Kamis, 12 November 2015

SUNSHINE BECOME YOU - BAB 7

Mia membalas lambaian murid-muridnya yang keluar dari ruang kelas. Setelah murid terakhirnya keluar dari ruangan dan menutup pintu, Mia mengeluarkan sekeping CD dari tasnya dan memasukkannya ke dalam player. Ia menekan tombol play, lalu berjalan ke tengah-tengah ruangan dan berdiri menghadap bayangan dirinya di cermin besar yang memenuhi dinding. Beberapa detik kemudian lagu L'Aura, Una Favola, mulai mengalun dan Mia pun mulai bergerak mengikuti irama.

Saat-saat paling membahagiakan bagi Mia adalah ketika ia menari. Ia bisa melupakan segalanya, bahkan siapa dan apa dirinya, selama lagu masih mengalun dan tubuhnya masih bergerak.

Ketika lagu berakhir, Mia mendengar tepuk tangan dari arah pintu. Mia menoleh dan melihat Lucy berdiri di sana.

"Mendengarkan lagu tadi dan melihat tarianmu... astaga, indah sekali," desah Lucy sambil menggeleng-geleng kagum. "Itu arabesque penchee, grand jete, dan piroutte paling sempurna yang pernah kulihat. Tapi, apa lagi yang bisa diharapkan dari lulusan Juilliard selain kesempurnaan?"

Mia tersenyum. "Kau tetlalu berlebihan," katanya. "Tapi terima kasih."

The Juilliard School, atau yang lebih di kenal dengan Juilliard, adalah salah satu sekolah seni pertunjukan paling bergengsi di dunia. Divisi tarinya sangat terkenal di dunia tari-menari karena kualitas pendidikan dan pelatihan artistiknya yang sangat baik.

Ketika Mia masih kecil, ibunya pernah mengajaknya menonton pertunjukan tari oleh kelompok penari dari Juilliard. Pengalaman itu sangat berkesan bagi Mia dan sejak saat itu impian terbesar Mia adalah belajar menari di Juilliard. Awalnya, Mia sangat ragu ia bisa diterima, mengingat di antara ribuan orang yang mendaftar masuk ke sekolah itu, setiap tahunnya hanya 5-7 persen pendaftar yang diterima.

Namun Mia berhasil. Ia diterima. Dan hari ketika ia menerima surat dari Juilliard yang menyatakan bahwa ia diterima adalah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Dan tahun-tahunnya menari di Juilliard adalah tahun-tahun terbaik dalam hidupnya.

Di Juilliard, semua penari, termasuk Mia, mendapat pelatihan balet klasik dan tari modern, karena Juilliard Dance ingin menciptakan penari-penari kontemporer sejati. Para lulusan Juilliard biasanya bergabung dengan kelompok-kelompok balet dan tari modern di seluruh Amerika Serikat dan bahkan di luar negeri. Banyak yang menjadi direktur kelompok tari ternama. Banyak juga yang meniti karir sebagai koreografi dan meraih sukses.

Bahkan sebelum lulus dari Juilliard, Mia sudah mendapat tawaran untuk bergabung dengan salah satu kelompok tari terkenal. Tetapi sayangnya, kenyataan tidak berjalan sesuai impian.

Mia duduk di lantai dan meraih botol minumannya. "Kau masih ingin mencoba mengikuti audisi Juilliard?" tanyanya pada Lucy.

"Tentu saja," sahut Lucy sambil duduk di samping Mia. "Aku tidak akan menyerah hanya gara-gara ditolak dua kali."

Lucy sebenarnya adalah penari yang sangat baik, tetapi Juilliard memang terkenal memiliki standar tinggi. Entahlah, Mia juga tidak mengerti apa yang mereka cari dalam diri seorang penari ketika audisi. Teknik yang sempurna? Potensi? Bakat? Entahlah.

"Omong-omong, aku mau menonton pertunjukan di Broadway malam ini. Mau ikut?" tanya Lucy.

Mia meringis. "Maaf, aku tidak bisa," katanya sambil tersenyum menyesal.

"Ah, kau harus ke tempat kakak Ray?" kata Lucy.

Mia mengangguk.

"Jadi bagaimana keadaanya sekarang?"

"Biasa saja," sahut Mia pendek sambil mengangkat bahu.

"Dia masih marah padamu?"

"Entahlah. Tapi kurasa masih," lanjut Mia ragu. "Dia memang sudah tidak terlalu sinis padaku, tapi dia juga tidak bersikap ramah padaku."

Sudah dua minggu berlalu sejak Mia memutuskan membantu Alex Hirano. Selama dua minggu terakhir ini ia menghabiskan sebagian besar waktunya di apartemen Alex, melakukan tugas-tugasnya sebagai "pengurus rumah", seperti istilah laki-laki itu. Namun selama itu ia jarang berbicara dengan Alex Hirano. Laki-laki itu lebih sering menghabiskan waktunya di kamar saat Mia ada di sana. Ia hanya keluar untuk mengambil kopi dan makan. Kadang-kadang Karl datang berkunjung dan mereka berdua akan membahas masalah pekerjaan. Kalau Karl dan Alex harus pergi menemui seseorang Mia diizinkan pulang.

"Bagaimana dengan Ray?" tanya Lucy.

"Dia sering datang ke apartemen kakaknya untuk melihat keadaanku. Katanya, dia ingin memastikan kakaknya memperlakukanku dengan baik," kata Mia sambil tersenyum.

"Dia selalu baik padamu," kata Lucy.

Senyum Mia perlahan-lahan memudar, kilatan di matanya meredup dan ia berguman pelan, "Padahal kuharap dia tidak bersikap sebaik itu padaku."

***

Mia menekan bel interkom dan menunggu Alex Hirano membukakan pintu dari atas, seperti biasa. Tetapi kali ini suara laki-laki itu terdengar dari interkom. "Clark?"

"Ya, ini aku," sahut Mia.

"Kau bawa mobil?"

"Ya. Kenapa?"

"Tunggu di sana."

Mia tidak tahu apa yang diinginkan Alex Hirano, jadi ia menuruti laki-laki itu. Ia duduk di tangga batu di depan gedung dan menunggu. Sementara ia menunggu, ponselnya berbunyi.

"Hai, Billy," kata Mia riang setelah menempelkan ponsel ke telinga. "Ya, Lucy tadi mengajakku tapi aku tidak bisa ikut hari ini. Maaf... Aku tahu... Apa? Benarkah?" Ia tertawa. 

"Aku tidak pernah menyangka dia..."

Tiba-tiba terdengar suara berdehem di belakangnya. Mia berbalik dan mendongak menatap Alex Hirano yang balas menatapnya dengan kening berkerut.

"Billy, aku harus pergi sekarang... Tentu, kau boleh meneleponku lagi nanti." Mia menutup ponsel, lalu berdiri dan menepuk-nepuk bagian belakang celana jinsnya. "Jadi ada apa?" tanyanya pada Alex.

Alex terlihat enggan, tetapi ia berkata, "Antarkan aku ke rumah sakit."

Mata Mia melebar kaget. "Kenapa? Ada yang salah dengan tanganmu?"

Alex menatapnya dengan kening berkerut. "Tidak. Aku hanya ingin dokter memeriksanya dan mengganti perbannya."

"Oh."

"Karl sedang rapat, jadi dia tidak bisa mengantarku," lanjut Alex.

"Dan Ray sudah berangkat ke San Fransisco untuk menghadiri festival hip-hop," tambah Mia sambil mengangguk.

"Jadi pilihannya hanya taksi atau kau," kata Alex. Ia menatap Mia sejenak dengan ragu. 

"Mungkin sebaiknya aku memanggil taksi saja."

Mia memutar bola matanya. "Sudahlah. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit," katanya sambil menuruni tangga batu dan berjalan ke arah mobilnya yang diparkir tidak jauh dari sana. Alex mengikutinya dari belakang.

Mia membuka pintu penumpang dan berkata, "Masuklah."

Alex menatap mobil Mia dengan tatapan tidak percaya. "Ini mobilmu? Beetle?'

"Ya. Kenapa?"

"Aku tidak bisa naik mobil ini."

Mia menganggkat alis. "Kenapa tidak?"

Alex menunjuk mobil Mia dengan tangan kananya yang tidak dibebat. "Tidak ada laki-laki yang mau tetlihat menaiki mobil ini. Dan warnanya kuning!"

Mia menatap mobilnya, lalu menoleh menatap Alex. “Mobil ini imut," katanya membela diri.

"Itulah masalahnya," gerutu Alex.

"Lalu kau mau kita memakai mobilmu? Boleh saja. Aku tidak keberatan."

"Dan mengambil resiko kau menghancurkan Lexus-ku? Tidak mungkin."

"Kalau begitu..." Mia tidak menyelesaikan kalimatnya, hanya mengayunkan tangan ke arah mobilnya penuh arti. "Lagi pula, bukan kau yang mengemudi, tapi aku. Jadi masuk saja. Oke?"

Alex masih menggerutu ketika ia masuk ke dalam mobil yang menurutnya tetlalu kecil dan sempit baginya. "Kurasa kakiku bisa kram," gumannya.

"Tidak akan kram," kata Mia datar. "Tunggu, jangan duduki jaketku."

Mia menarik jaketnya dari kursi penumpang dan melemparkannya ke kursi belakang. Tetapi Alex sempat melihat tulisan yang dijahit dengan benang putih di bagian dada jaket tipis itu.

"Juilliard?" tanya Alex dengan nada tidak percaya. "Kau benar-benar lulusan Juilliard atau seseorang memberikan jaket itu padamu?"

"Lulusan Juilliard bukan hanya kau, kau tahu?" balas Mia sambil memasang sabuk pengaman. Lalu ia nenoleh ke arah Alex yang masih menatapnya dengan heran. "Tolong pasang sabuk pengamanmu."

"Jadi kau memang lulusan Juilliard?" guman Alex sambil memasang sabuk pengaman, lalu tertegun. "Tapi bagaimana kau bisa tahu aku lulusan Juilliard?"

Mia melirik jaca spion dan melajykan mobilnya dijalan. "Ray pernah mengatakannya padaku."

"Kurasa adikku memang banyak mulut," gerutu Alex. "Apa lagi yang dikatakannya?"

"Tidak banyak," sahut Mia. Namun, melihat senyum kecil yang tersinggung di wajah gadis itu, Alex merada Ray pasti sudah bercerita lebih banyak kepada Mia Clark demi mendapatkan perhatian gadis itu.

"Ray tidak pernah bilang kau lulusan Juilliard," kata Alex.

"Itu karena dia tidak tahu," sahut Mia ringan.

"Ray tidak tahu? Kenapa tidak?"

"Dia tidak pernah bertanya."

Alex melirik gadis yang mengemudi di sampingnya. Kelihatannya Ray memang sudah banyak bercerita tentang dirinya sendiri dan bahkan keluarganya kepada gadis itu, tetapi Alex bertanya-tanya seberapa banyak yang benar-benar diketahui Ray tentang Mia Clark?

***

Alex keluar dari ruang pemeriksaan dengan perban baru dan pernyataan dokter bahwa tangannya tidak akan sembuh secara ajaib dalam waktu dua minggu jadi ia harus bersabar. Bersabar? Bagaimana ia bisa bersabar kalau setiap kali ia melihat tangannya yang tergantung tidak berdaya ini ia merasa ingin menghancurkan sesuatu?

Alex mengembuskan napas kesal dan menoleh ke arah deretan kursi tunggu di depan ruang pemeriksaan. Di mana gadis itu? Katanya dia akan menunggu di kursi tunggu, tapi kenapa tidak ada? Alex memandang berkeliling, lalu matanya tertuju pada sosok Mia Clark yang berdiri di dekat meja perawat dan sedang berbicara dengan dokter pria setengah baya berkacamata.

Si doktet terlihat seperti menanyakan sesuatu kepadanya dan Mia menjawabnya sambil tersenyum. Saat itu gadis itu menoleh dan melihat Alex. Matanya melebar sedikit, lalu ia kembali menoleh ke arah si dokter dan mengatakan sesuatu, mungkin mengatakan bahwa ia harus pergi sekarang. Ketika Mia hendak berbalik, si dokter menahannya dan mengatakan sesuatu lagi. Kemudian Alex melihat Mia menyentuh lengan si dokter, tersenyum kepadanya dan balas mengatakan sesuatu. Si dokter akhirnya menghela napas dan mengangguk. Ia sempat menatap Alex sejenak sebelum berbalik pergi.

"Apa kata dokter?" tanya Mia ketika sudah berada di hadapan Alex.

Alex tidak bertanya apa yang dibicarakan gadis itu dengan dokter tadi, karena menurutnya itu sama sekali bukan urusannya. Jadi ia menjawab, "Belum ada perubahan berarti."

"Kau akan baik-baik saja," hibur Mia.

"Mudah bagimu mengatakannya," gerutu Alex.

Mia mengabaikannya dan bertanya, "Sekarang kau mau pergi ke mana? Pulang?"
Alex terdiam sejenak. Ketika ia membicarakan Juilliard dengan gadis itu, tiba-tiba saja merasa ingin mengunjungi guru pianonya. Sudah lama sekali sejak ia terakhir kali bertemu guru yang banyak membimbingnya dulu. Namun selama ini Alex jarang memiliki waktu luang di antara jadwal kerja dan jadwal latihannya yang padat. Sekarang berbeda. Sekarang karena praktis sudah menjadi orang cacat dan pengangguran, ia memiliki seluruh waktu di dunia untuk melakukan hal-hal yang dulu tidak sempat dilakukannya. Seperti mengunjungi guru-guru dan teman-temannya.

"Aku ingin mengunjugi guruku," putus Alex.

"Di mana rumahnya?" tanya Mia sambil mengeluarkan kunci mobil dari tasnya.

"Saat seperti ini dia pasti masih ada di sekolah," sahut Alex. "Kita ke Lincoln Center."

"Lincoln Center? Maksudmu kau mau pergi ke Juilliard?"

"Ya."

"Kau tahu, susah sekali mencari tempat parkir di sana."

"Itu urusanmu. Kau cukup menurunkanku di pintu depan lalu kau bisa mencari tempat parkir sendiri. Aku akan menelponmu kalau aku sudah selesai. Berapa nomor teleponmu?"

***

Mengobrol tentang musik dan hal-hal menyenangkan lainnya dengan orang-orang yang menyenangkan memang membuat waktu cepat berlalu. Tanpa terasa Alex telah mengobrol dengan guru-gurunya selama tiga jam lebih, mengenang masa lalu dan bercerita tentang kabar masing-masing. Seharusnya ia lebih sering melakukan hal-hal seperti ini dulu, mengambil sedikit waktu luang untuk bersantai dan tidak melulu memikirkan pekerjaan.

“Senang sekali bertemu denganmu lagi, Alex," kata salah seorang gurunya yang sudah tua, Mr. Phillips, ketika Alex pamit dan berkata bahwa sebaiknya ia tidak mengganggu gurunya lebih lama lagi. "Datanglah lagi kapan-kapan dan mengobrol denganku. Atau kalau tanganmu sudah sembuh, kau bisa datang ke sini dan menunjukan kemampuanmu kepada murid-murid di sini. Mereka pasti sangat senang apabila Alex Hirano menjadi instruktur mereka walau hanya sehari."

Alex tertawa. "Tentu saja, Mr. Phillips. Terima kasih."

Setelah keluar dari ruangan gurunya, Alex mengeluarkan ponsel dan menelpon Mia Clark. Tetapi gadis itu tidak mengangkat telepon. Alex mencoba sekali lagi. Gadis itu tetap tidak mengangkat telepon.

Nah, ada di mana dia sekarang? tanya Alex dalam hati. Kenapa tidak mengangkat telepon? 
Alex memasukkan ponselnya kembali ke saku celana jinsnya. Tadi gadis itu berkata bahwa ia juga ingin menemui beberapa orang sementara Alex menemui gurunya. Mungkin gadis itu ada di studio tari di lantai tiga. Karena ia sedang tidak terburu-buru dan karena suasana hatinya juga sedang sangat baik setelah melewatkan siang yang menyenangkan bersama gurunya, Alex memutuskan untuk berkeliling melihat-lihat gedung yang sudah lama ditinggalkannya sambil mencari Mia Clark. Lagi pula, ia belum pernah melihat-lihat divisi tari Juilliard. Dan siapa tahu ia bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya.

Gadis itu tidak ada di studio tari di lantai tiga. Tetapi salah seorang penari berwajah manis yang ditemui Alex di sana berkata, "Penari-penari senior sedang berlatih di teater untuk pertunjukan bulan depan. Mungkin orang yang kaucari ada di sana."

Alex tahu teater yang dimaksud. Setelah mengucapkan terima kasih, Alex berjalan ke sana. Teater luas dan megah dengan kapasitas 993 penonton itu biasanya digunakan untuk pertunjukan-pertunjukan para murid Juilliard. Alex sendiri pernah tampil di sini beberapa kali. Ia mendorong pintu dengan hati-hati dan alunan musik yang lembut langsung terdengar. Alex melongokkan kepala ke balik pintu dan teater itu nyaris kosong selain belasan penari pria dan wanita yang sedang berlatih di panggung di bawah sana. Alex menyelinap masuk dan berdiri di deretan kursi penonton paling belakang. Ia mencoba mencari gadis itu di antara para penari. Tetapi karena posisinya terlalu jauh, ia pun menuruni anak tangga dan berjalan lebih dekat ke arah panggung untuk melihat lebih jelas. Matanya menatap penari-penari itu satu per satu, tetapi gadis itu tidak terlihat. Alex mengembuskan napas kesal dan baru hendak berbalik pergi ketika alunan musik mendadak berhenti.

"Oke, istirahat sepuluh menit," seru seorang wanita yang memiliki suara menggelegar dari barisan pertama kursi penonton. Alex mendapati dirinya bertanya-tanya apakah semua instruktur tari memiliki suara sekeras itu.

Alex sudah berjalan menaiki tangga ketika wanita dengan suara menggelegar itu kembali berkata, "Dan aku ingin kalian berkenalan dengan Mia Clark."

Langkah Alex terhenti dan ia berbalik.

"Dia salah seorang penari terbaikku ketika masih di sini. Kulihat beberapa di antara kalian sudah pernah mendengar namanya."

Alex melihat sosok Mia Clark berdiri di samping wanita bersuara keras itu. Sepertinya Mia Clark sudah berganti pakaian dan mengenakan jaket tipis untuk menari berwarna hitam, yang hampir diduduki Alex di mobil tadi.

"Karena kebetulan dia datang berkunjung ke sini, aku berhasil membujuknya untuk menunjukan beberapa gerakan kepada kita," lanjut wanita itu lagi. " Kalian bisa banyak belajar darinya. Jadi perhatikan dan pelajari."

Semua penari yang berada di panggung duduk bersila di tepi panggung dan mengamati Mia dengan tatapan kagum. Alex mendapati dirinya kembali menuruni tangga kederetan tengah kursi penonton dan duduk di sana. Ia penasaran. Sebenarnya rasa penasarannya sudah timbul sejak ia tahu Mia Clark lulusan Juilliard. Sekarang rasa penasarannya bertambah setelah mendengar pujian yang dilontarkan instruktur tari tadi.

Mia menyerahkan sesuatu kepada si instruktur, yang menyerahkan apa pun itu kepada seorang pria di sisi panggung. CD? Entahlah, Alex tidak bisa melihat dengan jelas. Lalu Mia naik ke atas panggung dengan kaki telanjang dan itulah pertama kalinya Alex melihat Mia Clark dalam pakaian menarinya. Jaket ketat lengan panjang dan celana pendek ketat seperti yang dikenakan kebanyakan penari lain.

Di atas panggung, beberapa orang penari melambaikan tangan dan mengatakan sesuatu kepada Mia. Mia membalas lambaian mereka dan balas mengatakan sesuatu sambil tertawa. Setelah itu ia mengambil posisi di tengah-tengah panggung. Dan musik pun mulai mengalun di seluruh penjuru teater.

Alex langsung mengenali lagu itu. Una Favola.

Begitu nada pertama terdengar, Mia Clark mulai bergerak mengikuti alunan lagu. Gerakannya halus, namun terkendali. Ayunan tangan dan kakinya anggun, namun juga kuat. Seluruh tubuhnya bergerak. Seluruh tubuhnya menari. Dari ujung jari tangan sampai ujung jari kakinya. Bahkan raut wajahnya berubah mengikuti emosi tariannya.

Teknik Mia Clark tanpa cela. Ia melompat tinggi seolah-olah melayang, ia berputar tanpa goyah sedikit pun. Singkatnya, itu tarian yang indah. Alex belum pernah melihat seseorang menari seperti itu. Ia bisa merasakan kisah yang ingin diceritakan Mia Clark melalui tarian itu. Ia bisa merasakan emosi gadis itu. Jiwanya. Hatinya.

Seperti semua orang yang ada di teater itu, Alex tidak bisa mengalihkan tatapannya dari gadis yang sedang menari di atas panggung. Gerakan gadis itu seolah-olah memiliki kekuatan yang menyihir semua orang yang melihatnya. Membuat semua orang terpaku.

Ketika alunan lagu berhenti dan gerakan Mia Clark berhenti, selama beberapa detik tidak terdengar apa pun di teater itu. Segalanya hening. Lalu, seolah-olah baru tersadar dari mimpi, semua orang mulai bertepuk tangan dan bersorak.

Alex masih menatap sosok Mia di atas panggung, yang kini dikerumuni para penari lain. Mia terlihat agak terengah-engah, tetapi ia tersenyum lebar kepada kepada orang-orang yang mengelilinginya.

Lulusan Juilliard memang pasti bisa menari dengan indah. Dan Mia Clark menari dengan sempurna. Terlihat jelas sekali bahwa ia menari dengan seluruh jiwa dan raganya. Ia berhasil membuat Alex yakin bahwa ia memang penari yang sangat berbakat.


Namun ia juga membuat Alex bertanya-tanya. Seorang penari sehebat itu seharusnya bergabung dengan kelompok tari terkenal dan menari dalam pertunjukan-pertunjukan besar di seluruh dunia. Lalu kenapa Mia Clark memilih mengajar di studio tari kecil yang tidak terkenal?





Tidak ada komentar:

Posting Komentar