Minggu, 22 November 2015

IF I STAY - BAB 5

12.19

BANYAK yang salah pada diriku.

Rupanya paru-paruku bocor. Limpaku robek. Ada pendarahan dalam yang asalnya tidak diketahui. Dan yang paling serius, memar-memar pada otakku. Tulang rusukku juga patah. Lecet-lecet pada kakiku, yang akan membutuhkan transplantasi kulit; dan pada wajahku, yang akan butuh operasi plastik—tapi, seperti kata dokter, itu jika aku beruntung.

Sekarang, di ruang bedah, para dokter harus mengeluarkan limpaku, memasukkan tube baru untuk mengeringkan paru-paruku yang bocor, dan menyumbat apa pun yang menyebabkan pendarahan. 

Tidak banyak yang bisa mereka lakukan terhadap otakku.
“Kita hanya bisa menunggu,” salah satu dokter bedah berkata, menatap CAT scan kepalaku. 

“Sementara itu, coba hubungi bank darah. Aku perlu dua unit darah O negatif dan dua unit cadangan.”
O negatif. Golongan darahku. Aku sama sekali tidak tahu. Bukan sesuatu yang sebelum ini perlu kupikirkan. Aku belum pernah dirawat di rumah sakit, hanya kunjungan ke unit gawat darurat karena pergelangan kakiku luka terkena pecahan kaca. Aku bahkan tidak perlu jahitan, hanya suntikan tetanus.
Di ruang bedah, para dokter berdebat musik apa yang ingin mereka setel, persis seperti kami di mobil tadi pagi. Ada yang ingin jazz. Yang lain minta rock. Sang ahli anastesi, yang berdiri dekat kepalaku, meminta klasik. Aku mendukungnya, dan rupanya itu membantu karena ada yang memasang CD Wagner, meski aku tidak yakin menginginkan Ride of the Valkyries. Aku mengharapkan sesuatu yang lebih lembut. Four Seasons, mungkin.
Ruang bedah itu kecil dan padat, penuh cahaya terang menyilaukan, yang memperjelas betapa kumuhnya tempat ini. Sama sekali tidak seperti di TV, tempat ruang-ruang bedah tampak seperti teater steril yang bisa mengakomodasi penyanyi opera, dan penontonnya. Lantainya, meski disikat sampai mengilap, penuh goresan dan noda seperti karat, yang kuduga adalah noda darah lama.
Darah. Ada di mana-mana. Sama sekali tidak menggetarkan para dokter. Mereka mengiris, menjahit, dan menyedot di tengah banyak darah, seperti mencuci piring menggunakan air sabun. Sementara itu, mereka terus-menerus memompakan darah ke tubuhku.
Ahli bedah yang ingin mendengarkan musik rock tadi banyak berkeringat. Salah satu perawat harus mengelap dahinya secara berkala menggunakan kapas pada penjepit. Suatu saat, dia berkeringat sampai ke masker sehingga harus menggantinya.
Ahli anastesi memiliki jemari yang lembut. Dia duduk dekat kepalaku, mengamati status semua organ vitalku, menyesuaikan jumlah cairan dan gas serta obat-obatan yang mereka berikan kepadaku. Dia pasti melakukan pekerjaannya dengan baik karena aku tampaknya tidak merasakan apa-apa, meski mereka menarik-narik tubuhku. Pekerjaan yang berat dan kotor, sama
sekali tidak seperti permainan Operation yang biasa kami lakukan selagi kecil. Kami harus berhati-hati agar tidak menyentuh sisi-sisi tubuh ketika mengeluarkan tulang, kalau tidak alarmnya akan menyala.
Si ahli anastesi tanpa sadar mengusap-usap pelipisku dengan tangan bersarung karet. Inilah yang biasa dilakukan Mom jika aku sedang flu atau sakit kepala hebat sehingga aku membayangkan memotong nadi di pelipisku hanya agar tekanan rasa sakit di sana mereda.
CD Wagner telah berputar dua kali. Para dokter memutuskan sudah waktunya mengganti jenis musik. Jazz menang. Orang-orang selalu berasumsi karena aku suka musik klasik, aku suka jazz juga. Tapi tidak. Dad yang suka. Dia mencintai jazz, terutama karya-karya terakhir Coltrane yang liar. Dad berkata jazz adalah punk bagi orang tua. Kurasa itu menjelaskan segalanya, karena aku juga tidak suka punk.
Operasi berlangsung lama sekali. Aku capek menunggu. Aku tidak tahu dari mana para dokter mendapatkan stamina untuk melakukannya. Jika aku tidak mati—dan monitor jantung masih berbunyi, jadi kuduga aku belum mati—tapi aku juga tak berada dalam tubuhku, bisakah aku pergi ke tempat lain? Apakah aku hantu? Bisakah aku membawa diriku ke pantai Hawaii? Bisakah aku muncul di Carnegie Hall, New York? Bisakah aku mendatangi Teddy?
Hanya untuk percobaan, aku menggoyangkan hidung seperti Samantha di film seri Bewitched. Tidak ada yang terjadi. Aku menjentikkan jemari. Mengetukkan tumit. Aku masih di sini.
Aku memutuskan mencoba manuver yang lebih sederhana. Aku melangkah ke dinding, membayangkan akan menembusnya dan keluar di sisi lain. Tapi ternyata begitu melangkah ke dinding, aku menabrak dinding.
Perawat bergegas masuk membawa sekantong darah, dan sebelum pintu menutup di belakangnya, aku menyelinap keluar. Sekarang aku berada di koridor rumah sakit. Banyak sekali dokter dan perawat dalam balutan seragam operasi warna biru dan hijau berkeliaran di sana. Wanita di tempat tidur dorong, kepalanya dibalut penutup rambut plastik biru, jarum infus di lengannya, berseru, “William, William!” Aku melangkah lebih jauh. Ada barisan ruang bedah, semua penuh orang tidur. 

Jika pasien di ruangan-ruangan ini seperti diriku, mengapa aku tidak bisa melihat orang di luar tubuh mereka? Apakah semua orang itu berkeliaran di luar tubuh seperti diriku? Aku sungguh ingin bertemu seseorang yang kondisinya sama sepertiku. Aku punya beberapa pertanyaan, misalnya kondisi apa yang kualami sekarang ini dan bagaimana keluar dari kondisi ini? Bagaimana aku kembali ke tubuhku? Apakah aku harus menunggu dokter-dokter membangunkanku? Tapi tidak ada orang lain seperti aku di sini. Mungkin mereka berhasil mengetahui cara pergi ke Hawaii.
Aku mengikuti perawat melalui sepasang pintu otomatis. Aku berada di ruang tunggu kecil sekarang. Kakek-nenekku ada di sini.
Gran mengoceh pada Gramps, atau mungkin tidak pada siapa-siapa. Itulah caranya agar tidak terhanyut emosi. Aku pernah melihatnya melakukan itu, ketika Gramps kena serangan jantung. Gran mengenakan sepatu bot karet dan celemek berkebun, yang bernoda tanah. Pastilah dia sedang bekerja di taman ketika mendengar tentang kami. Rambut Gran pendek, keriting, dan beruban; dia mengeritingnya, kata Dad, sejak tahun 1970-an. “Ini praktis,” kata Gran. “Tidak repot mengurusnya.” Sangat khas dirinya. Tidak pakai basa-basi. Gran sangat praktis sehingga orang tidak bakal menyangka dia penggemar malaikat. Gran mengoleksi malaikat keramik, boneka kain malaikat, apa pun yang berbentuk malaikat, di lemari pajangan khusus di ruang menjahit. Dan dia tidak hanya mengoleksi malaikat; dia percaya malaikat ada. Dia berpendapat mereka ada di mana-mana. Suatu kali, sepasang burung bersarang di kolam hutan kecil di belakang rumah mereka. Gran yakin kedua burung itu orangtuanya yang sudah lama meninggal, datang untuk menjaganya.
Kali lain, kami sedang duduk di berandanya ketika aku melihat seekor burung merah. “Apakah itu crossbill merah?” aku bertanya pada Gran.
Gran menggeleng. “Saudariku Gloria itu crossbill,” kata Gran, maksudnya nenek-bibiku Glo yang baru meninggal, yang tidak pernah akur dengan Gran. “Dia tidak mungkin datang kemari.”
Gramps menatap ampas di gelas styrofoam-nya, mengupas bagian atasnya sehingga bola-bola kecil putih berkumpul di pangkuannya. Aku bisa melihat cairan itu jenis yang paling jelek, seperti disuling pada tahun 1997 dan didiamkan di tungku sejak saat itu. Meski demikian, aku tidak keberatan diberi segelas.
Kau bisa menarik garis lurus dari Gramps ke Dad ke Teddy, meski rambut Gramps yang bergelombang sudah berubah dari pirang ke putih, dan dia lebih berisi daripada Teddy, yang kurus kering, dan Dad, yang langsing dan berotot berkat latihan angkat berat di pusat kebugaran. Tapi mereka bertiga sama-sama memiliki mata biru-kelabu berair, warna laut pada hari berawan.
Mungkin inilah sebabnya aku merasa tidak mampu menatap Gramps.
---oOo---
Juilliard merupakan ide Gran. Dia berasal dari Massachusetts, tapi pindah ke Oregon tahun 1955, sendirian. Zaman sekarang mungkin tindakan itu biasa saja, tapi kurasa 52 tahun yang lalu, tindakan itu merupakan skandal bagi gadis 22 tahun yang belum menikah. Gran mengaku tertarik pada alam liar terbuka, dan alam tidak bisa lebih liar lagi daripada hutan tak berujung dan pantai-pantai berbatu Oregon. Dia mendapatkan pekerjaan sebagai sekretaris di Forest Service. Gramps bekerja di sana sebagai ahli biologi.
Kadang-kadang kami kembali ke Massachusetts pada musim panas, tinggal di penginapan di bagian barat negara bagian itu selama seminggu, yang dipenuhi keluarga besar Gran. Itulah saat-saat aku berjumpa sepupu dari sepupu, nenek-bibi dan kakek-paman yang nama-namanya hampir tidak bisa kuingat. Aku punya banyak keluarga di Oregon, tapi mereka semua berasal dari sisi Gramps.
Musim panas yang lalu ketika berlibur ke Massachusetts, aku membawa cello agar bisa terus berlatih untuk konser musik kamarku yang akan datang. Penerbangan tidak penuh, maka pramugari membiarkan cello-ku duduk bersamaku di kabin, persis seperti pemain musik profesional. Teddy menganggap ini lucu sekali dan terus-menerus mencoba menyuapkan pretzel pada cello-ku.
Pada suatu malam di pondok penginapan aku mengadakan konser kecil, di ruang utama, dengan penonton para kerabat serta hewan-hewan mati di dinding. Setelah itulah seseorang menyebut tentang Juilliard, dan Gran sangat terobsesi dengan ide tersebut.
Mula-mula, itu rasanya tidak mungkin. Ada program musik yang bagus di universitas dekat tempat tinggal kami. Dan, jika aku ingin melebarkan sayap, ada konservatorium di Seattle, yang hanya berjarak beberapa jam mengemudi. Juilliard ada di seberang negeri. Dan mahal. Mom dan Dad tertarik pada ide itu, tapi aku tahu sebenarnya mereka berdua sama-sama tidak ingin melepaskanku ke New York atau terlibat utang sehingga aku mungkin bisa menjadi pemain cello di orkestra kelas dua kota kecil. Mereka tidak tahu apakah permainanku cukup bagus. Bahkan, aku pun tidak yakin. Profesor Christie berkata aku salah satu murid paling menjanjikan yang pernah dilatihnya, tapi dia tidak pernah menyebut-nyebut Juilliard padaku. Juilliard sekolah untuk musisi yang luar biasa berbakat, dan rasanya arogan sekali menganggap mereka bakal melirikku.
Tapi setelah liburan itu, ketika orang lain, seseorang yang objektif dan berasal dari Pantai Timur, menganggapku layak masuk Juilliard, ide itu mengakar dalam benak Gran. Dia menemui sendiri Profesor Christie untuk membicarakannya, dan guruku mencengkeram ide itu seperti anjing terrier menggigit tulang.
Maka, aku mengisi formulir pendaftaran, mengumpulkan surat-surat rekomendasi, dan mengirimkan rekaman permainan cello-ku. Aku tidak memberitahu Adam tentang semua ini. Aku berkata pada diri sendiri bahwa tidak ada gunanya menyebarkan berita ini jika bahkan untuk mendapatkan kesempatan audisi saja hampir tidak mungkin. Tapi bahkan saat itu aku tahu aku berbohong. Bagian kecil diriku merasa mendaftar ke Juilliard akan menjadi semacam pengkhianatan. Juilliard ada di New York. Adam ada di sini.
Tapi Adam sudah tidak di SMA. Dia setahun lebih tua dariku, dan tahun terakhir ini, tahun seniorku, dia mulai belajar di universitas di kota. Dia hanya bersekolah paruh waktu karena Shooting Star mulai populer. Ada kontrak rekaman dengan label di Seattle, dan banyak tur. Maka setelah aku mendapatkan amplop krem berembos The Juilliard School dan surat yang mengundangku untuk audisi, barulah aku memberitahu Adam. Aku menjelaskan bahwa tidak banyak orang yang mendapatkan kesempatan sejauh itu. Mulanya dia tampak terperangah, seakan tidak percaya. 

Kemudian dia tersenyum sedih. “Yo Mama sebaiknya berjaga-jaga,” katanya.
Audisi diadakan di San Francisco. Dad harus menghadiri konferensi besar di sekolah minggu itu jadi tidak bisa mengantarku, dan Mom baru saja memulai pekerjaan baru di agen perjalanan, maka Gran menawarkan diri untuk menemaniku. “Kita akan berakhir pekan khusus cewek. Minum teh berkelas di Fairmont. Window shopping di Union Square. Naik feri ke Alcatraz. Kita akan menjadi turis.”
Tapi seminggu sebelum keberangkatan kami, Gran tersandung akar pohon dan pergelangan kakinya terkilir. Dia harus mengenakan sepatu bot tebal dan tidak boleh berjalan. Kepanikan kecil terjadi. Aku berkata bisa berangkat sendiri—mengemudi, atau naik kereta, dan langsung pulang lagi.
Gramps-lah yang berkeras mengantarku. Kami berkendara bersama-sama menggunakan truk pikapnya. Kami tidak banyak mengobrol, yang bukan masalah bagiku karena aku begitu gugup. Aku terus-menerus meraba jimat keberuntungan berupa gagang es lilin yang dihadiahkan Teddy untukku sebelum kami berangkat. “Semoga berhasil,” katanya.
Gramps dan aku mendengarkan musik klasik dan siaran pedesaan di radio selama kami bisa mendapatkan gelombangnya. Selain itu, kami duduk dalam keheningan. Tapi keheningan yang sangat menenangkan; membuatku rileks serta merasa lebih dekat pada Gramps daripada jika kami bicara dari hati ke hati.
Gran sudah memesan wisma yang bertema sangat feminin, dan lucu sekali melihat Gramps yang memakai sepatu bot kerja dan kemeja flanel sederhana di antara taplak-taplak berenda dan pengharum potpourri. Tapi Gramps menyikapinya seperti lelaki sejati.
Audisinya mengerikan. Aku harus memainkan lima nomor: concerto Shostakovich, dua suite Bach, seluruh Pezzo capriccioso karya Tchaikovsky, yang nyaris mustahil dimainkan, dan bagian dari The Mission karya Ennio Morricone, pilihan menyenangkan tapi berisiko karena Yo-Yo Ma pernah memainkan ini dan semua orang bakal membandingkan. Aku melangkah keluar dengan kaki lemas dan ketiak berkeringat. Tapi endorfinku mengalir deras dan itu, dicampur dengan perasaan lega luar biasa, membuatku kegirangan.
“Bagaimana kalau kita melihat-lihat kota?” tanya Gramps, bibirnya berkedut membentuk senyum.
“Tentu saja!”
Kami melakukan semua hal yang dijanjikan Gran. Gramps membawaku minum teh berkelas dan belanja, meski untuk makan malam kami membatalkan reservasi yang dibuat Gran di tempat mewah Fisherman's Wharf dan malah berkeliaran ke Chinatown, mencari restoran yang antrean di luarnya paling panjang, lalu makan di sana.

Ketika kembali ke rumah, Gramps mengantarku dan mendekapku. Biasanya dia lebih memilih berjabat tangan, atau menepuk punggung jika ada kejadian spesial. Pelukannya kuat dan erat, dan aku tahu itulah caranya berkata dia mengalami waktu yang menyenangkan.

“Aku juga, Gramps,” bisikku.

 
http://ayobacanovel.blogspot.co.id/2015/11/if-i-stay-bab-3.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar