Kamis, 12 November 2015

SUNSHINE BECOME YOU - BAB 5

Bunyi samar piring-piring yang berdenting membuat Mia terjaga. Matanya terbuka dan ia memandang ke sekeliling kamarnya yang gelap. Ia menjulurkan tangan ke meja kecil di samping tempat tidur dan meraih beker. Hampir jam enam. Berarti ia hanya sempat tidur tiga jam. Malah tak sampai tiga jam.

        Mia turun dari ranjang dan berjalan ke arah jendela. Ia menyibak tirai tebal dan memandang langit yang masih gelap.

         Sudah seminggu terakhir ini ia tidak bisa tidur. Ia lelah, tetapi tidak bisa tidur. Lalu kemarin ia berpikir mungkin sebaiknya ia menginap di rumah orangtuanya di Huntington. Ia berpikir pasti bisa menenangkan pikiran sejenak di rumah tempatnya dibesarkan, di dekat orangtuanya. Tetapi ternyata hasilnya sama saja. Ia tetap tidak bisa tidur nyenyak dan bunyi sekecil apa pun langsung membuatnya terjaga.

         Apakah ini wajar?

         Apakah insomnia ini akan berlangsung terus?

         Apakah ia harus minum obat tidur?

         Ia menarik napas dan merasa dada sesak.

         Bunyi samar yang menandakan kegiatan di dapur di lantai bawah membuat Mia tenang. Ibunya pasti sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur, seperti yang dilakukannya setiap hari selama 32 tahun perkawinannya. Sebentar lagi ayahnya akan bangun dan bergabung dengan ibunya di dapur untuk sarapan bersama. Ayah dan ibunya sarapan dan makan malam bersama setiap hari. Ketika ia masih tinggal di sini bersama orangtuanya, Mia juga selalu melakukan hal yang sama. Acara makan bersama itu selalu menyenangkan karena mereka membicarakan hal-hal menarik.

         Mia tersenyum kecil. Sebaiknya ia segera turun kalau ia ingin sarapan bersama orangtuanya.

***

         Mia sedang membantu ibunya menyiapkan sarapan ketika ayahnya muncul di dapur.

         “Halo, Princess, kau tidur nyenyak semalam?” tanya ayahnya sambil mengecup puncak kepala Mia.

         “Pagi, Dad,” kata Mia sambil tersenyum lebar. “Tidurku nyenyak sekali.”

         Berbohong sedikit demi kebaikan tidak ada salahnya, pikir Mia. Ia tidak ingin menambah kecemasan orangtuanya.

         Ayahnya menangkup pipi Mia dab mengamatinya dengan seksama. “Matamu agak bengkak,” gumam ayahnya dengan alis berkerut samar. “Bagaimana perasaanmu pagi ini?”

         “Oh, Dad,” erang Mia, tetapi senyum masih tersungging di bibirnya, “Aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Dan mataku akan kukompres dengan mentimun nanti. Oke?”

         “Kau tahu ayahmu sangat protektif,” kata ibunya sambil meletakkan sepiring sandwich buatan sendiri di atas meja bundar di tengah-tengah dapur.

         “Aku tahu,” sahut Mia. “Dan itu karena Dad menyayangiku.”

         Ayahnya menepuk pipi Mia. “Benar sekali, Princess.”

         “Sayang, kau tentu tahu kami ingin kau kembali tinggal di sini bersama kami, bukan?” tanya ibunya.

         Mia meremas tangan ibunya dan tersenyum menenangkan. “Aku baik-baik saja, Mom. Sungguh. Percayalah padaku. Aku akan menelepon kalian kalau ada apa-apa.”

         Ibunya mendesah dan mengangguk. “Baiklah. Kau akan baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja. Ayo, kita makan.”

         Mia meraih sepotong sandwich dan menggigitnya. “Mmm, sandwich ini enak sekali.”

         “Kau mau membawa beberapa potong untuk... siapa nama temanmu itu?” tanya ibunya sambil berpikir-pikir.

         “Teman yang mana?” Mia balas bertanya. “Teman-teman di Small Steps?”

         “Temanmu yang tangannya terkilir.”

         Mia nyaris tersedak. “Maksud Mom, Alex Hirano?”

         Mia memang sudah bercerita kepada orangtuanya tentang Alex Hirano, tetang kecelakaan yang menyebabkan tangan kiri laki-laki itu harus dibebat, juga tentang Mia yang membantunya karena Mia-lah yang menyebabkan kecelakaan itu, walaupun tidak disengaja. Yah, tentu saja Mia tidak bercerita tentang sikap buruk Alex Hirano dan kenyataan bahwa laki-laki itu membencinya. Orangtuanya tidak perlu tahu soal itu. Ayahnya pasti akan mengamuk kalau tahu putri semata wayangnya diperlakukan seperti pesuruh oleh Alex Hirano.

         “Dia bukan temanku,” bantah Mia, sebal karena teringak pada laki-laki menjengkelkan itu. “Dia kakak temanku. Dan satu-satunya alasan aku membantunya adalah karena kalian mendidik dengan baik, mendidikku menjadi orang yang baik.”

         “Kau memang harus membantunya karena kau yang membuatnya cedera,” kata ayahnya. Ketika melihat Mia membuka mulut hendak mengatakan sesuatu, ia cepat-cepat menambahkan, “Tentu saja itu tidak disengaja.”

         “Bawalah beberapa potong untuknya,” kata ibunya sambil berdiri dan mulai mencari-cari kotak plastik di lemari dapur untuk tempat sandwich.

         Mia mendesah enggan dan bertanya-tanya sendiri apakah ibunya masih tetap akan memberikan sandwich kepada Alex Hirano apabila ia tahu bagaimana sikap laki-laki itu pada Mia. Yah, mungkin saja. Karena bagaimanapun Mia-lah yang menyebabkan tangannya terkilir. Aih...

***

         Satu jam kemudian Mia sudah bersiap-siap kembali ke New York City. Ia masuk ke dalam mobil VW Beetle kuningnya dan meletakkan kotak plastik berisi sandwich di kursi penumpang.

         “Kau sudah membawa semuanya? Tidak ada yang ketinggalan?” tanya ibunya seperti yang selalu dilakukannya setiap kali Mia meninggalkan rumah. “Dompet? Ponsel? Obat?”

         Mia memeriksa isi tasnya. “Yap. Sudah ada semuanya. Tidak ada yang tertinggal.”

         “Hati-hati,” kata ayahnya. “Telepon kami kalau kau butuh sesuatu.”

         “Tentu,  Dad.” Mia memasang sabuk pengaman, melambai kepada orangtuanya dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah.

         Ia tahu orangtuanya sangat mengkhawatirkan dirinya. Ia sendiri juga kadang-kadang mengkhawatirkan dirinya sendiri. Tapi tidak apa-apa. Ia bisa menjaga diri. Ia akan baik-baik saja.

         Mia melirik jam di dasbor mobil dan mendesah dalam hati. Sepertinya ia akan terlambat tiba di tempat Alex Hirano. Semoga jalanan tidak macet.

***





Tidak ada komentar:

Posting Komentar