Jumat, 20 November 2015

IF I STAY - BAB 4

10.12

KETIKA ambulans tiba di rumah sakit terdekat—bukan di kotaku tapi rumah sakit lokal kecil yang tampak lebih mirip panti wreda daripada rumah sakit—paramedis bergegas mendorongku ke dalam.

“Kurasa paru-parunya bocor. Masukkan tube ke dadanya dan bawa dia sekarang!” paramedis ramah berambut merah menjerit ketika menyerahkanku kepada sekelompok perawat dan dokter.

“Di mana yang lain?” tanya lelaki berjanggut yang mengenakan pakaian bedah.

“Pengemudi lain mengalami gegar otak ringan, ditangani di lokasi. Orangtua meninggal seketika. Anak laki-laki, tujuh tahun, persis di belakang kami.”

Aku mengembuskan napas kuat-kuat, seolah sudah menahannya selama dua puluh menit terakhir. Setelah melihat diriku sendiri di parit tadi, aku tidak mampu mencari Teddy. Jika dia dalam kondisi seperti Mom dan Dad, atau seperti aku, aku tidak… aku bahkan tidak ingin membayangkannya. Tapi Teddy tidak seperti kami. Dia masih hidup.

Mereka membawaku ke ruangan kecil yang terang. Dokter mengoleskan cairan jingga ke sisi dadaku kemudian menusukkan tube plastik. Dokter lain menyorotkan senter ke mataku. “Tidak ada respons,” dia memberitahu perawat. “Helikopter sudah datang. Bawa dia ke Ruang Trauma. Sekarang!”

Mereka bergegas mengeluarkanku dari UGD dan masuk elevator. Aku harus berlari untuk mengikuti mereka. Persis sebelum pintu tertutup, aku baru sadar Willow ada di sini. Aneh. Kami bermaksud mengunjunginya dan Henry serta anak mereka di rumah. Apakah dia dipanggil karena hari ini bersalju? Apakah karena kami? Dia melangkah cepat-cepat di lorong rumah sakit, wajahnya penuh konsentrasi. Kurasa dia bahkan belum tahu kamilah yang mengalami kecelakaan. Mungkin dia bahkan berusaha menelepon, meninggalkan pesan di ponsel Mom, meminta maaf karena ada kejadian darurat dan dia takkan ada di rumah ketika kami berkunjung.

Elevator membuka ke atap rumah sakit. Helikopter, baling-balingnya menebas udara, berdiri di tengah lingkaran merah besar.

Aku belum pernah naik helikopter. Sahabat karibku, Kim, pernah. Dia pernah terbang di atas Gunung St. Helens bersama pamannya, juru foto terkenal yang bekerja untuk majalah National Geographic.

“Dia mengoceh tentang bunga-bunga yang tumbuh setelah letusan gunung, dan aku muntah ke pangkuannya,” Kim bercerita padaku di kelas sehari sesudahnya. Dia masih tampak agak pucat setelah pengalaman itu.

Kim senang mengerjakan buku tahunan dan berharap suatu hari nanti bisa menjadi fotografer. Pamannya mengajaknya dalam perjalanan itu sebagai hadiah, untuk memupuk bakatnya.

“Muntahanku bahkan mengenai beberapa kameranya,” Kim meratap. “Aku takkan pernah menjadi fotografer sekarang.”

“Ada banyak jenis fotografer,” aku memberitahunya. “Kau tidak harus terbang ke mana-mana dengan helikopter.”

Kim tertawa. “Baguslah. Karena aku tidak mau naik helikopter lagi—dan kau juga jangan!”

Aku ingin berkata pada Kim bahwa kadang-kadang kau tidak punya pilihan.

Pintu helikopter dibuka dan brankarku beserta semua tube dan slang dimasukkan ke sana. Paramedis melompat masuk di sebelahku, masih memompa tube plastik kecil yang rupanya bernapas untukku. Begitu kami mengudara, aku mengerti mengapa Kim mual. Helikopter tidak seperti pesawat, peluru kencang yang terbang mulus. Helikopter lebih mirip bola hoki yang dilontarkan ke udara. Naik-turun, goyang ke kiri dan kanan. Aku heran sekali orang-orang ini masih bisa menanganiku, mampu membaca printout komputer kecil, bisa mengemudikan benda ini sambil berkomunikasi di sekitarku melalui headset, bagaimana mereka bisa melakukan semua itu sementara helikopter melonjak-lonjak.

Helikopter menembus kantong udara dan seharusnya aku merasa mual. Tapi aku tidak merasakan apa-apa, setidaknya aku yang sebagai penonton. Dan aku yang berada di brankar rupanya juga tidak merasakan apa-apa. Sekali lagi aku harus bertanya-tanya apakah aku sudah mati, tapi kemudian berkata pada diri sendiri, belum. Mereka tidak akan mengangkutku menggunakan helikopter ini, tidak akan terbang ngebut di atas hamparan hutan jika aku sudah mati.

Juga, jika aku sudah mati, kurasa Mom dan Dad telah menjemputku sekarang.

Aku bisa melihat jam di panel kontrol. Pukul 10.37. Aku ingin tahu apa yang terjadi di daratan sekarang. Apakah Willow sudah tahu siapa pasien daruratnya? Apakah sudah ada yang menghubungi kakek-nenekku? Mereka tinggal dua kota jauhnya dari kami, dan aku senang makan malam bersama mereka. Gramps gemar memancing dan dia mengasapi sendiri salmon serta tiram, dan kami mungkin akan menyantapnya beserta roti bir cokelat tebal buatan Gran. Kemudian Gran membawa Teddy ke tempat pembuangan sampah daur ulang yang besar di kota dan membiarkan anak itu mengarungi barang bekas untuk mencari majalah. Akhir-akhir ini Teddy menggemari Reader's Digest. Dia suka menggunting kartunnya dan membuat kolase.

Aku bertanya-tanya tentang Kim. Hari ini sekolah libur. Aku mungkin tidak bersekolah besok. Dia mungkin menyangka aku membolos karena tidur larut malam setelah menonton Adam dan Shooting Star di Portland.

Portland. Aku cukup yakin dibawa ke sana sekarang. Pilot helikopter terus membicarakan Trauma Satu. Di luar jendela, aku bisa melihat puncak Mount Hood menjulang. Itu artinya Portland telah dekat.

Apakah Adam sudah ada di sana? Dia bermain di Seattle tadi malam tapi selalu merasa penuh adrenalin setelah pertunjukan, dan mengemudi membantunya menenangkan diri. Anggota band yang lain dengan senang hati membiarkannya menyopir sementara mereka beristirahat. Jika sudah ada di Portland, dia mungkin masih tidur. Ketika bangun, apakah dia akan minum kopi di Hawthorne? Mungkin membawa buku ke Japanese Garden? Itulah yang dilakukannya terakhir kali aku pergi ke Portland bersamanya, hanya saja saat itu udara jauh lebih hangat. Nantinya, siang ini, aku tahu band mereka akan cek suara. Kemudian Adam akan keluar untuk menunggu kedatanganku. Mulanya, dia akan berpikir aku terlambat. Bagaimana mungkin dia menduga aku sebenarnya datang lebih awal? Bahwa aku tiba di Portland pagi ini sementara salju masih mencair?

---oOo---

“Kau pernah dengar tentang si Yo-Yo Ma ini?” Adam bertanya. Ketika itu musim semi tahun keduaku di SMA, artinya Adam kelas tiga. Saat itu, Adam sudah menontonku berlatih di ruang musik selama beberapa bulan. Kami belajar di sekolah negeri, tapi salah satu sekolah yang bagus dan selalu diulas di majalah nasional karena menekankan pelajaran seni. Kami memang mendapatkan banyak waktu bebas untuk melukis di studio atau berlatih musik. Aku menghabiskan waktu di ruangan-ruangan kedap suara bagian musik. Adam juga sering ada di sana, main gitar. Bukan gitar listrik yang dimainkannya di band. Hanya gitar akustik.

Aku memutar bola mata. “Semua orang pernah mendengar tentang Yo-Yo Ma.”

Adam nyengir. Aku menyadari untuk pertama kalinya bahwa senyumnya miring, mulutnya mencuat ke atas di satu sisi. Dengan ibu jari yang bercincin dia menunjuk ke luar kubikel. “Kurasa kau takkan menemukan lima orang di luar sana yang pernah dengar tentang Yo-Yo Ma. Dan omong-omong, nama apa sih itu? Bahasa gaul? Yo Mama?”

“Itu nama Cina.”

Adam menggeleng-geleng sambil tertawa. “Aku kenal banyak orang Cina. Mereka punya nama seperti Wei Chin. Atau Lee apalah. Bukan Yo-Yo Ma.”

“Kau tidak boleh menghujat sang master,” kataku. Tapi kemudian aku pun terbahak. Aku butuh beberapa bulan untuk meyakinkan diri bahwa Adam bukan hanya mengisengiku, dan setelah itu kami mulai sering mengobrol di koridor.

Tapi tetap saja, perhatiannya padaku membuatku bingung. Adam bukan cowok populer. Dia bukan olahragawan atau jenis yang kelihatan bakal sukses. Tapi dia keren. Keren karena bermain band dengan anak-anak kuliahan di kota kami. Keren karena dia punya gaya rock sendiri, diperolehnya dari toko murah dan obralan, bukan barang-barang tiruan bermerek Urban Outfitters. Keren karena dia tampak senang duduk di kantin sambil sibuk membaca buku, bukan hanya pura-pura membaca karena tak ada tempat duduk baginya atau teman untuk duduk bersama. Bukan itu alasannya. Dia memiliki sekelompok teman dan banyak pengagum.

Dan aku juga bukan anak culun. Aku punya banyak teman dan seorang sahabat karib yang duduk bersamaku saat makan siang. Aku punya teman-teman lain di konservatorium musik yang biasa kuikuti pada musim panas. Orang-orang lumayan menyukaiku, tapi mereka juga tidak terlalu mengenalku. Aku pendiam di kelas. Aku tidak sering mengangkat tangan atau membuat guru-guru jengkel. Dan aku sibuk, sebagian besar waktuku kugunakan untuk berlatih atau bermain dalam kuartet alat gesek atau ikut kelas teori di perguruan tinggi lokal. Anak-anak ramah padaku, tapi mereka memperlakukanku seolah aku orang dewasa. Seperti guru. Dan kau tidak main mata dengan gurumu.

“Kira-kira kau bakal bilang apa kalau kukatakan aku punya tiket untuk menonton sang master?” tanya Adam, matanya berkilat jenaka.

“Yang benar? Bohong,” balasku, mendorongnya lebih keras daripada yang kumaksud.

Adam pura-pura terjengkang menabrak dinding kaca. Kemudian ia menepuk-nepuk dirinya. “Aku punya kok. Di tempat Schnitzle di Portland itu.”

“Namanya Arlene Schnitzer Hall. Itu bagian Simfoni.”

“Ya, itu tempatnya. Aku punya tiket. Dua lembar. Kau mau?”

“Kau bercanda? Tentu saja! Aku ingin sekali menonton tapi tiketnya delapan puluh dolar selembar. Tunggu, bagaimana kau sampai punya tiket?”

“Teman keluarga memberikannya kepada orangtuaku, tapi mereka tidak bisa pergi. Biasa saja kok,” Adam berkata cepat-cepat. “Lagi pula, pertunjukannya malam Sabtu. Kalau kau mau, aku akan menjemputmu pukul setengah enam dan kita akan berkendara ke Portland bersama-sama.”

“Oke,” jawabku, seakan itu hal paling alamiah di dunia.

Tapi Jumat petang aku lebih berdebar-debar daripada ketika dengan gegabah meminum sepoci penuh kopi kental Dad saat belajar untuk ujian akhir musim dingin yang lalu.

Bukan Adam yang membuatku gugup. Aku sudah merasa nyaman berada di dekatnya sekarang. Aku gugup karena ketidakpastian. Apa ini sebenarnya? Kencan? Teman yang berbaik hati? Perbuatan amal? Aku tidak suka berada dalam situasi yang tidak pasti, sama seperti tidak suka tertatih-tatih memainkan musik baru. Itulah sebabnya aku sering berlatih, demi mempercepat diriku mengendalikan situasi kemudian mulai menguasai detailnya.

Aku berganti pakaian sekitar enam kali. Teddy, waktu itu sudah TK, duduk di kamarku, menurunkan buku-buku Calvin and Hobbes dari rak dan pura-pura membaca. Ia tertawa terbahak-bahak, meski aku tidak tahu apakah itu karena kelakuan Calvin atau karena sikapku.

Mom melongokkan kepala untuk memeriksa keadaanku. “Dia cuma cowok biasa, Mia,” katanya ketika melihatku gelisah.

“Yeah, tapi dia cowok pertama yang mengajakku pergi dalam situasi mungkin-kencan ini,” sahutku.
“Jadi aku tidak tahu apakah harus mengenakan pakaian untuk kencan atau untuk simfoni—apakah orang-orang di sini berdandan untuk acara seperti itu? Atau aku harus pakai sesuatu yang santai saja, kalau-kalau ini bukan kencan?”

“Kenakan saja pakaian yang membuatmu nyaman,” usul Mom. “Dengan begitu, kau aman.” Aku yakin Mom akan berdandan habis-habisan jika menjadi aku. Dalam foto-fotonya bersama Dad ketika mereka baru pacaran, Mom tampak seperti campuran cewek penakluk tahun 1930-an dan cewek biker, dengan rambut pendek mencuat, matanya yang biru dan besar dipoles eyeliner hitam, dan tubuhnya yang kurus selalu dibalut sesuatu yang seksi, seperti kamisol renda model kuno yang dipasangkan dengan celana kulit ketat.

Aku mendesah. Aku berharap bisa seberani itu. Akhirnya aku memilih rok hitam panjang dan sweter lengan pendek warna marun. Polos dan sederhana. Ciri khasku, kurasa.

Ketika Adam muncul mengenakan setelan jas sharkskin dan sepatu Creepers (paduan yang membuat Dad terkesan), aku sadar ini memang kencan. Tentu saja, Adam akan berdandan rapi untuk menonton simfoni dan mungkin saja menurutnya penampilan formal adalah setelan jas sharkskin tahun 1960-an, tapi aku tahu ada sesuatu yang lebih daripada itu. Dia kelihatan gugup ketika menjabat tangan Dad dan berkata bahwa dia menyimpan CD lama grup musik Dad. “Untuk digunakan sebagai tatakan gelas, pastinya,” komentar Dad. Adam tampak terkejut, tidak terbiasa mendengar orangtua lebih sarkastis daripada anak, rupanya.

“Jangan terlalu gila-gilaan ya. Ada yang luka parah di mosh pit konser Yo-Yo Ma terakhir!” Mom berseru ketika kami melintasi pekarangan.

“Orangtuamu keren,” komentar Adam, membukakan pintu mobil untukku.

“Aku tahu,” sahutku.

Kami berkendara ke Portland, sambil mengobrol ringan. Adam menyetel berbagai cuplikan lagu grup-grup musik yang disukainya, trio pop dari Swedia yang kedengaran monoton, tapi kemudian band artistik dari Islandia yang kedengaran indah sekali. Kami agak tersesat di tengah kota dan tiba di gedung konser hanya beberapa menit sebelum pertunjukan dimulai.

Tempat duduk kami ada di balkon. Jauh dari panggung. Tapi kau pergi ke konser Yo-Yo Ma bukan karena pemandangannya, dan musiknya luar biasa. Lelaki itu punya cara untuk membuat cello bersuara seperti wanita menangis pada satu saat, dan pada saat berikutnya menjadi seperti anak tertawa. Saat mendengarkannya, aku selalu diingatkan mengapa aku memutuskan bermain cello—ada sesuatu yang begitu manusiawi dan ekspresif tentang cello.

Ketika konser dimulai, aku mencuri-curi pandang ke arah Adam melalui sudut mata. Dia tampak cukup sabar menghadapi semua ini, tapi terus-menerus melihat program acara, mungkin menghitung waktu sampai saat jeda tiba. Aku khawatir dia bosan, tapi setelah beberapa saat aku terlalu terhanyut dalam musik sehingga tidak peduli padanya lagi.

Kemudian, waktu Yo-Yo Ma memainkan Le Grand Tango, Adam meraih dan menggenggam tanganku. Dalam situasi lain, ini akan menjadi tindakan norak yang kampungan. Tapi Adam tidak memandangku. Matanya terpejam dan tubuhnya bergoyang-goyang sedikit di kursi. Dia pun terhanyut dalam musik. Aku meremas tangannya dan kami duduk seperti itu selama sisa konser.
Setelahnya, kami membeli kopi dan donat lalu berjalan-jalan di sepanjang sungai. Udara berkabut dan dia membuka jaket untuk disampirkan ke bahuku.

“Kau tidak benar-benar mendapatkan tiket itu dari teman keluarga, kan?” aku bertanya.

Aku menduga dia bakal tertawa atau mengangkat tangan dengan gerakan menyerah seperti ketika aku mengalahkannya saat berargumen. Tapi dia menatapku lekat-lekat, sehingga aku bisa melihat warna hijau dan cokelat serta kelabu bermain-main pada selaput iris matanya. Dia menggeleng. “Itu tip setelah dua minggu mengantar piza,” dia mengakui.

Aku berhenti melangkah. Bisa kudengar suara air di bawahku. “Kenapa?” tanyaku. “Kenapa aku?”

“Aku belum pernah melihat orang yang bisa begitu terhanyut oleh musik seperti kau. Itulah sebabnya aku suka sekali menyaksikanmu berlatih. Ada kerutan lucu di dahimu, di sini,” kata Adam, menyentuh bagian atas tulang hidungku. “Aku terobsesi pada musik dan aku sekalipun tidak terhanyut seperti kau.”

“Jadi, apa? Aku eksperimen sosial untukmu?” Aku bermaksud bercanda, tapi kedengarannya pahit.
“Tidak, kau bukan eksperimen,” kata Adam. Suaranya parau dan tersekat.

Leherku memanas dan aku bisa merasakan wajahku memerah. Aku memandang sepatuku. Aku tahu pasti Adam sekarang menatapku, seperti aku tahu pasti bahwa jika aku menengadah, dia akan menciumku. Dan aku terkejut mengetahui betapa aku ingin dicium olehnya, menyadari bahwa aku sering memikirkannya sehingga aku hafal betul bentuk bibirnya, bahwa aku membayangkan jemariku mengelus belahan dagunya.

Mataku mengarah ke atas. Adam menungguku. Begitulah awal mulanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar