Jumat, 20 November 2015

BEAUTIFUL DISASTER - BAB 11

RASA CEMBURU

Aku terbangun dengan posisi telungkup, telanjang, dan terbungkus seprainya Travis. Aku tetap menutup mataku, merasakan jarinya membelai lengan dan punggungku.

Dia menarik nafas panjang, dengan sedikit desahan lalu berbisik. “Aku mencintaimu, Abby. Aku akan membuatmu bahagia, aku bersumpah.”

Tempat tidur bergerak saat dia bergeser, lalu bibirnya mencium punggungku dengan perlahan. Aku tetap diam tidak bergerak, dan setelah dia mencium kulit di belakang telingaku, dia pergi keluar kamar. Langkah kakinya santai menelusuri lorong, lalu terdengar suara pipa saat terkena tekanan air pancuran.

Aku membuka mata lalu duduk, menggeliat. Setiap otot tubuhku sakit, otot yang aku tidak pernah tahu ada sebelumnya. Aku menahan seprai di dadaku, melihat keluar jendela, memperhatikan daun yang berwarna merah kekuningan jatuh dari dahannya ke tanah.

Telepon Travis bergetar di suatu tempat, dan setelah mencari dengan asal di atas baju kusut di lantai, aku menemukannya di dalam saku celana jinsnya.  Layarnya menyala hanya menampilkan nomor, tidak ada nama.

“Halo?”

“Apa ehm...Apa Travis ada?” seorang wanita bertanya.

“Dia sedang mandi, ada pesan?”

“Tentu saja dia sedang mandi. Katakan padanya kalau Megan menelepon, mau kan?”

Travis melangkah masuk, mengencangkan handuk di pinggangnya yang basah, tersenyum saat aku menyerahkan telepon padanya.

“Ini untukmu,” aku berkata.

Dia menciumku sebelum melihat ke arah layar, lalu menggelengkan kepalanya. “Yeah? Itu tadi adalah kekasihku, apa yang kau butuhkan, Megan?” dia mendengarkan sesaat lalu tersenyum, “Well, Pigeon spesial, apa yang bisa aku katakan?” Setelah diam beberapa saat, dia memutar matanya. Aku hanya bisa membayangkan apa yang sedang Megan katakan. “Jangan jadi menyebalkan, Megan. Dengar, kau tidak boleh meneleponku lagi…Well, cinta akan melakukannya padamu,” dia berkata, menatap ke arahku dengan ekspresi lembut. “Ya, dengan Abby. Aku serius, Meg, jangan menelepon lagi…sudah dulu ya.”

Dia melempar teleponnya ke atas tempat tidur, lalu duduk di sampingku. “Dia sedikit menyebalkan. Apakah dia mengatakan sesuatu padamu?”

“Tidak, dia hanya menanyakan dirimu.”

“Aku menghapus beberapa nomor di teleponku, tapi aku kira itu tidak menghentikan mereka meneleponku. Jika mereka tidak menyadarinya sendiri, aku akan memberitahu mereka.”

Dia menatapku dengan penuh harap, dan aku tidak bisa menahan senyumku. Aku belum pernah melihat sisi Travis yang ini.

“Aku mempercayaimu, kau tahu.”

Dia menutup rapat mulutnya. “Aku tidak akan menyalahkanmu jika kau mengharapkanku untuk berusaha untuk mendapatkan kepercayaan itu.”

“Aku harus segera mandi. Aku sudah bolos satu mata kuliah hari ini.”

“Lihat? Aku sudah menjadi pengaruh yang baik.”

Aku berdiri dan dia menarik seprai. “Megan bilang akan ada pesta Halloween minggu ini di The Red Door. Aku pergi bersamanya tahun lalu, lumayan menyenangkan.”

“Aku yakin begitu,” aku berkata sambil mengangkat alisku.

“Maksudku banyak orang yang datang. Mereka mengadakan pertandingan billiar dan menyediakan bir murah…mau pergi kesana?

“Tidak terlalu…aku tidak berdandan untuk Halloween. Tidak pernah.”

“Aku juga tidak, aku hanya datang,” dia mengangkat bahunya.

“Apakah kita tetap akan pergi bowling nanti malam?” tanyaku, ingin tahu apakah ajakan yang hanya untuk mendapat waktu berduaan denganku sudah tidak dia butuhkan lagi.

“Well, tentu saja! Aku juga akan mengalahkanmu!”

Aku memicingkan mataku. “Kali ini aku tidak akan kalah. Aku punya kekuatan super.”

Dia tertawa. “Dan apakah itu? Kata-kata kasar?”

Aku mendekat ke arahnya untuk mencium lehernya, lalu menjilatkan lidahku ke telinganya, mencium daun telinganya. Dia langsung membeku.

“Pengalih perhatian.” aku bernafas di telinganya.

Dia menarik lenganku dan membalik tubuhku hingga telentang. “kau akan bolos satu mata kuliah lagi.”
***

Akhirnya setelah membujuk Travis cukup lama untuk pergi keluar dari apartemen untuk menghadiri kelas Sejarah, kami dengan cepat pergi ke kampus, duduk di kursi tepat sebelum Prof. Cheney mulai mengajar. Travis membalik topi baseball merahnya agar dapat mencium bibirku, di depan mata semua orang yang berada di kelas.

Dalam perjalanan kami menuju kafetaria, dia memegang tanganku, menggenggam erat jariku saat kami berjalan. Dia kelihatan sangat bangga karena dapat memegang tanganku, mengumumkan pada seluruh dunia bahwa akhirnya kami bersama. Finch menyadarinya, melihat ke arah tangan kami, lalu menatap ke arahku dengan senyuman bodoh. Bukan hanya dia, pertunjukan sederhana kasih sayang kami membuat semua orang yang kami temui menatap atau berbisik-bisik.

Di pintu kafetaria, Travis menghembuskan asap terakhir rokoknya, menatapku yang sedang merasa ragu. America dan Shepley sudah ada di dalam, dan Finch menyalakan rokok lagi, sehingga aku masuk kafetaria hanya dengan Travis berdua. Aku yakin gosip telah menyebar setelah Travis menciumku di depan semua orang di dalam kelas Sejarah tadi, dan aku merasa takut melangkah ke atas panggung di dalam kafetaria.

“Ada apa, Pigeon?” dia berkata, menarik tanganku.

“Semua orang memperhatikan kita.”

Dia menarik tanganku lalu menciumnya, “Mereka akan melupakannya. Itu hanya karena mereka terkejut. Ingat saat kita pertama kali hang out? Rasa ingin tahu mereka hilang setelah beberapa saat dan mereka menjadi terbiasa melihat kita bersama. Ayolah,” dia berkata sambil menarikku ke pintu.

Salah satu alasan aku memilih Universitas Eastern karena orang-orangnya yang sopan, tapi rasa tertarik yang berlebihan terhadap skandal yang ada sangat melelahkan. Itu adalah lelucon; semua orang tahu betapa bodohnya tukang gosip itu namun mereka tetap saja tanpa rasa malu ikut bergosip.

Kami duduk di tempat biasa kami membawa makanan kami. America tersenyum dengan ekspresi sudah tahu. Dia mengobrol seperti semua biasa saja, namun para pemain football yang berada di ujung meja menatapku seolah aku sedang terbakar.

Travis menepuk apelku dengan garpunya. “Apakah kau akan memakannya, Pidge?”

“Tidak, kau boleh memakannya, sayang."

Telingaku memerah saat America tersentak kaget dan menatapku.

“Itu hanya spontan keluar,” aku berkata, menggelengkan kepalaku. Aku melirik ke arah Travis, yang ekspresinya campur aduk antara merasa geli dan kagum.

Kami saling memanggil dengan sebutan itu beberapa kali tadi pagi, dan tidak terpikir olehku kalau itu merupakan hal baru untuk semua orang hingga sesaat setelah itu keluar dari mulutku.

“Kalian berdua dalam tahap mengganggu yang lucu.” America menyeringai.

Shepley menepuk bahuku. “kau akan menginap malam ini?” dia bertanya, kata-katanya terdengar tidak jelas karena dia sambil mengunyah roti di mulutnya. “Aku janji tidak akan keluar dari kamarku lalu memakimu lagi.”

“kau sedang membela kehormatanku, Shep. kau dimaafkan,” aku berkata.

Travis menggigit sepotong apel lalu mengunyahnya, terlihat sangat bahagia, aku tidak pernah melihatnya seperti itu. Rasa damai di matanya telah kembali terlihat, bahkan saat semua orang memperhatikan setiap gerakan kami, semua terasa begitu…benar.

Aku memikirkan tentang selama ini aku selalu bersikeras bahwa berhubungan dengan Travis adalah keputusan yang buruk, dan berapa waktu yang terbuang percuma untuk melawan perasaanku terhadapnya. Melihat ke seberang meja ke arah matanya yang lembut berwarna coklat, dan lesung pipi yang bergerak-gerak saat dia mengunyah, aku tidak bisa mengingat apa yang membuat aku sangat khawatir.

“Dia terlihat sangat bahagia. Apa kau akhirnya tidur dengannya, Abby?” Chris berkata sambil menyikut temannya.

“kau tidak terlalu pintar ya, Jenks?” Shepley berkata, mengernyit.

Darah langsung naik ke pipiku, lalu aku melihat Travis yang di matanya ada rasa ingin membunuh.

Rasa marah Travis melebihi rasa maluku, dan aku menggelengkan kepalaku tanda tidak setuju. “Abaikan dia.”

Setelah beberapa saat yang menegangkan, bahunya menjadi sedikit lebih santai, dan dia mengangguk sekali, lalu mengambil nafas panjang. Setelah beberapa detik, dia mengedipkan sebelah matanya padaku.

Aku meraih ke seberang meja, menyelipkan jariku di jarinya. “kau serius dengan yang kau katakan tadi malam, kan?”

Dia mulai bicara, namun suara tawa Chris terdengar ke seluruh kafetaria. “Ya Tuhan, Travis Maddox menjadi penurut?”

“Apakah kau serius dengan ucapanmu waktu bilang kau tidak ingin aku berubah?” dia bertanya, meremas tanganku.

Aku melihat ke arah Chris yang sedang tertawa bersama teman satu timnya, lalu kembali melihat ke arah Travis. “Tentu saja. Beri orang brengsek itu pelajaran.”

Seringai nakal terlihat di wajahnya, lalu dia berjalan ke meja tempat Chris duduk. Ruangan langsung hening, dan Chris berhenti tertawa.

“Hey, aku hanya bercanda, Travis,” dia berkata, melihat ke arah Travis.

“Minta maaflah pada Pidge,” Travis berkata, menatap tajam ke arahnya.

Chris melihat ke arahku sambil tersenyum gugup. “Aku…aku hanya bercanda, Abby. Maafkan aku.”

Aku melotot ke arahnya saat dia melihat ke arah Travis untuk meminta persetujuan. Ketika Travis melangkah pergi, Chris mencibir, dan dia membisikkan sesuatu pada Brazil. Hatiku mulai berdegup kencang ketika aku melihat Travis berhenti melangkah dan tangannya mengepal di samping tubuhnya.

Brazil menggelengkan kepalanya dan mendengus dengan jengkel. “Ingat saat kau sadar nanti…kau sendiri yang menyebabkannya.”

Travis mengangkat nampan Finch dari meja dan mengayunkannya ke wajah Chris, membuat Chris terjatuh dari kursi. Chris berusaha masuk ke bawah meja namun Travis menarik kakinya lalu mulai memakinya.

Chris meringkuk seperti bola, lalu Travis menendang punggungnya. Chris melengkung dan berbalik, mengangkat tangannya di luar, membuat Travis mampu untuk mendaratkan beberapa pukulan di wajahnya. Darah mulai mengalir, dan Travis pun berdiri, kehabisan nafas.

“Jika kau bahkan hanya melihat ke arah Abby, dasar brengsek, aku akan mematahkan rahangmu.”

Wanita yang bekerja di kafetaria berlari keluar, terkejut melihat darah berceceran di lantai.

“Maaf,” Travis berkata, mengelap darah Chris dari pipinya.

Beberapa mahasiswa berdiri agar dapat melihat dengan lebih jelas; yang lainnya tetap duduk, melihat dengan biasa saja. Tim football hanya memandangi tubuh Chris yang terkulai lemas di lantai, sambil menggelengkan kepala mereka.

Travis berbalik, dan Shepley berdiri, lalu memegang tanganku dan America, menarik kami keluar pintu dan berjalan di belakang sepupunya. Kami mengambil jalan pintas menuju aula, aku dan America duduk di tangga masuk, memperhatikan Travis yang sedang berjalan mondar-mandir.

“kau baik-baik saja, Trav?” tanya Shepley.

“Beri aku…beberapa menit,” dia berkata, meletakkan tangannya di pinggang saat berjalan mondar-mandir.

Shepley memasukan tangannya ke dalam saku. “Aku terkejut kau bisa berhenti memukul.”

“Pidge hanya bilang untuk memberinya pelajaran, Shep, bukan membunuhnya. Aku berusaha sekuat tenaga untuk berhenti tadi.”

America memakai kacamata kotak besarnya saat melihat pada Travis. “Apa yang telah Chris katakan sehingga membuatmu marah?”

“Sesuatu yang tidak akan dia katakan lagi,” Travis mendengus marah.

America menatap Shepley yang mengangkat bahunya. “Aku tidak mendengarnya.”

Tangan Travis mengepal lagi. “Aku akan kembali ke dalam.”

Shepley menyentuh bahu Travis. “Kekasihmu ada di sini. kau tidak perlu kembali ke sana.”

Travis menatapku, memaksa dirinya untuk tenang. “Chris berkata…semua orang pikir Pidge memiliki…ya Tuhan, aku tidak bisa mengatakannya.”

“Katakan saja,” America bergumam, sambil menggigit kukunya.

Finch berjalan dari arah belakang Travis, sangat jelas merasa senang karena kejadian tadi. “Semua lelaki normal di Eastern ingin merasakan tidur dengan Abby karena dia berhasil menaklukan Travis Maddox,” dia mengangkat bahu. “ Setidaknya itu yang mereka bicarakan di sana sekarang.”

Travis menabrak bahu Finch saat melewatinya, berjalan menuju kafetaria. Shepley berlari mengejarnya, memegangi tangannya. Aku menutup mulutku dengan tangan saat Travis mengayunkan tinjunya, namun Shepley menghindar. Aku memandang ke arah America yang tampaknya tidak bereaksi, karena sudah terbiasa dengan kejadian seperti itu.

Aku hanya bisa memikirkan satu cara untuk menghentikan Travis. Aku berlari dari tangga ke arah Travis, mengitarinya. Aku melompat ke arahnya, meletakan kakiku di pinggangnya, dan dia memegang pahaku saat aku memegang kedua sisi wajahnya, lalu menciumnya bibirnya. Aku dapat merasakan kemarahannya mulai hilang saat dia membalas ciumanku, lalu aku melepaskannya, aku tahu aku telah menang.

“Kita tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan, ingat? kau jangan mulai peduli sekarang,” aku berkata sambil tersenyum untuk meyakinkan. Ternyata aku dapat mempengaruhi dia lebih dari yang aku sadari.

“Aku tidak bisa membiarkan mereka membicarakanmu seperti itu, Pigeon,” dia berkata dengan wajah frustrasi, sambil menurunkanku.

Aku memasukan tanganku di bawah tangannya, mengunci tanganku di punggungnya. “Seperti apa? Mereka pikir aku punya sesuatu yang spesial karena kau belum pernah berpacaran sebelumnya. Apa kau tidak setuju?”

“Tentu saja aku setuju, aku hanya tidak tahan memikirkan bahwa semua pria di kampus ingin tidur denganmu karena itu.” Dia menekan dahinya di dahiku. “Ini akan membuatku gila. Aku tahu itu.”

“Jangan biarkan mereka mengganggumu, Travis,” Shepley berkata. “kau tidak bisa melawan semua orang.”

Travis menghela nafas. “Semua orang. Bagaimana perasaanmu kalau semua orang memikirkan tentang America seperti itu?”

“Siapa bilang mereka tidak memikirkan hal itu?” America berkata, sedikit tersinggung. Kami semua tertawa, dan America cemberut. “Aku tidak bercanda.”

Shepley membantunya berdiri lalu mencium pipinya. “Kami tahu, sayang. Aku sudah berhenti merasa cemburu sejak lama. Karena aku tidak akan sempat melakukan apapun kalau aku terus merasa cemburu.”

America tersenyum karena senang, lalu memeluknya. Shepley punya bakat yang luar biasa untuk membuat semua orang di sekitarnya merasa nyaman, tidak diragukan mungkin itu karena harus tumbuh bersama Travis dan semua kakaknya. Itu bisa menjadi satu alat untuk membela diri lebih dari apapun.

Travis menciumi telingaku, dan aku cekikikan lalu aku melihat Parker datang mendekat. Perasaan mendesak seperti yang aku rasakan saat Travis ingin kembali ke kafetaria datang lagi, aku langsung melepaskan Travis dan langsung berjalan sejauh sepuluh kaki atau lebih untuk mencegat Parker.

“Aku harus bicara denganmu,” dia berkata.

Aku melirik ke belakang, dan menggelengkan kepalaku sebagai peringatan. “Sekarang bukan waktu yang tepat, Parker. Ini adalah waktu yang sangat…sangat tidak tepat sebenarnya. Travis dan Chris baru saja berkelahi tadi saat makan siang, dan dia masih sedikit kesal. kau harus pergi.”

Parker menatap Travis, lalu kembali mengalihkan perhatiannya kepadaku, bertekad. “Aku baru saja mendengar apa yang terjadi di kafetaria. Aku pikir kau tidak menyadari kau terlibat dengan apa. Travis itu adalah berita buruk, Abby. Semua orang tahu itu. Tidak ada yang membicarakan betapa hebatnya dirimu yang telah merubahnya…mereka semua hanya menunggunya melakukan apa yang paling bisa dia lakukan dengan baik. Aku tidak tahu apa yang dia katakan padamu, tapi kau tidak tahu orang macam apa dia.”

Aku merasakan tangan Travis di bahuku. “Mengapa tidak kau beritahu dia kalau begitu?”

Parker bergerak dengan gugup. “kau tahu berapa banyak wanita yang sudah merasa dipermalukan yang harus aku antar pulang dari sebuah pesta setelah mereka menghabiskan beberapa jam berdua di dalam kamar bersama dengan Travis? Dia akan menyakitimu.”

Jari Travis semakin menegang mendengarnya, dan aku menyentuh tangannya hingga dia kembali tenang. “kau harus pergi, Parker.”

“Kau harus mendengar apa yang akan aku katakan, Abs.”

“Jangan panggil dia dengan nama itu,” Travis geram.

Parker tidak melepaskan pandangannya dariku. “Aku mengkhawatirkan dirimu.”

“Aku hargai itu, tapi itu tidak perlu.”

Parker menggelengkan kepalanya. “Dia melihatmu hanya sebagai tantangan jangka panjang, Abby. Dia harus membuatmu berpikir bahwa kau berbeda dari wanita lain agar dia bisa menidurimu. Dia akan bosan padamu. Dia punya rentang perhatian seperti anak kecil.”

Travis berjalan mengitariku, berdiri sangat dengan Parker sehingga hidung mereka hampir bersentuhan. “Aku sudah membiarkanmu mengatakan apa yang ingin kau katakan. Kesabaranku sudah habis.” Parker berusaha memandangku, namun Travis menghalanginya. “Jangan berani-berani kau memandangnya. Lihat aku, dasar kau orang hina yang manja.” Parker menatap ke arah mata Travis lalu menunggu. “Meskipun kau hanya bernafas ke arahnya, aku akan memastikan kau akan pincang selama kuliah kedokteran.”

Parker mundur beberapa langkah sehingga aku terlihat olehnya. “Aku pikir kau lebih pintar dari ini,” dia berkata sambil menggelengkan kepalanya sebelum berbalik pergi.

Travis memperhatikan dia pergi, lalu berbalik, menatapku. “kau tahu kan kalau itu hanya omong kosong? Itu tidak benar.”

“Aku yakin itu yang semua orang pikirkan,” aku menggerutu, mengetahui semua itu akan berlalu.

“Aku akan membuktikan mereka salah.”
***

Seminggu berlalu, Travis membuktikan janjinya dengan serius. Dia tidak lagi bercanda dengan wanita yang menghentikannya saat menuju kelas atau keluar kelas, kadang malah dia kasar pada mereka. Saat kami berjalan masuk ke The Red pada pesta Halloween, aku sedikit gugup tentang bagaimana dia berencana untuk membuat mahasiswi yang mabuk agar tidak mengganggunya.

Aku, America, dan Finch sedang duduk di meja yang terdekat sambil memperhatikan Shepley dan Travis bermain billiar melawan dua orang temannya dari Sig Tau.

“Ayo, sayang!” America berteriak, berdiri di atas tangga bangkunya.

Shepley mengedipkan satu matanya pada America, lalu gilirannya memasukan bola, memasukkannya ke dalam lubang kanan yang cukup jauh.

“Horeeee!” dia menjerit.

Tiga orang wanita berdandan sebagai Charlie’s Angels datang mendekati Travis saat dia sedang menunggu gilirannya, dan aku tersenyum ketika dia berusaha sebisa mungkin untuk mengabaikan mereka. Ketika salah satu dari mereka menyentuh salah satu tato di lengannya, Travis menarik lengannya. Travis mengusirnya agar menjauh sehingga dia dapat memasukan bola, wanita itu merajuk pada temannya.

“Bisakah kau percaya bagaimana bodohnya mereka? Wanita di sini pada tidak tahu malu.” America berkata.

Finch menggelengkan kepalanya karena kagum. “Penyebabnya adalah Travis. Aku pikir karena image bad-boy nya. Mereka ingin menyelamatkannya atau mereka pikir mereka kebal terhadap kelakuan nakalnya. Aku tidak yakin yang mana.”

“Mungkin karena keduanya,” aku tertawa, cekikikan melihat pada semua wanita yang menunggu Travis untuk memperhatikan mereka. “Bisa kau bayangkan bagaimana mereka berharap akan menjadi orang yang Travis pilih? Mengetahui bahwa kau akan diperalat hanya untuk seks?”

“Karena kurang kasih sayang dari seorang ayah,” America berkata sambil meneguk minumannya.

Finch mematikan rokoknya, lalu menarik baju kami. “Ayo, girls! The Finch ingin berdansa!”

“Hanya jika kau berjanji tidak akan memanggil dirimu The Finch lagi selamanya,” kata America.

Finch cemberut, dan America tertawa. “Ayo, Abby. kau tidak ingin membuat Finch menangis, kan?”

Kami bergabung dengan orang yang berdandan seperti polisi dan vampir di lantai dansa, dan Finch mengeluarkan jurus seperti Justin Timberlake-nya. Aku melihat sekilas ke arah Travis dan menangkap basah dirinya yang sedang memperhatikanku dari sudut matanya, berpura-pura memperhatikan Shepley yang sedang memasukan bola delapannya dan memenangkan permainan. Shepley mengumpulkan uang hasil kemenangan mereka, dan Travis berjalan ke meja yang panjang tapi rendah yang membatasi lantai dansa, sambil membawa minuman. Finch menghentak lantai dansa, akhirnya dia berdansa di tengah di antara aku dan America. Travis memutar matanya, tertawa sambil berjalan kembali menuju meja kami bersama dengan Shepley.

“Aku akan mengambil minum lagi, ada yang mau sesuatu?” America berteriak di antara musik.

“Aku akan pergi denganmu,” kataku, melihat ke arah Finch sambil menunjuk ke arah bar.

Finch menggelengkan kepalanya sambil terus berdansa. Aku dan America melewati kerumunan banyak orang saat menuju ke bar. Bartendernya kewalahan, maka kami menunggu agak lama.

“Travis dan Shepley mendapat banyak uang malam ini,” America berkata.

Aku mendekat ke telinganya. “Kenapa ada orang yang mau bertaruh melawan Shepley, aku tidak akan pernah mengerti.”

“Dengan alasan yang sama mereka bertaruh melawan Travis. Mereka adalah orang-orang yang tolol,” dia tersenyum.

Seorang pria yang memakai baju toga bersandar di meja bar di samping America dan tersenyum. “Apa yang kalian minum malam ini?”

“Kami membeli minuman kami sendiri, thanks,” America berkata sambil tetap menatap ke depan.

“Aku Mike,” dia berkata, lalu menunjuk ke arah temannya, “Ini Logan.”

Aku tersenyum agar terlihat sopan, melihat ke arah America yang ekspresinya terlihat seolah ingin mengusir mereka untuk pergi. Bartender melayani kami lalu mengangguk, berbalik ke belakang untuk membuat minum pesanan America. Dia kembali sambil membawa gelas kotak berisi penuh cairan berbusa berwarna pink dan tiga botol bir. Mike memberinya uang dan dia mengangguk.

“Itu minuman yang tidak biasa,” Mike berkata sambil mengamati kerumunan.

“Yah,” America berkata, merasa terganggu.

“Aku melihatmu berdansa tadi,” Logan bicara padaku, menunjuk dengan kepalanya ke arah lantai dansa. “kau terlihat cantik.”

“Hm...terima kasih,” aku berkata, berusaha untuk tetap sopan, tetap waspada mengetahui bahwa Travis berada tidak jauh.

“kau mau berdansa?” dia bertanya.

Aku menggelengkan kepala. “Tidak, terima kasih. Aku di sini bersama—,”

“Kekasihnya,” Travis berkata, muncul tiba-tiba. Dia menatap tajam ke arah pria yang berdiri di hadapan kami, lalu mereka mundur sedikit, merasa terintimidasi.

America tidak dapat menahan senyumnya saat Shepley memeluknya. Travis menunjuk keluar dengan kepalanya. “Pergilah, sekarang.”

Kedua pria itu menatap aku dan America, lalu melangkah mundur sebelum menghilang di kerumunan.

Shepley mencium America. “Aku tidak bisa membawamu ke mana-mana!” America cekikikan, dan aku tersenyum pada Travis, yang melotot ke arahku.

“Apa?”

“Kenapa kau membiarkan mereka membelikanmu minuman?”

America melepaskan Shepley, mengetahui mood Travis. “Kami tidak mengizinkannya, Travis. Aku sudah bilang jangan pada mereka.”

Travis mengambil salah satu botol dari tanganku. “Lalu ini apa?”

“Apakah kau serius?” tanyaku.

“Ya, aku benar-benar serius,” dia berkata, menuang isi botol bir ke tempat sampah. “Aku sudah memberitahumu ratusan kali…kau tidak boleh menerima minuman dari sembarang orang. Bagaimana kalau dia menaruh sesuatu dalam minuman itu?”

America mengangkat gelasnya. “Semua minumannya tidak pernah lepas dari pengawasan kami, Trav. kau terlalu berlebihan.”

“Aku tidak bicara denganmu,” Travis berkata, matanya menatap tajam ke arahku.

“Heh!” kataku, langsung marah. “Jangan bicara seperti itu padanya.”

“Travis,” Shepley memperingatkan, “Sudahlah.”

“Aku tidak suka kalau kau membiarkan pria lain membelikanmu minuman,” Travis berkata.

Aku mengangkat alisku. “Apa kau mencoba untuk memulai pertengkaran?”

“Apakah tidak mengganggumu saat kau pergi ke bar dan melihatku sedang berbagi minuman dengan wanita lain?”

Aku mengangguk sekali. “Baiklah. kau mengabaikan semua wanita lain. Aku mengerti. Aku juga harus melakukan hal yang sama.”

“Itu akan lebih baik.” Sangat jelas dia berusaha menahan amarahnya, dan itu sedikit menakutkan untuk berada di sisi lain dan melawan kemarahannya. Matanya masih menyala karena marah, masih ingin mengungkapkan kemarahannya.

“Kau harus meredam rasa cemburumu, Travis. Aku tidak melakukan kesalahan.”

Travis menatapku dengan tidak percaya. “Aku berjalan kemari dan ada pria lain sedang membelikanmu minuman!”

“Jangan berteriak padanya!” America berkata.

Shepley memegang bahu Travis. “Kita semua sudah terlalu banyak minum. Mari kita pergi dari sini.” Efek menenangkan Shepley tidak berpengaruh pada Travis, dan aku merasa terganggu karena amukannya mengakhiri acara kita malam ini.

“Aku harus memberitahu Finch bahwa kita akan pergi,” aku menggerutu, menabrak bahu Travis saat berjalan menuju lantai dansa.

Tangan yang hangat memeluk pinggangku. Aku berbalik, dan melihat jari Travis terkunci di pinggangku tanpa rasa menyesal. “Aku akan pergi bersamamu.”

Aku melepaskan tanganku dari genggamannya. “Aku bisa berjalan beberapa kaki sendiri, Travis. Ada apa denganmu?”

Aku melihat Finch berada di tengah lantai dansa, dan aku melepaskan diri saat berjalan ke arahnya.

“Kami akan pergi!”

“Mengapa?”

“Travis sedang dalam mood kesal! Kami akan pergi!”

Finch memutar matanya dan menggelengkan kepala, dan aku melambai saat meninggalkan lantai dansa. Saat aku melihat America dan Shepley, aku ditarik ke belakang oleh pria yang memakai kostum bajak laut.

“Mau pergi kemana?” dia tersenyum, menabrakku.

Aku tertawa dan menggelangkan kepalaku karena wajahnya yang tampak lucu. Saat aku berbalik pergi, dia memegang tanganku. Tidak butuh waktu yang lama untuk menyadari bahwa dia bukan memegang tanganku tapi memegangi tanganku — agar aku tidak jatuh.

“Awas!” dia berteriak, melihat ke belakangku dengan mata terbelalak.

Travis bergegas menuju lantai dansa, dan menjatuhkan tinjunya tepat ke wajah bajak laut, kekuatannya menjatuhkan kami berdua ke lantai. Dengan telapak tanganku mendarat di lantai kayu, aku mengejapkan mataku terpana tidak percaya. Merasakan sesuatu yang hangat dan basah di tanganku, aku membalik tanganku dan merasa takut. Tanganku berlumuran darah dari hidung pria itu. Tangannya menutup wajahnya, namun cairan merah terang mengalir ke tangannya saat dia menggeliat di lantai.

Travis langsung mengangkatku, sama terkejutnya denganku. “Ya Tuhan, kau tidak apa-apa, Pidge?”

Ketika aku sudah berdiri, aku menepiskan tanganku dari genggamannya. “Apakah kau sinting?”

America memegang pinggangku dan menarik tubuhku melewati kerumunan menuju tempat parkir. Shepley membuka kunci mobil dan setelah aku duduk di kursiku, Travis melihat ke belakang ke arahku.

“Maafkan aku, Pigeon, aku tidak tahu dia sedang memegangimu.”

“Tinjumu hanya berjarak dua inchi dari wajahku!” aku berkata sambil menangkap handuk untuk mengelap oli yang dilemparkan oleh Shepley padaku. Aku mengelap darah dari tanganku, merasa jijik.

Seriusnya situasi ini membuat wajahnya lebih gelap dan dia meringis. “Aku tidak akan memukul kalau aku tahu itu akan memukulmu juga. kau tahu itu kan?”

“Diamlah, Travis. Diam,” aku berkata sambil menatap bagian belakang kepala Shepley.

“Pidge…,” Travis mulai bicara lagi.
***

Shepley memukul kemudi mobil dengan ujung telapak tangannya. “Diamlah, Travis! kau sudah bilang kau menyesal, sekarang tutup mulutmu!”

Perjalanan ke rumah sangat hening. Shepley menarik kursinya ke depan untuk membiarkanku keluar dari mobil, dan aku memandang ke arah America yang menggangguk mengerti.

Dia mencium kekasihnya. “Sampai bertemu besok, sayang.”

Shepley mengangguk pasrah lalu menciumnya. “Aku mencintaimu.”

Aku berjalan melewati Travis menuju mobil America, dan dia berlari mengikutiku. “Ayolah. Jangan pergi saat sedang marah.”

“Oh. Aku bukan pergi karena marah. Aku sangat marah.”

“Dia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, Travis,” America memperingatkan, membuka kunci mobilnya.

Ketika kunci pintu penumpang terbuka, Travis menahan pintu dengan tangannya. “Jangan pergi, Pigeon. Aku sudah keterlaluan. Maafkan aku.”

Aku mengangkat tanganku, memperlihatkan sisa darah kering di telapak tanganku padanya. “Hubungi aku saat kau sudah dewasa.”

Dia menyandarkan tubuhnya di pintu mobil. “kau tidak boleh pergi.”

Aku mengangkat alisku, dan Shepley berlari mengitari mobil dan berdiri di samping kami. “Travis, kau mabuk. kau akan melakukan kesalahan besar. Biarkan dia pulang untuk menenangkan diri…kalian berdua bisa bicara lagi besok saat kau sudah sadar.”

Ekspresi Travis menjadi putus asa. “Dia tidak boleh pergi,” dia berkata, menatap mataku.

“Itu tidak akan berhasil, Travis,” aku berkata, sambil menarik pintu. “Minggir!”

“Apa maksudmu tidak akan berhasil?” Travis bertanya, sambil memegang tanganku.

“Maksudku wajah memelasmu. Aku tidak akan merasa kasihan,” aku berkata, menjauh darinya.

Shepley memperhatikan Travis sebentar, lalu berbalik menatapku. “Abby…ini adalah momen yang aku bicarakan. Mungkin kau harus…,”

“Jangan ikut campur, Shep,” America membentak, menyalakan mesin mobil.

“Aku akan mengacau.  Aku akan sering mengacau, Pidge, tapi kau harus memaafkanku.”

“Aku akan memiliki memar yang besar di pantatku nanti pagi! kau memukul pria itu karena kau kesal padaku! Itu memberitahuku apa? Itu memberiku peringatan kalau bahaya akan selalu ada!”

“Aku tidak pernah memukul seorang wanita selama hidupku,” dia berkata, terkejut karena kata-kataku.

“Dan aku tidak ingin menjadi yang pertama!” aku berkata, menarik pintu mobil agar terbuka. “Minggir, sialan!”

Travis mengangguk, lalu mundur selangkah. Aku duduk di samping America, membanting pintu. Dia memundurkan mobil, dan Travis membungkuk untuk melihatku dari jendela.

“kau akan meneleponku besok, kan?” dia berkata sambil memegang kaca depan mobil.

“Ayo cepat maju, Mare,” aku berkata, menghindari tatapan mata Travis.
***

Malam terasa sangat panjang. Aku terus melihat jam, dan meringis setiap aku melihat satu jam lagi telah berlalu. Aku tidak bisa berhenti memikirkan Travis dan apakah aku harus meneleponnya atau tidak, ingin tahu apakah dia masih belum tidur juga. Akhirnya terpaksa aku memasang earphone Ipod di telingaku dan mendengarkan semua lagu berirama kencang yang ada di playlistku.

Terakhir aku melihat jam, jam menunjukan jam empat lewat. Beberapa burung sudah mulai berkicau di luar jendelaku, dan aku tersenyum saat mataku mulai terasa berat. Seperti baru beberapa menit aku tertidur saat aku mendengar ada yang mengetuk pintu, dan America menerobos masuk. Dia menarik earphone dari telingaku lalu duduk di kursi meja belajarku.

“Selamat pagi, sayang. kau tampak berantakan,” dia berkata sambil meniup gelembung pink dari mulutnya lalu membiarkannya meletus dengan suara yang keras.

“Diamlah, America!” Kara berkata dari bawah selimutnya.

“kau sadar kan orang sepertimu dan Travis akan bertengkar?” America berkata, mengikir kukunya sambil mengunyah permen karet di mulutnya.

Aku berbalik di tempat tidur. “kau resmi dipecat. kau seharusnya membelaku.”

Dia tertawa. “Aku sangat mengenalmu. Jika aku memberimu kunci mobilku sekarang, kau akan langsung pergi menuju rumah Travis.”

“Tidak, tidak akan!”

“Terserah saja,” dia terlihat senang.

“Ini baru jam delapan pagi, Mare. Mereka mungkin masih tertidur pulas.”

Beberapa saat kemudian, aku mendengar ketukan pelan di pintu. Lengan Kara keluar dari selimut dan memutar pegangan pintu. Pintu dengan pelan terbuka, memperlihatkan Travis yang sedang berdiri di depan pintu.

“Bolehkah aku masuk?” dia bertanya dengan suara pelan dan serak. Bulatan ungu di bawah matanya memberitahu kurang tidurnya dia, jika memang dia sempat tidur.

Aku duduk di tempat tidur, terkejut oleh penampilannya yang berantakan. “kau tidak apa-apa?”

Dia melangkah masuk dan berlutut di hadapanku. “Aku sangat menyesal, Abby. Maafkan aku.” Dia berkata, memeluk pinggangku dan menenggelamkan kepalanya di pangkuanku.

Aku memeluk kepalanya dan melihat ke arah America.

“Aku ehm...aku akan pergi,” dia berkata, meraba-raba mencari pegangan pintu dengan canggung.

Kara menggosok matanya lalu menghela nafas, kemudian mengambil tas peralatan mandinya. “Aku selalu sangat bersih kalau kau ada di sini, Abby,” dia menggerutu, membanting pintu di belakangnya.

Travis melihat ke atas ke arahku. “Aku tahu aku menjadi gila kalau itu tentangmu, tapi Tuhan tahu aku berusaha, Pidge. Aku tidak mau mengacaukan ini.”

“Kalau begitu jangan.”

“Ini sangat sulit untukku, kau tahu. Aku merasa setiap saat kau akan menyadari betapa tidak berharganya aku lalu meninggalkanku. Ketika kau berdansa tadi malam, aku melihat banyak pria berbeda yang memperhatikanmu. kau pergi ke bar, dan aku melihat kau berterimakasih pada pria itu untuk minumanmu. Lalu orang brengsek yang di lantai dansa itu memegangmu.”

“kau tidak melihatku memukuli setiap wanita yang berbicara denganmu. Aku tidak bisa selalu diam di apartemen sepanjang waktu. kau harus bisa untuk dapat mengontrol emosimu.”

“Aku akan bisa mengontrolnya. Aku tidak pernah ingin punya kekasih sebelumnya, Pigeon. Aku tidak terbiasa merasa seperti ini tentang seseorang…tentang siapapun. Jika kau mau bersabar terhadapku, aku bersumpah akan mengatasinya.”

“Mari kita luruskan beberapa hal; kau bukan orang yang tidak berguna, kau adalah orang yang sangat mengagumkan. Tidak peduli siapa yang membelikanku minuman, atau yang mengajakku berdansa, atau yang mencoba merayuku. Aku akan pulang bersamamu. kau minta aku untuk mempercayaimu, tapi kau tampak tidak percaya padaku.”

Dia cemberut. “Itu tidak benar.”

“Jika kau pikir aku akan meninggalkanmu untuk pria yang datang padaku berikutnya, itu berati kau tidak mempercayaiku.”

Dia mempererat pegangannya. “Aku tidak cukup baik untukmu, Pidge. Itu bukan berarti aku tidak percaya padamu, aku hanya bersiap untuk hal yang sudah pasti akan terjadi.”

“Jangan berkata seperti itu. Saat kita berdua, kau sangat sempurna. Kita sangat sempurna. Tapi kau membiarkan orang lain menghancurkannya. Aku tidak mengharapkan kau berubah seratus delapan puluh derajat, tapi kau harus memilih mana hal yang lebih penting. kau tidak bisa selalu memukul setiap orang yang melihatku.”

Dia mengangguk. “Aku akan melakukan apapun maumu. Tapi…katakan bahwa kau mencintaiku.”

“Kau tahu itu.”

“Aku ingin mendengar kau mengatakannya,” dia berkata, alisnya terangkat.

“Aku mencintaimu,” aku berkata sambil menciumnya. “Sekarang berhentilah berkelakuan seperti anak kecil.”

Dia tertawa, merangkak naik ke tempat tidurku. Kami menghabiskan waktu selama satu jam di tempat yang sama di bawah selimut, cekikikan dan berciuman, hampir tidak menyadari saat Kara kembali dari kamar mandi.

“Bisakah kau keluar? Aku harus berpakaian,” Kara berkata pada Travis, mengencangkan jubah mandinya.

Travis mencium pipiku, lalu melangkah keluar kamar. “Sampai bertemu sebentar lagi.”

Aku menjatuhkan kepalaku ke atas bantal saat Kara menggeledah lemarinya. “Kenapa kau kelihatan sangat senang, Abby? Kekasihmu adalah contoh utama, yang menakutkan mengingat dia dari yang tidak pernah menghormati wanita sama sekali menjadi yang berpikir bahwa dia membutuhkanmu untuk bernafas.”

“Mungkin dia memang begitu.” aku berkata, tidak akan membiarkan dia merusak moodku.

“Apa kau tidak ingin tahu mengapa bisa seperti itu? Maksudku….dia pernah tidur dengan sebagian dari wanita yang ada di kampus ini. Kenapa kau yang dia pilih?”

“Dia bilang aku berbeda.”

“Tentu saja saja dia bilang begitu. Tapi kenapa?”

“Kenapa kau peduli?” aku membentak.

“Sangat berbahaya untuk membutuhkan seseorang sebegitu besarnya. kau berusaha untuk menolongnya dan dia berharap kau dapat menolongnya. Kalian berdua adalah musibah.”

Aku tersenyum sambil melihat langit-langit. “Tidak penting apa atau mengapa begitu. Ketika itu berjalan dengan baik, Kara…itu sangat indah.” 

Dia memutar matanya. “kau memang tidak ada harapan.”

Travis mengetuk pintu, dan Kara membiarkan dia masuk.

“Aku akan ke ruang makan untuk belajar. Semoga beruntung,” dia berkata dengan suara paling tulus yang dia bisa kerahkan.

“Semoga beruntung untuk apa?” Travis bertanya.

“Dia bilang kita berdua adalah musibah.”

“Beritahu aku sesuatu yang tidak aku ketahui,” dia tersenyum. Matanya tiba-tiba menjadi fokus, dan dia mencium bagian belakang telingaku. “Kenapa kau tidak pulang bersamaku?”

Aku menaruh tanganku di belakang lehernya dan mendesah karena bibirnya yang lembut di kulitku. “Aku pikir aku akan tinggal di sini. Aku selalu berada di apartemenmu.”

Kepalanya terangkat. “Terus kenapa? kau tidak suka berada di sana?”

Aku menyentuh pipinya lalu menghela nafas. Dia sangat cepat cemas. “Tentu saja aku senang berada di sana, tapi aku tidak tinggal di sana.”

Dia mengusapkan ujung hidungnya di leherku. “Aku ingin kau berada di sana. Aku menginginkanmu di sana setiap malam.”

“Aku tidak akan tinggal bersamamu,” aku berkata sambil menggelengkan kepala.

“Aku tidak memintamu untuk tinggal bersamaku. Aku hanya bilang aku ingin kau ada di sana.”

“Sama saja!” aku tertawa.

Travis cemberut. “Kau serius tidak akan menginap bersamaku malam ini?”

Aku menggelengkan kepala, dan matanya bergerak menatap dinding kamarku lalu ke langit-langit. Aku hampir dapat melihat roda yang berputar di dalam kepalanya. “Kau sedang memikirkan apa?” aku bertanya, memicingkan mataku.

“Aku berusaha memikirkan tentang membuat taruhan baru.”
***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar