Kamis, 12 November 2015

SUNSHINE BECOME YOU - BAB 6

Gadis itu belum datang.

         Alex Hirano memberengut menatap jam di atas piano. Sekarang sudah pukul sembilan tepat dan gadis itu masih belum datang. Hebat. Hebat sekali.

         Alex sudah uring-uringan sejak tiga puluh menit yang lalu. Dan ia akan tetap uring-uringan sampai ia mendapatkan kopi paginya. Ia membutuhkan kopi. Ia membutuhkan gadis itu untuk membuatkan kopi untuknya. Kalau nyali gadis itu ciut dalam sehari dan memutuskan untuk tidak datang, Alex terpaksa harus pergi ke kafe di ujung jalan untuk membeli kopi lagi. Dan ia akan kebingungan lagi saat harus membuka pintu gedungnya dari luar.

         Alex menatap tuts piano di hadapannya dan suasana hatinya semakin muram. Piano itu mengingatkan dirinya pada tangannya yang patah. Hmm, terkilir sebenarnya lebih tepat. Tapi apa bedanya, pokoknya tangan kirinya jadi tidak bisa digunakan, kan? Ia menggerutu dan mulai berjalan mondar-mandir di ruang duduk.

         Bukankah ia sudah mengatakan dengan jelas kemarin bahwa gadis itu harus tiba di sini jam delapan tepat? Apakah kata-katanya kurang jelas? Apakah...

         Bel interkom berbunyi dan memotong jalan pikirannya. Alex melangkah lebar dan menghampiri interkom yang terpasang di dinding dan menatap layar kecil di sana. Itu dia malaikat kegelapannya. Akhirnya datang juga.

         Alex menekan tombol untuk membuka pintu depan gedung dan menunggu. Dua menit kemudian bel pintu apartemennya berbunyi.

         Alex membuka pintu dengan satu sentakan cepat dan menatap Mia Clark yang ternyata sedang berdiri dengan ponsel ditempelkan ke telinga. Melihat Alex, gadis itu cepat-cepat bergumam, “Eh, Rick, aku harus pergi sekarang. Kutelepon lagi nanti, ya?”

         Alis Alex berkerut. “Kau terlambat,” katanya ketika gadis itu sudah menutup ponsel. “Satu jam tiga puluh menit.”

         Mia menyunggingkan seulas senyum meminta maaf. “Aku tahu. Maaf,” katanya sambil berjalan masih ke apartemen Alex. “Jadi kau sudah sarapan?”

         Alex menutup pintu dan menggerutu, “Aku tidak butuh sarapan. Aku butuh kopi.”

         Mia meletakkan tas dan kantong plastik yang dibawanya di salah satu kursi berlengan di ruang duduk. “Akan kubuatkan kopi untukmu.”

         “Jadi kenapa kau datang terlambat padahal sudah kubilang kau harus tiba di sini jam delapan tepat?” tanya Alex masam.

         “Jalanannya macet sekali hari ini. Biasanya aku tidak membutuhkan waktu selama itu dari Huntington ke Manhattan,” sahut Mia sambil mengangkat bahu.

         “Kau tinggal di Huntington?”

         “Tidak, aku punya apartemen di sini, di Manhattan, di Greenwich Village. Orangtuaku yang tinggal di Huntington. Aku menginap di rumah orangtuaku kemarin.”

         Alex hanya bergumam sambil lalu dan menjatuhkan diri ke sofa. Lalu ia mendongak menatap Mia yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. “Bukankah kau bilang kau akan membuat kopinya sekarang?”

         “Oh, ya. Benar,” kata Mia cepat dan berbalik hendak berjalan ke dapur. Tetapi ia teringat sesuatu dan berbalik kembali. “Omong-omong, aku bawa sandwich. Karena ku belum sarapan, kau bisa makan dulu sementara aku membuat kopi.”

         Alex mengamati sandwich  dalam kotak plastik yang diletakkan Mia di atas meja di hadapannya. “Tidak usah. Aku tidak butuh sarapan.”

         “Semua orang harus sarapan. Masa kau hanya minum kopi setiap pagi?”

         “Ya.”

         “Coba dulu.”

         “Tidak.”

         “Kenapa? Takut aku akan meracunimu?”

         Alex mendongak mendengar nada kesal dalam suara gadis itu. “Mungkin,” sahutnya. “Siapa tahu?”

         Alex mengamati mata Mia Clark menyipit dan bibirnya terkatup rapat, seolah-olah gadis itu menahan diri. Akhirnya gadis itu menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Tidak ada racun. Ibuku yang membuat sandwich-nya. Dia menyuruhku memberikannya kepadamu. Memangnya kaupikir ibuku berniat meracunimu?”

         Alis Alex berkerut heran. “Ibumu mengenalku?”

         “Tidak. Tapi dia tahu tentang kecelakaan itu dan dia tahu aku akan membantumu selama tanganmu masih dibebat.” Mia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada tidak sabar, “Demi Tuhan, makan saja. Kau tidak perlu menghabiskannya kalau tidak mau.”

         Alex tidak menjawab. Ia menatap sandwich di hadapannya dengan masam, lalu kembali mendongak menatap Mia. “Mana kopiku?”

         Mendengar pertanyaanya, Mia Clark mengembuskan napas kesal, berbalik, dan berjalan ke dapur sambil menggerutu tidak jelas.

         Beberapa menit kemudian Mia kembali ke ruang duduk membawa secangkir kopi. Alex Hirano masih duduk di tempatnya tadi sambil mencoret-coret sesuatu di kertas di atas meja. Kotak berisi sandwich yang diletakkan Mia di atas meja tadi masih belum dibuka. Mia mendesah dalam hati dan meletakkan cangkir kopi di atas meja.

         Alex Hirano langsung meraih cangkir itu dan menyesap kopinya. Lalu ia mendongak menatap Mia. “Kau boleh mulai membersihkan rumah. Pengisap debu dan semua yang kau butuhkan untuk bersih-bersih ada di lemari di samping pintu masuk. Dan ingat,” katanya dengan nada tajam yang sudah mulai dikenal Mia. “Jangan sentuh pianoku dan jangan sentuh kertas-kertasku.”

         Mia melirik kertas-kertas penuh coretan not balok yang tersebar di atas meja. Baiklah, ia tidak akan mengelap atau merapikan meja ini. Oke. Tidak masalah. Beres. Apa lagi?

         Tetapi Alex Hirano tidak berkata apa-apa lagi. Ia berdiri dari sofa dengan cangkir kopi di tangan dan berjalan ke kamar tidurnya. Mia menatap pintu kamar yang ditutup dengan tegas itu dengan mata disipitkan, lalu mendesah pelan dan berjalan ke arah lemari yang ditunjuk Alex tadi untuk mengeluarkan pengisap debu.


***


                Alex melepaskan headphone  yang terpasang di kepalanya dengan kasar dan melemparkannya ke atas tempat tidur. Ia menjauhi keyboard-nya dan berjalan mondar-mandir di kamar. Ini benar-benar menjengkelkan. Bermain piano dengan satu tangan terasa sangat menyedihkan. Ditambah lagi, ia belum mendapat inspirasi untuk melanjutkan lagunya.

                Semua ini gara-gara tangannya yang cacat!

                 Dan tangannya cacat gara-gars gadis itu!

                Omong-omong soal gadis itu...

Alex berhenti melangkah dan menatap pintu kamar tidurnya. Ia memiringkan kepalanya sedikit, memasang telinga. Hening. Tidak terdengar apa-apa.

Beberapa menit setelah Alex masuk ke kamarnya tadi, ia mendengar mesin pengisap debu dinyalakan. Ia mengenakan headphone dan memperbesar volume musiknya untuk meredam bunyi berisik itu senentara gadis itu bekerja. Tetapi sekarang tidak terdengar apa-apa lagi di luar sana.

Alex melirik jam. Ternyata sudah lama juga ia mengurung diri di kamar. Alex membuka pintu kamar dan melongok ke luar. Tidak ada siapa-siapa. Ia berjalan ke ruang duduk, lalu ke dapur, lalu kembali ke ruang duduk. Tidak ada siapa-siapa di apartemennya selain dirinya sendiri. Lalu di mana gadis itu?

Mungkin sudah pulang, pikir Alex dalam hati dan mengangkat bahu tidak peduli. Tapi, tunggu dulu apakah masih ada kopi di dapur?

Alex berjalan kembali ke dapur dan mendesah lega ketika menemukan masih ada kopi di sana. Bagus. Berikutnya makanan. Alex membuka lemari dapur dan memberengut. Apa-apaan ini? Tidak ada makanan. Alex teringat kata-kata gadis itu dan terpaksa mengakui bahwa gadis itu benar. Tidak ada apa-apa di dapurnya. Benar-benar menyedihkan.

Ia kembali ke ruang duduk dan mengempaskan diri ke sofa. Ia hendak meraih remote control untuk menyalakan televisi ketika matanya terpaku pada kotak berisi sandwich di atas meja. Perutnya berbunyi. Baiklah, ia akan memakan sandwich-nya sekarang karena gadis itu sudah tidak ada.

Dan sandwich itu sangat enak. Ia juga merasa lebih baik setelah makan. Lebih tenang.

Alex sedang mengunyah potongan sandwich terakhir sambil menonton televisi ketika bel pintu berbunyi. Alex berdiri dan berjalan ke pintu sambil bertanya-tanya kenapa bukan interkomnya yang berbunyi, melainkan bel pintunya. Apakah salah seorang tetangganya datang berkunjung? Tidak mungkin. Alex nyaris sama sekali tidak mengenal tetangga-tetangganya.

Ia membuka pintu dan langsung berhadapan kembali dengan malaikat kegelapannya. Malaikat kegelapan yang memeluk dua kantong belanjaan.

"Hai," kata Mia Clark sambil berjalan melewati Alex dan masuk ke dalam apartemen. "Kau mau pasta untuk makan siang?"

Alex mengerjap dan menatap Mia Clark yang langsung berjalan ke dapur. Apa maksudnya ini? Ia menutup pintu dan menyusul gadis itu ke dapur. Mia meletakkan kantong belanjaannya di meja dapur dan mulai mengeluarkan barang-barang dari kantong.

"Apa ini ?" tanya Alex bingung.

Mia Clark menatapnya dan tersenyum kecil. "Karena tidak ada apa pun di dapurmu, aku memutuskan pergi membeli sedikit persediaan makanan," jelasnya. "Tadi aku sempat mengetuk pintu kamarmu untuk memberitahumu, tapi kau tidak menjawab. Kupikir kau sedang beristirahat dan aku tidak ingin menganggu, jadi kuputuskan untuk langsung pergi saja."

"Lalu bagaimana caranya kau bisa membuka pintu di bawah? Kau membawa kunciku?" tanya Alex dengan kening berkerut.

"Tentu saja tidak," sahut gadis itu cepat dan terlihat agak jengkel. Lalu ia menggumankan sesuatu dengan nada rendah dan tidak terdengar oleh Alex.

Alex menyipitkan mata. "Apa katamu?"

"Pintu di bawah terbuka lebar," sahut gadis itu, tapi Alex yakin sekali bukan itu yang digumankannya tadi. "Jadi aku langsung masuk."

Alex diam sejenak, lalu berkata datar, "Kuharap kau sudah menutup kembali pintunya."

"Tentu saja." Gadis itu tersenyum sekilas, lalu kembali meneruskan kesibukannya mengeluarkan barang-barang belanjaannya dari dalam kantong.

"Apa yang kau beli?" tanya Alex.

"Makanan sehat," sahut Mia tanpa mendongak. "Jadi kau mau pasta untuk makan siang? Atau kau sudah kenyang makan sandwich?"

Alex terkejut mendengar bahwa gadis itu tahu ia telah menghabiskan sandwich tadi, tetapi ia berhasil menjaga raut wajahnya tetal datar dan acuh tak acuh. "Sandwich saja tidak bisa membuatku kenyang," katanya. "Pastikan saja pastamu itu bisa dimakan."

Mia mendengus pelan, tetapi tidak berkata apa-apa.

Alex menatap barang-barang belanjaan Mia dengan kening berkerut dan bertanya, "Apakah aku harus membayar untuk semua ini?"

"Tidak," sahut Mia sambil memasukkan bahan-bahan makanan ke dalam kulkas dan lemari.

"Bagaimanapun, aku harus membayar ganti rugi padamu, bukan? Jadi anggap saja ini semacam ganti rugiku padamu."

Alex mengangguk. "Bagus."

"Omong-omong, kau tidak ingin pergi ke mana-mana hari inu?" tanya Mia.

"Pergi ke mana?"

Mia mengangkat bahu. “Entahlah. Maksudku, kalau kau bosan di rumah terus dan ingin pergi ke suatu tempat pergi menemui temanmu, misalnya, atau ke mana pun aku bisa mengantarmu."

"Kenapa kau ingin mengusirku dari rumahku sendiri?"

Mia Clark berhenti menyusun barang belanjaannya dan menoleh menatap Alex dengan kesal. Ia membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tetapi dengan cepat mengurungkan niatnya. Akhirnya gadis itu berkata, "Lupakan saja. Aku juga tidak tahu kenapa aku bertanya." Lalu ia menggerutu pelan dan Alex hanya bisa menangkap kata "bodoh" dan "gila".

Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel. Mia meninggalkan pekerjaannya bergegas menghampiri tas tangannya dan mengeluarkan ponselnya yang berdering-dering. Ia menatap layar ponsel sebelum menekan tombol "jawab" dan menempelkan ponsel ke telinga. "Ya, Ray?"
Alex mengangkat alis. Ternyata adiknya.

"Aku?" Mia melirik Alex sekilas. "Aku ada di rumah kakakmu sekarang."

Saat itu Alex baru ingat bahwa ia belum memberitahu Ray bahwa gadis yang dikejar-kejarnya kini menjadi pengurus rumah Alex. Alex ingin tahu bagaimana reaksi Ray bila tahu soal ini.

"Membantunya," kata Mia lagi di telepon, sepertinya sedang menjelaskan keberadaannya di apartemen Alex kepada Ray. "Karena sepertinya dia memang sangat membutuhkannya.”

Alex menggeleng membantah, namun Mia menhabaikannya dan memalingkan wajah.

"Aku baik-baik saja. Ya. Tidak, kau tidak perlu datang," lanjut Mia. Lalu ia terdiam dan alisnya terangkat heran. "Apa? Kau sudah ada di sini?"

Alex dan Mia serentak menoleh ketika bel pintu berbunyi. Lagi-lagi bel pintu.

Mia berjalan keluar dari dapur dan pergi membuka pintu. Alex tidak menyusulnya. Ia duduk di salah satu bangku tinggi di dapur dan memeriksa barang-barang yang dibeli gadis itu. Roti gandum, mentega, susu, buah-buahan, sayuran hijau, daging, jamur...

"Hai, Ray. Apa kabar?" Ia mendengar suara Mia yang riang menyapa Ray. Lalu, "Kau sudah makan siang? Belum? Aku akan membuat pasta. Kau mau?"

Alex menoleh ketika Mia dan adiknya muncul di dapur. Ray mentapanya dengan tatapan heran bercampur waswas.

"Bagaimana kau bisa membuka pintu di bawah?" tanya Alex pada adiknya. Sungguh, keamanan gedung ini perlu dipertanyakan kalau semua orang bisa masuk begitu saja.

"Sepertinya ada orang yang sedang pindah rumah. Pintu di bawah terbuka lebar," sahut Ray dan menempati bangku tinggi di damping Alex. Ia menoleh menatap Mia, yang sudah kembali sibuk dengan barang-barang belanjaannya tadi, dan kembali menatap Alex. "Jadi kenapa Mia ada di sini?"

"Aku tidak memaksanya, kalau itu yang sebenarnya ingin kautanyakan," sahut Alex dengan ekspresi tidak berdosa.

"Aku sendiri yang menawarkan bantuan, Ray," Mia membenarkan.

"Kau dengar, bukan?" tanya Alex pada Ray dengan nada puas. "Dia sendiri yang memaksa ingin menjadi tangan kiriku, ingin membantuku bersih-bersih, ingin menyiram tanamanku kalau aku punya tanaman, dan ingin memberi makan anjing dan kucing."

"Ya, begitulah," Mia membenarkan sekali lagi.

"Tapi bagaimana dengan jadwal mengajarmu? Tidak terganggu?" tanya Ray kepada Mia yang sedang mengisi panci dengan air.

"Sama sekali tidak," sahut Mia tanpa menoleh. "Aku sudah melepas beberapa kelasku, jadi jadwal mengajarku tidak terlalu padat lagi sekarang."

"Oh, ya? Kenapa ?" Alex mendengar Ray bertanya dengan nada heran, seolah-olah Mia tidak boleh mengurangi jadwal mengajarnya.

"Tidak kenapa-kenapa." Mia menganggat bahu. "Kurasa aku hanya ingin punya waktu untuk menari lagi sendiri. Tidak hanya mengajar."

"Jadi kau berencana mengambil kelas menari lagi?" tanya Ray.

Sekali lagi Mia mengangkat bahu. "Mungkin," katanya sambil tersenyum.
Tepat pada saat itu bel pintu berbunyi lagi dan Alex mengerutu, "Apa lagi sekarang?"

"Akan kulihat siapa itu," kata Ray kepada Mia sambil turun dari bangku tinggi yang didudukinya.

"Tidak apa-apa. Biar aku saja. Membuka pintu adalah salah satu tugasku di sini," kata Mia sambil berjalan keluar dari dapur dan pergi melihat siapa yang membunyikan bel.

Setelah Mia pergi, Ray menoleh menatap Alex. "Kuharap kau memperlakukan Mia dengan baik,"katanya sambil tersenyum kecil.

"Dia masih di sini. Belum berlari terbirit-birit," kata Alex acuh tak acuh. "Tapi kau boleh membawanya pergi dan membuat hidupku lebih tenang. Aku selalu merasa dia akan mematahkan tanganku yang lain."

Ray terkekeh. "Kurasa aku tidak akan bisa membujuknya melupakan niatnya membantumu. Dia merasa sangat bersalah dan dia hanya ingin melakukan sesuatu untuk membantu," katanya. Lalu ia menatap tangan Alex. "Bagaimana tanganmu?"

"Kau bisa lihat sendiri. Masih cacat." Lalu Alex teringat sesuatu dan bertanya, "Kau tidak memberitahu Mom dan Dad soal ini, bukan?"

Ray menggeleng. "Tentu saja tidak. Aku tidak ingin membuat mereka jantungan di tengah-tengah liburan."

"Bagus," guman Alex. Saat ini kedua orangtuanya sedang menikmati liburan tahunan mereka di Jepang dan ia tidak ingin mereka mempersingkat liburan hanya gara-gara dirinya.

"Oh, Karl." Alex mendengar suara Mia menyapa manajernya di pintu. "Alex ada di dapur bersama Ray. Omong-omong, kau sudah makan siang?"

"Karl? Kenapa dia datang?" guman Alex. Dan ia mengulangi pertanyaannya kepada Karl ketika laki-laki itu masuk ke dapur bersama Mia.

"Aku? Aku datang karena aku tahu aku bisa menemukan Mia di sini." Karl tersenyum lebar, menunjukan detetan giginya yang putih dan rapi. "Hai, Ray. Apa kabar?"

Alex melirik Ray yang menatap Karl lurus-lurus.

"Kau sudah mengenal Mia? Kapan?" tanya Ray dengan nada tajam bercampur heran.

"Kemarin," sahut Karl ringan, sama sekali tidak menyadari kenyataan bahwa Ray kini tidak lagi memandangnya sebagai teman, tetapi saingan.

Alex yakin Ray tahu bahwa Karl selalu ramah pada wanita mana pun, karena adiknya sering menggoda Karl tentang hal itu. Tetapi ketika wanita yang menjadi sasaran perhatian Karl adalah Mia Clark, sepertinya Ray tidak lagi menganggap semua itu lucu.

"Dia membuat kopi yang enak sekali kemarin. Bukankah begitu, Mia?" kata Karl sambil duduk di bangku tinggi terakhir di samping Ray dan tersenyum kepada Mia.

Mia tertawa. "Harus kukatakan bahwa kau bukan orang pertama yang jatuh dalam pesona kopiku."

“Aku jadi penasaran seperti apa rasanya," kata Ray dengan kening berkerut.

“Rasanya susah dijelaskan," kata Karl walaupun Ray tidak bertanya langsung padanya.

"Tanya saja pada Alex. Dia juga mencobanya kemarin. Kopi buatan Mia enak sekali, bukan, Alex?"

"Biasa saja," sahut Alex datar. "Itu merek kopi yang selalu kubeli. Dan itu merek kopi yang sama yang kauminum setiap kali kau datang ke sini. Tidak ada bedanya."

"Oh, ya? Kupikir itu kopi yang berbeda. Karena rasanya tidak pernah seenak itu kalau aku membuatnya sendiri. Atau kalau aku membuatnya sendiri. Atau kalau kau yang membuatnya," kata Karl.

"Bagiku sama saja," kata Alex.

"Aku tetap ingin mencobanya," kata Ray

Mia menattap ketiga laki-laki yangduduk bersebelahan itu bergantian, lalu berkata," Aku bisa membuatkan kopi untuk kalian setelah makan siang, kalau kalian mau."

Ray dan Karl mengiyakan. Alex memilih untuk tidak berkomentar.

Mia tersenyum. Ia menatap Karl dan berkata; "Bukankah tadi kau bilang ada yang ingin kaubicarakan dengan Alex?"

Alex menoleh ke arah manajernya. "Kenapa? Ada masalah?"

Karl menggeleng. "Tidak. Tidak ada masalah. Kau tahu benar tidak ada yang tidak bisa kuatasi. Aku hanya ingin mengabarkan perkembangannya kepadamu. Oh, dan ada yang ingin kutanyakan tentang jadwal kerjamu akhir tahun ini."

Sebelum Alex sempat menjawab, Mia menyela, "Bagaimana kalau kalian mengobrol di ruang duduk saja sementara aku menyiapkan makan siang?"

"Kenapa kau berusaha mengusirku dari dapurku sendiri?" tanya Alex sambil menyipitkan mata.

Mia memutar bola mata dan balas bertanya, "Memangnya kau lebih suka mengobrol di sini? Kukira kau lebih suka jauh-jauh dariku.”

Alex mengangguk. "Kau benar. Sebaiknya aku memang jauh-jauh darimu," katanya sambil turun dari bangku tingginya.

"Panggil saja kalau kau butuh bantuan, Mia," kata Karl sebelum turun juga dari bangkunya.

"Kau yakin tidak butuh bantuan?" tanya Ray kepada Mia.

"Tidak, terima kasih ," kata Mia sambil tersenyum menenangkan. "Aku bisa mengatasinya."

Alex menatap adik dan manajernya bergantian, lalu mendesah dalam hati. Ada apa sebenarnya dengan mereka berdua dan gadis ini? Apakah sebaiknya ia memberitahu Karl bahwa Ray tertarik pada Mia Clark dan meminta Karl tidak macam-macam?

Tidak. Mereka berdua sudah dewasa dan Alex akan membiarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Itu juga kalau memang ada masalah. Ia tidak akan ikut campur dalam sesuatu yang tidak menyangkut dirinya.

Alex tidak mengerti apa yang membuat Ray dan Karl tertarik pada gadis itu. Terutama Karl baru bertemu Mia Clark kemarin. Apakah karena kopi yang dibuat gadis itu?

Mia Clark memang bisa membuat kopi yang sangat enak. Alex tidak tahu bagaimana gadis itu melakukannya, tetapi terkutuklah ia jika sampai bertanya kepada gadis itu atau mengakui bahwa kopinya enak.

Dan Alex juga sudah pasti tidak akan pernah mengakui bahwa ia akan membiarkan gadis itu datang ke apartemennya dan membahayakan keselamatan dirinya—bagaimanapun juga Alex masih merasa gadis itu tetap membuatkan kopi untuknya setiap pagi.


***




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar