan berhenti,” aku memohon.

Dia bergoyang ke dalam tubuhku lagi, mengerang sangat kencang hingga aku menutup mulutnya. Setelah beberapa nafas yang sesak, dia menatap mataku lalu menciumku lagi dan lagi. Tangannya memegang kedua sisi wajahku lalu menciumku lagi dengan lebih pelan, lebih lembut. Dia menyentuhkan bibirnya ke bibirku, lalu ke leher, kening, hidung lalu terakhir kembali ke bibirku.

Aku tersenyum dan mendesah, rasa lelah mulai terasa. Travis menarik tubuhku ke sampingnya, membetulkan selimut di atas kami. Aku mengistirahatkan pipiku di dadanya, dan dia mencium keningku sekali lagi, mengunci jarinya di belakang punggungku.

“Kali ini jangan pergi, OK? Aku ingin terbangun seperti ini nanti pagi.”

Aku mencium dadanya, merasa bersalah karena membuat dia harus meminta. “Aku tidak akan pergi kemana-mana.”
***

http://ayobacanovel.blogspot.co.id/2015/11/beautiful-disaster-bab-9.html

1 komentar:

  1. Thanks bgt dah nge translate novel ini :D
    Sebenarnya saya penasaran bgt sm novel ini dan blm sempat beli novelnya.
    Smg say ( klo boleh tau nama panggioannya siapa ya?) bs update translet novel ini.
    Ok semangat!!!
    Ditunggu update selanjutnya >,<

    BalasHapus