Jumat, 20 November 2015

SUNSHINE BECOME YOU - BAB 9

Walaupun sikap Alex Hirano pada Mia membaik, tidak berarti ia mendadak berubah menjadi pangeran berkuda putih. Ketika mereka mampir di toko swalayan untuk membeli persediaan makanan, laki-laki itu tetap bersikap seolah-olah Mia adalah pesuruhnya.

             “Clark, ambil trolinya.”

             “Clark, tidak bisa cepat sedikit?”

             “Ambil itu.”

             “Bukan yang itu. Tapi yang itu.

             “Apakah aku masih punya kopi di rumah?”

             Dan akhirnya, “Clark, bayar.”

             Bahkan Mia yang mengangkut semua barang belanjaan ke mobil. Alex Hirano tenang-tenang saja. Ia hanya beralasan, “Kau tentu tidak berharap aku bisa membantu dengan tangan seperti ini, bukan?”

             Mia memasukkan barang-barang ke dalam mobil sambil menggerutu dalam hati. Lihat saja nanti. Mia akan membalas. Untuk makan malam nanti Mia akan menambahkan lada banyak-banyak di dalam sup. Atau Mia akan membuat makanan yang tidak bisa dimakan dengan satu tangan. Misalnya steak. Biar laki-laki itu tahu rasa. Atau...

             Seolah-olah bisa membaca apa yang sedang dipikirkan Mia, Alex tiba-tiba berkata, “Aku ingin makan di luar malam ini.”

             Mia, yang sedang memasang sabuk pengamannya, menghentikan gerakan dan menatap Alex. “Apa?”

             “Aku ingin makan di luar. Ada restoran yang sudah lama tidak kukunjungi,” ulang Alex. “Di Upper West Side. Nanti kutunjukkan jalannya.”

             Jadi rencana sup lada itu pun batal. Mia mendesah pelan dan membelokkan mobilnya ke jalan raya.

             Mengikuti arah yang ditunjukkan Alex, mereka akhirnya tiba di depan sebuah restoran Italia yang ramai dan belum pernah Mia kunjungi. Mia mencondongkan tubuhnya ke depan dan membaca papan nama restoran itu. Moratti’s. “Di sini tempatnya?” tanyanya agak heran. Ia selalu menduga Alex Hirano bukan tipe orang yang suka makan di restoran yang penuh sesak.

             “Ya, di sini tempatnya,” sahut Alex sambil membuka pintu mobil dan turun.

             “Tapi coba lihat itu,” gumam Mia sambil menatap orang-orang yang berdiri di sekitar pintu depan restoran, menunggu meja kosong. “Restorannya sudah penuh.”

             “Aku selalu mendapatkan meja di sini.”

             “Tapi...”

             “Begini, kau boleh menunggu di sini kalau mau,” kata Alex tidak peduli. “Terserah kau saja.”

             Mia mengembuskan napas dengan kesal, lalu turun dari mobil dan bergegas menyusul Alex yang sudah berjalan dengan langkah lebar ke arah pintu restoran. Alex menyelinap melewati kerumunan orang yang sudah menunggu, mengabaikan tatapan heran dan kesal yang dilemparkan ke arahnya. Mia menundukkan kepala karena malu, berusaha mengabaikan orang-orang di sekitar mereka, dan melangkah cepat mengikuti Alex. Sebenarnya apa yang diharapkan laki-laki itu dengan memaksa masuk ke dalam restoran? Memangnya ia berharap bisa mendapatkan meja kosong kalau ia memaksa masuk? Memangnya ia mengenal pemiliknya? Apakah pemiliknya bisa menyediakan meja untuknya pada jam sibuk seperti ini? Memangnya...

             Tiba-tiba Alex berhenti melangkah dan kepala Mia—yang masih tertunduk—membentur punggungnya. “Aduh! Kenapa berhenti tiba-tiba?”

             “Alex!”

             Mendengar suara ramah itu, Mia mengangkat wajah dan mengintip dari balik punggung Alex. Seorang pria bertubuh tinggi dan besar berusia sekitar enam puluh tahun menatap Alex dengan wajah berseri-seri. Walaupun kumisnya yang lebat hampir menutupi bibirnya, Mia tahu pria itu sedang tersenyum lebar, karena mata hijaunya berkilat-kilat senang.

             “Paolo,” Alex balas menyapa sambil tersenyum.

             Pria yang dipanggil Paolo itu dengan segera menghampiri Alex dengan kedua tangan terentang lebar, seolah-olah ingin memeluk Alex. Namun tiba-tiba ia berhenti ketika matanya terpaku pada tangan kiri Alex yang dibebat. “Astaga, Nak, apa yang terjadi padamu?” tanyanya dengan logat Italia yang kental.

             “Hanya kecelakaan kecil,” sahut Alex ringan. “Nanti saja kuceritakan.”

             Mia melirik Alex sekilas. Entah kenapa Mia bisa merasakan bahwa Alex tidak ingin pria bernama Paolo itu khawatir. Gagasan bahwa Alex lebih mementingkan perasaan orang lain daripada perasaannya sendiri agak asing bagi Mia.

             Paolo mengangguk dan menepuk bahu Alex dengan sayang. “Baiklah, kita bicara nanti. Naiklah ke apartemen. Eleanor ada di sana. Aku akan menyusulmu setelah membereskan kekacauan di sini,” katanya. Lalu saat itu ia baru melihat Mia dan ia tersenyum ramah. “Oh, halo. Kau teman Alex? Silahkan naik saja. Silakan. Aku akan menyusul kalian nanti.”

             Masih agak bingung, Mia membalas senyum Paolo sebelum bergegas mengikuti Alex yang sudah berjalan ke belakang restoran.

             “Siapa pria tadi?” tanya Mia ketika Alex membuka pintu belakang yang mengarah ke tangga kayu kokoh yang menuju lantai atas. “Dan kita mau kemana?”

             “Paolo Moratti,” jawab Alex dan mulai menaiki tangga. “Dia dan istrinya, Eleanor, adalah pemiliki restoran terkenal ini.”

             Karena Alex tidak menjawab pertanyaan keduanya, Mia bertanya lagi, “Kita mau ke mana sekarang?”

             “Menemui Eleanor,” sahut Alex pendek.

             “Kukira kau mau makan malam,” gumam Mia, masi agak heran.

             “Memang.”

             Karena sepertinya Alex tidak ingin menjelaskan lebih jauh, Mia juga tidak bertanya lagi.

             Hanya ada sebuah pintu kayu di puncak tangga. Alex menekan bel dan menunggu sebentar. Beberapa detik kemudian terdengar langkah kaki seseorang mendekati pintu, lalu pintu dibuka oleh seorang wanita bertubuh langsing, berambut gelap keriting, berusia setengah baya. Mia mengamati senyum wanita itu mengembang, seperti Paolo tadi, ketika ia mengenali siapa yang berdiri di depan pintu.

             “Alex,” sapanya dengan suara jernih. “Alex!”

             “Halo, Eleanor,” balas Alex ramah dan merangkul wanita itu dengan tangannya yang tidak dibebat. “Apa kabar?”

             “Ada apa dengan tanganmu?” tanya Eleanor sambil menatap tangan kiri Alex. Kecemasan jelas-jelas terdengar dalam suaranya.

             “Tidak apa-apa,” kata Alex menenangkan. “Hanya cedera ringan.”

             “Tapi... oh, masuklah. Kenapa berdiri saja di sana? Masuklah,” kata Eleanor cepat sambil menyingkir memberi jalan, lalu matanya yang berwarna cokelat cerah beralih ke arah Mia.

             Merasa Alex tidak akan memperkenalkan dirinya kepada Eleanor, Mia pun mengambil inisiatif sendiri dan mengulurkan tangan kepada wanita yang lebih tua itu. “Halo, Ma’am. Namaku Mia Clark. Senang berkenalan dengan Anda.”

             “Eleanor Moratti,” kata Eleanir sambil menjabat tangan Mia. “Panggil saja aku Eleanor. Teman Alex adalah teman kami juga. Masuklah.”

             Mia memutuskan untuk tidak menjelaskan kepada wanita baik itu bahwa ia bukan teman Alex Hirano. Ia melangkah memasuko apartemen yang didominasi warna kayu dan pastel itu dan mencium aroma yang sangat enak.

             “Pollo all’arrabbiata?” tanya Mia.

             Alex menatapnya dengan alis terangkat heran, sementara Eleanor tersenyum lebar. “Benar sekali. Kau punya hidung  yang sangat tajam, young lady,” katanya dengan nada terkesan. “Ayo, kita ke dapur. Supaya kita bisa mengobrol sementara aku memasak. Kuharap kalian belum makan malam.”

             “Tentu saja belum,” sahut Alex riang. “Itulah sebabnya kami datang ke sini.”

             Alex boleh-boleh saja berbicara seperti itu karena sepertinya ia memang sudah dekat dengan pasangan Moratti, tetapi Mia merasa seperti tamu tak diundang yang mendadak muncul di depan pintu dan mengganggu acara keluarga. Karena itu ia cepat-cepat berkata, “Sebenarnya aku tidak tahu Alex berencana makan malam bersama Anda di sini. Maksudku, aku tidak ingin mengganggu...”

             “Kau sama sekali tidak mengganggu, Sayang,” sela Eleanor ramah. “Aku suka menerima tamu di rumahku. Dan aku suka memberi makan tamu-tamuku. Lagi pula, aku senang mendapat teman bicara sesama perempuan kalau Paolo dan Alex mulai membicarakan hal-hal yang menyenangkan bagi mereka namun membosankan bagiku.”

             Mia tersenyum ragu. “Tapi...”

             Eleanor berkacak pinggang. “Young lady, apakah kau tidak mau mencoba pollo all’arrabbiata-ku?” tanyanya. Lalu ia menoleh ke arah Alex. “Alex, jangan diam saja di situ. Ayo, ajak temanmu makan bersama kita.”

             Alex mengangkat bahu dan menoleh ke arah Mia. “Kau akan menyesal kalau tidak mencicipi masakan Eleanor,” katanya. Lalu ia tersenyum dan menambahkan, “Tapi tentu saja aku tidak akan memaksamu tinggal kalau kau memang tidak mau.”

             Mia menatap Alex dengan mata disipitkan, lalu ia menoleh kembali kepada Eleanor yang menatapnya dengan penuh harap. “Terima kasih atas undangannya,” kata Mia tulus. “Dan tentu saja aku sangat ingin mencoba pollo all’arrabbiata  Anda.”

***

             Dalam waktu singkat, gadis itu sudah akrab dengan pasangan Moratti.
             Mengherankan sekali, pikir Alex sambil mengamati Mia yang sedang menyusun meja makan. Sepertinya gadis itu bisa cepat akrab dengan siapa pun yang ditemuinya. Ia menawarkan diri membantu Eleanor di dapur, yang diterima Eleanor dengan senang hati, dan mereka berdua mengobrol dan tertawa seperti dua remaja yang sudah bersahabat sejak kecil.

             “Jadi, Mia, apakah kau juga pianis?” tanya Paolo ketika mereka berempat sudah duduk berkumpul di meja makan. Paolo naik ke apartemen setelah Eleanor meneleponnya untuk mengatakan bahwa makan malam sudah siap.

             “Bukan,” sahut Mia. “Aku tidak bisa bermain piano.”

             “Tapi dia penari,” sela Eleanor. “Di Juilliard juga.”

             “Oh, begitu,” gumam Paolo sambil mengangguk-angguk. “Ternyata kalian teman satu sekolah.”

             Alex melirik Mia yang duduk di sebelahnya. Ia ingin tahu bagaimana Mia mengomentari pertanyaan Paolo tadi. Tetapi Mia diam saja.

             Ketika Alex menduga Mia benar-benar tidak akan berkomentar, gadis itu berkata, “Sebenarnya kami bukan teman satu sekolah. Maksudku, kami tidak berkenalan di sekolah.”

             “Oh, ya?” tanya Eleanor dengan nada yang mengisyaratkan agar Mia meneruskan ceritanya.

             Mia melirik Alex sekilas, lalu kembali menatap Eleanor dan Paolo. “Sebenarnya, suatu hari Alex datang ke studio tari tempatku mengajar. Hari itu benar-benar...” Mia tertawa kecil. “Banyak sekali hal yang terjadi hari itu. Singkatnya, aku terjatuh dari tangga, menubruk Alex, dan membuat tangannya jadi seperti ini.”

             “Oh.” Paolo menoleh menatap Alex. “Jadi apa kata dokter tentang tanganmu?”
             Alex tersenyum. “Akan sembuk total dalam dua bulan. Tidak masalah,” katanya walaupun ia sebenarnya sama sekali tidak yakin pada ucapannya sendiri. Ia hanya tidak ingin Paolo dan Eleanor khawatir.

             “Tapi itu pertemuan yang luar biasa, bukan?” kata Eleanor menatap Mia dan Alex bergantian. “Itu yang dinamakan takdir.”

             Alex tidak mengerti apa maksud ucapan Eleanor. Dan sepertinya Eleanor tidak bermaksud menjelaskan lebih jauh karena pertanyaannya yang berikut sama sekali tidak berhubungan dengan ucapannya sebelumnya. “Berarti, Mia, kau tidak mengenal Valentino?”

             “Tidak,” sela Alex cepat. “Dia tidak mengenal Valentino.”

             Mia melirik Alex sekilas, lalu kembali menatap Eleanor. “Siapa Valentino?”

             “Valentino adalah putra bungsu kami,” jawab Eleanor sambil tersenyum. “Dia dan Alex sama-sama belajar piani di Juilliard dan mereka bersahabat baik.”

             “Oh, begitu. Lalu di mana Valentino sekarang?” tanya Mia. Dan Alex memejamkan mata.

             “Valentino sudah meninggal dunia tiga tahun yang lalu,” sahut Eleanor. Alex bisa mendengar nada sedih yang masih menghiasi suara wanita itu setiap kali ia membicarakan putranya yang sudah tiada.

             “Kecelakaan lalu lintas,” tambah Paolo pendek.

             “Aku turut prihatin,”kata Mia. Alex mendengar ketulusan dan sebekersan kekhawatiran dalam suaranya. “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat kalian sedih.”

             Eleanor menggeleng tegas dan tersenyum lebar. “Tidak apa-apa. Kami baik-baik saja.” Lalu ia menoleh ke arah suaminya. “Bukankah begitu, Sayang?”

             Paolo menatap istrinya dan tersenyum kecil. “Tentu saja,” katanya. Lalu ia menatap Mia. “Semuanya berkat Alex. Dia banyak membantu. Dia sering datang mengunjungi kami dan kami sudah menganggapnya seperti anak sendiri.”

             Alex memaksakan seulas senyum. “Justru kalian yang banyak membantuku.”

             “Baiklah,” kata Eleanor tiba-tiba. “Sebaiknya kita tidak membicarakan hal-hal sedih saat makan malam. Mari kita bicarakan hal lain.”

             Alex dengan senang hatu membicarakan hal lain. Dan ia yakin Mia juga merasa begitu.

             “Oh, ya, Mia,” kata Eleanor, “seorang keponakanku sangat suka menari dan dia sangat ingin masuk Juilliard. Tapi kurasa pasti sulit sekali diterima di sekolah itu kalau kau tidak punya latar belakang menari.”

             “Ya,” sahut Mia, merasa agak lega karena mereka mengubah topik pembicaraan. “Kau sudah harus punya pengalaman menari beberapa tahun dan sudah harus mengusai teknik-teknik dasarnya agar bisa ikut audisi.”

             “Kurada keponakanku itu akan kecewa sekali mendengarnya,” gumam Eleanor sambil menggeleng-geleng. Ia menoleh ke arah suaminya dan berkata, “Kau ingat Cecilia, Sayang? Anak itu sangat suka menari walaupun menurutku bentuk tubuhnya terlalu montok untuk menjadi penari.” Lalu ia kembali menatap Mia. “Kau pasti sudah sangat sering ikut dalam pertunjukkan tari.”

             “Hanya beberapa pertunjukkan,” kata Mia merendah.

             Alex teringat pada tarian Mia di Juilliard tadi. Penari seperti Mia tidak mungkin hanya ikut dalam satu atau dua pertunjukkan. Ia padti disertakan dalam semua pertunjukkan yang ada.

             “Kau tidak bergabung dengan kelompok tari tertentu?” tanya Eleanor lagi.

             Mia terdiam sejenak, lalu, “Tidak.”

             “Kenapa tidak?”

             Mia tidak langsung menjawab. Alex bisa merasakan ketegangan dan keengganan gadis yang duduk di sampingnya.

             Paolo menyentuh lengan istrinya. “Sayangku, kurasa kau terlalu menginterogasi tamu kita,” katanya ringan. “Ini kunjungan pertamanya ke rumah kita. Jangan membuatnya terkejut. Nanti dia tidak mau datang lagi.”

             “Oh, kau benar,” kata Eleanor. “Aku minta maaf aku terlalu banyak tanya dan terlihat ingin ikut campur.”

             “Tidak, tidak. Tidak apa-apa,” sela Mia sambil tertawa kecil. “Kenapa aku tidak bergabung dengan kelompok tari tertentu? Yah, sebenarnya sederhana saja. Karena aku lebih suka mengajar.”

             Alex menatap Mia yang sudah kembali menyantap ayamnya. Entah kenapa Alex merasa jawaban gadis itu tadi adalah jawaban standar yang selalu diberikannya kepada orang-orang yang bertanya kepadanya tentang ia lebih memilih menjadi guru daripada bergabung dengan kelompok tari terkenal tempat masa depannya akan terjamin.

             Entah kenapa Alex merasa jawaban Mia tadi bukan jawaban yang jujur.


***
             “Dia anak baik.”

             Mia menatap Eleanor tidak mengerti. “Siapa?”

             Saat itu mereka sudah selesai makan malam dan Mia membantu Eleanor membereskan meja sementara Alex dan Paolo pindah ke ruang duduk sambil membahas pertandingan olahraga.

             “Alex,” sahut Eleanor. “Dia anak baik. Kurasa selain aku dan Paolo, Alex adalah orang yang paling terpuku ketika Valentino meninggal.”

             “Kau bilang mereka bersahabat baik,” kata Mia.

             Eleanor tersenyum. “Benar. Walaupun aku dan Paolo tidak sempat tiba di rumah sakit sebelum Valentino mengembuskan napas terakhirnya, kami senang Alex di sana menemaninya.”

             “Alex ada di sana ketika Valentino...?”

             “Ya. Alex menyaksikan kecelakaan yang dialami Valentino,” kata Eleanor sambil menatap Mia. “Bisa kulihat kau terkejut mendengarnya. Tapi itu benar. Hari itu Alex, Valentino, dan beberapa orang teman mereka makan malam bersama. Ketika acara makan-makan itu selesai, Valentino menawarkan diri mengantar Alex pulang. Alex menolak. Katanya dia masih ingin mengobrol lebih lama dengan teman-teman yang lain dan menyuruh Valentino pulang duluan. Alex mengamati Valentino mengendarai mobilnya pergi. Tetapi saat itu tiba-tiba sebuah SUV melaju kencang dari arah berlawanan, oleng, dan langsung menabrak sedan yang dikemudikan Valentino. Semua terjadi begitu cepat dan di depan mata Alex.”

             “Ya Tuhan,” gumam Mia tanpa sadar.

             "Ya," kata Eleanor muram. "Alex-lah yang menghubungi 911. Valentino memang masih bernapas ketika tiba di rumah sakit, tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Ia sudah meninggal ketika aku dan Paolo tiba di sana."

Mia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggengam tangan Eleanor, berharap bisa memberikan sedikit hiburan, dukungan.

             Mata Eleanor berkaca-kaca ketika ia melanjutkan, "Kami bertiga menangis bersama hari itu. Alex menangis, Paolo juga menangis. Dan aku menangis meraung-raung." Ia terdiam sejenak, lalu meremas tangan Mia yang menggengam tangannya ddan tersenyum. "Tapi sekarang kami baik-baik saja. Hidup terus berlanjut dan Valentino tidak akan suka kalau kami berkabung selamanya."

            "Kau benar," kata Mia serak sambil tersenyum.

            "Dan kami senang Valentino pernah memiliki Alex sebagai sahabat." Eleanor menghapus sebutir air mata yang jatuh bergulir di pipinya yang berkeriput halus. "Dia anak baik. Juga pianis yang hebat. Kau sudah pernah mendengar permainannya?"

            "Belum," sahut Mia. "Tapi aku sudah membeli CD-nya."

            "Kau harus mendengar permainannya secara langsung," kata Eleanor. Lalu seakan teringat kondisi tangan Alex saat itu, ia menambahkan , "Suatu hari nanti."

            "Suatu hari nanti," kata Mia menegaskan.

           "Baiklah, sekarang kita membuatkan kopi untuk pria-pria itu sebelum mereka bertanya apa yangvkita gosipkan di dapur selama ini," kata Eleanor. Ia mengeluarkan cangkir-cangkir kopi dari dalam lemari dan meletakkannya di atas nampan. "Kau tahu, dia tidak pernah mengajak temannya ke sini sebelumnya," kata Eleanor dengan nada ringan. "Ini pertama kalinya."

            Mia tertawa. Ia bisa menebak bahwa Eleanor memiliki jiwa yang romantis dan ia tahu apa yang sebenarnya dipikirkan wanita itu. Tetapi Eleanor salah besar apabila mengira ada sesuatu di antara Mia dan Alex. "Percayalah padaku, Eleanor," kata Mia masih tertawa kecil. "Tidak ada yang terjadi antara aku dan Alex. Aku jamin. Tidak ada."

           Eleanor mengangkat bahu dan mengedipkan mata. "Kau tidak akan pernah tahu."

           Mia hanya bisa tersenyum dan menggeleng-geleng.


***
Alex dan Paolo masih sibuk membahas pertandingan olaraga kemarin ketika Mia masuk ke ruang duduk sambil membawa kopi untuk mereka.

         "Oh, kau memang malaikat," kata Paolo sambil menerima cangkirckopi yang disodorkan Mia.

         "Ya, aku tahu," balas Mia dan tertawa kecil.

         Kata terakhir Paolo mengingatkan Alex pada julukan yang diberikannya kepada Mia. Malaikat kegelapan. Dulu Mia Clark memang malaikat kegelapannya. Alex selalu takut gadis itu akan membuatnya lebih celaka. Tetapi sekarang...

         Alex mengamati Mia yang sedang menuangkan kopi ke cangkir Paolo. Sekarang gadis itu memang tidak terlihat seperti malaikat kegelapan. Yah, mungkin kalau kau sydah terlalu sering melihat malaikat kegelapan, kau pun akan terbiasa dengan kehadirannya.

         Alex masih mengamati Mia ketika gadis itu tiba-tiba menoleh dan menatap lurus ke arahnya. Alex tersentak dan cepat-cepat melihat ke arah lain.

         "Kopi?" Ia mendengar Mia bertanya.

         Alex berdeham pelan. "Terima kasih."

         Paoli baru saja membuka mulut untuk melanjutkan pembicaraannya dengan Alex ketika istrinya memanggilnya dari dapur.

         "Paolo, pintu lemari ini lagi-lagi tidak bisa dibuka. Aku ingin mengeluarkan stoples besarku.

         Paolo bangkit dari kursi dan tersrnyum kepada Mia dan Alex. "Aku akan segera kembali," katanya meninggalkan Mia dan Alex di ruang duduk.

         Alex menyesap kopinya dan tertegun. "Kopi ini," katanya sambil menatap Mia, "kau yang membuatnya?"

          Mia menempati sofa yang berhadapan dengan Alex. "Ya. Kenapa? Rasanya aneh?"
         Alex menggeleng. "Tidak," gumannya, lalu menyesap kopinya lagi. Alex tahu Mia yang membuat kopi ini karena rasanya sama seperti kopi yang dibuat gadis itu untuknya setiap pagi. Rasa kopi yang tidak asing itu membuatnya merasa nyaman. Bagaimanapun, sesuatu yang sudah tidak asing lagi pasti membuatnya merasa nyaman. Bukankah begitu?

         "Kau tahu?" kata Mia tiba-tiba.

         "Tahu apa?" balas Alex sambil menatap Mia.

         Mia memiringkan kepala sedikit. "Sebenarnya, awalnya aku tidak mengerti kenapa Eleanor menganggapmu anak baik."

        Alex mendengus dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. "Terima kasih banyak."

        Mia terkekeh. "Tapi kurasa itu karena aku tidak melihat apa yang sudah dilihatnya," katanya ringan.

        "Memangnya apa yang sudah dilihatnya?" tanya Alex.

        "Dirimu yang sebenarnya, kurasa," sahut Mia sambil mengangkat bahu. Lalu ia menatap Alex lurus-lurus dan melanjutkan, "Setelah melihat bagaimana sikapmu kepada Paolo dan Eleanor hari ini, setelah mendengar cerita Eleanor..."

        Alex mengangkat alis. "Apa yang dikatakan Eleanor padamu?"

        Mia mengabaikan pertanyaan Alex dan melanjutkan kata-katanya, "Kurasa di balik semua sikap kasar, dingin, suka memerintah..."

        Alex mengangkat tangan kanannya yang tidak dibebat. "Wow, wow, tunggu sebentar."

        "...yang kulihat selama ini, masih ada sesuatu yang baik dalam dirimu."

        Alis Alex terangkat.

        "Walaupun hanya sedikit, " kata Mia sambil mengancungkan tangan untuk menunjukkan seberapa sedikitnya dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. Lalu ia tersrnyum lebar.

        Siapa pun pasti akan terbiasa dengan keberadaan malaikat kegelapan kalau malaikat kegelapannya tersenyum seperti itu, pikir Alex tanda sadar.

        "Oh." Tiba-tiba Mia tersentak kaget, lalu cepat-cepat mengeluarkan ponsel yang bergetar tanpa suara dari saku celana jinsnya. Ia melirik layar ponsel sebelum Menempelkannya le telinga.

        "Hai, Ray," katanya.

         Alex menyipitkan mata.

         Mia melirik Alex sekilas, senyum lebar yang sama masih tersungging di bibirnya, lalu ia kembali berbicara di ponsel, "Ya, aku masih bersama kakakmu. Kami baru selesai makan malam... Ya, semuanya baik-baik saja di sini... Bagaimana festivalmu?"

         Sementara Mia terus berbicara dengan Ray sambil tersenyum dan kadang-kadang tersenyum kecil, Alex tiba-tiba teringat pada apa yang pernah dikatakan Ray kepadanya dulu, ketika Alex bertanya kepada Ray apakah Mia juga menyukainya. Nah, apa yang dikatakan Ray waktu itu?

         Kadang-kadang kupikir dia menyukaiku. Kau tahu, ada saatnya ketika dia menatapku, tersenyum kepadaku, atau ketika dia berbicara kepadaku, kupikir dia menyukaiku. Tapi kemudian aku sadar bahwa dia juga menatap, tersenyum, dan berbicara kepada orang lain seperti itu.

         Itulah yang dikatakan Ray. Dan Ray memang benar.

         Cara Mia menatap Alex tadi, caranya tersenyum dan berbicara kepada Alex tadi, sama seperti caranya menatap, tersenyum, dan berbicara kepada Ray. Juga sama seperti caranya menatap, tersenyum, dan berbicara kepada Karl, teman-teman yang sering menelponnya, teman-temannya di Juilliard tadi, dan bahkan kepada Dylan, si pegawai toko musik.

        Alex merasa agak aneh.

        Mungkin karena ia tidak ingin adiknya merasa kecewa karena hal itu sedikit-banyak membuktikan bahwa Mia Clark tidak memiliki perasaan khusus kepada Ray.

        Ya, pasti itu alasannya.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar