Jumat, 20 November 2015

BEAUTIFUL DISASTER - BAB 12

SERASI

Aku memasukan satu pil kecil ke dalam mulutku dan menelannya bersama dengan satu gelas besar air. Aku berdiri di tengah kamar Travis dengan hanya memakai bra dan celana dalam, bersiap untuk memakai piyamaku.

"Apa itu?" Travis bertanya dari atas tempat tidur.

"Ehm…pil ku?"

Dia merengut. "Pil apa?"

"Pil, Travis. kau belum mengisi kembali laci atasmu dan hal terakhir yang aku butuhkan adalah khawatir tentang apakah aku akan mendapat menstruasiku atau tidak."

"Oh."

"Salah satu dari kita harus bertanggung jawab," aku berkata sambil mengangkat alisku.

"Ya Tuhan, kau sangat seksi," Travis berkata, menahan kepala di atas tangannya. "Wanita tercantik di Eastern adalah kekasihku. Itu gila."

Aku memutar mataku dan memasukkan baju sutra ke kepalaku, merangkak naik ke sampingnya di atas tempat tidur. Aku duduk di atas pangkuannya dan mencium lehernya, cekikikan saat dia menyandarkan kepalanya di kepala tempat tidur. "Lagi? kau akan membunuhku, Pidge."

"kau tidak akan mati," aku berkata sambil menciumi wajahnya. "kau terlalu berharga."

"Bukan, aku tidak bisa mati karena terlalu banyak orang brengsek yang berusaha untuk merebut posisiku! Aku harus hidup selamanya untuk membuat mereka iri."

Aku cekikikan di mulutnya dan dia membalik tubuhku sehingga aku terbaring di atas tempat tidur. Tangannya meluncur ke bawah tali ungu lembut yang terikat di atas bahuku dan melepasnya dari tanganku, lalu menciumi bahuku.

"Mengapa aku, Trav?"

Dia terduduk, menatap mataku. "Apa maksudmu?"

"Kau telah bersama banyak wanita, tidak mau berpacaran, bahkan menolak saat di beri nomor telepon…jadi mengapa aku yang kau pilih?"

"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal ini?" dia bertanya, ibu jarinya membelai pipiku.

Aku mengangkat bahu. "Aku hanya ingin tahu."

"Mengapa aku? Ada separuh dari pria di Eastern yang sedang menungguku melakukan kesalahan."

Aku mengerutkan hidungku. "Itu tidak benar. Jangan mengalihkan pembicaraan."

"Itu benar. Jika aku tidak mengejarmu dari awal kuliah, kau akan bersama Parker Hayes yang mengikutimu kemana-mana. Dia terlalu mementingkan diri sendiri untuk merasa takut padaku."

"Kau menghindari pertanyaanku!"

"Baiklah. Mengapa dirimu?" Senyuman lebar terukir di wajahnya lalu dia mendekat dan mencium bibirku. "Aku merasakan sesuatu padamu sejak kau menonton pertarungan malam itu."

"Apa?" aku berkata dengan ekspresi meragukan.

"Ya, benar. Kau memakai cardigan dengan noda percikan darah di seluruh tubuhmu? kau terlihat sangat menggelikan." Dia tertawa kecil.

"Terima kasih."

Senyumnya menghilang. "Pada saat kau melihat ke arahku. Pada saat itulah. Mata lebar, wajah yang polos…tidak berpura-pura. kau tidak melihatku sebagai Travis Maddox," dia berkata, memutar matanya pada kata-katanya sendiri, "kau melihatku sebagai…aku tak tahu, sebagai seorang manusia mungkin."

"Sekilas info, Trav. Kau memang seorang manusia."

Dia mengusap poni dari wajahku. "Bukan, sebelum kau ada, Shepley satu-satunya orang yang memperlakukanku tidak seperti orang lain memperlakukanku. kau tidak canggung, menggoda, atau memainkan rambutmu. kau benar-benar melihat aku."

"Aku sudah benar-benar jahat padamu, Travis."

Dia mencium leherku. "Itu yang membuatku menyukaimu."

Tanganku membelai punggungnya lalu masuk ke dalam celana boxernya. "Aku harap ini menjadi masalah lama. Aku tidak akan pernah merasa bosan padamu."

"Janji?" dia bertanya sambil tersenyum.

Telepon Travis bergetar di atas meja lampu tempat tidur dan dia tersenyum, mengangkatnya ke telinga. "Yah?...Oh, tentu saja tidak, aku bersama Pidge di sini. Kami baru akan tidur…Tutup mulutmu, Trent, itu tidak lucu…Serius? Apa yang dia lakukan di sini?" Dia melihat ke arahku lalu menghela nafas. "Baiklah. Kami akan tiba dalam setengah jam…kau dengar aku, sialan. Karena aku tak akan pergi kemana pun tanpa dia, itu alasannya. Kau ingin aku menghantamkan wajahmu saat aku tiba di sana?"

Travis menutup telepon dan menggelengkan kepala.

Aku mengangkat alisku. "Itu adalah percakapan yang paling aneh yang pernah aku dengar."

"Itu adalah Trent. Thomas sedang berada di sini dan sekarang adalah malam Poker di rumah ayahku."

"Malam Poker?" aku menelan ludah.

"Ya, mereka biasanya memenangkan semua uangku. Dasar bajingan curang."

"Aku akan bertemu keluargamu dalam tiga puluh menit?"

Dia melihat jam tangannya. "Dua puluh tujuh menit lagi tepatnya."

"Ya Tuhan, Travis!" aku meratap, melompat dari tempat tidur.

"Apa yang kau lakukan?" dia menghela nafas.

Aku menggeledah lemari dan mengenakan celana jeans, melompat berkali-kali untuk menariknya ke atas, lalu melepas baju tidurku, melemparnya ke wajah Travis. "Aku tidak percaya kau memberitahuku hanya dua puluh lima menit sebelum aku bertemu keluargamu! Aku ingin membunuhmu sekarang!"

Dia menyingkirkan baju tidurku dari matanya lalu tertawa karena melihat usaha putus asaku untuk terlihat rapi. Aku mengambil kaos v-neck lalu memakainya, kemudian lari menuju kamar mandi, menggosok gigiku, dan menyisir rambutku. Travis berjalan di belakangku, sudah mengganti pakaiannya dan siap untuk pergi, lalu memeluk pinggangku.

"Aku terlihat berantakan!" kataku, mengernyit di depan cermin.

"Apa kau tidak sadar betapa cantiknya dirimu?" dia bertanya, mencium leherku.

Aku mendengus, berlari ke kamar Travis untuk mencari sepatu hak tinggi lalu memakainya, kemudian memegang tangan Travis saat dia menuntunku ke luar pintu. Aku berhenti berjalan, menarik ritsleting jaket kulitku lalu mengikat rambutku bersiap untuk perjalanan yang akan berangin kencang menuju rumah ayahnya Travis.

"Tenanglah, Pigeon. Di sana hanya akan ada beberapa pria yang duduk mengelilingi meja."

"Ini pertama kalinya aku bertemu Ayah dan seluruh kakakmu…semua dalam waktu yang bersamaan…dan kau memintaku agar tenang?" aku berkata sambil naik ke atas motor.

Dia memiringkan lehernya, menyentuh pipiku saat dia menciumku. "Mereka akan mencintaimu, seperti aku."
***

Ketika kami tiba, aku mengurai rambutku dan menyisirnya menggunakan jariku beberapa kali sebelum Travis menuntunku ke pintu.

"Ya Tuhan! Itu si bodoh!" satu dari mereka berteriak.

Travis mengangguk sekali. Dia berusaha untuk terlihat kesal, namun aku bisa melihat dia senang bertemu dengan semua saudaranya. Rumahnya usang, dengan wallpaper kusam berwarna kuning dan coklat dan karpet berbulu kasar berwarna coklat bergradasi. Kami berjalan menelusuri lorong yang menuju langsung ke sebuah ruangan dengan pintu yang terbuka lebar. Bau rokok tercium di lorong, Ayah dan kakak Travis sedang duduk mengelilingi meja kayu bundar di atas kursi yang tidak serasi.

"Heh, heh….jaga bahasamu di depan seorang wanita," Ayah Travis berkata, cerutu bergerak naik turun di mulutnya saat dia berbicara.

"Pidge, ini ayahku, Jim Maddox. Ayah, ini Pigeon."

"Pigeon?" Jim bertanya, ekspresi kagum di wajahnya.

"Abby," aku tersenyum, menjabat tangannya.

Travis menunjuk ke arah saudaranya. "Itu Trenton, Taylor, Tyler, dan Thomas."

Semua mengangguk, semua kecuali Thomas yang terlihat seperti Travis namun lebih tua; rambut cepak, mata coklat, kaos mereka kelihatan ketat diatas otot mereka yang menonjol dan penuh tatoo.

Thomas memakai kemeja dan dasi yang di longgarkan, matanya hijau kecoklatan, dan rambutnya yang pirang gelap lebih panjang satu inchi dari Travis dan Thomas.

"Apa Abby mempunyai nama belakang?" Jim bertanya.

"Abernathy," aku mengangguk.

"Senang bertemu denganmu, Abby," Thomas berkata sambil tersenyum.

"Sangat senang," Trent berkata sambil menatap nakal. Lalu Jim memukul belakang kepalanya dan dia berteriak. "Memang aku ngomong apa?" dia berkata sambil mengusap-usap belakang kepalanya.

"Silahkan duduk, Abby. Perhatikan kami mengambil uang Travis." kata salah satu dari si kembar. Aku tidak bisa membedakan; mereka sangat mirip satu sama lain, bahkan tatoo mereka sama.

Di ruangan itu terpajang foto-foto pertandingan poker lama, foto legenda poker yang berpose bersama Jim dengan seseorang yang aku perkirakan adalah kakek Travis, dan kartu antik di sepanjang lemari.

"Anda mengenal Stu Unger?" aku berkata sambil menunjuk ke arah foto yang berdebu.

Mata sipitnya Jim berbinar. "kau tahu siapa Stu Unger?

Aku mengangguk. "Ayahku juga penggemarnya."

Jim berdiri, menunjuk ke arah foto berikutnya. "Dan di sana itu adalah Doyle Brunson."

Aku tersenyum. "Ayahku pernah melihat pertandingannya, sekali. Dia sangat luar biasa."

"Kakeknya Travis adalah pemain poker professional…kami bermain poker dengan serius di sini," Jim tersenyum.

Aku duduk di antara Travis dan salah satu dari si kembar sementara Trenton mengocok setumpuk kartu dengan cukup lihai. Mereka menaruh uang mereka dan Jim membagikan chip.

Trenton menarik salah satu alisnya. "kau ingin ikut bermain, Abby?"

Aku tersenyum sopan dan menggelengkan kepala. "Kupikir seharusnya tidak."

"kau tak tahu cara mainnya?" Jim bertanya.

Aku tidak bisa menahan senyum. Jim tampak serius, nyaris kebapakan. Aku tahu jawaban apa yang dia harapkan, dan aku tidak mau mengecewakannya.

Travis mencium keningku. "Ikut bermain saja…aku akan mengajarimu."

"Sekarang kau akan mengucapkan selamat tinggal pada uangmu, Abby," Thomas tertawa.

Aku menutup rapat bibirku dan meraih ke dalam tas, mengeluarkan dua lembar uang lima puluh dolar. Aku menyerahkannya pada Jim dan menunggu dengan sabar saat dia menukarnya dengan kepingan chip. Bibir Trenton tersenyum dengan sombong, namun aku mengacuhkannya.

"Aku percaya pada keahlian mengajar Travis." Kataku.

Salah satu dari si kembar bertepuk tangan. "Hore! Aku akan bertambah kaya malam ini!"

"Kali ini mulai dengan taruhan kecil," Jim berkata sambil melempar chip lima dollar.

Trenton membagikan kartu, dan Travis membuka lebar tanganku. "Apakah kau pernah bermain kartu sebelumnya?"

"Sudah lama tidak." Aku mengangguk.

"Cangkulan tidak di hitung," Kata Trenton sambil melihat kartunya.

"Tutup mulutmu, Trent," kata  Travis, melirik ke arah kakaknya sebelum melihat kembali ke arah tanganku. "Kau mengharapkan kartu dengan angka yang lebih besar, berurutan, dan jika kau benar-benar beruntung, memperoleh daun yang sama."

Putaran pertama, Travis melihat kartuku dan aku melihat kartunya. Aku sebagian besar hanya mengangguk dan tersenyum, bermain saat disuruh. Aku dan Travis kalah, kepingan chipku sudah berkurang saat putaran pertama berakhir.

Setelah Thomas membagikan kartu untuk putaran kedua, aku tidak membiarkan Travis melihat kartuku. "Kurasa aku sudah mengerti sekarang." Kataku.

"kau yakin?" dia bertanya.

"Aku yakin, sayang." Aku tersenyum.

Pada tiga putaran berikutnya, aku telah memenangkan kembali semua chipku dan mengambil tumpukan chip yang lain dengan sepasang As, straight (seri), dan kartu yang angkanya tinggi.

"Sialan!" Trenton merengek. "Keberuntungan pemula menyebalkan."

"kau punya murid yang cepat mengerti, Trav," Jim berkata sambil menggigit cerutu di mulutnya.

Travis meminum birnya. "kau membuatku bangga, Pigeon!" matanya bersinar karena merasa senang, dan senyumnya berbeda dari yang pernah aku lihat sebelumnya.

"Terima kasih," aku tersenyum.

"Orang yang tidak bisa main poker tapi mengajari orang lain." Thomas berkata sambil menyeringai.

"Sangat lucu, brengsek," Travis menggerutu.

Empat putaran berikutnya, aku meminum bir terakhirku dan memicingkan mataku ke arah satu-satunya pria di meja yang belum menyerah. "Kau tinggal memilih, Taylor. kau akan menjadi seperti anak kecil atau akan menambah taruhanmu seperti seorang pria?"

"Terserah," dia berkata sambil melempar chip terakhirnya.

Travis menatapku, matanya terlihat bersemangat. Itu mengingatkanku pada ekspresi semua orang saat melihat dia bertarung.

"Apa yang kau punya, Pigeon?"

"Taylor?" aku mendorongnya.

Senyuman lebar terukir di wajahnya. "Flush!" dia tersenyum, membuka kartunya di atas meja.

Lima pasang mata menatapku. Aku melihat ke arah meja lalu membanting kartuku. "Lihat dan menangislah, boys! 3 As dan 2 delapan!" kataku sambil tertawa cekikikan.

"Full house? Kok bisa?" Trent berteriak.

"Maafkan. Aku selalu ingin mengatakan itu," aku berkata sambil menarik semua chipku.

Mata Thomas memicing. "Ini bukan keberuntungan pemula. Dia memang bisa main."

Travis menatap Thomas beberapa saat lalu melihat ke arahku. "Apa kau pernah main sebelumnya, Pidge?"

Aku mengatupkan mulutku lalu mengangkat bahu, memberikan senyuman tanpa dosa terbaikku. Kepala Travis terkulai ke belakang, tertawa terbahak-bahak. Dia mencoba berbicara tapi dia tidak bisa, lalu memukul meja dengan tangannya.

"Kekasihmu menipu kita!" kata Taylor sambil menunjuk ke arahku.

"TIDAK MUNGKIN!" Trenton mengeluh lalu berdiri.

"Rencana yang bagus, Travis. Membawa pemain poker ahli ke malam poker," kata Jim, sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.

"Aku tidak tahu!" katanya, menggelengkan kepala.

"Omong kosong," kata Thomas, menatapku.

"Aku benar-benar tidak tahu!" dia bicara di sela tawanya.

"Aku tidak suka mengatakannya, Bro. Tapi aku pikir aku jatuh cinta pada kekasihmu," kata Tyler.

"Heh, enak saja," kata Travis, senyumnya langsung hilang jadi meringis.

"Cukup. Aku tadi bersikap lunak padamu, Abby, tapi aku akan memenangkan semua uangku kembali sekarang," Trentron memperingatkan.

Travis tidak ikut bermain di beberapa putaran terakhir, memperhatikan semua kakaknya melakukan yang terbaik untuk mengambil kembali uang mereka. Putaran ke putaran berikutnya, aku memenangkan chip mereka, putaran ke putaran berikutnya, Thomas memperhatikanku lebih teliti. Setiap kali aku membuka kartuku Jim dan Travis tertawa, Taylor memaki, Tyler mengungkapkan cinta matinya padaku, dan Trent mengamuk.

Aku menukar semua chipku dan memberi mereka tiap orang seratus dollar ketika kami semua duduk di ruang tamu. Jim menolaknya sedangkan yang lain menerimanya dengan senang. Travis menarik lenganku dan kami berjalan ke pintu. Aku dapat melihat dia tidak senang, maka aku meremas jarinya.

"Ada apa, sayang?"

"kau baru saja memberikan empat ratus dolar, Pidge!" Travis merengut.

"Kalau ini malam poker di Sig Tau, aku akan menyimpannya. Aku tidak bisa mengambil uang saudaramu di hari pertama aku bertemu mereka."

"Mereka akan mengambil uangmu!" Travis berkata.

"Dan aku juga tidak akan mengalah lagi nanti," Tyler tertawa.

Thomas menatapku dengan diam dari pojok ruangan.

"Mengapa kau terus memandangi kekasihku, Tommy?"

"Apa tadi kau bilang nama belakangmu?" Thomas bertanya.

Aku bergerak dengan gugup. Travis menyadari ketidaknyamananku, berpaling ke arah saudaranya lalu memeluk pinggangku. Aku merasa tidak yakin dia melakukannya karena ingin melindungiku atau karena bersiap-siap untuk mendengar apa yang saudaranya akan katakan.

"Abernathy, memang kenapa?"

"Aku mengerti mengapa kau tidak mengatakannya sampai sekarang, Trav, tapi sekarang kau tidak bisa mengelak." Thomas berkata, puas pada diri sendiri.

"Apa yang kau bicarakan?" tanya Travis.

"Apa kau ada hubungannya dengan Mick Abernathy?" tanya Thomas.

Semua kepala berpaling padaku dan aku dengan gugup mengaruk kepalaku. "Bagaimana kau mengenal Mick?"

Travis memiringkan kepalanya untuk melihat mataku. "Dia satu-satunya pemain poker terbaik yang pernah ada. kau mengenalnya?"

Aku meringis, mengetahui akhirnya aku di pojokan untuk memberitahu yang sebenarnya. "Dia adalah ayahku."

Satu ruangan meledak.

"TIDAK MUNGKIN!"

"AKU SUDAH MENGIRA!"

"KITA SUDAH DIPERMAINKAN OLEH ANAKNYA MICK ABERNATHY!"

"MICK ABERNATHY? YA TUHAN!"

Hanya Thomas, Jim, dan Travis yang tidak berteriak. "Aku tadi kan sudah bilang aku tidak harus ikut bermain," kataku.

"Jika tadi kau mengatakan kalau kau anaknya Mick Abernathy, kupikir kita akan lebih serius melawanmu." kata Thomas.

Aku melirik Travis, yang menatapku dengan kagum. "kau adalah si Lucky Thirteen?" tanyanya, matanya sedikit kabur.

Trenton berdiri dan menunjuk ke arahku, mulutnya terbuka lebar. "Lucky Thirteen ada di rumah kita! Tidak mungkin! Aku tak bisa mempercayainya!"

"Itu julukan yang Koran berikan padaku. Dan ceritanya tidaklah begitu akurat," kataku, gelisah.

"Aku harus membawa Abby pulang, guys," kata Travis, masih menatapku.

Jim menatapku dari kacamatanya. "Kenapa tidak akurat?"

"Aki tidak mengambil keberuntungan ayahku. Maksudku, itu sangat konyol," aku tertawa kecil, memainkan rambut dengan jariku.

Thomas menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mick pernah di wawancara. Dia bilang saat tengah malam pada ulang tahunmu yang ke tiga belas keberuntungannya hilang."

"Dan keberuntunganmu bertambah," Travis menambahkan.

"Kau dibesarkan oleh anggota mafia!" kata Trent, tersenyum dengan senang,

"Ehm..tidak," Aku tertawa sekali. "Mereka tidak membesarkanku, mereka hanya… sering ada bersamaku."

"Sangat di sayangkan, Mick menjelekkan namamu di semua koran seperti itu. kau masih anak-anak waktu itu," kata Jim, menggelengkan kepalanya.

"Mungkin tadi itu hanya keberuntungan pemula," kataku, dengan putus asa berusaha menyembunyikan rasa maluku.

"Kau diajari oleh Mick Abernathy," kata Jim, menggelengkan kepalanya dengan kagum. "Kau bermain secara professional, dan menang, pada umur tiga belas tahun demi Tuhan." Dia melihat ke arah Travis lalu tersenyum. "Jangan bertaruh melawannya, nak. Dia tidak pernah kalah."

Travis menatapku, saat itu, ekspresinya masih terkejut dan bingung. "Ehm…kami harus pergi, ayah. Selamat tinggal, guys."
***

Keriuhan ocehan keluarga Travis menghilang saat dia menarikku keluar pintu menuju motornya. Aku mengikat rambutku dan menaikan ritsleting jaketku, menunggunya bicara. Dia naik ke motornya tanpa sepatah katapun, aku duduk di belakangnya.

Aku yakin dia merasa aku tidak jujur padanya, dan dia mungkin merasa malu karena mengetahui tentang bagian penting dari hidupku di saat yang sama dengan keluarganya. Aku menanti perdebatan yang hebat saat kami tiba di apartemen, dan aku sudah memikirkan beberapa cara yang berbeda untuk meminta maaf di kepalaku sebelum kami tiba di pintu depan.

Dia menuntun tanganku menelusuri lorong, membantuku membuka jaket.

Aku menarik tali rambut coklat dari atas kepalaku, dan rambutku terurai di atas bahuku. "Aku tahu kau marah," kataku, tidak sanggup menatap matanya. "Maafkan aku tidak memberitahumu, tapi itu bukan topik yang ingin aku bicarakan."

"Marah padamu?" Travis berkata. "Aku sangat terangsang hingga aku tidak bisa melihat dengan lurus. kau baru saja merampok semua saudaraku yang brengsek tanpa harus menggodanya, kau mendapatkan status legenda dari ayahku dan aku tahu kebenarannya bahwa kau dengan sengaja kalah dalam taruhan yang kita buat sebelum pertarunganku."

"Aku tidak akan menyebutnya seperti itu…."

Dia mengangkat dagunya. "Apa kau pikir kau akan menang?"

"Well…tidak, tidak begitu yakin," kataku, melepas sepatuku.

Travis tersenyum. "Jadi kau memang ingin bersamaku di sini. Kurasa aku baru saja jatuh cinta padamu sekali lagi."

"Kenapa kau tidak marah?" aku bertanya, melempar sepatuku ke dalam lemari.

Dia menghela nafas dan mengangguk. "Itu hal yang penting, Pidge. kau seharusnya memberitahuku. Tapi aku mengerti kenapa kau tidak memberitahuku. Kau datang kemari untuk menghindari semua itu. Ini seperti langit yang terbuka….semua masuk akal sekarang."

"Well, itu membuatku lega."

"Lucky Thirteen," dia berkata, menggelengkan kepalanya dan melepas kaosku.

"Jangan panggil aku itu, Travis. Itu bukan hal yang bagus."

"kau sangat terkenal, Pigeon!" dia berkata, terkejut pada kata-kataku. Dia melepas kancing celana jeansku dan menariknya ke bawah mata kaki, lalu membantuku melangkah keluarnya.

"Ayahku membenciku karena itu. Dia masih menyalahkanku atas semua masalahnya."

Travis melepas kaosnya lalu memelukku. "Aku masih tidak percaya anaknya Mick Abernathy berdiri di hadapanku, dan aku bersamanya selama ini tanpa menyadarinya."

Aku mendorongnya menjauh. "Aku bukan anaknya Mick Abernathy, Travis! Itu yang aku tinggalkan di belakang. Aku adalah Abby. Hanya Abby!" aku berkata sambil berjalan menuju lemari. Aku menarik kaos dari gantungan baju dan memgenakannya.

Dia menghela nafas. "Maafkan aku. Aku hanya sedikit terpukau oleh seorang bintang."

"Ini cuma aku!" aku meletakan tanganku di dadaku, putus asa membuatnya agar mengerti.

"Ya, tapi…"

"Tidak ada tapi. Caramu melihatku sekarang? Inilah alasan yang membuatku tidak memberitahumu." Aku menutup mataku. "Aku tak mau hidup seperti itu lagi, Trav. Meskipun bersamamu."

"Wow! Tenanglah, Pigeon. Jangan terlalu jauh." Matanya fokus menatapku dan dia berjalan ke arahku lalu memelukku. "Aku tidak peduli siapa kau dulu. Aku hanya menginginkan dirimu."

"Kalau begitu kita menginginkan hal yang sama."

Dia menuntunku ke tempat tidur, tersenyum ke arahku. "Hanya kau dan aku melawan dunia, Pidge."

Aku meringkuk di sampingnya. Aku tidak merencanakan siapapun untuk mengetahui tentang Mick selain aku dan America, dan aku tak pernah mengira kekasihku berasal dari keluarga penggemar poker. Aku menghembuskan nafas panjang, menekan pipiku di dadanya.   

"Ada apa?" dia bertanya.

"Aku tidak ingin siapapun tahu tentang ini, Trav. Aku bahkan tidak ingin kau mengetahuinya."

"Aku mencintaimu, Abby. Aku tidak akan menyebutkan hal itu lagi, OK? Rahasiamu aman bersamaku," dia berkata sambil mencium keningku.
***

"Mr. Maddox, bisakah kau berhenti sebentar hingga kelas usai?" kata Prof. Chaney, bereaksi karena mendengarku cekikikan saat Travis menciumi leherku.

Aku berdehem, merasa malu.

"Saya rasa tidak akan bisa, Dr. Chaney. Apakah anda sudah melihat dengan baik wajah kekasihku?" kata Travis sambil menunjuk padaku.

Suara tawa bergema di seluruh ruangan dan wajahku merah padam. Prof. Chaney melihat sekilas ke arahku dengan sedikit tersenyum, dengan sedikit canggung dia menggelengkan kepalanya pada Travis.

"Lakukan sebisa mungkin," kata Chaney.

Seluruh kelas tertawa lagi, dan aku merosot di kursiku. Travis meletakkan tangannya di atas sandaran kursiku, dan pelajaran pun di lanjutkan. Setelah kelas selesai, Travis mengantarku ke kelas berikutnya.

"Maaf kalau aku sudah membuatmu malu. Aku tidak bisa menahan diriku."

"Berusahalah."

Parker berjalan melewati kami, lalu ketika aku membalas anggukannya dengan senyuman, matanya jadi bersinar.

"Hai, Abby. Sampai bertemu di dalam." Dia masuk ke dalam kelas, Travis menatap tajam ke arahnya untuk beberapa saat yang menegangkan.

"Hey," aku menarik tangan Travis hingga dia melihat ke arahku. "Lupakan dia."

"Dia cerita pada semua orang di The House kalau kau masih menelponnya."

"Itu tidak benar," kataku, tidak terpengaruh.

"Aku tahu itu, tapi mereka tidak. Dia bilang dia hanya menunggu waktunya. Dia mengatakan pada Brad kalau kau menunggu waktu yang tepat untuk mencampakkan aku, dan bagaimana kau meneleponnya untuk bilang betapa kau tidak bahagia. Dia mulai membuatku kesal."

"Dia benar-benar punya imajinasi." Aku menatap Parker dan ketika mata kami bertemu dan dia tersenyum, aku melotot ke arahnya.

"Apakah kau akan marah kalau aku membuatmu malu sekali lagi?"

Aku mengangkat bahuku dan tanpa membuang waktu Travis menuntunku ke dalam kelas. Dia berhenti di tempat dudukku, lalu menaruh tasku di lantai. Dia melihat ke arah Parker lalu menarikku ke pelukannya, satu tangannya di leherku, dan tangan satunya di punggungku lalu menciumku, dalam dan bertekad. Dia menciumku seperti saat kami sedang berada di kamarnya, dan aku tidak bisa menahannya selain menarik kaosnya dengan kedua tanganku.

Suara bisikan dan cekikikan semakin terdengar keras saat Travis dengan jelas tidak akan melepaskanku dalam waktu dekat.

"Aku rasa dia baru saja membuatnya hamil!" kata seseorang di belakang kelas, tertawa.

Aku menjauh dari Travis dengan mata tertutup, berusaha untuk tenang kembali. Saat aku melihat Travis, dia sedang menatapku mencoba untuk menahan dirinya juga.

"Aku hanya ingin menekankan maksudku," dia berbisik.

"Bagus," aku mengangguk.

Travis tersenyum, mencium pipiku lalu melihat ke arah Parker yang terlihat sangat marah di kursinya.

"Sampai bertemu nanti saat makan siang," Travis mengedipkan sebelah matanya padaku.

Aku duduk di kursiku lalu menghela nafas, berusaha untuk menghilangkan rasa menggelitik di antara pahaku.

Aku berusaha konsentrasi pada pelajaran Kalkulus, dan ketika kelas usai aku menyadari Parker berdiri di tembok dekat pintu.

"Parker," aku mengangguk, bertekad untuk tidak memberinya reaksi yang dia harapkan.

"Aku tahu kau berpacaran dengannya. Dia tidak harus melecehkanmu seperti itu di depan seluruh kelas hanya untuk memberitahuku."

Aku berhenti berjalan dan siap untuk menyerang. "Mungkin seharusnya kau berhenti untuk mengatakan pada semua temanmu kalau aku meneleponmu. kau akan mendorongnya terlalu jauh dan aku tidak akan mengasihanimu kalau sampai dia menendangmu."

Dia mengerutkan hidungnya. "Dengarkan dirimu. kau terlalu sering bersama Travis."

"Tidak, inilah aku. Ini hanya bagian dari aku yang kau tidak tahu sama sekali."

"kau tidak memberiku kesempatan, kan?"

Aku menghela nafas. "Aku tidak ingin bedebat denganmu, Parker. Hanya saja itu tidak akan berjalan dengan baik, OK?"

"Tidak, itu tidak baik. kau pikir aku menikmati ditertawakan oleh seluruh Eastern? Travis Maddox adalah seseorang yang kami hargai karena membuat kami terlihat baik. Dia memperalat wanita, lalu mencampakkannya, dan bahkan orang paling brengsek di seluruh Eastern pun tampak seperti Pangeran Tampan di samping Travis."

"Kapan kau akan membuka matamu dan menyadari kalau dia berbeda sekarang?"

"Dia tidak mencintaimu, Abby. kau hanya mainan baru baginya. Bahkan setelah kejadian tadi di kelas, aku beranggapan kau bukan lagi mainan barunya."

Aku menampar wajahnya diikuti suara keras sebelum aku menyadari apa yang telah aku lakukan.

"Jika kau menunggu beberapa saat, aku akan melakukannya untukmu, Pidge," kata Travis sambil menarikku ke belakangnya.

Aku menarik lengannya. "Travis, jangan."

Parker terlihat sedikit gugup saat garis merah bekas telapak tanganku muncul di wajahnya.

"Aku sudah memperingatkanmu," kata Travis, mendorong Parker dengan kasar ke tembok.

Rahang Parker menjadi tegang lalu dia melihat ke arahku. "Anggap ini sebagai penutupan, Travis. Aku tahu sekarang kalau kalian berdua memang serasi satu sama lain."

"Terima kasih." kata Travis, meletakkan tangannya memeluk bahuku.

Parker menjauh dari tembok lalu dengan cepat berbelok ke pojok untuk menuruni tangga, memastikan Travis tidak mengikuti dengan melihat sekilas ke belakang.

"kau tidak apa-apa?" tanya Travis.

"Tanganku sakit."

Dia tersenyum. "Itu tadi hebat, Pidge. Aku terkesan."

"Dia mungkin akan menuntutku dan aku akan berakhir membiayai kuliahnya di Harvard. Apa yang kau lalukan di sini? Kupikir kita akan bertemu di kafetaria?"

Bibirnya tersenyum nakal. "Aku tidak bisa berkonsentrasi di kelas tadi. Aku masih merasakan ciuman tadi."

Aku melihat ke sekeliling lorong lalu menatapnya. "Ayo, ikut aku."

Alisnya terangkat karena tersenyum. "Apa?"

Aku berjalan mundur, menariknya bersamaku hingga aku merasakan pegangan pintu ruangan laboratorium Fisika. Pintunya terbuka, dan aku melihat ke belakang, melihat ruangan yang kosong dan gelap. Aku menarik lengannya, cekikikan karena ekspresi bingungnya, lalu mengunci pintu dan mendorongnya ke pintu.

Aku menciumnya dan dia tertawa pelan. "Apa yang kau lakukan?"

"Aku tidak ingin kau sulit berkonsentrasi di kelas," jawabku, sambil menciuminya lagi. Dia mengangkatku dan menaruh kakiku di sekeliling tubuhnya.

"Aku tidak yakin apa yang akan aku lakukan tanpamu," dia berkata sambil memelukku dengan satu tangannya dan membuka ikat pinggangnya dengan tangan satunya lagi, "tapi aku tak pernah ingin mengetahuinya. Kau adalah segalanya yang aku inginkan, Pigeon."

"Ingat itu saat aku mengambil semua uangmu saat malam poker berikutnya," aku berkata sambil membuka kaosku.

***


7 komentar:

  1. sis kalo mau download novel beautiful disaste ini adakah? trima kasih ya untuk setiap downloadan and terjemahan novelnya :)

    BalasHapus
  2. novel beautiful disaste bab 13 kpn update?? ceritanya seru banget

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. tlg dilanjutin dong ...udah nunggu2 nih gk sabar...;-
    ) dan semangat buat mbak rima. ....

    BalasHapus
  6. Beautiful Disaster by Jamie Mcguire english version nya berbeda ya sis?... nama - nama tokohnya juga berbeda? apakah ini memang novel sama yang dimaksud

    BalasHapus